Cahaya ring light yang melingkar sempurna itu memantul di bola mata Dinda, menciptakan binar buatan yang tampak begitu hidup di layar ponselnya. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia memiringkan wajahnya tiga puluh derajat ke kiri, memamerkan garis rahang yang tegas dan polesan highlight di tulang pipinya yang berkilau mahal. Di depannya, sebuah kotak beludru berwarna biru tua terbuka, menampilkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian kecil yang berkilauan ditimpa cahaya lampu.
"Hai, Guys! Jadi banyak banget yang tanya, kado apa sih yang aku dapat dari Mas Aris buat merayakan jabatan barunya sebagai Manager?" Dinda berbicara dengan nada riang yang dibuat-sedemikian rupa agar terdengar rendah hati, namun tetap menyiratkan kebanggaan yang meluap. "Sebenarnya aku nggak minta apa-apa, sih. Bagi aku, dukungan istri itu tulus. Tapi ya namanya suami, katanya ini bentuk apresiasi buat aku yang selalu setia di sampingnya. So grateful!"
Dinda menekan tombol berhenti merekam, lalu dalam sekejap, senyum manisnya hilang. Wajahnya kembali datar, bahkan cenderung masam. Ia melempar kalung itu kembali ke dalam kotaknya dengan kasar. Kalung itu cantik, tapi menurutnya terlalu kecil. Untuk ukuran seorang Manager di perusahaan distribusi besar, Aris seharusnya bisa memberikan yang lebih dari ini.
"Cuma segini, Bang?" gumamnya sinis sambil menatap pantulan dirinya di cermin rias yang penuh dengan botol-botol skincare kelas atas.
Ia beralih ke aplikasi penyuntingan video, menambahkan musik latar yang sedang tren, lalu mengunggahnya ke Instagram dan TikTok. Dalam hitungan detik, notifikasi mulai membanjiri ponselnya. “Masya Allah, Kak Dinda beruntung banget punya suami kayak Kak Aris!” “Goal banget sih pasangan ini, suaminya mapan, istrinya cantik.” “Iri banget! Kapan ya suamiku bisa peka kayak gitu?”
Dinda tersenyum tipis membaca komentar-komentar itu. Inilah asupan energinya. Validasi dari orang-orang asing yang menganggap hidupnya sempurna adalah candu yang membuatnya merasa lebih berharga dari siapapun. Ia tidak peduli jika kalung itu dibeli Aris dengan menyisihkan uang makan siangnya selama tiga bulan. Yang ia peduli adalah bagaimana dunia melihatnya.
Suara deru mobil memasuki garasi rumah mereka yang asri di kawasan perumahan elit. Aris keluar dari mobil dengan bahu yang tampak merosot. Kemeja kerjanya sedikit kusut, dan gurat kelelahan jelas tercetak di wajahnya yang tampan. Menjadi Manager operasional di usia tiga puluh dua tahun memang sebuah prestasi, tapi tanggung jawab yang dipikulnya dua kali lipat lebih berat.
"Assalamualaikum," ujar Aris pelan saat memasuki ruang tengah.
Dinda yang sedang asyik membalas komentar di ponselnya hanya menjawab tanpa menoleh, "Waalaikumsalam. Telat lagi, Bang?"
Aris mendekat, mengecup kening istrinya dengan lembut—sebuah rutinitas yang selalu ia jaga meski hatinya sedang penat. "Iya, Dek. Tadi ada audit mendadak di gudang. Kamu sudah makan?"
"Udah tadi sama anak-anak arisan. Oh ya, Bang," Dinda meletakkan ponselnya, matanya kini menatap Aris dengan binar menuntut. "Tadi aku udah posting kalungnya. Tapi jujur ya, Bang, temen-temenku tadi ada yang pamer tas baru. Modelnya timeless banget, cocok kalau nanti aku nemenin Abang ke acara kantor."
Aris menghela napas panjang. Ia melepas jam tangannya dan duduk di samping Dinda. "Dek, kalung itu baru Abang kasih dua hari lalu. Uang jabatan baru Abang juga belum turun penuh, masih banyak potongan untuk asuransi dan tabungan pendidikan masa depan kita nanti."
Wajah Dinda langsung berubah ketus. Ia melipat tangan di dada. "Alasan terus. Abang itu Manager, levelnya sudah tinggi. Malu aku kalau penampilanku begini-begini saja. Abang nggak lihat istrinya Pak Gunawan? Tiap bulan ganti tas. Padahal jabatan Abang sama dia kan sama."
"Pak Gunawan itu sudah kerja lima belas tahun, Dek. Tabungannya beda. Kita baru merangkak," Aris mencoba memberi pengertian dengan suara setenang mungkin. "Abang mau kita punya aset. Rumah ini saja cicilannya masih panjang. Abang mau kita punya tabungan yang kuat kalau-kalau ada apa-apa."
"Kalau memang banyak duit mu bang, harus nya aku kau bahagiakan, kau beli kan apa yang aku mau! Bukannya mengeluh kalau aku belanja ini itu. Gengsi aku jatuh di depan kawan-kawanku kalau suamiku pelit begini!" Dinda mulai meninggikan suaranya, logat asalnya keluar saat emosinya memuncak.
Aris memijat pangkal hidungnya. Kalimat itu lagi. Kalimat yang selalu memosisikan Aris sebagai suami yang gagal jika tidak memenuhi nafsu belanja istrinya. "Abang bukan pelit, Dinda. Abang hanya ingin kita realistis. Kamu tahu sendiri kan, bulan lalu tagihan kartu kreditmu hampir sepuluh juta hanya untuk baju dan sepatu yang bahkan belum kamu pakai?"
"Itu investasi penampilan, Bang! Biar orang tahu kalau karir Abang sukses!" sergah Dinda. Ia berdiri, mengambil tasnya, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu dengan keras.
Aris terdiam di ruang tamu yang sunyi. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa, menatap langit-langit rumah yang megah namun terasa hampa. Ia mencintai Dinda. Sangat mencintainya. Dinda adalah wanita yang menemaninya dari titik nol, saat ia masih menjadi staf lapangan yang kepanasan di bawah terik matahari. Dulu, Dinda adalah wanita sederhana yang merasa cukup dengan makan bakso di pinggir jalan.
Namun, seiring dengan naiknya posisi Aris, ada sesuatu yang ikut tumbuh dalam diri Dinda: ketidakpuasan yang akut. Media sosial seolah menjadi racun yang mengubah sudut pandang istrinya. Setiap kali melihat orang lain memiliki lebih, Dinda merasa dirinya berkurang.
Keesokan harinya, Aris berangkat ke kantor dengan perasaan yang tidak tenang. Di kantor, ia disambut oleh tumpukan berkas dan koordinasi tim yang menuntut konsentrasi penuh. Sebagai Manager, ia membawahi puluhan orang. Ia harus terlihat kuat dan berwibawa.
Namun, konsentrasinya buyar saat sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya. Bukan dari Dinda, melainkan dari Maya, adik bungsunya.
“Mas Aris, Ibu tadi nangis telepon Maya. Katanya Mbak Dinda datang ke rumah minta perhiasan Ibu buat dipinjam? Katanya mau dipake buat acara besar, tapi Ibu takut nggak balik karena tahu Mbak Dinda lagi suka belanja. Mas, tolong kasih tahu istrinya, jangan tekan Ibu kayak gitu.”
Jantung Aris serasa berhenti berdetak sesaat. Ia merasa darahnya naik ke kepala. Mengapa Dinda sampai hati melibatkan ibunya yang sudah sepuh? Ia segera menelepon Dinda, namun panggilannya ditolak berkali-kali.
Sore harinya, saat Aris pulang, ia mendapati rumah dalam keadaan berantakan dengan kotak-kotak paket kiriman belanja online. Dinda sedang duduk di lantai, mengagumi sepasang sepatu hak tinggi yang baru saja datang.
"Dinda, apa maksudmu minta perhiasan ke Ibu?" Aris bertanya tanpa basa-basi. Suaranya rendah, namun penuh penekanan.
Dinda mendongak, wajahnya tampak tak berdosa. "Oh, itu. Cuma pinjam, Bang. Aku nggak punya bros yang cocok buat kebaya nanti. Daripada beli baru Abang marah-marah, ya mending pinjam punya Ibu, kan?"
"Tapi Ibu sampai nangis, Dinda! Kamu tahu itu peninggalan almarhum Bapak. Kamu nggak boleh bersikap lancang begitu!"
Dinda berdiri, menatap Aris dengan mata menantang. "Lancang? Aku ini menantunya! Harusnya dia senang kalau aku terlihat cantik memakai perhiasannya. Lagian kalau Abang kasih aku uang lebih buat beli bros sendiri, aku nggak bakal ganggu Ibu!"
"Cukup, Dinda! Masalahnya bukan soal uang, tapi rasa syukurmu! Apapun yang kukasih, tidak pernah cukup di matamu!"
"Tapi de kalau belanja sesuai sama takaran uang ku tabungan ku ngga bakal aku marah," suara Aris mulai bergetar karena menahan emosi yang meluap. "Tapi kau hutang, pinjol, darimana uang bayar nya de? Abang baru tahu dari Maya kalau kamu juga pinjam uang ke dia bulan lalu. Malu aku ditagih sampai ke kantor, Dinda! Tadi pagi ada orang telepon ke meja kerja abang nanya soal cicilan atas namamu!"
Wajah Dinda sempat pucat sesaat mendengar soal telepon ke kantor, namun ego-nya jauh lebih besar. Ia justru berteriak lebih kencang. "Ya kalau Abang malu, bayar dong! Itu tugas suami! Jangan cuma tahu kerja tapi istri dibiarin kayak pengemis minta-minta ke orang lain!"
"Pengemis?" Aris tertawa getir. "Pengemis mana yang pakai sepatu seharga tiga juta di kakinya? Kamu bukan pengemis, Dinda. Kamu serakah."
Dinda tersentak. Ia tidak menyangka Aris yang biasanya lembut akan menggunakan kata sekasar itu. Sebelum ia sempat membalas, Aris sudah berbalik dan meninggalkan rumah. Ia butuh udara segar. Ia butuh menjauh dari wanita yang kini tidak lagi ia kenali.
Aris menjalankan mobilnya tanpa tujuan, hingga ia berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Rumah ibunya. Di sana, ia melihat Maya sedang duduk di teras sambil menyuapi Ibu. Pemandangan itu mendadak membuat mata Aris panas. Di rumah itu, ada kedamaian yang tidak pernah ia temukan di rumahnya sendiri yang mewah.
"Mas Aris?" Maya berdiri, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Aris turun dari mobil, melangkah lunglai menuju ibunya. Ia berlutut di depan wanita yang telah melahirkannya itu, menyembunyikan wajahnya di pangkuan Ibu.
"Maafin Aris, Bu... Aris gagal jadi kepala keluarga yang baik," bisik Aris parau.
Sang Ibu mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Beliau tidak bertanya, karena beliau tahu. Beliau tahu putranya sedang menanggung beban yang sangat berat demi mempertahankan sebuah janji suci yang kini mulai terkoyak oleh ketidakbersyukuran seorang istri.
Di tempat lain, di dalam kamar yang dingin, Dinda sama sekali tidak merasa bersalah. Ia justru sedang membuka aplikasi pinjaman online lainnya. Ia butuh uang untuk membayar cicilan pinjol yang jatuh tempo besok. Di pikirannya, selama Aris masih bekerja sebagai Manager, semua akan baik-baik saja. Ia yakin Aris terlalu mencintainya untuk benar-benar pergi.
Dinda kembali tersenyum di depan layar ponselnya, menyiapkan konten untuk esok hari, sementara badai besar sebenarnya sudah mulai mengintai di cakrawala hidupnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar