Malam Selasa.
Jam sembilan lewat dua puluh.
Reza duduk di depan meja belajar dengan buku Sejarah terbuka di halaman yang sama sudah empat puluh menit terakhir.
Ini masalah.
Biasanya ia bisa fokus. Biasanya ia bisa duduk, buka buku, dan otaknya langsung bekerja. Itulah kenapa nilainya selalu rapi dan Mama tidak pernah perlu mengingatkan soal belajar.
Tapi empat puluh menit sudah berlalu dan satu-satunya hal yang berhasil ia lakukan adalah membaca kalimat pembuka sub-bab lima belas kali tanpa memproses isinya.
"Oke."
Kenapa ia bilang oke?
Bukan tidak. Bukan "maaf aku tidak bisa." Bukan bahkan "aku butuh waktu untuk pikir." Yang terakhir itu setidaknya punya konten informatif. Tapi oke — oke itu bukan jawaban. Oke itu jawaban orang yang tidak tahu harus bilang apa.
Dan memang itulah yang terjadi.
Ia tidak tahu harus bilang apa.
---
Yang membingungkan bukan gadis itu sendiri — secara teknis.
Hana Maharani baru ada tiga hari. Tidak cukup waktu untuk mengenal seseorang. Tidak cukup untuk tahu apakah ia orang yang baik atau menyebalkan atau dua-duanya, apakah keberaniannya itu genuine atau sekadar kepedean, apakah gelang itu kondisi serius atau sesuatu yang bisa diabaikan.
Yang membingungkan adalah reaksi otaknya sendiri.
Karena dalam empat puluh menit terakhir, ia sudah secara tidak sengaja membandingkan dua hal berkali-kali:
Cara ia memikirkan Risa selama setahun.
Dan cara gadis itu muncul di kepalanya setelah tiga hari.
Dengan Risa — ia selalu sadar kapan ia memikirkannya. Selalu ada keputusan sadar: oke, sekarang aku sedang memikirkan Risa. Seperti membuka folder di komputer. Terkontrol.
Dengan Hana — tidak ada keputusan apapun. Ia hanya tiba-tiba ada. Di kepala. Di tengah pelajaran. Di tengah makan siang. Di tengah buku Sejarah yang sudah terbuka empat puluh menit.
Seperti notifikasi yang muncul tanpa ia install aplikasinya.
---
Pintu kamar diketuk.
"Za?" Suara Juned. "Lo tidur nggak?"
"Belum."
Juned masuk tanpa menunggu undangan lebih lanjut. Ini yang membedakan Juned dari tamu lain — ia tidak pernah tunggu undangan, tapi juga tidak pernah benar-benar mengganggu. Semacam gangguan yang sudah jadi latar belakang.
"Main game yuk." Juned sudah menarik kursi dan duduk di tepi kasur. "Dari tadi gue bosen."
"Belum ngerjain PR."
"PR Sejarah?"
"Ya."
Juned menatap buku yang terbuka di meja Reza. "Lo udah di halaman itu dari tadi, Za."
"Gue lagi baca."
"Gue tahu lo lagi nggak baca. Lo punya ekspresi spesifik waktu baca — lo agak nyipitkan mata. Sekarang lo menatap kosong."
Reza menutup buku.
"Ned," katanya. "Lo terlalu banyak memperhatikan orang."
"Gue cuma memperhatikan lo. Lo sahabat gue." Juned bersandar di kasur. "Jadi gimana?"
"Gimana apa."
"Si Hana. Yang tadi nembak lo."
Hening.
"Lo mikirin dia kan," kata Juned. Bukan pertanyaan.
"Aku mikirin cara ngasih jawaban yang..."
"Yang apa?"
"Yang jelas." Reza berpaling ke jendela. "Tadi aku bilang oke. Itu bukan jawaban yang jelas."
Juned diam sebentar. Ini rare — Juned diam dengan sengaja adalah sesuatu yang hanya terjadi di momen-momen tertentu.
"Za," katanya akhirnya. "Lo mau jawab apa? Iya atau nggak?"
"Aku belum tahu."
"Kenapa belum tahu?"
Reza tidak langsung menjawab. Ia memutar pulpen di tangannya — kebiasaan yang muncul waktu ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak nyaman.
"Karena..." ia mulai. Berhenti. "Ada hal lain yang harus aku pikirkan dulu."
Juned memandangnya lama. "Risa?"
Reza tidak menjawab. Tapi tidak menyangkal juga.
Juned menghela napas. Panjang. Dengan cara orang yang sudah menyimpan sesuatu dan memutuskan untuk mengeluarkannya.
"Za. Gue mau ngomong sesuatu dan lo dengerin dulu sampai selesai."
"Ned—"
"Dengerin dulu."
Reza menutup mulut.
"Lo udah setahun lebih ada buat Risa," kata Juned, nadanya lebih serius dari biasanya. "Lo ada di setiap rapat OSIS. Lo yang selalu bantu waktu ada masalah. Lo yang paling pertama Risa telepon kalau ada drama di kepanitiaan." Jeda. "Dan selama setahun itu, lo nggak pernah maju. Lo cuma ada. Diam. Menunggu sesuatu yang lo sendiri nggak tahu lo nunggu apa."
Reza tidak menjawab.
"Dan Risa..." Juned memilih kata-katanya. "Risa nganggep lo teman. Teman yang paling bisa diandalkan. Itu bukan hal buruk, Za. Tapi lo sendiri tahu itu bukan yang lo mau."
"Aku tidak bilang itu."
"Lo nggak perlu bilang. Gue tau."
Reza meletakkan pulpen. Menatap mejanya.
"Trus sekarang," Juned melanjutkan, "ada orang yang muncul dan langsung bilang ke muka lo bahwa dia suka lo. Tanpa main-main. Tanpa tunggu lo duluan." Ia mengangkat bahu. "Lo bingung bukan karena lo nggak tau mau jawab apa. Lo bingung karena lo nggak terbiasa sama kejujuran setipe itu."
Sunyi di kamar itu.
Di luar, suara motor lewat. Anjing tetangga menggonggong sekali lalu diam.
"Dia cuma baru tiga hari kenal gue," kata Reza akhirnya.
"Ya. Dan dia sudah lebih jujur ke lo dari siapapun dalam setahun terakhir."
Reza tidak punya jawaban untuk itu.
---
Keesokan paginya, aku sampai di sekolah dengan tekad yang sudah aku simpan dari semalam: tidak ada yang berubah. Aku sudah bilang. Reza sudah tahu. Sekarang tinggal tunggu.
Yang mengejutkan — dalam artian positif — adalah bahwa Reza yang pertama menyapa.
Bukan sapaan besar. Bukan "hey Hana, gue udah pikirin kamu semalaman dan gue punya jawaban." Hanya anggukan kepala pendek waktu kami berpapasan di koridor menuju kelas.
Tapi itu sudah ada. Dan bagi seseorang yang kemarin pergi dengan "oke" tanpa ekspresi apapun, itu adalah perkembangan yang bisa dicatat.
Aku masuk kelas. Duduk. Mengeluarkan buku.
Dari bangkunya, Mutia sudah menatapku.
"Dia menyapa lo di koridor," katanya. Bukan pertanyaan.
"Lo lihat?"
"Gue tahu segalanya, Han."
Aku tidak mempertanyakan itu. "Dia angguk kepala."
"Terus?"
"Terus masuk kelas."
Mutia mengangguk pelan. Cara yang sama seperti kemarin — cara seorang auditor yang sedang menyimpan data untuk laporan selanjutnya.
"Kemajuan," katanya akhirnya.
"Itu aja?"
"Itu cukup untuk hari ini."
---
Istirahat kedua, Reza dan Juned duduk di lapangan. Juned sedang makan snack dengan semangat orang yang belum makan tiga hari. Reza duduk di sebelahnya, memandang ke depan.
Dan kemudian Hana lewat — berjalan bersama Risa dan Mutia ke arah kantin.
Hana tidak menoleh.
Tapi Reza melihatnya.
Dan untuk pertama kali ia memperhatikan sesuatu yang kemarin luput: cara Hana berjalan tidak berbeda dari kemarin atau sebelum kemarin. Tidak ada sesuatu di bahasa tubuhnya yang menunjukkan ia sedang menunggu sesuatu, sedang canggung, sedang menyesal bilang apa yang ia bilang.
Ia tertawa soal sesuatu yang dikatakan Mutia. Tawa yang sama seperti kemarin. Tidak dibuat-buat.
Bagaimana caranya, pikir Reza, orang bilang sesuatu sebesar itu dan tetap berjalan seperti biasa?
"Lo liatin dia lagi," kata Juned tanpa menoleh.
"Aku tidak—"
"Za." Juned menatapnya. "Gue ngitung dari tadi. Ini yang ketiga kalinya."
Reza tidak menjawab.
Juned menyeringai. "Mau gue bantu?"
"Tidak."
"Gue punya banyak ide—"
"Ned. Tidak."
Juned mengangkat tangan menyerah. Tapi senyumnya tidak hilang.
Dan Reza kembali menatap ke depan. Ke arah kantin yang sudah ditelan kerumunan.
Bagaimana caranya.
Pertanyaan itu tidak langsung ketemu jawabannya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar