πŸ‘€ POV: Sekar

Aku ke taman pukul empat kurang seperempat.

Dua puluh menit lebih awal dari biasanya.

Alasannya sederhana dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan bocah kemarin β€” aku cuma mau dapat bangku yang sama sebelum direbut orang lain. Bangku pojok kanan yang teduh itu memang enak. Siapapun pasti mau duduk di sana.

Itu alasanku. Dan aku akan terus bilang begitu.

Aku baru buka halaman pertama buku β€” halaman pertama, belum sampai mana-mana β€” ketika terdengar suara langkah kecil yang sudah tidak asing.

"KAK SEKARRR!"

Arka berlari ke arahku dengan kecepatan yang mengkhawatirkan untuk ukuran kaki sekecil itu. Ransel kecil bergambar dinosaurus manten di punggungnya, bergoyang-goyang setiap langkah.

Dia nyaris menabrak bangku sebelum berhasil mengerem dan duduk di sebelahku dengan napas ngos-ngosan.

"Aku kira kamu belum datang!" katanya antara napas.

"Baru aja."

"Aku dari tadi nunggu." Dia keluarkan sesuatu dari ranselnya β€” kotak pensil warna. "Aku bawa ini. Mau gambar di sini."

Aku menatap kotak pensil warnanya. "Gambar apa?"

"Belum tahu. Nanti lihat mood."

Aku menahan senyum. Mood. Bocah empat tahun pakai kata mood.

Arka membuka sketchbook kecil yang juga keluar dari ranselnya dan mulai menggambar dengan serius. Aku kembali ke bukuku. Kami duduk berdampingan dalam diam yang anehnya nyaman β€” dua orang yang baru kemarin kenalan, tapi sudah seperti punya ritme sendiri.

Sesekali Arka bertanya hal-hal random.

"Kak Sekar kerja apa?"

"Guru TK."

Dia mendongak. Matanya berbinar. "Beneran? Guru TK? Berarti kamu ngajar anak-anak kayak aku?"

"Iya."

"Wah." Dia manggut-manggut, terkesan. "Berarti kamu sabar banget dong. Anak TK itu berisik."

"Kamu tahu dari mana?"

"Dari aku sendiri." Dia bilang itu tanpa malu sama sekali. "Kata Papa aku cerewet. Tapi cerewet itu beda sama berisik. Cerewet itu banyak ngomong hal penting. Berisik itu asal ribut."

Aku menutup buku untuk kedua kalinya dalam dua hari. "Siapa yang bilang gitu?"

"Aku sendiri. Tapi Papa setuju."

Tawa kecil keluar dari mulutku sebelum sempat kutahan.

Kami lanjut ngobrol β€” soal TK mana yang akan Arka masuki tahun ajaran ini, soal teman-teman di komplek lama yang dia rindukan, soal mimpi Arka yang kemarin katanya dia bermimpi bisa terbang ke planet Saturnus karena mau lihat cincinnya dari dekat.

Dan di sela-sela semua itu, Arka berkali-kali menyebut papanya.

"Papa bilang..."

"Kata Papa..."

"Papa suka juga..."

"Kalau Papa tahu pasti Papa bilang..."

Papa. Papa. Papa.

Arka menyebut nama itu dengan cara yang membuatku setiap kali ikut tersenyum tanpa sadar. Bukan karena kagum atau apa β€” tapi karena ada sesuatu yang hangat dari cara bocah ini berbicara tentang ayahnya. Seperti papanya adalah seluruh dunianya. Seperti papanya adalah orang paling keren, paling pintar, paling segalanya yang pernah ada.

"Papamu arsitek, tadi bilang ya," kataku di satu titik.

"Iya!" Arka semangat. "Papa bikin gedung-gedung. Yang tinggi-tinggi. Aku mau kayak Papa nanti."

"Wah, berarti mau jadi arsitek juga?"

"Iya. Tapi aku mau bikin rumah, bukan gedung. Soalnya gedung itu buat semua orang. Kalau rumah itu buat keluarga. Lebih spesial."

Aku menatapnya. Bocah ini bilang kata spesial dengan pelafalan yang sempurna dan pemahaman yang tidak kalah sempurna.

"Siapa yang ngajarin kamu mikir kayak gitu?"

Arka senyum lebar. Lesung pipitnya muncul. "Papa."

Tentu saja.

"Papamu tinggal di rumah nomor 7 itu sendirian sama kamu?"

Arka manggut. "Iya. Cuma aku sama Papa. Tapi ada Mbak Sari yang datang tiap hari buat masak dan beberes. Mbak Sari baik. Suka bawain aku bakwan."

"Nggak ada... orang lain?" Aku nggak tahu kenapa aku nanya itu. Reflek.

Arka menggeleng. "Nggak ada." Lalu dia lirik aku. "Maksudnya seperti tante-tante yang deket sama Papa?"

Aku sedikit tersedak. "Eβ€”bukan, maksudkuβ€”"

"Nggak ada," ulang Arka, santai. "Papa nggak pernah bawa siapapun pulang. Kata Mbak Sari, Papa orangnya tertutup. Aku nggak tahu artinya waktu itu, tapi sekarang udah ngerti. Artinya Papa susah dekat sama orang baru."

Ia berhenti menggambar sebentar. Menatap sketchbook-nya dengan ekspresi yang sulit kubaca untuk anak seusianya.

"Aku pengen Papa punya teman," katanya pelan. "Bukan teman kerja. Teman beneran. Yang bisa bikin Papa ketawa."

Dadaku terasa hangat aneh.

"Papa kamu nggak pernah ketawa?"

"Jarang." Arka mendongak padaku. "Tapi waktu ketawa, bagus banget. Sayang jarang."

Aku nggak tahu harus merespons apa. Jadi aku cuma manggut pelan, dan Arka kembali menggambar.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Kemudian Arka mengangkat sketchbook-nya dan menunjukkannya ke arahku.

"Ini buat kamu."

Aku menatap gambarnya.

Tiga orang β€” atau lebih tepatnya, tiga bentuk manusia versi anak TK. Yang satu kecil di tengah, diapit dua yang lebih besar. Yang kiri lebih tinggi, yang kanan dengan rambut panjang bergelombang.

Di bawah gambar itu, dengan tulisan balok besar-besar yang beberapa hurufnya masih terbalik:

ARKA. PAPA. KAK SEKAR.

Tenggorokanku terasa aneh.

"Ini... kita bertiga?"

"Iya." Arka manggut puas atas karyanya. "Aku, Papa, sama Kak Sekar. Bagus kan?"

"Bagus banget," kataku, dan aku sungguh-sungguh mengatakannya.

Arka merobek halaman itu dengan hati-hati, lipatnya rapi, dan menyodorkannya padaku dengan kedua tangan β€” seperti menyerahkan sesuatu yang berharga.

"Simpen ya."

Aku terima dengan kedua tanganku juga. "Iya. Aku simpen."

Arka senyum puas dan kembali membuka halaman baru di sketchbook-nya.

Aku menatap gambar itu beberapa saat lagi sebelum melipatnya hati-hati dan memasukkannya ke dalam buku yang sedari tadi nggak juga kubaca.

Tiga orang di gambar pensil warna seorang bocah empat tahun.

Arka. Papa. Kak Sekar.

Aku nggak tahu kenapa, tapi gambar itu terasa seperti sesuatu. Seperti awal dari cerita yang belum tahu endingnya.

Dan untuk pertama kali dalam waktu yang lama β€” aku penasaran sama endingnya.

Dua hari kemudian, aku akhirnya tahu nama lengkap papanya.

Dan aku menyesal tidak lebih lama tidak tahu.