Malam pertama setelah ketuk palu seharusnya menjadi malam yang tenang bagi Maya. Namun, kesunyian di rumah minimalis itu terasa begitu bising. Jarum jam dinding di ruang tengah berdetak seolah-olah sedang menghitung sisa-sisa napas dari sebuah keluarga yang baru saja dinyatakan mati secara hukum.

Maya duduk di tepi ranjangnya—ranjang yang dulu ia bagi bersama Rehan. Ia menatap lemari pakaian kayu jati yang pintunya sedikit terbuka. Di sana, masih ada kekosongan yang mencolok. Rak-rak yang biasanya dipenuhi kemeja kerja Rehan yang rapi dan harum parfum maskulin, kini hanya menyisakan gantungan baju yang bergoyang pelan tertiup angin dari pendingin ruangan.

Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa hampa. Maya tahu, menangis tidak akan mengubah surat cerai di atas meja rias menjadi janji suci kembali. Namun, air mata itu jatuh juga, membasahi kain sprei yang belum sempat ia ganti.

“Mama? Kenapa lampu kamarnya mati?”

Suara kecil itu memecah keheningan. Maya tersentak, segera menghapus air matanya dengan punggung tangan. Di ambang pintu, berdiri Sari, si bungsu yang baru berusia empat tahun, sambil memeluk boneka kelinci kusamnya. Matanya yang bulat tampak mengantuk sekaligus bingung.

“Sari sayang, kok belum tidur? Sini sama Mama,” suara Maya parau, namun ia mencoba memberikan nada paling lembut yang ia miliki.

Sari naik ke atas ranjang, merangkak masuk ke pelukan Maya. “Sari mau tidur sama Papa. Papa kapan pulang kerja? Hari ini Papa nggak cium Sari waktu Sari tidur siang.”

Pertanyaan itu seperti belati yang diputar di dalam luka yang masih basah. Maya memejamkan mata, mendekap erat tubuh mungil putrinya. Bagaimana cara menjelaskan pada anak sekecil ini bahwa pahlawannya telah memilih istana yang lain? Bahwa sosok yang biasa menggendongnya setinggi langit kini sedang sibuk memuja wanita lain?

“Papa... Papa masih banyak kerjaan di kantor baru, Nak. Sari sama Mama dulu, ya? Ada Bagas juga di kamar sebelah,” bisik Maya.

“Tapi Papa janji mau ajak Sari berenang besok pagi,” gumam Sari sebelum akhirnya matanya kembali terpejam, menyerah pada rasa kantuk.

Maya menatap wajah damai Sari. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia tidak boleh hanya sekadar "bertahan". Jika ia terus berada di rumah ini, di kota ini, kenangan tentang Rehan akan terus mengejarnya. Setiap sudut rumah, setiap aroma masakan, bahkan setiap pertanyaan anak-anaknya akan menjadi racun yang melumpuhkan jiwanya.

Aku harus pergi, batinnya. Bukan karena aku kalah, tapi karena aku ingin menang melawan rasa sakit ini.


Di belahan kota yang berbeda, di sebuah apartemen mewah dengan pemandangan lampu-lampu Jakarta yang gemerlap, Rehan sedang menyesap kopi di balkon. Di dalam, Vanya sedang sibuk membongkar tas-tas belanjaan dari butik ternama yang baru saja mereka kunjungi setelah makan malam.

"Mas! Lihat deh, gaun ini cocok banget buat acara gala dinner kantor kamu bulan depan," seru Vanya dari dalam.

Rehan menoleh, tersenyum tipis melihat Vanya yang mematut diri di depan cermin besar. Vanya memang cantik—sangat cantik. Kulitnya yang mulus selalu terawat, dan ia tahu persis bagaimana cara menonjolkan kelebihannya. Sangat kontras dengan Maya yang belakangan ini selalu terlihat lelah dengan daster atau pakaian rumahan yang fungsional.

Namun, di tengah keriuhan Vanya, Rehan merasa ada sesuatu yang janggal. Sejak sore tadi, setelah mereka merayakan perceraiannya, Vanya tak henti-hentinya membahas soal aset.

"Oh ya, Mas," Vanya melangkah menghampiri Rehan di balkon, memeluk pinggangnya dari belakang. "Tadi aku sempat baca dokumen di tas kamu. Rumah yang sekarang ditempati Maya itu... atas nama kamu atau dia?"

Rehan sedikit mengernyit. "Atas nama aku. Tapi aku sudah janji itu buat dia dan anak-anak."

Vanya melepaskan pelukannya, sedikit menjauh. Wajahnya yang tadinya ceria berubah menjadi penuh pertimbangan. "Mas, bukan maksudku mau jahat. Tapi kamu kan tahu, kita mau bangun hidup baru. Kita butuh modal besar kalau kamu mau buka cabang kantor di Singapura seperti impian kamu. Kenapa rumah sebesar itu dibiarkan untuk satu wanita saja? Maya kan bisa tinggal di apartemen yang lebih kecil, lebih praktis buat dia."

Rehan meletakkan cangkir kopinya. "Vanya, aku baru saja menceraikannya. Aku tidak mungkin mengusir mereka secepat itu. Anak-anak butuh tempat tinggal."

Vanya mendesah, tangannya kembali mengelus lengan Rehan dengan manja—sebuah taktik yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Rehan. "Aku paham, Sayang. Aku cuma nggak mau kamu dimanfaatkan. Maya itu terlihat lemah, tapi siapa tahu dia cuma akting supaya bisa menguasai hartamu? Kamu terlalu baik, Mas. Itu yang bikin aku cinta, tapi itu juga yang bikin aku khawatir."

Rehan terdiam. Kata-kata Vanya masuk seperti benih yang mulai berakar. Benarkah Maya memanfaatkan rasa bersalahnya? Ia teringat tatapan dingin Maya di pengadilan tadi. Apakah itu sebenarnya taktik untuk membuatnya merasa lebih bersalah sehingga memberikan lebih banyak materi?

"Sudahlah, jangan bahas itu malam ini," ujar Rehan, meski pikirannya mulai teracuni.

Vanya tersenyum penuh arti. "Oke, Mas. Tapi janji ya, besok-besok kita harus bahas soal pembagian yang 'adil'. Aku nggak mau masa depan kita terhambat karena masa lalumu yang terlalu menuntut."

Vanya kemudian pamit untuk membersihkan diri. Begitu pintu kamar mandi tertutup, ekspresi manisnya hilang seketika. Ia mengambil ponselnya yang ia sembunyikan di balik tumpukan baju baru.

Ada satu pesan masuk dari Rio.

“Gimana? Sudah resmi duda? Kapan aku bisa mulai dapet 'jatah' dari kantong tebal suamimu itu?”

Vanya mengetik balasan dengan cepat: “Sabar. Dia masih merasa bersalah sama mantan istrinya. Aku lagi usahain biar aset rumah itu bisa kita tarik. Jangan hubungi aku dulu sampai aku yang kasih kode. Rehan mulai sedikit curiga karena aku terlalu banyak belanja.”

Vanya menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Ia tidak mencintai Rehan. Baginya, Rehan hanyalah tangga untuk mencapai kehidupan yang ia dambakan sejak ia masih menjadi asisten rendahan yang dihina orang. Dan Rio... Rio adalah kelemahannya, sekaligus rekan dalam rencana besar ini.


Keesokan paginya, Maya terbangun dengan tekad yang bulat. Ia menghubungi pengacaranya dan meminta bantuan untuk mengurus penjualan aset-aset yang memang secara legal adalah miliknya—beberapa tanah warisan dari orang tuanya yang dulu ia kelola bersama Rehan.

"Mas, aku akan menjual tanah di Bogor," ucap Maya melalui telepon kepada Rehan.

Rehan yang baru saja bangun tidur di apartemen Vanya, tersentak. "Apa? Buat apa, May? Kamu kan sudah punya uang bulanan dariku."

"Uang bulanan itu untuk anak-anak, Mas. Aku butuh modal untuk hidupku sendiri. Aku tidak mau terus-menerus bergantung pada pria yang sudah membuangku," nada bicara Maya terdengar tenang namun sangat tegas.

"Tapi itu kan investasi kita dulu!" Rehan mulai meninggikan suara.

"Investasi kita sudah berakhir saat kamu membawa Vanya ke dalam hidupmu. Aku hanya mengambil hakku. Oh, dan satu lagi, Mas. Aku akan pindah dari rumah ini minggu depan."

Rehan tertegun. "Pindah? Ke mana?"

"Ke tempat di mana anak-anak tidak perlu melihat bayangan ayahnya yang sudah tidak peduli. Jangan cari kami dulu. Biarkan kami menata hati."

Maya memutus sambungan telepon sebelum Rehan sempat membalas. Ia merasakan sebuah kekuatan baru merayap di nadinya. Ia mulai mengemasi barang-barangnya. Ia tidak membawa banyak—hanya pakaian, buku-buku, dan barang-barang yang memiliki arti bagi anak-anak. Barang-barang mewah pemberian Rehan ia tinggalkan begitu saja di dalam lemari. Perhiasan, tas branded, semuanya ia letakkan di atas ranjang sebagai tanda bahwa ia tidak bisa dibeli.

Di tengah kesibukannya, Ibu mertuanya—ibu dari Rehan—datang berkunjung. Wanita tua itu menangis begitu melihat koper-koper di ruang tamu.

"Maya... Nak, maafkan anak Ibu," isak Ibu Rehan, memeluk menantu kesayangannya itu.

"Ini bukan salah Ibu. Mas Rehan sudah memilih jalannya," jawab Maya sambil mengusap punggung wanita yang sudah ia anggap ibu kandung sendiri itu.

"Ibu tidak sudi menerima perempuan itu di rumah ini! Dia itu ular, Maya. Ibu bisa melihatnya dari matanya yang lapar akan harta," ucap Ibu Rehan dengan nada getir. "Kenapa Rehan begitu buta?"

"Mungkin dia butuh pelajaran, Bu. Dan sayangnya, pelajaran itu harus dia bayar dengan kehilangan kami," kata Maya lirih.

Ibu Rehan menatap Maya dengan bangga sekaligus sedih. "Kamu mau ke mana, Nak? Beritahu Ibu, jangan biarkan Ibu kehilangan cucu-cucu Ibu."

"Maya mau ke Semarang, Bu. Ke rumah paman Maya yang kosong. Di sana tenang. Maya mau mencoba bekerja lagi, memulai dari bawah. Ibu boleh berkunjung kapan saja, tapi tolong... jangan beritahu Mas Rehan lokasi tepatnya untuk saat ini."

Maya tahu ini adalah langkah besar yang menakutkan. Ia sudah delapan tahun menjadi ibu rumah tangga penuh. Kemampuannya di bidang akuntansi mungkin sudah berkarat. Namun, melihat Bagas dan Sari yang mulai membantu memasukkan mainan mereka ke dalam kardus, Maya tahu ia tidak punya pilihan selain menjadi pahlawan bagi mereka.


Satu minggu kemudian.

Rehan datang ke rumah lamanya dengan maksud untuk berdiskusi soal rumah tersebut—seperti yang disarankan Vanya. Namun, begitu ia membuka pintu pagar, ia disambut oleh pemandangan yang tak terduga.

Rumah itu gelap. Taman kecil yang biasanya rapi kini mulai ditumbuhi rumput liar yang mencuat di sela-sela bunga mawar. Di teras, tidak ada lagi sepatu-sepatu kecil milik Bagas dan Sari.

Rehan membuka pintu utama dengan kunci cadangannya. Suasana di dalam sangat hampa. Gema langkah kakinya terdengar aneh di ruangan yang kosong dari furnitur-furnitur utama. Ia melangkah ke kamar utama.

Di sana, di atas ranjang yang sudah tidak seprei, tertumpuk rapi semua barang pemberiannya untuk Maya. Jam tangan berlian, tas kulit asli, hingga kalung emas yang ia berikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan ke-5. Semuanya berkilau di bawah cahaya lampu yang temaram, seolah sedang mengejek Rehan.

Ada secarik kertas di atas tumpukan itu.

“Mas, aku tidak butuh sisa-sisa kemurahan hatimu untuk bertahan hidup. Terima kasih untuk delapan tahun yang sempat terasa indah. Jaga dirimu, karena setelah ini, tidak akan ada lagi wanita yang akan mendoakan keselamatanmu di setiap sujudnya sepertiku.”

Rehan meremas kertas itu. Rasa sesak yang ia abaikan selama seminggu terakhir kini kembali menghantam, lebih kuat dari sebelumnya. Ada lubang besar yang mendadak muncul di dadanya. Ia segera merogoh ponsel, mencoba menghubungi nomor Maya, namun operator dengan dingin menjawab bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Bukan dari Maya.

"Halo, Sayang!" suara Vanya terdengar ceria di seberang sana. "Gimana? Kamu sudah di rumah itu? Coba cek sertifikatnya ada di mana, lalu langsung bawa ke kantor notaris yang aku kasih tahu tadi, ya? Oh ya, aku sudah pesan tiket ke Bali buat weekend ini. Kita butuh healing dari semua drama mantan istrimu itu!"

Rehan menatap tumpukan perhiasan di depannya, lalu mendengar suara manja Vanya di telinganya. Untuk pertama kalinya, ia merasa suara Vanya terdengar seperti gesekan amplas di atas luka.

"Ya, nanti aku urus," jawab Rehan singkat, suaranya hampa.

Ia mematikan telepon. Di rumah yang kosong itu, Rehan terduduk di lantai. Ia merasa telah memenangkan sebuah pertempuran, namun kehilangan seluruh kerajaannya. Ia tidak tahu bahwa di sebuah kereta api yang sedang melaju menuju Jawa Tengah, Maya sedang menggenggam tangan kedua anaknya, menatap matahari terbit dengan harapan baru.

Maya tidak lagi menoleh ke belakang. Baginya, Rehan adalah bab yang sudah selesai ia tulis. Dan ia tidak sabar untuk mulai menulis bab baru, meski ia harus memulainya dengan tinta air mata.

Di saat yang sama, di Jakarta, Vanya sedang tersenyum menatap sebuah brosur apartemen mewah lainnya, sementara Rio duduk di sampingnya sambil merokok santai.

"Sedikit lagi, Rio. Sedikit lagi dia akan menyerahkan semuanya padaku," bisik Vanya licik.

Konflik telah bergeser. Luka yang tersembunyi kini mulai bernanah, dan badai yang sesungguhnya sedang bersiap untuk menghancurkan apa pun yang tersisa dari ego seorang Rehan.