POV: Sekar

-------------------------------------------

 

Aku tahu komplek ini tidak terlalu besar.

 

Blok A sampai D, masing-masing dua puluh rumah, dengan taman di tengah dan satu warung di sudut. Semua orang di sini pada akhirnya akan saling kenal — atau minimal saling tahu wajah. Itu sudah hukum alam komplek perumahan.

 

Tapi entah kenapa, aku tidak pernah benar-benar memperhatikan bahwa rumah nomor 7 blok C — yang hanya berjarak enam rumah dari rumahku — sudah berganti penghuni tiga minggu lalu.

 

Atau lebih tepatnya: aku baru menyadarinya hari ini, ketika Ibu Rahma tetangga sebelah menyodorkan informasi itu sambil menyiram bunga pagi-pagi.

 

"Kamu udah kenal belum sama yang baru pindah? Nomor tujuh itu," kata Ibu Rahma, selangnya masih menyemprot mawar merah kesayangannya.

 

"Sudah, Bu." Aku mengangguk. "Anaknya yang sering ke taman sore-sore."

 

"Oh, Arka!" Ibu Rahma langsung berbinar. "Anak itu imut banget ya. Kemarin minta izin liat kucing saya, sopan banget. Padahal cuma empat tahun." Beliau geleng-geleng kagum. "Papanya yang didik bagus tuh."

 

"Iya," kataku pelan.

 

"Papanya belum kamu kenal?"

 

"Sudah. Sekilas."

 

Ibu Rahma menaikkan alis dengan ekspresi yang aku tidak suka artinya. "Ganteng ya?"

 

"Saya nggak terlalu perhatiin, Bu."

 

"Bohong."

 

"Bu Rahma—"

 

"Ibu lihat kamu waktu papasan sama dia kemarin di depan warung." Ibu Rahma senyum lebar. "Mukamu merah."

 

"Itu karena sore panas, Bu."

 

"Sore itu mendung, Sekar."

 

Aku menarik napas panjang. "Saya berangkat dulu ya, Bu. Mau ke sekolah."

 

Suara tawa Ibu Rahma yang renyah mengiringi langkahku sampai ke ujung gang.

 

---

 

Yang belum aku ceritakan adalah: Arka tadi pagi sudah duluan kasih informasi mengejutkan versinya sendiri.

 

Sore sebelumnya, di taman, di tengah-tengah cerita Arka tentang mimpinya naik roket, dia tiba-tiba menyimpang ke topik lain.

 

"Kak Sekar tinggal di nomor berapa tadi?"

 

"C-12. Kenapa?"

 

Arka menghitung dalam kepalanya. Bibirnya bergerak pelan. Kemudian matanya bulat. "OH!"

 

"Kenapa?"

 

"Berarti kita tetangga dong!"

 

Aku berhenti. "Lho, iya kan? Kamu bilang blok C nomor tujuh."

 

"Iya tapi aku baru ngitung." Arka kelihatan sangat excited dengan penemuan ini. "Berarti rumah kita deket banget! Enam rumah doang!"

 

"Enam rumah itu deket?"

 

"Deket banget!" Arka sudah meloncat-loncat kecil di tempatnya. "Berarti Kak Sekar bisa main ke rumah aku! Atau aku yang main ke rumah Kak Sekar! Atau kita jalan bareng ke taman! Eh tapi kita udah jalan bareng ke taman ya—"

 

Aku tidak bisa tidak tertawa melihat antusiasmenya yang tidak ada tombol offnya.

 

"Iya, Ark. Kita tetangga."

 

"Ini hari terbaik!" Arka berdiri di atas bangku taman dan mengangkat kedua tangannya ke udara seperti habis menang pertandingan. "KAK SEKAR TETANGGA AKU!"

 

Dua ibu-ibu yang kebetulan lewat menoleh, kemudian senyum melihat bocah kecil yang merayakan hal sepele dengan sukacita sebesar itu.

 

Aku menarik lengan Arka sebelum dia jatuh dari bangku. "Duduk yang bener, Ark. Bahaya."

 

"Oke oke." Dia duduk, tapi senyumnya tidak hilang. "Nanti aku kasih tahu Papa. Papa pasti senang."

 

"Senang kenapa?"

 

Arka mikir sebentar. "Karena Papa juga suka sama Kak Sekar."

 

Aku berdehem. "Dari mana kamu tahu?"

 

"Waktu aku cerita soal Kak Sekar, Papa dengerin." Arka bicara dengan logika yang dalam dunianya sangat masuk akal. "Biasanya kalau Papa nggak tertarik sama sesuatu, mukanya kayak gini—" dia peragakan ekspresi datar yang menggelikan, "—tapi waktu aku cerita soal Kak Sekar, mukanya kayak gini—" dan ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih... hidup.

 

Aku tidak tahu harus merespons apa, jadi aku pilih tidak merespons sama sekali.

 

Tapi jantungku sudah memilih responnya sendiri — berdetak sedikit lebih kencang dari seharusnya.

 

---

 

Sore itu, dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku hampir menabrak seseorang di tikungan gang.

 

"Eh—maaf—"

 

"Nggak apa-apa."

 

Kami berdua mundur selangkah secara bersamaan.

 

Dan aku menatap wajah yang sudah dua hari ini tidak berhasil kuhapus dari ingatan.

 

Revano — aku belum tahu namanya saat itu, aku masih menyebutnya "papanya Arka" dalam kepalaku — berdiri dengan tas ransel hitam di satu bahu dan kantong kresek berisi entah apa di tangan lainnya. Wajahnya sedikit berkeringat, seperti baru dari luar.

 

"Kamu baru pulang?" tanyanya. Suaranya datar tapi tidak dingin. Ada perbedaan tipis yang aku mulai bisa membedakan.

 

"Iya, dari sekolah." Aku mengangguk. "Mas baru dari mana?"

 

"Kantor." Dia melirik kantong kreseknya. "Mampir beli bahan masak. Arka minta soto."

 

Detail kecil itu — seorang ayah yang mampir beli bahan masak karena anaknya minta soto — entah mengapa terasa sangat menggerakkan sesuatu di dadaku.

 

"Oh." Aku tidak tahu harus bilang apa. "Arka baik-baik aja tadi siang. Di taman seperti biasa."

 

Sesuatu di wajahnya berubah — sedikit, hampir tidak terdeteksi. Tapi aku mendeteksinya. Seperti ketegangan yang turun beberapa derajat. "Aku tahu. Dia cerita."

 

"Cerita apa?"

 

"Katanya kamu tetangganya." Sudut bibirnya bergerak — bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang mendekatinya. "Katanya itu berita bagus."

 

Aku mengangkat bahu kecil, pura-pura santai. "Buat Arka mungkin iya."

 

"Mungkin." Dia menyeimbangkan kantong kreseknya. "Permisi."

 

"Iya, silakan."

 

Dia berjalan melewatiku.

 

Dan aku berdiri di tikungan gang itu beberapa saat lebih lama dari yang diperlukan, memandangi punggungnya yang menghilang ke arah rumah nomor tujuh.

 

Kemudian aku berjalan ke rumahku sendiri.

 

Dan di sepanjang jalan itu, yang ada di kepalaku hanya satu hal.

 

Aku bahkan belum tahu namanya.

 

---

 

Malam itu, aku kirim pesan ke Tiara — sahabatku sejak kuliah yang sekarang tinggal di kos daerah Menteng.

 

"Ti, gimana caranya tahu nama seseorang tanpa kelihatan kepo?"

 

Balasannya datang dalam tiga detik.

 

"SIAPA? CERITA SEKARANG ATAU AKU TELPON."

 

Aku meletakkan handphone dengan layar menghadap ke bawah.

 

Mungkin besok saja.