πŸ‘€ POV: Sekar

Sore itu panas tidak wajar untuk ukuran bulan ini.

Aku dan Arka sudah jadi semacam agenda tetap β€” setiap sore, taman, bangku pojok kanan, ngobrol sampai adzan Maghrib. Lima hari berturut-turut dan kami sudah punya rutinitas yang terbentuk sendiri tanpa direncanakan.

Hari ini Arka minta es krim.

Bukan minta ke aku β€” dia minta ke dirinya sendiri, dalam artian dia bilang ke aku dengan ekspresi penuh harap, "Kak, panas banget ya hari ini. Es krim enak kali ya sekarang." Sambil lirik-lirik ke arah gerobak es krim yang mangkal di dekat gerbang taman.

Aku tertawa. "Mau es krim?"

"Lumayan kepikiran." Dia pura-pura memandang ke arah lain.

"Ayo."

Matanya langsung berbinar. "Beneran?"

"Iya. Tapi nanti bilang Papa dulu ya, beli es krim sama aku."

"Udah tahu kok Papa pasti boleh. Papa percaya Kak Sekar."

Aku berhenti melangkah. "Lho, Papa kamu kenal aku?"

Arka senyum misterius β€” senyum yang mengkhawatirkan untuk ukuran bocah empat tahun. "Aku sering cerita soal Kak Sekar ke Papa."

"Cerita apa?"

"Rahasia."

Dan dia sudah berlari duluan ke arah gerobak es krim sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut.

Arka memilih es krim cokelat dengan taburan sprinkles warna-warni β€” dengan deliberasi yang sangat serius, mempertimbangkan setiap pilihan rasa selama hampir tiga menit penuh sebelum memutuskan. Aku ambil yang rasa vanilla, simpel.

Kami kembali ke bangku. Arka memegang es krimnya dengan kedua tangan, lidahnya sibuk berputar mengelilingi cokelat yang mulai meleleh kena panas.

"Enak," katanya penuh kepuasan.

"Bagus."

"Kak Sekar nggak ambil cokelat? Cokelat enak."

"Aku suka vanilla."

Arka memandang es krimku dengan ekspresi skeptis. "Vanilla itu polos."

"Simpel itu beda sama polos."

Dia memikirkan itu sebentar. "Oke, masuk akal."

Kami duduk dalam nyaman, menikmati es krim masing-masing. Angin sore lumayan membantu, dedaunan pohon di atas bangku bergoyang-goyang. Arka mulai cerita soal video dinosaurus yang dia tonton tadi siang β€” rupanya ada spesies baru yang ditemukan ilmuwan dan Arka sangat excited membahasnya dengan terminologi yang tidak seharusnya dikuasai anak empat tahun.

Dan kemudian β€” satu momen sial.

Arka melakukan gerakan tangan yang terlalu semangat saat menjelaskan betapa besarnya dinosaurus tersebut, danβ€”

PLOP.

Es krimnya jatuh.

Bulatan cokelat dengan sprinkles warna-warni itu mendarat manis di atas trotoar.

Satu detik keheningan.

Arka menatap bawah. Menatap cone kosong di tangannya. Menatap bawah lagi.

Dan bibirnya mulai bergetar.

"Es krim aku..."

"Arkaβ€”"

"Jatuh."

Matanya mulai berkaca-kaca. Bukan drama β€” bukan tangisan anak yang pura-pura. Ini kesedihan tulus seorang anak kecil yang baru kehilangan es krim cokelat dengan sprinkles favoritnya di hari yang sangat panas.

"Udah, nggak apa-apa," kataku cepat. "Kita beli lagiβ€”"

"ARKA."

Suara itu datang dari belakang.

Suara laki-laki. Dalam. Tegas. Dan dalam satu detik, suasana taman di sekitarku terasa berubah frekuensinya.

Aku menoleh.

Dan di situlah dia berdiri.

Tinggi β€” hampir 180-an kalau aku taksir. Kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, celana bahan gelap, rambut hitam sedikit berantakan seperti baru diusap tangan sendiri. Wajahnya β€” simetris, rahang tegas, alis yang sedikit berkerut β€” mengarah ke Arka dengan ekspresi campuran antara khawatir dan lega.

Dan kemudian mengarah ke aku.

Kami bertatapan.

Sepersekian detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Matanya gelap dan tajam. Bukan tajam yang jahat β€” tapi tajam yang terbiasa mengamati, menganalisis, memproses. Mata orang yang tidak biasa lengah.

Dan ekspresinya saat menatapku β€” dingin. Bukan kasar. Tapi dingin yang jelas mengatakan: siapa kamu, apa hubunganmu dengan anakku, dan kenapa kamu ada di sini.

Arka yang menyadari kehadiran papanya langsung berbalik dan berlari ke arahnya. "PAPA!"

Laki-laki itu jongkok dengan refleks, menangkap Arka sebelum si bocah nabrak betisnya. "Kamu kenapa nggak bilang ke Papa mau ke taman?"

"Udah bilang tadi!" Arka protes.

"Bilangnya sambil lari. Papa nggak jelas dengernya."

"Sama aja."

Laki-laki itu β€” papa-nya Arka β€” menghela napas pendek. Tangannya mengusap rambut Arka dengan gerakan yang sangat terbiasa, sangat natural, tapi matanya kembali beralih ke arahku.

Aku masih duduk di bangku. Es krim vanilla-ku sudah hampir menetes ke tanganku tapi aku terlupa menjilatinya.

"Ini siapa?" tanyanya ke Arka. Suaranya datar. Bukan tidak sopan β€” tapi tidak ramah juga.

"Kak Sekar!" Arka menjawab antusias. "Yang aku ceritain ke Papa! Yang guru TK! Yang baik! Yang suka baca buku! Yangβ€”"

"Iya." Laki-laki itu memotong Arka dengan singkat, lalu menatapku lagi.

Aku berdiri. Refleks sopan santun.

"Sekar," kataku, sedikit canggung. "Sekar Anindhita. Saya tetangga β€” blok C nomor 12. Arka dan saya sering ketemu di taman ini, kita ngobrolβ€”"

"Saya tahu."

Dua kata. Datar. Dan dia tidak menyambung dengan apapun.

Aku nggak tahu mau bilang apa lagi. Senyumku yang sudah kusiapkan menggantung canggung di wajah.

Arka tiba-tiba ingat sesuatu. "Pa! Es krim Arka jatuh tadi! Sedih banget!"

Papanya melirik ke bawah β€” ke sisa es krim cokelat yang sudah meleleh di trotoar β€” lalu kembali ke Arka. "Kamu nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa. Cuma sedih."

"Es krim bisa beli lagi."

"Iya tapiβ€”"

"Arka." Suaranya pelan tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Arka langsung manggut patuh. "Yuk pulang."

"Tapi Papaβ€”"

"Sudah mau Maghrib."

Arka melirikku dengan ekspresi minta tolong. Aku sedikit mengangkat bahu β€” aku nggak bisa berbuat banyak, Ark.

Laki-laki itu berdiri, pegang tangan Arka, dan mulai berjalan. Tanpa kata perpisahan ke arahku. Tanpa menoleh.

Kemudian Arka menoleh. Tangannya melambai ke arahku dengan semangat penuh meski tubuhnya ditarik ke depan. "Besok ketemu lagi ya Kak Sekar! Maaf Papa-nya nggak bilang apa-apa, dia emang gitu! Tapi sebenernya baik kok!"

"ARKA."

"IYA PA JALAN IYAβ€”"

Mereka menghilang di balik tikungan.

Aku berdiri sendirian di samping bangku, es krim vanilla yang sudah meleleh di tangan, dan ekspresi yang entah apa.

Aku menatap ke arah tikungan itu beberapa saat.

Jadi itu papanya Arka.

Rambut berantakan. Kemeja putih. Mata tajam yang dingin. Rahang tegas. Pergi tanpa bilang selamat tinggal.

Dan Arka bilang dia baik.

Aku menurunkan pandangan ke es krim vanillaku yang sudah hampir tidak berbentuk, kemudian menjilatinya pelan.

Oke.

Mungkin baik versi Arka dan baik versi orang pada umumnya itu definisinya sedikit berbeda.

Tapi malam itu, tanpa alasan yang jelas, aku masih ingat matanya.

Dan aku tidak suka bahwa aku masih mengingatnya.