"Woi, Dit! Tumben jam segini baru kelihatan batang hidungnya."
Baru saja gue menekan tombol power di CPU, suara cempreng dari kubikel sebelah langsung menyambut. Raka. Rambutnya disisir rapi pakai pomade yang wanginya lumayan nyengat, kemejanya digulung sampai siku. Di tangannya ada segelas kopi hitam yang asapnya masih mengepul tipis.
Gue melirik jam di sudut kanan bawah layar monitor yang baru menyala. 08:52.
"Batang hidung gue dari tadi ada, Rak. Mata lu aja yang baru melek," jawab gue santai sambil mengeluarkan mouse dari dalam laci.
Raka tertawa keras, jenis tawa lepas yang selalu bikin orang-orang di sekitarnya ikut nengok. Dia menyeret kursi berodanya mendekat ke meja gue. "Kesiangan lagi lo? Semalem begadang nonton apa? Bola? Kan nggak ada match."
"Gue kan udah bilang, gue nggak kesiangan," gue membalas sambil membuka aplikasi email. "Gue cuma... menghindari keramaian pagi. Social distancing."
"Pret. Social distancing apaan, corona udah lewat bertahun-tahun lalu," Raka menyeruput kopinya dengan suara slurp yang sengaja dikerasin. "Lagian, lo kalau alasan telat yang kreatif dikit kek. Alasan lo tuh flat banget, kayak jalan tol. Bilang aja lo nungguin chat dari si 'itu' yang nggak kunjung masuk, kan?"
Jari gue yang tadinya mau nge-klik inbox berhenti sejenak. Gue melirik Raka. "Siapa?"
"Siapa lagi. Mentang-mentang jomblo menahun, pura-pura lupa." Raka nyengir, senyum jahilnya terbentuk sempurna. "Udah lah, Dit. Cewek di Jakarta banyak. Masa lo mau nungguin yang udah move on jauh."
"Sotoy lu," gue mendengus, kembali menatap layar monitor. "Gue nggak nungguin siapa-siapa. Tadi MRT-nya agak delay dikit di Blok M." Berbohong soal keterlambatan itu lebih mudah daripada harus menjelaskan tentang rutinitas melamun gue di pinggir kasur tiap pagi.
"Tuh kan, alasan klasik. Pakai nyalahin MRT segala. MRT Jakarta tuh paling on time, bos," balas Raka, jelas nggak percaya. "Udah, ngaku aja. Butuh waktu ekstra buat ngumpulin niat kerja kan lo?"
Kali ini Raka menebak tepat sasaran. Tapi gue nggak mungkin membenarkan itu. "Niat kerja gue udah ngumpul dari jam enam pagi. Fisik gue aja yang jalannya lambat."
"Bisa aja ngelesnya. Eh, tapi by the way," nada suara Raka sedikit berubah, jadi agak berbisik, seolah lagi ngomongin rahasia negara. "Lo udah cek grup divisi belum pagi ini?"
Gue menautkan alis. "Grup WhatsApp? Belum. HP gue masih di tas. Kenapa emang? Pak bos marah-marah lagi karena report mingguan?"
"Bukan. Si Nanda dari Marketing semalem resign tiba-tiba. Langsung pamit di grup gede, left group jam dua belas malam. Gila nggak tuh?"
Gue terdiam sebentar. Nanda. Anak Marketing yang mejanya dua baris di belakang gue. Cewek yang selalu ketawa paling kenceng kalau lagi kumpul makan siang, yang selalu bawa tupperware isi brownies kalau lagi Friday casual.
"Serius lu?" tanya gue, sedikit kaget. "Perasaan kemaren sore gue masih papasan sama dia di pantry, dia lagi nyeduh teh."
"Serius, dua rius," Raka mengangguk mantap. "Makanya, anak-anak pada heboh pagi ini. Katanya sih kena mental gara-gara di-push terus sama Pak Rio buat target quarter ini. Tapi ya... namanya juga kerjaan, Dit. Dimana-mana juga gitu kan? Tekanan pasti ada."
Gue menatap Raka. Dari luar, cowok ini kelihatan kayak orang yang nggak pernah punya beban hidup. Kerjaannya cuma bercanda, nge-ceng-in anak magang, atau ngajakin nobar bola kalau weekend. Dia selalu punya cara buat ngubah suasana kantor yang tegang jadi santai. Tapi pas dia bilang 'namanya juga kerjaan' tadi, ada nada lelah yang jarang gue denger dari mulutnya.
"Iya sih," gue membalas pelan. "Tapi mendadak banget."
"Yah, begitulah hidup. Hari ini ketawa-ketiwi, besok burnout, besoknya lagi ilang," Raka mengedikkan bahu, lalu memutar kursinya kembali ke mejanya sendiri. "Makanya, lo jangan lemes-lemes amat napa pagi-pagi. Kopi gih sana bikin. Muka lo lecek banget kayak duit kembalian angkot."
"Bacot," balas gue singkat, meski ujung bibir gue sedikit tertarik.
Raka kembali fokus ke layarnya, langsung pakai headphone gede warna hitam andalannya. Di saat yang sama, Bu Marni, supervisor divisi gue, lewat sambil nenteng map.
"Pagi, Adit. Udah masuk toh?" sapa Bu Marni tanpa menghentikan langkahnya.
"Pagi, Bu. Udah, Bu."
"Tolong forward email data client yang bulan lalu ya ke saya. Hari ini juga. Makasih."
"Siap, Bu."
Gue kembali menatap monitor. Puluhan email berderet di inbox dengan subjek yang terbaca seperti bahasa alien yang terus berulang. Re: Update Project A. Fwd: Urgent - Client Feedback. Meeting Invitation: Weekly Sync.
Gue menggeser kursor, tapi pikiran gue masih tertinggal di obrolan tadi. Tentang Nanda.
Orang-orang di gedung ini... kita semua kayak berada di dalam lift yang sama. Bergerak naik perlahan, berdesakan, saling mencium aroma parfum dan keringat masing-masing. Kadang ada yang ngobrol, kadang ada yang diam main HP. Tapi kita sebenarnya nggak pernah benar-benar kenal satu sama lain.
Kita cuma kebetulan berdiri di kotak yang sama, menuju lantai yang sama, untuk melakukan rutinitas yang sama. Lalu suatu hari, pintunya terbuka, dan seseorang memutuskan untuk keluar dari lift itu sebelum sampai di lantai tujuan. Orang-orang yang tersisa di dalam lift bakal kaget sebentar, membicarakannya selama beberapa lantai, lalu diam lagi begitu sadar mereka masih harus melanjutkan perjalanan ke atas.
Gue mengusap wajah kasar. Kenapa gue jadi overthinking gini cuma gara-gara berita orang resign?
Gue menoleh ke sekeliling. Raka lagi manggut-manggut menikmati musik dari headphone-nya sambil ngetik cepat. Di seberang, Mbak Dini lagi sibuk video call—entah sama client atau anak balitanya di rumah. Semuanya terlihat normal. Semuanya punya peran masing-masing di panggung kecil bernama lantai 14 ini.
Lalu, peran gue apa?
Gue menatap pantulan samar wajah gue di monitor yang layarnya masih menampilkan deretan email. Rasanya aneh. Gue kenal semua orang di sini, tahu kebiasaan mereka pesen makan siang, tahu siapa yang suka kentut sembarangan di pantry. Tapi di tengah keramaian suara keyboard dan obrolan ini, gue ngerasa... asing.
Kayak gue ada di sini, fisik gue duduk di kursi empuk ini, tapi gue yang sebenarnya lagi tertinggal jauh di suatu tempat, duduk di halte bus kosong, nunggu angkutan yang nggak pernah datang.
Gue menghela napas panjang. Mengusir pikiran-pikiran itu jauh-jauh.
"Oke, Adit. Ayo kerja," gumam gue pada diri sendiri.
Gue mengeklik email pertama dari atas. Subject: Re: Update Project A. Membacanya sekilas, membalasnya dengan template yang udah ada di kepala gue, lalu menekan Send. Satu kotak selesai. Masih ada puluhan lagi.
Hari ini baru saja dimulai, tapi gue rasanya udah pengen cepat-cepat besok.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar