Tidak bisa salah.


Itu yang aku katakan ke diriku sendiri jam sebelas malam, sambil tiduran di kasur kos dengan drama Korea mengalir di latar belakang dan notes HP terbuka di depan mataku.


RENCANA HARI KEDUA:

1. Datang ke kelas.

2. Duduk di tempat biasa.

3. Lihat kesempatan.

4. Pinjam pulpen ke Reza.

5. Kembalikan besoknya dengan kalimat ringan yang tidak terkesan berusaha keras.


Simpel. Bersih. Tidak ada ruang untuk bencana.


Aku bahkan sudah menyiapkan kalimat pengembalian pulpennya. Di notes HP, tepat di bawah poin nomor lima:


"Makasih ya! Penyelamat banget." — Ringan. Tidak desperate. Sempurna.


Aku matikan drama di detik yang tidak tanggung — Oh In-joo baru mau bilang sesuatu penting — dan memaksa diri tidur.


Aku sudah siap.


---


Yang tidak aku antisipasi: mutasi tempat duduk.


Pak Gunawan mengumumkan ini tiga menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Seluruh kelas langsung bergerak seperti migrasi wildebeest di dokumenter National Geographic — kursi bergeser, tas dipindah, orang-orang menavigasi lorong sempit dengan semangat yang tidak proporsional untuk aktivitas duduk di tempat baru.


Ketika debu — secara kiasan — mereda, Reza sudah tidak ada di bangku pojok kanan yang kemarin.


Ia sekarang di sisi kiri kelas. Dekat papan tulis. Dikelilingi tiga orang yang tidak kukenal.


Bangkunya yang lama ditempati oleh cowok bertubuh besar dengan ekspresi orang yang baru mendapat warisan — kakinya sudah naik ke laci meja.


"Lo siapa?" tanya Mutia di sebelahku.


"Hana," jawabku otomatis.


"Bukan. Maksudnya — muka lo kenapa kayak gitu."


"Kayak gimana?"


"Kayak orang yang udah susah payah nyiapin sesuatu dan tiba-tiba kondisinya berubah."


Aku menatap posisi Reza yang baru. Jaraknya sekarang dua kali lebih jauh. Dan ada tiga orang di antaranya.


Baik. Baik. Ini bisa disesuaikan. Rencana tetap bisa jalan.


"Gue baik-baik aja," kataku.


Mutia menatapku dengan satu alis terangkat. "Tentu saja."


---


Satu jam kemudian, aku memiliki kesimpulan bahwa rencana memang bisa disesuaikan — tapi hasilnya tidak selalu lebih baik dari versi aslinya.


Cowok yang menempati bangku Reza yang lama ternyata bernama Juned. Juned Firmansyah. Dan ini relevan karena waktu aku — dengan semangat seorang ahli strategi yang memanfaatkan kondisi lapangan — memutuskan untuk pinjam pulpen ke bangku itu sebagai titik awal, yang aku dapatkan bukan pulpen Reza.


Melainkan pulpen Juned.


Yang buku catatannya terbuka di meja dan halaman pertamanya berisi gambar naga dengan mahkota bertuliskan BUKU SAKTI JUNED BIN SAEPUDIN dengan stabilo oranye.


"Oh, boleh dong! Nih!" Juned menyodorkan pulpen bahkan sebelum aku selesai meminta.


Aku menerimanya. Membuka buku catatannya sebentar — untuk pura-pura menggunakannya.


Halaman kedua: rumus Kimia yang bercampur dengan sketsa orang bermain bola dan tulisan "Mutia cantik" yang dicoret, ditulis lagi, dicoret lebih tebal, ditulis dengan huruf kapital, dicoret dengan dua garis.


Halaman ketiga: hanya tulisan MUTIA CANTIK memenuhi satu halaman penuh dengan ukuran font yang berbeda-beda seperti poster konser jalanan.


Aku menutup buku itu.


"Makasih ya," kataku, dengan nada yang kujaga serata mungkin.


"Sama-sama!" Juned masih cengengesan. "Mau minta tanda tangan juga nggak? Gratis kok."


---


Aku kembali ke bangkuku sambil membawa pulpen Juned dan perasaan seorang dokter yang salah masuk ruang operasi.


Sticky note kecil masih ada di saku — sudah aku tulis semalam, "Makasih ya! Penyelamat banget." — tapi sekarang penempatannya perlu dipikirkan ulang karena objeknya berbeda dengan yang direncanakan.


Baik. Masih ada satu jam sebelum istirahat. Bisa dipikirkan lagi.


Tapi kemudian bel pelajaran berbunyi.


Dan kemudian Pak Hendra masuk dan langsung mulai nulis rumus di papan tanpa jeda nafas.


Dan kemudian waktu berlalu dengan sangat tidak membantu.


---


Bel istirahat berbunyi. Aku berdiri, berniat langsung mendekati bangku Reza yang baru dengan rencana modifikasi yang sudah kususun — pinjam penghapus, lebih simpel dari pulpen — tapi Juned lebih dulu berdiri dan langsung melenggang ke arah yang sama.


Aku terhenti.


Juned sampai di bangku Reza, duduk di tepi meja dengan cara yang menunjukkan ia sering melakukan ini, dan mulai bicara dengan nada santai yang terdengar sampai ke tempatku berdiri.


"Za, tadi ada yang mau minjem pulpen lo nggak?"


Reza mengangkat kepala dari catatan yang sedang ia rapikan. "Enggak. Kenapa?"


"Nggak kenapa. Cuma mau bilang — kalau ada yang minta-minta sesuatu dari lo, itu tandanya mau kenalan." Juned mengangguk ke arahku. "Tuh misalnya."


Aku tidak bergerak selama kurang lebih dua detik penuh.


Kemudian Reza menoleh.


Matanya menemukan aku.


Aku sedang berdiri di tengah lorong antara dua baris bangku dengan sticky note di tangan, ekspresi yang kemungkinan besar tidak bisa dikategorikan sebagai santai dan tidak desperate, dan tidak ada rencana B yang siap.


"Kamu mau minjem sesuatu?" tanya Reza.


Suaranya datar. Bukan datar yang dingin, bukan datar yang marah — hanya datar yang netral, seperti pertanyaan biasa tentang waktu atau arah toilet.


"Itu..." Kata-kata keluar sebelum dipikir. "Pulpen. Tapi gue udah minjem ke Juned."


Reza menatap pulpen Juned yang masih ada di tanganku. "Oh."


Hening satu detik.


"Terus?" tanyanya.


Terus aku tidak punya jawaban yang masuk akal karena rencana originalnya melibatkan kamu, bukan Juned, dan sticky note ini harusnya untuk buku catatan kamu bukan untuk jidat siapapun.


"Nggak ada," kataku. "Makasih."


Aku memutar badan dan berjalan kembali ke bangkuku dengan langkah yang semoga terlihat tenang dan bukan seperti seseorang yang sedang kabur.


---


Di bangkuku, aku duduk. Menaruh kepala di meja.


Dari arah kiri, ada gerakan.


Risa meletakkan tangannya di atas mejaku — satu tepukan pelan. Tidak bilang apa-apa.


Itu lebih menyakitkan dari komentar apapun yang bisa ia ucapkan.


Kemudian dari arah kanan, ada sesuatu yang diselipkan ke bawah tanganku.


Selembar kertas kecil dari Mutia:


"Rating hari ini: 3/10. Pulpen salah orang. Tapi setidaknya sudah ada progress visual. — M"


Aku melipatnya dan memasukkan ke saku.


Progress visual.


Aku menatap langit-langit kelas.


Oke. Tidak apa-apa. Ini hanya hari kedua. Masih ada banyak waktu.


Masih banyak waktu.


Bel masuk berbunyi. Aku duduk tegak, membuka buku, mencoba fokus ke pelajaran berikutnya.


Dan tepat saat itu, dari arah bangku Reza, ada sesuatu yang diletakkan di meja oleh seseorang yang lewat.


Sebuah pulpen.


Bukan pulpen Juned. Pulpen yang berbeda — lebih bagus, tintanya biru gelap.


Dan tidak ada keterangan dari siapa.


Aku menatap pulpen itu.


Menatap ke arah bangku Reza.


Ia sudah duduk menghadap papan tulis, catatan terbuka, tidak menoleh sama sekali.


Atau setidaknya, tidak terlihat menoleh.