POV: Sekar

-------------------------------------------

 

Malam itu aku susah tidur.

 

Bukan karena kopi — aku memang sudah stop kopi setelah maghrib sejak setahun lalu. Bukan juga karena berisik, karena komplek ini terbilang tenang. Tapi karena ada sepasang mata gelap yang terus-terusan muncul setiap kali aku mencoba memejamkan mata.

 

Mata papanya Arka.

 

Aku membalik badan ke kanan. Lalu ke kiri. Lalu menatap langit-langit kamar dengan ekspresi yang — kalau ada orang melihat — pasti akan terlihat sangat tidak dewasa.

 

Dia bahkan tidak bilang apa-apa. Datang, ambil Arka, pergi. Tanpa halo, tanpa permisi, tanpa selamat tinggal. Satu-satunya interaksi yang bisa disebut komunikasi adalah waktu dia bilang "Saya tahu" dengan nada yang terasa seperti pintu yang ditutup pelan tapi pasti.

 

Dan aku — dengan segala kebijaksanaan dua puluh lima tahun hidupku — masih memikirkannya jam sebelas malam.

 

Aku menarik selimut hingga menutupi wajah.

 

Ini bukan apa-apa. Aku cuma penasaran biasa. Wajar kalau penasaran sama tetangga baru yang ternyata punya anak yang sudah kujadikan teman taman. Itu normal. Sangat normal.

 

Aku menutup mata dengan paksa.

 

Dan malam itu, aku bermimpi tentang seseorang yang berkemeja putih berdiri di bawah sinar lampu taman.

 

---

 

Keesokan paginya, aku ke taman seperti biasa.

 

Tapi Arka belum ada.

 

Aku duduk, buka buku — kali ini sudah di halaman 61, ada kemajuan — dan menunggu tanpa mau mengakui bahwa aku sedang menunggu.

 

Dua puluh menit berlalu.

 

Kemudian suara langkah kecil yang sudah sangat kukenal.

 

Tapi kali ini langkahnya lebih pelan dari biasanya. Tidak ada teriakan "Kak Sekar!" dari jarak sepuluh meter. Tidak ada lari kecil yang membahayakan. Arka berjalan mendekat dengan kepala sedikit menunduk dan tangan menggenggam sesuatu di depan dadanya.

 

Aku menutup buku. "Arka?"

 

Dia mendongak. Matanya yang biasanya berbinar hari ini terlihat serius — serius dengan cara yang membuatku ingin tertawa tapi kutahan.

 

"Kak Sekar." Dia berdiri tepat di depanku. "Aku mau minta maaf."

 

Aku mengernyit. "Minta maaf buat apa?"

 

"Buat Papa." Dia menarik napas dalam-dalam seperti sedang mempersiapkan pidato. "Kemarin Papa pergi tanpa bilang apa-apa ke Kak Sekar. Itu nggak sopan. Aku udah bilang ke Papa tadi pagi."

 

Aku berkedip beberapa kali. "Kamu... bilang ke Papa?"

 

"Iya." Arka manggut serius. "Aku bilang, 'Papa, kemarin kita pergi tanpa bilang selamat tinggal sama Kak Sekar. Itu nggak baik. Papa harus minta maaf.'"

 

"Dan Papa bilang apa?"

 

Arka diam sebentar. Ekspresinya agak berubah — antara lucu dan jujur. "Papa bilang dia malu."

 

Sesuatu dalam dadaku bergerak — hangat dan geli sekaligus. "Malu?"

 

"Iya. Papa bilang dia nggak biasa sama orang baru jadi kadang sikapnya kaku. Terus Papa bilang maaf buat Kak Sekar." Arka mengulurkan tangannya — dan di sana, ada sebungkus permen yupi berbentuk beruang. "Ini dari Papa. Katanya buat bilang maaf."

 

Aku menatap permen itu.

 

Kemudian menatap Arka.

 

Kemudian permen lagi.

 

Seorang laki-laki dewasa — tinggi, tampan, berwajah dingin — mengirimkan permintaan maaf via permen yupi yang diantarkan anaknya yang berusia empat tahun.

 

Aku menggigit bibir bawah, menahan senyum yang mau meledak.

 

"Makasih, Ark." Aku terima permen itu dengan kedua tangan. "Bilang ke Papa, nggak apa-apa kok. Kak Sekar nggak marah."

 

Arka tampak lega luar biasa. Bahunya turun, seluruh tubuhnya seolah melepas beban. "Beneran? Kak Sekar nggak marah?"

 

"Beneran."

 

"Syukurlah." Dia langsung duduk di sebelahku dengan ekspresi yang sudah kembali ceria. "Soalnya kalau Kak Sekar marah, aku sedih. Kak Sekar teman taman terbaik yang aku punya."

 

"Teman taman terbaik?" Aku tertawa kecil. "Kamu punya teman taman lain?"

 

"Nggak ada." Dia mengakui itu dengan santai total, sama sekali tidak ada rasa awkward. "Makanya kamu yang terbaik sekaligus yang pertama."

 

Logika yang tidak bisa dibantah.

 

Kami ngobrol seperti biasa setelah itu — Arka yang mendominasi percakapan, aku yang mendengarkan sambil sesekali merespons. Tapi di satu titik, Arka tiba-tiba melirikku dengan ekspresi yang berbeda. Lebih hati-hati. Seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

 

"Kak Sekar..." katanya pelan.

 

"Hmm?"

 

"Maaf ya kalau Papa keliatan galak." Dia memilih kata-katanya dengan serius. "Papa sebenernya nggak galak. Cuma... dia udah lama nggak punya teman juga. Jadi nggak tahu caranya."

 

Aku menatap bocah ini beberapa saat.

 

Empat tahun. Dan dia sudah bisa membaca papanya dengan kedalaman yang bahkan sebagian orang dewasa tidak mampu melakukan untuk orang-orang di sekitar mereka.

 

"Kamu sayang banget sama Papa ya," kataku, bukan pertanyaan.

 

Arka manggut tanpa ragu. "Papa orang terbaik di dunia. Kadang cuma agak susah dimengerti orang lain." Dia berhenti. "Tapi aku mengerti Papa. Dan aku harap orang lain mau mencoba juga."

 

Kata-kata itu jatuh di antara kami dengan berat yang tidak proporsional untuk suara sekecil Arka.

 

Aku menelan sesuatu di tenggorokan.

 

"Aku mau coba," kataku akhirnya, pelan.

 

Arka senyum — senyum lebar yang memperlihatkan gigi susunya yang masih lengkap. "Makasih, Kak Sekar."

 

Dan kami kembali ke ritme kami — Arka menggambar, aku membaca, angin sore bertiup lembut.

 

Tapi sekarang ada satu hal baru yang aku bawa pulang selain buku dan sisa minuman.

 

Sebungkus permen yupi beruang.

 

Dan rasa penasaran yang semakin susah untuk kupura-purakan tidak ada.

 

---

 

Dua hari kemudian, aku berpapasan dengan papanya Arka di depan warung Pak Surip.

 

Dia jalan dari arah rumahnya, aku dari arah sekolah. Kami saling melihat dari jarak sekitar lima meter.

 

Dia berhenti.

 

Aku juga berhenti.

 

Satu detik canggung yang terasa seperti satu jam.

 

Dan kemudian — untuk pertama kalinya — dia yang memulai. "Sekar." Dia menyebut namaku dengan nada yang datar tapi... berbeda dari sebelumnya. Tidak ada dinding es di dalamnya. "Maaf soal kemarin lusa."

 

Aku menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Mas."

 

Dia manggut singkat. Seolah sudah cukup. Kemudian dia melanjutkan langkahnya.

 

Tapi sebelum benar-benar berlalu, dia berhenti satu langkah dan tanpa menoleh berkata, "Arka suka cerita soal kamu."

 

Dan kemudian dia pergi.

 

Aku berdiri di depan warung Pak Surip, menggendong tas sekolah, dengan jantung yang tiba-tiba tidak mau berdetak dengan irama yang benar.

 

Pak Surip melongok dari dalam warung. "Mau beli apa, Neng?"

 

Aku berkedip. "E — es teh, Pak. Es teh satu."

 

Aku butuh sesuatu yang dingin. Sekarang.