Suara ketukan palu hakim itu tidak nyaring, namun gema yang dihasilkan seolah meruntuhkan seluruh fondasi beton gedung Pengadilan Agama ini di telinga Rehan. Satu ketukan singkat, padat, dan final. Detik itu juga, delapan tahun yang ia bangun bersama Maya menguap menjadi sekadar tumpukan dokumen legal yang dingin.
Rehan mengembuskan napas panjang. Ada rasa lega yang aneh—seperti baru saja melepaskan ransel berat yang selama ini dipaksakan di punggungnya. Namun, di sudut hatinya yang paling gelap, ada sisa-sisa rasa perih yang tak mau hilang. Ia melirik wanita yang duduk di kursi pemohon di sampingnya.
Maya.
Wanita itu masih mengenakan gamis berwarna cokelat muda yang tampak sedikit pudar, warna yang dulu pernah Rehan puji karena membuatnya terlihat teduh. Kini, keteduhan itu terasa mencekik. Maya tidak menangis tersedu-sedu. Ia hanya menunduk, menatap jemarinya yang kini polos tanpa cincin kawin. Bahunya sedikit bergetar, namun ia tetap tegak. Keteguhan itu, yang dulu dianggap Rehan sebagai kekuatan, kini ia labeli sebagai "kebosanan".
"Saudara Rehan dan Saudari Maya, dengan ini pernikahan kalian dinyatakan putus karena perceraian," suara hakim terdengar seperti latar belakang yang kabur.
Rehan berdiri, merapikan setelan jas mahalnya. Ia merasa harus mengatakan sesuatu. Sebagai pria yang merasa telah memberikan "kebebasan" dan kompensasi finansial yang cukup, ia ingin menutup buku ini dengan cara yang elegan.
"Maya," panggil Rehan pelan saat mereka melangkah keluar dari ruang sidang menuju koridor yang ramai oleh pasangan-pasangan lain yang mengantre nasib serupa.
Maya berhenti, namun tidak langsung menoleh. Ia menarik napas dalam, seolah mengumpulkan sisa-sisa oksigen di paru-parunya. "Ya, Mas?"
Panggilan 'Mas' itu masih ada, namun nada bicaranya telah kehilangan jiwanya. Dingin. Seperti embun di atas kaca makam.
"Aku... aku akan tetap mengirimkan nafkah untuk Bagas dan Sari sesuai kesepakatan. Kamu tidak perlu khawatir soal biaya sekolah atau rumah itu. Aku tidak akan mengambilnya dari kalian," ujar Rehan. Ia merasa menjadi pahlawan dengan kalimat itu.
Maya akhirnya menoleh. Matanya sembap, namun tatapannya tajam—menusuk tepat ke iris mata Rehan yang mulai menghindari kontak. "Terima kasih, Mas. Tapi yang mereka butuhkan sebenarnya bukan cuma uang sekolah. Mereka butuh ayahnya yang tidak pulang ke pelukan perempuan lain setiap malam."
Rehan tersentak. Rahangnya mengeras. "Kita sudah bahas ini berkali-kali, May. Pernikahan kita sudah mati jauh sebelum Vanya datang. Kamu terlalu sibuk dengan urusan rumah, anak-anak, dan duniamu sendiri sampai kamu lupa kalau aku juga butuh pasangan yang bisa mengerti ambisiku, yang bisa diajak bicara soal masa depan, bukan cuma soal harga popok atau menu makan siang!"
Maya tersenyum tipis—sebuah senyum pahit yang sanggup merobek nurani siapa pun yang melihatnya. "Ambisi? Atau sekadar pembenaran untuk nafsu? Vanya memang hebat, Mas. Dia pintar bicara, pintar dandan, dan pintar mengambil apa yang bukan miliknya. Aku harap dia memang 'masa depan' yang kamu cari."
Tanpa menunggu balasan, Maya melangkah pergi. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu flat sederhana itu terdengar mantap di atas lantai marmer. Rehan terpaku sejenak, melihat punggung istrinya—mantan istrinya—yang perlahan menjauh. Ada dorongan untuk mengejar, untuk menjelaskan bahwa ia tidak sejahat itu, tapi getaran ponsel di saku jasnya membuyarkan segalanya.
Layar ponselnya menyala. Nama Vanya muncul dengan ikon hati di sampingnya.
“Sayang, gimana sidangnya? Sudah resmi, kan? Aku sudah pesen meja di restoran favorit kamu buat ngerayain 'kebebasan' kita. I love you!”
Rehan tersenyum. Rasa sesak yang tadi sempat mampir mendadak hilang tersapu oleh bayangan wajah Vanya yang ceria, wangi parfum mahalnya, dan tawa manjanya yang selalu membuat Rehan merasa sepuluh tahun lebih muda. Ia segera membalas pesan itu sembari berjalan cepat menuju parkiran, menuju mobil sedan mewahnya yang baru ia beli bulan lalu.
Sementara itu, di dalam taksi yang membawanya pulang, Maya meremas tas tangannya kuat-kuat. Ia menatap ke luar jendela, melihat jalanan Jakarta yang macet dan bising. Pikirannya melayang ke delapan tahun lalu, saat ia dan Rehan memulai semuanya dari sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota. Mereka pernah makan satu mie instan berdua, bermimpi tentang masa depan, dan berjanji untuk saling menguatkan.
Namun, seiring dengan saldo rekening yang bertambah, seiring dengan jabatan Rehan yang naik menjadi manajer senior, janji itu terkikis. Rehan mulai sering pulang malam dengan alasan lembur. Wangi parfum asing mulai menempel di kemejanya. Dan puncaknya, setahun lalu, Rehan dengan jujur mengakui bahwa ia telah mencintai asisten pribadinya sendiri, Vanya.
“Dia mengerti duniaku, Maya. Dia bisa mengimbangiku di pertemuan bisnis. Dia tidak membuatku merasa tua,” kata-kata Rehan waktu itu masih terngiang seperti sembilu.
Maya menghapus air mata yang akhirnya jatuh juga. Ia tidak boleh lemah. Di rumah, ada Bagas yang baru berusia tujuh tahun dan Sari yang masih balita. Mereka belum mengerti mengapa Ayah mereka tidak lagi tidur di rumah. Mereka belum tahu bahwa mulai hari ini, status Ibu mereka telah berubah.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan taman kecil yang asri. Ini adalah rumah yang dibangun Rehan untuknya, namun kini terasa seperti penjara yang penuh kenangan pahit.
"Ma, Papa mana?" suara cempreng Bagas menyambutnya begitu Maya membuka pintu. Bocah itu sedang bermain robot-robotan di ruang tamu.
Maya berlutut, memeluk putranya erat-erat. Ia menghirup aroma minyak telon dari rambut Bagas, mencoba mencari kekuatan di sana. "Papa... sedang kerja, Nak. Sekarang, Bagas sama Mama dulu ya?"
"Tapi Papa janji mau beliin Bagas robot baru hari ini," ucap Bagas dengan bibir mengerucut.
Maya terdiam. Ia tahu Rehan tidak akan datang hari ini. Rehan sedang merayakan "kebebasan" dengan wanitanya. Maya mengusap pipi Bagas. "Nanti Mama yang belikan. Sekarang Bagas makan dulu, ya?"
Di sisi lain kota, di sebuah restoran fine dining di lantai 50 sebuah gedung pencakar langit, Rehan sedang menyesap wine merah. Di hadapannya, Vanya duduk dengan gaun merah ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Riasan wajahnya flawless, matanya berbinar penuh kemenangan.
"Akhirnya, Mas. Tidak ada lagi penghalang di antara kita," ucap Vanya sambil meraih tangan Rehan di atas meja. Jemarinya yang lentur dengan kuku berwarna merah senada dengan gaunnya mengelus punggung tangan Rehan.
"Ya. Akhirnya," jawab Rehan, meski ada sedikit rasa hambar saat ia mengucapkannya.
"Kamu nggak usah mikirin Maya lagi. Dia kan sudah dapat rumah, sudah dapat uang bulanan yang banyak. Dia pasti senang-senang saja di sana. Lagian, wanita seperti dia itu kuat, kan? Tipe-tipe 'ibu rumah tangga pejuang'," Vanya tertawa kecil, nada bicaranya mengandung ejekan yang halus namun tajam.
Rehan tertawa canggung. "Mungkin kamu benar. Maya memang mandiri."
"Sekarang, fokus ke kita. Aku sudah lihat-lihat katalog desain interior untuk merombak kamar utama di rumah kamu. Aku nggak mau ada bekas-bekas 'dia' di sana. Semuanya harus baru. Kita harus mulai dari nol dengan gaya kita sendiri, Mas," lanjut Vanya dengan antusias.
Rehan mengangguk. Ia membiarkan Vanya berceloteh tentang furnitur mahal, rencana liburan ke Eropa, dan bagaimana mereka akan menjadi pasangan paling berpengaruh di lingkaran sosial mereka. Namun, di tengah gemerlap lampu kota yang terlihat dari jendela restoran, pikiran Rehan mendadak terlempar pada ekspresi Maya saat di pengadilan tadi.
Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Maya, pikir Rehan. Biasanya dia memohon, biasanya dia menangis agar aku kembali. Tapi tadi... dia seolah-olah sudah melepaskanku sepenuhnya.
"Mas? Kamu dengerin aku nggak sih?" Vanya mengerutkan dahi, pura-pura merajuk.
"Ah, iya, Sayang. Maaf. Aku cuma sedikit lelah setelah sidang tadi. Tentu saja, kita akan ubah semuanya. Apapun yang kamu mau," Rehan mencoba kembali ke realitanya yang baru.
Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya sudah tepat. Bahwa hidup dengan Vanya akan jauh lebih berwarna dan penuh gairah daripada hidup datar dengan Maya. Ia tidak tahu, bahwa di balik senyum manis Vanya, ada rencana-rencana yang tidak pernah ia duga. Ia tidak tahu bahwa Vanya sedang melirik jam tangan Rolex-nya, menghitung waktu kapan ia bisa mengirim pesan singkat kepada Rio, pria yang selama ini menjadi rahasia gelapnya.
“Tunggu aku, Rio. Sebentar lagi semua harta pria tua ini akan jadi milik kita,” batin Vanya sambil menyesap minumannya, matanya menatap Rehan dengan tatapan yang seolah memuja, padahal sebenarnya sedang memangsa.
Malam itu, di bawah langit yang sama, dua kehidupan telah berbelok arah secara drastis. Maya yang tenggelam dalam kesunyian rumahnya mulai merencanakan sesuatu yang besar—sebuah pelarian untuk menemukan jati dirinya kembali. Sementara Rehan, yang merasa sedang berada di puncak dunia, sebenarnya sedang melangkah masuk ke dalam jebakan indah yang ia bangun sendiri.
Konflik ini baru saja dimulai. Palu hakim bukan sekadar tanda berakhirnya sebuah pernikahan, melainkan genderang perang bagi drama, pengkhianatan, dan karma yang akan segera bergulir. Rehan belum menyadari, bahwa "istri kedua" yang ia banggakan, memiliki aroma busuk yang mulai menyengat dari balik lapisan sutra dan berliannya.
Dan bagi Maya, kehancuran hari ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa bangkit menjadi wanita yang tak akan pernah bisa diremehkan lagi oleh siapa pun—termasuk oleh pria yang pernah ia sebut sebagai dunianya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar