Ada teori yang aku pegang sejak kelas tujuh SMP:
Orang yang menyimpan perasaan terlalu lama akan berakhir dengan dua kemungkinan. Satu: ia akhirnya bilang di momen yang sudah terlambat. Dua: ia tidak pernah bilang sama sekali dan menghabiskan hidupnya menonton orang lain jalan bareng orang yang harusnya bisa jadi miliknya.
Dua-duanya terdengar sangat tidak efisien.
Maka aku, Hana Maharani, sejak dini sudah memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari statistik itu.
Kalau suka, bilang. Langsung. Dengan kepala tegak dan tidak minta maaf karenanya.
Sudah teori. Sekarang praktik.
---
Hari ketiga di SMA Nusantara dimulai dengan satu keputusan yang kuambil sambil sarapan: hari ini aku akan bilang langsung ke Reza.
Bukan lewat taktik. Bukan lewat pulpen atau sticky note atau operasi apapun. Langsung, jelas, selesai.
Mama selalu bilang aku terlalu to-the-point untuk usiaku. Aku memutuskan untuk menjadikan itu kelebihan hari ini.
"Lo keliatan kayak orang mau perang," komentar Risa waktu kami jalan ke sekolah bareng. "Ekspresinya serius banget."
"Gue mau ngomong sesuatu hari ini."
"Ke siapa?"
"Reza."
Risa berhenti melangkah.
Satu detik.
Dua detik.
"Ngomong soal apa?" tanyanya dengan nada yang hati-hati.
"Soal perasaan gue."
Risa menatapku dengan ekspresi yang susah dibaca. Ada sesuatu di sana yang tidak langsung bisa kuidentifikasi — bukan keberatan, bukan antusias, tapi sesuatu di antaranya yang lebih kompleks.
"Lo yakin?" tanyanya akhirnya.
"Lo kedengarannya nggak yakin, tapi gue harus."
"Bukan itu maksudku." Ia melanjutkan jalan. "Gue cuma... lo baru kenal dia dua hari."
"Gue tau. Tapi dua hari cukup untuk tahu bahwa gue mau kenal lebih lama."
Risa diam sampai kami sampai di gerbang sekolah.
---
Kesempatan itu datang di jam istirahat pertama.
Reza keluar kelas sendirian — Juned rupanya sedang tertahan di dalam karena Pak Gunawan mau bicara soal tugas yang belum dikumpulkan. Reza berjalan ke arah koridor dengan langkah orang yang tidak terburu-buru, tas tersampir di satu bahu, pandangan ke depan.
Ini dia.
Aku keluar kelas dengan langkah yang kucoba jaga agar tidak kelihatan terlalu cepat atau terlalu lambat — kecepatan netral, kecepatan orang yang kebetulan mau ke arah yang sama.
"Reza."
Ia berhenti. Menoleh.
Kami berdiri di koridor yang untungnya tidak terlalu ramai — ada beberapa orang lewat, tapi tidak cukup banyak untuk membuat ini jadi tontonan massal.
"Hana." Nadanya datar. "Ada perlu?"
Ada perlu. Ya. Ada perlu. Sangat ada perlu.
Aku menarik napas satu kali.
"Reza, gue naksir lo."
Singkat. Jelas. Selesai.
Tiga kata yang sudah muter-muter di kepalaku sejak kemarin malam dan sekarang sudah keluar dan tidak bisa ditarik lagi.
Reza menatapku.
Tidak berkedip selama kurang lebih tiga detik.
Kemudian ia berkata:
"...Oke."
Lalu berjalan pergi.
---
Aku berdiri di koridor itu sendirian selama mungkin sepuluh detik.
Oke.
Ia bilang oke.
Bukan "makasih tapi aku nggak suka kamu balik." Bukan "waduh ini awkward ya." Bukan "maaf aku anggap kamu teman aja." Bukan bahkan "wah." Atau "eh." Atau apapun yang punya konten emosional yang bisa kuproses.
Hanya: Oke.
Dan jalan pergi.
BIP.
Gelangku berbunyi satu kali. Pelan. Seperti ia sendiri juga bingung harus merespons apa.
"Han."
Aku menoleh.
Mutia berdiri tiga meter dariku dengan ekspresi yang sudah mewakili semua perasaan yang perlu diwakilkan.
"Gue tadi denger," katanya.
"Gue tau."
"Reaksinya gimana?"
"Dia bilang oke terus pergi."
Mutia mengernyit. "Oke?"
"Oke."
"Cuma oke?"
"Cuma oke."
Mutia memijat pelipisnya. "Itu bukan jawaban."
"Gue tau." Aku mulai berjalan ke kantin. Kaki masih berfungsi normal, itu bagus. "Tapi setidaknya dia nggak kabur."
"Lo yang bilang nggak kabur," kata Mutia mengikutiku. "Padahal dia yang pergi duluan."
"Dia jalan. Bukan kabur. Beda."
---
Di meja kantin, aku menceritakan detail kejadian itu ke Mutia sambil makan. Mutia mendengarkan dengan ekspresi seorang auditor yang sedang menganalisis laporan keuangan yang mencurigakan.
"Tiga detik dia diem sebelum bilang oke?" ulangnya.
"Kira-kira."
"Terus langsung pergi?"
"Ya."
"Tanpa ekspresi apapun?"
"Mukanya datar. Tapi matanya..." Aku berhenti. Mengingat. "Matanya mikir."
"Mikir gimana?"
"Nggak tau. Kayak lagi proses sesuatu."
Mutia mengangguk pelan. Cara ia mengangguk itu terasa seperti seseorang yang sedang menyusun kesimpulan dari data yang tersedia.
"Oke," katanya akhirnya.
"Oke gimana?"
"Oke artinya dia nggak menolak. Tapi juga nggak nerima." Ia meneguk minumannya. "Itu grey area, Han."
"Grey area itu masih ada kemungkinan."
"Atau tidak ada kemungkinan yang dikemas dengan sopan."
"Lo selalu positif banget ya, Mut."
"Gue realistis."
---
Sementara itu, di kantin yang sama tapi di meja yang berbeda, Juned sudah duduk di sebelah Reza bahkan sebelum Reza sempat meletakkan nampannya.
"Za."
"Apa."
"Tadi ada yang bilang sesuatu ke lo di koridor kan?"
Reza tidak langsung menjawab. Ia membuka nampannya dan mulai makan dengan ritme orang yang sedang sibuk memikirkan hal lain.
"Juned," katanya setelah jeda yang cukup panjang. "Lo ngintip."
"Gue kebetulan ada di lokasi."
"Di balik tiang."
"Tiang itu kebetulan ada di lokasi yang sama dengan gue."
Reza menatap tiang yang dimaksud. Posisi tiang itu tidak ada di dekat manapun yang bisa disebut kebetulan.
"Ned."
"Za."
"Tutup mulut."
Juned tertawa. "Za, ada cewek yang nembak lo! Lo harusnya—"
"Aku bilang oke."
"IYA GUE DENGER. LO BILANG OKE TERUS PERGI. ZA ITU BUKAN RESPONS MANUSIA NORMAL."
Beberapa orang di meja sebelah menoleh. Reza menekan pundak Juned ke bawah dengan satu tangan.
"Kecil-kecilkan suaramu."
Juned menurunkan volume tapi tidak menurunkan intensitas. "Lo harusnya paling nggak tanya dulu dia beneran apa bercanda. Atau bilang makasih. Atau sesuatu yang—"
"Aku belum siap."
"Belum siap apa?"
Reza tidak menjawab itu.
Juned menatapnya sebentar. "Za. Lo masih mikirin Risa?"
Nama itu mendarat di udara di antara mereka dengan cara yang tidak nyaman.
"Itu tidak relevan," kata Reza akhirnya.
"Sangat relevan—"
"Ned." Reza menatap Juned langsung. "Aku bilang oke karena itu yang keluar. Bukan karena aku punya jawaban yang lebih baik." Jeda. "Aku butuh waktu untuk mikir."
Juned menatap sahabatnya lama.
Kemudian, dengan nada yang lebih serius dari biasanya: "Za. Cewek yang berani jujur langsung itu langka. Jangan biarin dia nunggu terlalu lama."
Reza tidak menjawab.
Tapi ia juga tidak menyangkal.
---
Sore hari, di jalan pulang, Risa berjalan di sebelah Reza. Ini sudah jadi rutinitas mereka sejak masuk OSIS — kadang-kadang jalan pulang searah, ngobrol soal agenda OSIS atau hal-hal random yang tidak perlu diagenda.
"Hana cerita ke lo?" tanya Reza.
Risa tidak kaget dengan pertanyaan itu. "Tidak. Tapi Mutia cerita ke gue."
"Seberapa detail?"
"Cukup detail."
Reza menatap ke depan. "Menurutmu gimana?"
Risa diam sebentar. "Hana itu tipe yang nggak main-main kalau ngomong sesuatu," jawabnya hati-hati. "Kalau dia bilang naksir, itu beneran. Bukan iseng."
"Aku tau."
"Terus?"
Reza tidak menjawab.
Risa meliriknya dari sudut mata. Ada sesuatu di ekspresi Reza yang ia tidak bisa baca sepenuhnya — sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar bingung soal cewek baru.
Ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.
"Lo yang tau sendiri apa yang lo mau, Rez," katanya akhirnya.
Reza mengangguk pelan.
Dan mereka melanjutkan jalan pulang dalam diam yang nyaman — diam yang sudah terlalu akrab untuk keduanya, dan justru itulah yang tidak pernah Reza tahu harus dipikirkan bagaimana.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar