👤 POV: Sekar

Sore itu aku cuma mau istirahat.

Bukan minta banyak. Cuma duduk di bangku taman komplek, baca buku, minum es teh yang udah kubeli dari warung Pak Surip tadi, dan menikmati angin sore yang — untuk pertama kalinya minggu ini — nggak terasa menyiksa.

Seminggu ngajar anak-anak TK yang energinya kayak baterai nggak ada habisnya itu melelahkan secara fisik dan batin. Bukan berarti aku nggak suka. Aku cinta pekerjaanku. Tapi hari Sabtu sore adalah milikku. Hanya milikku.

Aku buka halaman 47 novel yang udah seminggu nggak kesentuh. Ambil es teh. Hirup napas panjang.

Sempurna.

Tiga menit kemudian, ada yang duduk di sebelahku.

Aku nggak langsung nengok. Bangku taman ini panjang, muat empat orang. Wajar kalau ada yang mau duduk bareng. Aku geser sedikit ke kanan, kasih ruang, dan tetap fokus ke buku.

Tapi kemudian ada suara.

Suara kecil. Jernih. Dan sangat percaya diri untuk ukuran seseorang yang kayaknya belum genap masuk SD.

"Kak, kamu cantik."

Aku berhenti membaca.

Pelan-pelan aku turunkan buku, dan menoleh ke kiri.

Di sana, duduk seorang bocah laki-laki. Paling tinggi mungkin sepinggang orang dewasa kalau berdiri. Rambut hitam sedikit ikal berantakan, pipi tembem dengan lesung pipit di sebelah kanan, dan mata bulat cokelat yang menatapku dengan ekspresi paling serius yang pernah kulihat dari makhluk sekecil dia.

Dia pakai kaus putih bergambar dinosaurus dan celana pendek abu-abu. Sepatu vans kecil di kakinya salah tali — yang kiri lebih panjang dari yang kanan.

Dan dia menatapku seperti sedang menunggu respons atas pernyataannya tadi.

Aku berkedip. "...Hah?"

"Kamu cantik," dia ulang, santai banget, kayak lagi laporan cuaca. "Boleh aku duduk di sini?"

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian aku lihat ke kanan, ke kiri. Mencari orang dewasa yang mungkin dia ikuti. Tapi nggak ada siapapun yang tampak sedang memperhatikan bocah ini. Dia sendirian. Datang sendiri. Dan minta izin duduk sambil tebar pujian dulu.

Empat tahun. Paling banter empat setengah. Tapi caranya ngomong kayak cowok yang udah punya pengalaman PDKT bertahun-tahun.

Ini bocah belajar dari mana?

"Udah duduk juga, dik," kataku akhirnya, menahan senyum.

Dia melirik ke bawah — memang sudah duduk — lalu manggut-manggut. "Oh iya. Maaf ya, Kak. Aku lupa minta izin dulu baru duduk. Kata Papa itu nggak sopan."

"Tapi kamu udah duduk sambil bilangnya."

"Iya." Dia garuk kepala. "Soalnya kakak kelihatan asyik, jadi aku duduk dulu."

Logika yang sulit dibantah.

Aku tutup buku, menyerah dengan sukarela pada rencana istirahat soreku. "Nama kamu siapa?"

"Arka." Dia sodorkan tangan kanannya dengan serius. "Arka Darmawan. Kamu siapa, Kak?"

Aku sambut tangannya — kecil, hangat, dan jabatannya mengejutkan, kuat dan mantap. "Sekar. Sekar Anindhita."

"Sekar," dia ulang, seperti sedang memastikan lidahnya hafal. "Nama yang bagus. Artinya bunga, kan?"

Aku sedikit terkejut. "Iya. Kamu tahu?"

"Papa yang bilang. Papa suka nama-nama Indonesia. Katanya nama itu doa."

Aku tersenyum tanpa sadar. "Papa kamu ada di mana sekarang?"

Arka menoleh ke arah deretan rumah di ujung jalan taman. "Di rumah. Lagi nggambar. Papa arsitek, jadi weekend juga sering kerja. Aku bosen, jadi main ke sini."

"Sendirian?"

"Iya." Dia ngangguk santai. "Tapi aku udah empat tahun, Kak. Udah gede."

Empat tahun. Gede. Aku menahan tawa yang mau meledak dari dalam dada.

"Komplek ini aman kok," lanjutnya, serius. "Pak Satpam namanya Pak Hendra. Baik. Terus ibu-ibu yang biasa duduk di sana," dia tunjuk bangku di seberang, "juga kenal aku. Jadi aku nggak kenapa-kenapa."

Anak ini sudah melakukan risk assessment sendiri sebelum keluar rumah.

"Oke," kataku. "Berarti kamu udah bilang Papa mau ke taman?"

"Udah. Papa bilang jangan jauh-jauh dan balik sebelum Maghrib."

"Pintar."

Dia senyum, dan lesung pipitnya muncul sempurna. "Iya. Papa sering bilang gitu juga."

Kami diam sebentar. Arka memandang ke arah lapangan kecil di tengah taman, tempat beberapa anak lebih besar sedang main bola. Matanya mengikuti bola itu ke sana ke mari, tapi dia nggak beranjak.

"Nggak mau main sama mereka?" tanyaku.

"Nggak kenal."

"Kan bisa kenalan dulu."

Dia menggeleng. "Aku nggak terlalu suka main bola. Capek. Aku lebih suka ngobrol."

"Ngobrol?"

"Iya." Dia menoleh padaku. "Kayak sekarang. Enak."

Aku benar-benar tidak bisa tidak senyum sekarang.

Bocah ini — dengan pipi tembemnya, sepatu salah talinya, dan cara bicaranya yang sudah kayak orang dewasa dalam tubuh yang mungil — sudah berhasil meruntuhkan seluruh rencana istirahat soreku. Dan anehnya, aku nggak keberatan sama sekali.

"Kamu tinggal di komplek sini, Kak Sekar?" tanyanya.

"Iya. Blok C, nomor 12."

"Oh!" Matanya bulat. "Aku blok C juga! Nomor 7. Berarti kita tetangga dong!"

"Wah, baru tahu."

"Aku baru pindah tiga minggu lalu," jelasnya. "Jadi belum kenal banyak orang. Kak Sekar yang pertama."

Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadaku mendengar itu. Yang pertama. Diucapkan oleh bocah empat tahun dengan ekspresi seserius itu, terasa seperti hal yang cukup besar.

"Berarti aku beruntung dong," kataku.

Arka manggut puas. "Iya. Aku orangnya pemilih."

Aku tertawa kecil.

Kami ngobrol lebih lama dari yang kuperkirakan. Arka cerita banyak hal — tentang dinosaurus yang katanya paling keren adalah Spinosaurus bukan T-Rex ("T-Rex tangannya kecil, Kak. Kasian"), tentang makanan favoritnya yang ternyata soto ayam tanpa kol, tentang film kartun yang lagi dia suka, tentang kucing tetangga lama mereka yang namanya Tompel dan sangat dia rindukan.

Dan di sela-sela semua cerita kecil itu, dia menyisipkan satu kalimat yang membuatku diam.

Pelan. Tanpa drama. Seperti menyebut fakta biasa tentang cuaca atau warna langit.

"Aku nggak punya mama, Kak."

Aku menatapnya.

Dia masih memandang ke lapangan. Ekspresinya tenang — bukan tenang yang dipaksakan, tapi tenang yang entah bagaimana sudah menjadi bagian dari dirinya.

"Mama aku udah di surga. Waktu aku masih bayi." Dia menoleh padaku sebentar. "Tapi kata Papa, Mama ada di bintang yang paling terang. Jadi kalau malam aku suka lihat bintang. Buat say hi."

Tenggorokanku tiba-tiba terasa sesak.

"Kamu nggak sedih?" tanyaku pelan.

Arka berpikir sebentar. Benar-benar berpikir, keningnya sedikit berkerut.

"Kadang," jawabnya jujur. "Kalau lihat teman-teman dijemput mamanya, aku nanya-nanya dalam hati, gimana ya rasanya. Tapi..." dia angkat bahu kecil, "...Papa baik banget. Jadi aku nggak pernah ngerasa kurang."

Empat tahun.

Bocah ini baru empat tahun dan sudah berbicara tentang kehilangan dengan kedewasaan yang bahkan orang dewasa pun sering gagal melakukannya.

Aku nggak tahu harus bilang apa. Jadi aku cuma bilang, pelan, "Papamu pasti orang yang luar biasa."

Arka senyum lagi — dan kali ini senyumnya berbeda. Lebih lembut. Lebih dalam.

"Iya," katanya. "Papa emang paling keren sedunia."

Adzan Maghrib berkumandang dari masjid komplek.

Arka langsung berdiri, cekatan merapikan celananya. "Aku harus pulang. Papa pasti udah nungguin."

"Iya, pulang sana."

Dia melangkah pergi, tapi berhenti setelah tiga langkah. Menoleh.

"Kak Sekar besok ke taman lagi nggak?"

Aku tersenyum. "Mungkin."

Dia manggut puas, seperti mungkin sudah cukup jadi jawaban. "Oke. Aku kesini lagi ya."

Dan dia berlari kecil ke arah rumahnya — sepatu salah tali, rambut berantakan, punggung kecil yang tegak dengan percaya diri.

Aku memandangi kepergiannya sampai dia menghilang di tikungan.

Kemudian aku duduk lagi. Menatap es tehku yang sudah cair. Buku yang belum sampai halaman 50.

Dan senyum yang entah kapan terbentuk di wajahku — dan nggak mau pergi.

Arka Darmawan.

Bocah paling menggemaskan yang pernah kutemui dalam dua puluh lima tahun hidupku.

Besoknya, aku ke taman lebih awal dari biasanya.

Aku nggak mau mengakui kenapa.