Derap roda kereta api yang beradu dengan rel besi menciptakan ritme monoton yang entah bagaimana terasa menenangkan bagi Maya. Di luar jendela, pemandangan Jakarta yang sumpek perlahan berganti menjadi hamparan sawah hijau yang disapu semburat jingga matahari terbenam. Jakarta, dengan segala hiruk-pikuk dan pengkhianatan yang tersimpan di balik gedung-gedung betonnya, kini resmi menjadi masa lalu.

Maya melirik Bagas dan Sari. Keduanya tertidur pulas dengan posisi kepala saling bersandar. Bagas memeluk tas ransel berisi robot-robotannya, sementara Sari masih menggenggam erat boneka kelincinya. Wajah mereka begitu damai, kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Maya.

Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat berisi sisa uang dari penjualan tanah warisannya dan paspor yang sudah lama tidak ia sentuh. Ia telah mematikan ponsel lamanya dan mematahkan kartu SIM-nya di stasiun tadi. Ia tidak ingin ada jejak yang tersisa. Baginya, Rehan bukan lagi sekadar mantan suami; Rehan adalah radiasi yang harus ia hindari demi kesehatan mental anak-anaknya.

“Kenapa kita harus pergi jauh, Ma? Papa beneran nggak bakal cari kita?” Pertanyaan Bagas sebelum mereka naik kereta tadi masih terngiang.

Maya hanya bisa tersenyum getir waktu itu. “Papa punya hidup baru, Nak. Kita juga harus punya hidup baru.”

Kini, Maya mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Di sana ia menuliskan rencana hidupnya. Semarang hanyalah persinggahan sementara di rumah pamannya. Ia butuh waktu untuk menata ulang kemampuannya. Delapan tahun menjadi ibu rumah tangga telah mengubur ijazah akuntansinya di tumpukan debu. Ia harus belajar lagi, memperbarui pengetahuannya tentang sistem perpajakan dan perangkat lunak akuntansi terbaru. Ia tahu, dunia tidak akan menunggunya yang sedang berduka.


Sementara itu, di sebuah butik perhiasan kelas atas di Jakarta Pusat, Rehan berdiri dengan perasaan yang sulit didefinisikan. Di depannya, Vanya sedang asyik mencoba sebuah kalung berlian dengan mata yang berbinar penuh nafsu.

"Mas, lihat! Ini cocok banget kalau dipakai di acara peresmian kantor baru kita nanti," ujar Vanya, memutar tubuhnya di depan cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu hangat.

Rehan hanya mengangguk pelan. Pikirannya masih tertambat pada rumah kosong yang ia datangi kemarin. Surat dari Maya seperti hantu yang terus membisikkan rasa bersalah di telinganya. Kalimat “tidak akan ada lagi wanita yang akan mendoakan keselamatanmu di setiap sujudnya” terasa seperti kutukan yang mulai bekerja.

"Mas? Kamu kok melamun terus sih?" Vanya menghampiri, menyentuh lengan Rehan dengan manja. "Kamu masih kepikiran soal rumah itu? Sudahlah, Mas. Maya itu cuma mau main drama supaya kamu merasa bersalah. Dia sengaja ninggalin barang-barang itu biar kamu makin kepikiran. Itu taktik manipulasi, tahu!"

Rehan menepis pelan tangan Vanya, sesuatu yang jarang ia lakukan. "Dia pergi, Vanya. Dia membawa anak-anak dan aku tidak tahu mereka di mana. Dia memutus semua komunikasi."

Vanya memutar bola matanya, ekspresi kekesalan mulai muncul di balik riasan wajahnya yang sempurna. "Ya bagus, kan? Artinya dia nggak akan ganggu kita lagi. Lagian, Mas, kamu harusnya senang. Sekarang fokus kita cuma satu: mengalihkan semua aset atas nama kamu ke akun bersama kita. Kamu nggak mau kan kalau tiba-tiba dia muncul lagi cuma buat minta harta gono-gini?"

Rehan menatap Vanya tajam. "Dia baru saja meninggalkan semua perhiasan pemberianku yang harganya ratusan juta di atas kasur tanpa membawa satu pun. Apa itu yang kamu sebut ingin menguasai harta?"

Suasana mendadak dingin. Vanya terkejut dengan nada bicara Rehan yang mulai berani mendebatnya. Namun, sebagai manipulator ulung, ia segera mengubah taktik. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar seolah akan menangis.

"Mas... kamu membentakku? Aku cuma peduli sama kamu. Aku nggak mau kamu sakit hati lagi. Aku cinta sama kamu, Mas. Apa salah kalau aku mau kita punya masa depan yang aman?"

Melihat air mata "buaya" itu, Rehan menghela napas panjang. Ia merasa lelah. "Maaf, Vanya. Aku cuma... aku cuma merasa ini semua terlalu cepat."

"Semua butuh penyesuaian, Sayang," bisik Vanya sambil memeluk Rehan erat. Di balik bahu Rehan, Vanya tersenyum sinis. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya, mengirim pesan singkat ke nomor yang tidak tersimpan di kontaknya.

“Dia mulai sensitif soal mantan istrinya. Kita harus percepat rencana. Cari tahu ke mana wanita itu pergi. Aku nggak mau dia jadi batu sandungan di masa depan.”


Kereta sampai di Stasiun Tawang, Semarang, saat fajar mulai menyingsing. Udara pagi yang lembap menyambut Maya dan kedua anaknya. Paman Maya, Pak Broto, sudah menunggu di peron dengan senyum kebapakan yang tulus.

"Maya... akhirnya kamu sampai juga," ujar Pak Broto, memeluk keponakannya itu. Ia tahu apa yang terjadi, meski Maya tidak menceritakan detailnya di telepon. Kehadiran Maya dengan dua koper besar dan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua sudah menjelaskan segalanya.

"Terima kasih sudah mau menampung kami, Paman," bisik Maya pelan.

"Rumah itu kosong sejak bibimu meninggal. Pakailah sesukamu. Anggap rumah sendiri," jawab Pak Broto.

Rumah itu terletak di daerah perbukitan yang cukup tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Sebuah rumah tua bergaya kolonial dengan halaman luas yang dipenuhi pohon mangga dan kamboja. Di sana, Maya mulai melakukan "pembersihan". Ia menghapus semua foto di galeri ponsel barunya yang berhubungan dengan Rehan. Ia membakar semua surat atau barang yang masih tersisa yang bisa mengingatkannya pada pengkhianatan itu.

Namun, menghapus jejak fisik jauh lebih mudah daripada menghapus jejak di ingatan anak-anak.

Malam harinya, Bagas ditemukan Maya sedang duduk di teras, menatap bintang.

"Ma, apa Papa tahu kita di sini?" tanya Bagas pelan.

Maya duduk di samping putranya. "Tidak, Bagas. Kenapa?"

"Bagas cuma takut... kalau Papa tahu, Papa bakal bawa perempuan itu ke sini. Bagas nggak suka Tante Vanya, Ma. Dia pernah cubit tangan Bagas pas Papa nggak lihat, gara-gara Bagas numpahin jus di tasnya."

Jantung Maya serasa berhenti berdetak. Ia menarik lengan baju Bagas, melihat ada bekas luka kecil yang sudah mengering. Amarah yang selama ini ia tekan seolah meledak di dalam kepalanya. Ternyata selama ini, di bawah hidung Rehan, Vanya sudah mulai menunjukkan taringnya pada anak-anak.

"Kenapa Bagas nggak bilang sama Mama atau Papa dulu?" suara Maya bergetar karena emosi.

"Tante Vanya bilang, kalau Bagas lapor, Papa bakal marah dan nggak mau tinggal sama kita lagi. Bagas takut Papa pergi," isak bocah itu.

Maya memeluk Bagas dengan perasaan hancur yang amat sangat. Di saat itulah, tekadnya yang tadi hanya sekadar ingin bertahan hidup, berubah menjadi keinginan untuk membuktikan bahwa mereka bisa jauh lebih hebat tanpa pria yang sudah dibutakan oleh wanita busuk seperti Vanya.

Aku akan membalas setiap tetes air mata anak-anakku, Rehan. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan kesuksesanku yang akan membuatmu memohon untuk kembali, batin Maya.


Kembali di Jakarta, Rehan mulai merasa dunianya sedikit bergeser. Vanya mulai membawa teman-temannya ke apartemen—pria dan wanita dengan gaya hidup mewah yang membuat Rehan merasa asing. Mereka bicara soal investasi bodong, pesta malam, dan menghambur-hamburkan uang seolah uang itu jatuh dari langit.

Suatu malam, Rehan pulang lebih awal karena kepalanya pening. Ia mendengar suara tawa riuh dari dalam apartemennya. Begitu membuka pintu, ia melihat Vanya sedang tertawa keras sambil bersandar di bahu seorang pria yang tidak ia kenal. Pria itu terlihat jauh lebih muda, mengenakan jaket kulit dan memiliki tindik di telinganya.

"Oh, Mas! Sudah pulang?" Vanya tampak terkejut, namun segera menguasai keadaan. "Ini Rio, sepupuku dari Bandung. Baru sampai tadi sore."

Rio berdiri, mengulurkan tangan dengan senyum yang menurut Rehan sangat tidak sopan. "Halo, Mas Rehan. Vanya sering cerita soal kehebatan Mas di kantor."

Rehan menjabat tangan Rio dengan enggan. Ada sesuatu yang tidak beres dari cara Rio menatap Vanya, dan bagaimana Vanya tampak sedikit gugup. Namun, rasa lelah mengalahkan kecurigaannya.

"Aku mau istirahat," ujar Rehan dingin, langsung melangkah menuju kamar.

Begitu pintu kamar tertutup, Rio berbisik pada Vanya. "Suamimu itu kelihatannya sudah mulai bosan sama kamu, Van. Hati-hati, nanti kamu didepak seperti istrinya yang dulu."

"Diam kamu, Rio. Dia sudah masuk perangkapku. Aku cuma butuh dia menandatangani surat kuasa atas aset tanah di Bogor itu. Setelah itu, kita bisa pergi dari sini," bisik Vanya tajam.

"Kapan?"

"Minggu depan ada acara kantor. Aku akan buat dia mabuk dan menandatangani dokumennya di antara tumpukan berkas kerjaannya. Dia nggak akan sadar sampai semuanya sudah terlambat."

Tanpa mereka sadari, Rehan berdiri di balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia tidak mendengar semua pembicaraan mereka, namun ia mendengar kata "aset tanah di Bogor" dan "surat kuasa".

Darah Rehan berdesir. Tanah di Bogor adalah tanah yang baru saja Maya katakan akan ia jual. Maya bilang tanah itu miliknya, warisan dari orang tuanya. Rehan teringat bahwa ia pernah meminta Maya menandatangani dokumen kosong beberapa tahun lalu dengan alasan urusan bisnis, namun ternyata Maya lebih cerdik dengan menyimpannya sendiri.

Kecurigaan yang selama ini ia tepis atas nama cinta mulai tumbuh subur. Rehan menyadari bahwa ia mungkin telah membuang seseorang yang tulus hanya untuk memelihara seekor serigala berbulu domba.

Di kegelapan kamarnya, Rehan mengambil ponsel. Ia mencoba mencari jejak Maya kembali. Ia mulai menyadari bahwa setiap langkah yang diambilnya sejak mengenal Vanya adalah langkah menuju jurang. Namun, ia belum tahu seberapa dalam jurang itu sampai ia benar-benar terjatuh nanti.

Di Semarang, Maya baru saja selesai merapikan berkas-berkasnya. Di atas meja, tertumpuk buku-buku akuntansi terbaru. Ia menatap cermin, memotong rambut panjangnya yang dulu sangat disukai Rehan menjadi potongan bob yang praktis dan tegas.

Jejak telah dihapus. Identitas lama telah mati. Dan di antara bayang-bayang rumah tua di Semarang, seorang wanita baru sedang lahir—wanita yang tidak akan pernah membiarkan "busuknya" dunia menyentuh hidupnya lagi.