Keheningan di dalam mobil sedan mewah itu terasa mencekik. Rehan mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih, sementara Vanya duduk di kursi penumpang dengan tubuh yang bergetar hebat. Aroma parfum zamrud yang tadinya terasa menggairahkan bagi Rehan, kini berubah menjadi bau pengkhianatan yang memuakkan.
Vanya menoleh perlahan, matanya yang sembap oleh air mata buatan mencoba menembus pertahanan Rehan. "Mas... demi Tuhan, aku tidak tahu kalau isi dokumen itu seperti itu. Rio... Rio yang memberikannya padaku. Dia bilang itu hanya prosedur administrasi untuk melindungi asetmu dari gugatan Maya di masa depan. Aku bersumpah, Mas!"
Rehan tidak menjawab. Ia tetap fokus pada jalanan Jakarta yang mulai lengang, namun pikirannya melayang pada pesan dari Paman Broto. Sebuah kebetulan yang terlalu tajam untuk diabaikan. Bagaimana mungkin seorang pria di Semarang bisa tahu apa yang terjadi di sebuah ballroom privat di Jakarta? Kecuali, jika ada seseorang yang selama ini diam-diam memperhatikan, atau... jika naluri seorang istri yang dibuang masih bekerja melalui jaringan keluarga yang tersisa.
"Mas, jangan diam seperti ini. Aku takut," isak Vanya lagi, tangannya mencoba menyentuh lengan Rehan.
Rehan menepisnya dengan gerakan kasar. "Takut? Kamu takut kehilangan aku, atau takut rencana busukmu berantakan, Vanya?"
"Mas!"
"Diamlah. Aku tidak ingin mendengar satu kata pun sampai kita tiba di rumah."
Begitu sampai di apartemen, Rehan langsung melangkah masuk, meninggalkan Vanya yang tertatih-tatih mengejarnya dengan gaun mahalnya yang kini tampak kusut. Rehan menyalakan lampu ruang tengah, dan di sana, ia melihat jejak kehadiran Rio—sebuah botol minuman keras yang terbuka dan tumpukan puntung rokok di asbak kristal milik Rehan.
"Dimana Rio?" tanya Rehan dingin.
"Dia... dia mungkin sudah pergi, Mas. Dia takut melihatmu marah," jawab Vanya gugup.
Rehan berjalan menuju meja kerjanya. Ia membuka laci, mencari sesuatu. Ia menemukan sebuah amplop yang belum sempat ia buka sejak tiga hari lalu—laporan kartu kredit tambahannya yang digunakan oleh Vanya. Ia membukanya dengan kasar. Deretan angka di sana membuatnya mual. Penarikan tunai dalam jumlah besar di sebuah gerai perhiasan dan toko elektronik yang bahkan tidak pernah dikunjungi Vanya bersamanya.
"Siapa yang membelikan Rio setelan jas yang dia pakai malam ini, Vanya?"
Vanya terdiam. Wajahnya pucat pasi.
"Siapa yang membiayai gaya hidup 'sepupumu' itu selama dia di sini? Aku? Atau uang yang seharusnya aku kirimkan untuk sekolah Bagas dan Sari?" suara Rehan meninggi, menggelegar di ruang apartemen yang kedap suara itu.
Vanya jatuh terduduk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku hanya ingin membantu saudaraku, Mas. Rio sedang kesulitan..."
"Saudara? Aku sudah mengecek dokumen pribadimu saat kita mendaftarkan pernikahan siri kemarin, Vanya. Kamu anak tunggal. Orang tuamu sudah tidak ada. Jadi, siapa Rio sebenarnya?"
Skakmat. Sandiwara itu mulai retak di bawah tekanan logika Rehan yang kini telah sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol. Vanya menurunkan tangannya, menatap Rehan dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah. Ketakutan itu menghilang, berganti dengan kilat amarah dan pembelaan diri yang agresif.
"Oke! Kamu mau tahu siapa dia? Dia adalah orang yang selalu ada saat aku bukan siapa-siapa! Dia yang membantuku saat aku hanya asisten rendahan yang kamu perintah-perintah sesuka hatimu! Kamu pikir aku benar-benar mencintaimu karena kepribadianmu yang membosankan itu, Rehan? Aku mencintai apa yang ada di dompetmu! Dan ya, Rio adalah kekasihku jauh sebelum aku mengenalmu!"
Kata-kata itu menghantam Rehan lebih keras daripada tamparan fisik manapun. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah musim dingin. Kebenaran yang telanjang itu begitu menjijikkan.
"Keluar," bisik Rehan.
"Apa?"
"KELUAR DARI APARTEMEN INI SEKARANG JUGA!" teriak Rehan.
Vanya tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat jahat. "Keluar? Kamu pikir semudah itu? Kita sudah terikat secara agama, Mas. Dan jangan lupa, aku punya banyak bukti tentang bagaimana kamu mengalihkan dana perusahaan untuk membelikanku barang-barang mewah. Kalau aku hancur, kamu juga akan hancur. Kita akan tenggelam bersama."
Vanya melangkah menuju kamar, membanting pintu, dan menguncinya dari dalam. Rehan berdiri mematung di ruang tengah. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia melihat foto pernikahannya dengan Vanya yang dipajang di dinding—foto yang dulu ia anggap sebagai simbol kemenangan atas hidupnya yang "monoton" bersama Maya. Kini, foto itu tampak seperti sebuah ejekan besar.
Sementara itu, di Semarang, fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Maya sudah bangun sejak pukul empat pagi. Ia sedang menyiapkan sarapan sederhana—nasi goreng dengan telur ceplok—untuk kedua anaknya. Aroma bawang goreng memenuhi dapur rumah tua itu, menciptakan suasana hangat yang sangat ia rindukan.
"Ma, hari ini Mama jadi kerja?" tanya Bagas sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
Maya tersenyum, mengusap kepala putranya. "Jadi, Nak. Mama sudah diterima di firma Pak Setiawan. Bagas jaga Sari baik-baik ya sama Paman Broto?"
"Siap, Ma! Bagas akan jadi jagoan buat Sari," ucap Bagas bangga.
Maya menatap pantulan dirinya di cermin kecil di ruang tamu sebelum berangkat. Rambut bob pendeknya membuatnya terlihat lebih segar dan tegas. Ia mengenakan kemeja putih bersih dan celana bahan berwarna hitam. Tidak ada lagi daster kusam atau aroma bumbu dapur yang menempel. Ia adalah Maya yang baru—seorang akuntan yang siap menaklukkan dunia demi anak-anaknya.
Perjalanannya menuju kantor barunya tidaklah mudah. Ia harus naik angkutan umum, berdesakan dengan orang-orang yang juga sedang berjuang mencari nafkah. Namun, setiap tetes keringat itu terasa sangat berharga.
Di kantor, Maya langsung dihadapkan pada tumpukan laporan keuangan yang kacau dari salah satu klien firma tersebut. Bukannya merasa terbebani, Maya justru merasa tertantang. Jemarinya menari di atas kalkulator dan keyboard dengan lincah. Logika akuntansinya yang sempat tumpul selama delapan tahun seolah bangkit kembali dengan kekuatan penuh.
"Ibu Maya, kerja Anda sangat teliti," puji Pak Setiawan, pemilik firma tersebut, saat meninjau hasil kerja Maya di siang hari. "Saya tidak menyangka seseorang yang vakum cukup lama bisa secepat ini menyesuaikan diri."
"Terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik," jawab Maya rendah hati.
Namun, di sela-sela jam istirahatnya, ponsel Maya bergetar. Sebuah pesan dari Ibu mertuanya.
“Maya, Rehan menelepon Ibu semalam sambil menangis. Dia bilang dia sudah mengusir Vanya tapi perempuan itu menolak pergi dan mengancamnya. Ibu tidak tahu harus berbuat apa. Rehan ingin tahu keberadaanmu, tapi Ibu tidak memberitahunya seperti janjimu.”
Maya menatap layar ponsel itu cukup lama. Ada rasa iba yang melintas, namun dengan cepat ia menepisnya. Rehan sedang menuai apa yang ia tanam. Rasa sakit yang dirasakan Rehan sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa hancur yang dirasakan Maya saat melihat Rehan berciuman dengan Vanya di ruang kerja mereka dulu.
Maya membalas singkat: “Biarkan saja, Bu. Mas Rehan sudah dewasa. Dia harus belajar menyelesaikan kekacauan yang dia buat sendiri. Tolong jangan ceritakan apa-apa lagi tentang dia kepadaku untuk saat ini. Aku ingin fokus bekerja.”
Malam kembali jatuh di Jakarta. Rehan tidak pulang ke apartemen. Ia memilih menginap di kantor, meringkuk di sofa ruang kerjanya yang luas namun terasa dingin. Ia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat wajah Maya yang tersenyum lembut, lalu berubah menjadi wajah Vanya yang tertawa licik.
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka pelan. Rehan tersentak, mengira itu adalah satpam kantor. Namun, sosok yang muncul adalah Rio.
Pria itu masuk dengan langkah santai, seolah-olah dia adalah pemilik ruangan itu. Ia duduk di kursi direktur milik Rehan, menyilangkan kaki di atas meja.
"Mau apa kamu ke sini?" geram Rehan, berdiri dengan sisa tenaganya.
"Santai, Mas Rehan. Aku cuma mau antar ini," Rio menyodorkan sebuah amplop cokelat.
Rehan membukanya. Di dalamnya terdapat foto-foto—foto Rehan dan Vanya di berbagai hotel, catatan transfer uang dari rekening perusahaan ke rekening pribadi Vanya, dan beberapa dokumen internal kantor yang seharusnya bersifat rahasia.
"Vanya memang hebat, kan? Dia bisa mengambil apa saja tanpa kamu sadari. Foto-foto ini... kalau sampai ke tangan dewan komisaris atau media, reputasimu yang sedang di atas angin karena proyek Karawang itu akan hancur dalam semalam. Perselingkuhan, penggelapan dana perusahaan untuk wanita simpanan... wah, judul yang bagus untuk berita pagi," Rio menyeringai.
Rehan mengepalkan tangan. "Apa maumu?"
"Simpel. Tanah di Bogor itu. Dan uang sepuluh miliar sebagai 'uang tutup mulut'. Berikan itu, dan kami akan menghilang dari hidupmu selamanya. Kamu bisa kembali jadi duda keren yang bersih," ujar Rio tanpa dosa.
"Sepuluh miliar? Kalian gila!"
"Gila? Mungkin. Tapi kamu lebih gila karena menukar berlian seperti Maya dengan kerikil tajam seperti Vanya. Sekarang, kerikil itu sedang menusuk kakimu, Mas. Pilihannya cuma dua: amputasi kakimu—alias hancur kariermu—atau bayar kami."
Rio berdiri, menepuk bahu Rehan yang mematung. "Aku kasih waktu tiga hari. Kalau tidak, kiriman paket ini akan sampai ke meja Komisaris Utama."
Setelah Rio pergi, Rehan jatuh terduduk di lantai. Air matanya menetes—bukan karena takut hancur, tapi karena ia menyadari betapa menjijikkannya hidup yang ia pilih. Ia teringat bagaimana Maya selalu mengingatkannya untuk jujur dalam setiap sen yang ia dapatkan. Ia teringat bagaimana Maya selalu mendoakannya agar terhindar dari fitnah dunia.
Kini, fitnah itu nyata, dan ia mengundangnya sendiri ke dalam rumahnya.
Rehan meraih ponselnya. Ia mencari nomor Paman Broto. Ia butuh bicara dengan seseorang yang memiliki koneksi dengan masa lalunya yang suci.
"Halo... Paman?" suara Rehan bergetar.
"Ya, Rehan? Ada apa menelepon malam-malam begini?" suara Paman Broto terdengar tenang namun tegas.
"Paman... aku... aku hancur. Bisakah aku bertemu Maya? Sekali saja. Aku ingin minta maaf."
Hening sejenak di seberang sana.
"Maya sedang membangun dunianya yang baru, Rehan. Dunia yang tidak ada kamu di dalamnya. Jangan hancurkan kedamaiannya hanya karena kamu sedang tertimpa badai yang kamu ciptakan sendiri. Selesaikan urusanmu dengan perempuan itu, baru bicara soal maaf."
Telepon diputus. Rehan terisak di tengah kegelapan kantornya. Di saat yang sama, di Semarang, Maya sedang menutup buku akuntansinya, mencium kening kedua anaknya yang terlelap, dan berbisik pelan pada dirinya sendiri.
"Besok akan lebih baik."
Malam berbalut sandiwara di Jakarta telah berakhir, menyisakan reruntuhan ego seorang pria yang terlambat sadar. Sementara di Semarang, fajar baru bagi seorang wanita tangguh sedang bersiap untuk menyinari langit.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar