Jam menunjukkan pukul 10:15.

Matahari Jakarta mulai terasa garang di luar jendela kaca raksasa di sebelah kiri meja gue. AC sentral gedung sepertinya lagi agak ngambek hari ini, karena suhu di ruangan ini nggak sejuk seperti biasanya. Atau mungkin cuma perasaan gue aja karena kepala gue mulai terasa panas.

"Dit, file Excel yang kemarin lo share di Drive udah final belum? Mau gue tarik datanya nih."

Suara Mbak Dini dari seberang partisi membuyarkan lamunan gue. Gue mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengembalikan fokus yang entah sejak kapan melayang ke atap gedung.

"Excel yang mana, Mbak? Yang campaign bulan lalu atau yang forecast kuartal depan?" tanya gue balik, sedikit memanjangkan leher biar suara gue kedengeran melewati partisi.

"Yang campaign bulan lalu. Yang ada breakdown cost per channel itu loh."

Gue terdiam. Berpikir keras. Campaign bulan lalu? Excel? Pikiran gue nge-blank. Gue menekan tombol kombinasi di keyboard untuk membuka folder kerjaan. Mata gue menelusuri deretan nama file yang formatnya hampir mirip semua: Report_Final_V1, Report_Final_V2, Report_Beneran_Final.

"Sebentar, Mbak. Gue cek dulu," jawab gue agak panik.

Gue membuka satu file. Salah. Buka yang lain. Salah lagi.

"Gimana, Dit? Udah?" Mbak Dini nanya lagi, nadanya agak buru-buru. Kedengaran suara dia membolak-balik kertas. "Ini Pak Rio udah nanyain buat deck presentasi nanti siang soalnya."

"Udah, Mbak. Bentar, loading," gue berbohong, padahal gue masih scroll down folder dengan jari yang mulai berkeringat dingin.

Kemarin gue ngerjain apa ya? batin gue.

Itu pertanyaan sederhana, tapi sumpah, detik itu gue benar-benar nggak bisa ingat. Kemarin hari Kamis. Gue masuk jam 08:45, persis kayak hari ini. Duduk di kursi ini. Buka komputer. Membalas email. Ikut meeting siang. Tapi... detailnya menguap gitu aja. Kayak ada seseorang yang pakai penghapus papan tulis dan menggosok kasar memori gue tentang hari kemarin.

Apa yang gue ketik kemarin? Angka berapa aja yang gue masukin ke tabel Excel itu? Apa yang gue obrolin sama Raka pas makan siang?

Kosong. Semuanya blur. Hari Rabu, Kamis, dan Jumat menyatu jadi satu gumpalan abu-abu yang bentuknya seragam.

"Ketemu, Mbak!" seru gue lega, saat akhirnya mata gue menangkap nama file dengan tanggal kemarin di folder yang salah. Gue buru-buru membukanya. Angka-angka berjejer rapi di sana. Iya, ini hasil kerjaan gue. "Udah final, Mbak. Silakan ditarik aja datanya. Maaf ya, tadi nyempil di folder lain."

"Oke, sip. Thanks ya, Dit," balas Mbak Dini, suaranya kembali rileks. Kedengaran suara ketikan cepat dari arah mejanya.

Gue menyandarkan punggung ke kursi. Mengembuskan napas panjang. Jantung gue yang sempat berdebar sedikit lumayan kembali normal.

Tapi perasaan kosong di dada gue makin melebar.

Gue menatap meja kerja gue. Meja kayu berwarna putih kusam berukuran standar 120x60 sentimeter. Di pojok kiri atas ada kalender meja dari vendor percetakan yang bulan lalu belum gue balik halamannya. Di sebelah kanan ada tempat pensil berisi dua pulpen hitam yang tintanya macet, satu highlighter kuning kering, dan tumpukan post-it warna-warni yang separuhnya cuma berisi coretan abstrak nggak jelas—hasil kebosanan pas meeting mingguan yang panjangnya ngalahin durasi film India.

Ada juga action figure Batman kecil yang gue beli iseng tiga tahun lalu di pameran mainan. Batman itu berdiri kaku, menatap lurus ke arah gue dengan wajah marahnya yang permanen.

"Ngapain lu liatin gue gitu?" gumam gue pelan ke arah figur plastik itu. "Gue juga nggak tahu kenapa gue ada di sini."

"Ngomong sama siapa lo?"

Kepala Raka tiba-tiba nongol dari balik partisi samping. Headphone hitamnya udah bertengger manis di leher.

"Kaget gue, anjir," gue berjengit kecil. "Nggak ngomong sama siapa-siapa. Cek mic doang."

"Sakit jiwa lo lama-lama kalau kebanyakan diem," Raka terkekeh. "Ikut ke pantry nggak? Gue mau nyeduh kopi ronde kedua nih. Ngantuk banget gila, materi meeting Pak Bos tadi kayak obat bius dosis tinggi."

Gue melirik tumpukan kerjaan di layar, lalu beralih ke wajah Raka yang kelihatan emang beneran butuh asupan kafein. "Boleh deh. Gue juga mau ambil air putih."

Kami berdua bangkit dan berjalan menuju pantry yang ada di ujung lorong lantai 14. Suasana kantor lumayan sepi. Beberapa meja kosong, penghuninya entah lagi meeting di ruang kaca atau lagi turun ngerokok.

Pantry kantor gue ukurannya nggak terlalu besar. Cuma ada satu kulkas dua pintu, dispenser air, microwave, dan deretan toples gula kopi di atas kabinet pantry kayu yang catnya mulai mengelupas. Bau harum kopi instan bercampur sama wangi Indomie rebus sisa sarapan entah siapa langsung tercium begitu kami masuk.

Raka langsung mengambil gelas mug andalannya dari rak—mug bergambar logo klub bola Arsenal yang sablonannya udah pudar. Dia merobek sachet kopi bubuk dan menuangkannya.

"Eh, Dit. Balik lagi soal si Nanda tadi," Raka membuka percakapan sambil menekan tombol air panas di dispenser. Asap tipis langsung mengepul. "Gue denger-denger dari anak Sales, katanya dia mau buka usaha sendiri. Coffee shop atau semacamnya gitu."

Gue bersandar di meja pantry, memegang gelas kaca kosong. "Oh ya? Bagus dong. Lebih bebas."

"Bebas apanya," Raka mendengus. Dia mengaduk kopinya dengan sendok kecil, bunyinya berdenting beraturan bertabrakan dengan dinding mug. "Buka usaha sendiri tuh stresnya dobel, bos. Di sini mah enak, akhir bulan pasti gajian. Sakit ditanggung asuransi kantor. Libur ada jatah cuti. Lah kalau buka sendiri? Lo sakit, toko tutup, nggak ada pemasukan. Pusing."

Gue menatap air di dalam dispenser yang beriak kecil. "Ya... tapi seenggaknya dia ngerjain sesuatu yang dia suka, Rak. Bukan cuma duduk ngetik Excel buat slide presentasi orang lain."

Raka menghentikan adukannya. Dia menoleh ke gue, menatap dengan saksama selama beberapa detik. Tatapannya sedikit berbeda dari biasanya, tatapan tajam dan mengobservasi, seolah mencari tahu apa yang sebenarnya gue maksud.

"Lo lagi burnout ya, Dit?" tebak Raka straight to the point. "Nada omongan lo dari tadi pagi pesimis bener. Kayak bapak-bapak kurang setoran."

Gue tertawa pelan, mencoba menutupi perasaan gue yang sebenarnya ketahuan. "Nggak lah. Gue biasa aja. Cuma kadang mikir aja, sampai kapan kita rutinitas begini terus."

"Sampai pensiun, atau sampai lo dipecat," Raka membalas cepat, lalu menyesap kopinya pelan-pelan. "Itu rules dunianya, Dit. Kita ini cogs in a machine. Roda gigi. Selama mesinnya jalan, ya kita harus muter."

Gue mengambil air dingin dari dispenser. Gelas kaca gue mengembun. "Dan lo nggak masalah jadi roda gigi yang muter terus-terusan di tempat yang sama?"

Raka terdiam sebentar. Mata cerianya yang biasa bercanda tiba-tiba terlihat sedikit redup. Dia menatap ke luar jendela pantry yang langsung menghadap deretan gedung pencakar langit Jakarta. Kemacetan mulai terlihat memanjang seperti ular besi di jalan protokol bawah sana.

"Masalah sih, kadang," jawab Raka pelan, sangat pelan sampai gue hampir nggak denger. Tapi lalu, sedetik kemudian, wajahnya berubah lagi. Topeng cerianya kembali terpasang sempurna. Dia menepuk bahu gue cukup keras. "Makanya kerjanya jangan dipikirin mulu! Dibawa have fun aja. Entar sore mabar Mobile Legends lah kita, jangan kabur lo."

Gue tersenyum tipis. "Lihat nanti deh. Kalau gue nggak tepar."

Kami berjalan kembali ke area meja kerja. Langkah gue terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya.

Gue kembali duduk di kursi gue. Meja yang sama. Posisi komputer yang sama. Post-it yang posisinya nggak berubah sejengkal pun. Gue memegang mouse, mengklik-klik ruang kosong di desktop tanpa tujuan.

Raka mungkin benar. Kita ini cuma roda gigi. Mutar terus supaya mesin besar bernama 'perusahaan' ini tetap jalan. Tapi masalahnya, gue nggak tahu gue ini menggerakkan bagian mesin yang mana. Gue berputar setiap hari, datang jam 08:45, pulang jam 18:00, menghabiskan energi yang gue punya, tapi semuanya terasa... mandek.

Gue melihat tangan gue sendiri di atas keyboard. Tangan yang sama dengan kemarin, tapi rasanya ada sesuatu yang makin luntur setiap harinya. Gue memejamkan mata sebentar, membayangkan bagaimana jadinya besok.

Pasti gue akan bangun jam enam. Mandi. Berangkat. Telat lima belas menit. Buka email.

Kalau besok akan persis sama seperti hari ini... lalu buat apa gue repot-repot bangun besok pagi?

Kalau seandainya hari ini gue nggak datang ke kantor, nggak membalas belasan email itu, nggak mengirim file Excel ke Mbak Dini... apa yang akan terjadi? Mungkin Mbak Dini bakal ngomel, Pak Rio akan tegur gue, tapi seminggu kemudian, semuanya akan kembali normal seolah error kecil itu nggak pernah ada. Perusahaan ini nggak akan runtuh cuma karena seorang Adit nggak masuk sehari.

Gue menggeser mouse lagi, lalu membuka laci meja bawah. Tangan gue mencari-cari sebuah flashdisk lama yang biasa gue simpan di sana. Ujung jari gue menyentuh sesuatu yang berdebu. Bukan flashdisk.

Gue menarik benda itu keluar. Sebuah buku notes kecil bersampul kulit imitasi hitam.

Ini notes yang gue beli waktu pertama kali masuk kerja di sini. Dulu, gue berencana nulis ide-ide brilian di buku ini. Project impian, resolusi tahunan, hal-hal yang pengen gue pelajari.

Gue membuka halamannya. Tiga lembar pertama berisi tulisan tangan gue yang rapi. Rencana target tabungan, list negara yang pengen gue kunjungi sebelum umur 30, dan beberapa judul buku desain yang mau gue beli.

Gue membalik ke halaman empat. Kosong.

Halaman lima. Kosong.

Halaman sepuluh. Masih kosong.

Gue menatap halaman kosong itu cukup lama, sampai garis-garis biru di kertasnya terlihat mengabur. Tiga tahun telah lewat, dan bagian yang terisi di buku ini tetap berhenti di halaman tiga. Sama seperti hidup gue yang rasanya ikutan berhenti, terjebak di chapter yang sama yang diputar berulang-ulang seperti kaset rusak.

Kalau besok sama persis seperti hari ini... terus sampai kapan gue mau begini?

Gue menutup perlahan notes hitam itu dan memasukannya kembali ke sudut laci paling dalam. Menguncinya, bersama sisa-sisa hal lain yang sengaja gue tunda entah sampai kapan.