Lampu kristal yang menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu berpendar mewah, memantulkan cahaya keemasan pada setiap gelas sampanye yang berdenting. Malam ini adalah malam perayaan kesuksesan Rehan yang berhasil memenangkan tender pembangunan kawasan industri baru di Karawang. Bagi kolega bisnisnya, Rehan adalah gambaran pria sukses yang sempurna: karier yang melejit, penampilan yang memikat, dan kini, didampingi oleh wanita muda yang luar biasa cantik.
Vanya berdiri di samping Rehan dengan gaun backless berwarna zamrud yang memamerkan kulit punggungnya yang mulus. Ia tersenyum pada setiap tamu, tertawa dengan nada yang diatur sedemikian rupa agar terdengar elegan namun tetap menggoda. Tangannya tak pernah lepas dari lengan Rehan, seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
"Selamat, Rehan! Kamu benar-benar luar biasa. Dan ini... istri barumu?" tanya Pak Baskoro, salah satu investor senior yang dulu cukup akrab dengan Maya.
Rehan tersenyum kaku. "Terima kasih, Pak Baskoro. Ya, perkenalkan, ini Vanya."
Vanya mengulurkan tangannya dengan gemulai. "Senang bertemu dengan Anda, Pak. Mas Rehan sering bercerita betapa hebatnya Anda membimbingnya selama ini."
Pak Baskoro menjabat tangan Vanya, namun tatapannya menyiratkan sesuatu yang sulit dibaca. "Ah, ya. Sangat... berbeda dengan Maya yang dulu ya, Han. Lebih dinamis."
Kalimat itu seperti duri kecil yang menusuk harga diri Rehan. Berbeda. Tentu saja berbeda. Namun, entah mengapa, pujian itu tidak membuat Rehan merasa bangga seperti biasanya. Ia justru merasa seperti sedang memakai topeng yang terlalu berat.
"Mas, aku ambilkan minum dulu ya?" bisik Vanya dengan hembusan napas yang menyentuh telinga Rehan.
Rehan mengangguk. Saat Vanya melangkah pergi, Rehan menarik napas panjang, mencoba melonggarkan kerah kemejanya yang terasa mencekik. Matanya menyapu ruangan, dan tiba-tiba saja, ia seolah melihat bayangan Maya di sudut ruangan. Maya yang dulu selalu mengenakan pakaian sopan, yang lebih banyak diam namun selalu memastikan gelas minum suaminya terisi dan dasinya tetap lurus.
Pikiran itu segera ia tepis ketika matanya menangkap sosok Rio di kejauhan. Rio tidak seharusnya ada di sini. Vanya bilang sepupunya itu akan tinggal di apartemen, namun sekarang pria itu tampak mengenakan setelan jas—yang Rehan curigai diambil dari lemari pakaiannya sendiri—dan sedang asyik berbincang dengan salah satu staf keuangan kantor Rehan.
Hati Rehan berdesir. Mengapa Rio mendekati staf keuangannya?
Di belahan kota yang berbeda, jauh dari kebisingan pesta, Maya duduk di teras rumah tuanya di Semarang. Di depannya, sebuah laptop pinjaman dari Pak Broto menyala terang. Maya sedang mengerjakan ujian sertifikasi akuntansi tingkat menengah secara daring. Ia harus lulus. Ini bukan lagi soal hobi, tapi soal kelangsungan hidup.
Keringat dingin membasahi pelipisnya. Beberapa rumus perpajakan yang berubah dalam dua tahun terakhir membuatnya harus memutar otak lebih keras. Namun, setiap kali ia merasa ingin menyerah, ia menoleh ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Di sana, Bagas dan Sari tidur berpelukan di atas kasur lantai yang bersih.
Maya mengingat kejadian sore tadi. Ibu mertuanya menelepon melalui nomor Pak Broto.
"Maya, Rehan mengadakan pesta besar malam ini. Ibu tidak datang. Ibu sakit hati melihat dia begitu cepat menggantikanmu dengan perempuan itu di depan publik," suara Ibu Rehan terdengar bergetar di telepon.
"Biarkan saja, Bu. Itu bukan duniaku lagi," jawab Maya waktu itu.
Tapi bohong jika ia bilang hatinya tidak sakit. Pesta itu... dulu Rehan berjanji bahwa jika tender Karawang ini tembus, mereka akan merayakannya dengan umroh sekeluarga. Kini, perayaan itu berubah menjadi pesta pora dengan alkohol dan wanita lain.
Maya menutup laptopnya setelah menekan tombol submit. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu yang keras. Ia tahu, di saat Rehan menumpahkan sampanye, ia sedang menumpahkan air mata dalam bentuk keringat kerja keras.
Tertawalah sekarang, Rehan. Karena aku sedang membangun fondasi yang tidak akan bisa kau runtuhkan lagi, batin Maya dengan tatapan mata yang kini lebih tajam dari sebelumnya.
Kembali ke pesta, suasana semakin larut. Rehan mulai merasa pening. Ia sudah meneguk tiga gelas wiski atas desakan Vanya dan rekan-rekan bisnisnya. Vanya kembali kepadanya dengan senyum yang semakin lebar.
"Sayang, kamu terlihat lelah. Ayo, kita ke lounge atas saja, lebih sepi. Aku mau kamu tanda tangan beberapa berkas yang dibawa Rio. Katanya itu dokumen penting dari kantor yang tertinggal karena besok pagi staf kamu harus berangkat ke proyek," ujar Vanya sambil menuntun Rehan yang sedikit sempoyongan.
"Malam ini? Kenapa nggak besok saja di kantor?" gumam Rehan.
"Besok kan hari Sabtu, Mas. Proyek Karawang nggak bisa nunggu. Ayo, cuma beberapa tanda tangan kok. Setelah itu kita bisa... bersenang-senang," bisik Vanya penuh godaan.
Rehan membiarkan dirinya dituntun menuju area VIP yang lebih redup. Di sana, Rio sudah menunggu dengan beberapa map cokelat di atas meja kaca. Rio tampak tersenyum lebar, sebuah senyuman yang bagi Rehan yang sedang mabuk terlihat sangat tulus, padahal sebenarnya sangat licik.
"Ini Mas, berkas pembebasan lahan tambahan di Karawang. Butuh tanda tangan direktur sekarang juga supaya pencairan dana bisa diproses subuh nanti," kata Rio sambil menyodorkan sebuah pulpen mahal ke tangan Rehan.
Rehan menerima pulpen itu. Pandangannya sedikit kabur. Ia membuka map pertama, melihat lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan bahasa hukum yang rumit. Biasanya, ia akan sangat teliti. Namun, alkohol dan aroma parfum Vanya yang mengelilinginya membuatnya ingin segera menyelesaikan ini semua.
"Tanda tangan di sini, Mas. Lalu di lembar terakhir ini," Vanya menunjuk bagian bawah kertas dengan jarinya yang berkuku merah darah.
Rehan baru saja hendak menorehkan tinta, ketika tiba-tiba ponsel di saku jasnya bergetar hebat. Ia berhenti sejenak, merogoh ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun pesannya sangat singkat dan mendesak.
“Jangan tanda tangani apapun malam ini. Cek pasal pengalihan aset di halaman tengah. - Paman Broto.”
Mata Rehan membelalak. Paman Broto? Paman Maya yang di Semarang? Bagaimana dia bisa tahu?
Seketika, adrenalin memicu kesadaran Rehan. Rasa peningnya sedikit berkurang oleh kejutan listrik dari pesan itu. Ia tidak langsung menandatangani. Sebaliknya, ia membalik lembaran kertas itu menuju halaman tengah yang tadi sempat dilewati oleh Vanya.
Di sana, di antara barisan kalimat tentang pembangunan, terselip sebuah klausul: “Pihak pertama setuju untuk memberikan kuasa penuh atas pengelolaan dan pengalihan hak milik aset tanah di Bogor dan sebagian saham perusahaan kepada pihak kedua (Vanya)...”
Darah Rehan mendidih. Ia tidak sebodoh itu, bahkan saat mabuk sekalipun. Ini bukan dokumen proyek. Ini adalah surat kuasa pengalihan harta pribadi.
"Ada apa, Mas? Ayo, mereka sudah menunggu," Vanya mulai tampak gelisah. Ia melirik Rio yang juga mulai tegang.
Rehan menutup map itu dengan keras. Ia menatap Vanya dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya—tatapan seorang eksekutif dingin yang baru saja mencium bau pengkhianatan di mejanya sendiri.
"Ini bukan berkas Karawang, Vanya," suara Rehan rendah dan berbahaya.
Vanya tersentak. Wajahnya memucat di bawah lampu temaram. "Apa maksudmu, Mas? Rio bilang..."
"Rio?" Rehan menoleh ke arah Rio. "Sejak kapan sepupu dari Bandung mengerti urusan pengalihan saham perusahaanku? Dan sejak kapan berkas kantor menggunakan format ilegal seperti ini?"
Rio berdiri, mencoba bersikap tenang namun tangannya gemetar. "Mas, mungkin ada salah ambil berkas. Saya... saya cuma mau bantu Vanya."
"Keluar," perintah Rehan singkat.
"Tapi Mas..."
"KELUAR!" bentak Rehan hingga beberapa tamu di kejauhan menoleh.
Rio segera menyambar map-map itu dan melangkah pergi dengan terburu-buru. Vanya terpaku di tempatnya. Air matanya mulai turun, kali ini bukan air mata godaan, tapi air mata ketakutan.
"Mas... aku bisa jelaskan. Aku cuma mau kita punya jaminan. Aku takut kalau nanti Maya menuntut harta itu lagi, aku nggak punya apa-apa untuk masa depan kita..." Vanya mencoba meraih tangan Rehan, namun Rehan menarik tangannya menjauh.
"Maya tidak pernah menuntut apa-apa, Vanya. Dia pergi dengan tangan kosong, meninggalkan semua perhiasan yang aku berikan. Sementara kamu... kamu mencoba mencurinya dariku di tengah pesta keberhasilanku," Rehan tertawa getir. "Aku benar-benar buta."
"Mas, tolong... aku sayang kamu..."
"Pulanglah sendiri. Aku butuh waktu untuk berpikir," ujar Rehan dingin.
Ia meninggalkan Vanya yang mematung di tengah kemewahan lounge itu. Rehan berjalan keluar menuju balkon hotel, membiarkan angin malam Jakarta menghantam wajahnya. Ia mengeluarkan ponselnya lagi, menatap pesan dari Paman Broto.
Bagaimana Paman Broto bisa tahu? Rehan teringat bahwa Maya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarganya. Mungkin Maya yang memberitahu? Tapi Maya tidak ada di sini.
Faktanya, Maya memang tidak memberitahu. Maya hanya secara tidak sengaja mendengar dari Pak Broto bahwa salah satu rekan bisnis Pak Broto melihat Rio—pria yang dikenal sebagai 'makelar nakal' di Semarang dulu—berkeliaran di pesta Rehan. Maya hanya ingin melindungi aset yang seharusnya menjadi hak anak-anaknya di masa depan, bukan karena ia masih mencintai Rehan.
Rehan menatap langit malam yang tanpa bintang. Ia merasa sangat kesepian di tengah ribuan orang di hotel ini. Ia merindukan ketenangan rumah lamanya. Ia merindukan suara Sari yang memintanya membacakan dongeng. Dan yang paling menyakitkan, ia merindukan kejujuran Maya.
Di Semarang, Maya baru saja menerima notifikasi di ponselnya.
“Lulus Sertifikasi Akuntansi Keuangan - Grade A.”
Maya tersenyum. Bukan senyum penuh dendam, tapi senyum penuh kelegaan. Ia tidak perlu lagi mengandalkan siapapun. Besok pagi, ia akan melamar pekerjaan di sebuah firma konsultan pajak terkemuka di Semarang.
Pesta Rehan mungkin mewah, tapi di atas air mata dan pengkhianatan, istana yang ia bangun bersama Vanya mulai menunjukkan retakan pertamanya. Dan Maya, di balik kesederhanaan rumah tuanya, baru saja meletakkan batu pertama untuk istananya sendiri yang jauh lebih kokoh.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar