"WAKANDA FOREVER!"

Suara teriakan itu barengan dengan bunyi pintu kaca kantor yang terbuka lebar. Nggak perlu nengok, gue tahu itu Raka. Jam di tangan gue menunjukkan pukul 09:05. Kantor sudah mulai bising, dan Raka adalah konduktor utama dari kebisingan itu.

Dia jalan melewatinya meja demi meja, menyapa semua orang seolah-olah dia lagi kampanye jadi gubernur. Dia kasih high-five ke anak magang, godain Mbak Dini soal bekal makan siangnya, sampai bikin Pak Rio yang lagi baca koran di ruangannya senyum-senyum sendiri.

Raka sampai di kubikelnya, di sebelah gue. Dia melempar tas ranselnya ke atas meja dengan gaya dramatis.

"Pagi, Adit sang Legenda 08:45!" Raka menepuk pundak gue keras. "Eh, bentar. Gue salah lihat ya? Ini jam berapa? Kok lo udah anteng depan komputer?"

"Gue tadi diantar malaikat, jadi lebih cepet," jawab gue tanpa menoleh dari layar.

Raka ketawa ngakak. Tawa yang... entahlah. Dulu gue pikir tawanya itu tulus, tapi hari ini, setelah obrolan sama Bu Sari tadi, gue jadi lebih memperhatikan. Tawa Raka itu terlalu cepat keluar. Terlalu keras. Kayak orang yang takut kalau dia berhenti ketawa, suasana bakal jadi canggung banget.

"Kerasukan apaan lo semalem? Atau jangan-jangan lo nggak pulang? Tidur di kolong meja?" Raka masih terus nyerocos sambil menyalakan komputer. "Eh, Dit. Nanti siang makan di tempat biasa ya. Gue denger ada promo buy 1 get 1 ramen di bawah. Lumayan buat ngirit sebelum tanggal tua."

"Boleh," jawab gue singkat.

Sepanjang pagi itu, gue memperhatikan Raka dari sudut mata. Dia benar-benar jadi pusat perhatian. Setiap kali ada yang kelihatan stres karena deadline, Raka pasti muncul dengan jokes garingnya yang entah kenapa tetap bikin orang ketawa. Dia kayak batre cadangan buat kantor ini. Kalau Raka nggak ada, mungkin lantai 14 ini bakal sesunyi perpustakaan di hari Minggu.

Tapi ada satu momen, sekitar jam sebelas siang.

Raka baru saja selesai "pertunjukan" singkatnya di depan meja anak-anak kreatif. Dia balik ke mejanya. Gue pura-pura sibuk ngetik, tapi gue melirik dia.

Begitu dia duduk dan merasa nggak ada yang melihat, ekspresi wajahnya jatuh. Benar-benar jatuh. Senyumnya hilang dalam sekejap, digantikan oleh tatapan kosong ke arah layar monitor yang sedang menampilkan loading bar. Dia mengembuskan napas panjang—bukan napas lega, tapi napas yang berat banget. Tangannya yang tadinya lincah, sekarang cuma diam di atas mouse, agak sedikit gemetar.

Dia mengeluarkan HP dari kantong, melihat layar sebentar, lalu dengan cepat membaliknya dan menaruhnya dengan posisi layar menghadap meja.

Gue berdeham. Raka langsung kaget, dan dalam hitungan milidetik, topeng cerianya balik lagi.

"Kenapa, Dit? Mau pinjam duit? Nggak ada ya!" candanya sambil nyengir lebar.

"Nggak," gue memutar kursi sedikit. "Lo... oke, Rak?"

Raka menaikkan alisnya. "Oke? Ya oke lah! Gue kan selalu oke. Kenapa emang? Muka gue kurang ganteng hari ini?"

"Nggak, tadi gue liat lo kayak... capek banget."

Raka terdiam sebentar. Senyumnya nggak hilang, tapi matanya nggak ikut ketawa. Dia condongkan badan ke arah gue, volumenya mengecil. "Dit, di kantor begini, kalau lo nggak kelihatan senang, orang bakal nanya-nanya. Dan gue paling malas ditanya-tanya. Mending gue bikin mereka ketawa, jadi mereka nggak perlu tahu apa yang ada di kepala gue."

Gue menatapnya lekat. "Emang apa yang ada di kepala lo?"

Raka tertawa lagi, kali ini suaranya agak sumbang. "Isinya cicilan, harapan orang tua, sama keinginan buat menghilang ke planet Mars sebulan. Biasa lah, drama umur dua puluhan."

Dia kembali fokus ke layar komputer sebelum gue sempat balas.

Gue sadar satu hal. Gue dan Raka itu sebenarnya sama. Kami sama-sama punya kehidupan yang "tertunda". Bedanya, gue menundanya dengan cara datang terlambat dan melamun, sementara Raka menundanya dengan cara tertawa terlalu banyak dan jadi orang lain.

Gue menunda hidup gue dengan cara menjadi pasif, dia menunda hidupnya dengan cara menjadi terlalu aktif. Kami berdua sama-sama sedang lari dari sesuatu yang bernama "realita yang hampa".

Pas makan siang nanti, gue pengen nanya lebih jauh. Tapi gue tahu, Raka nggak bakal mau kasih lihat retakan di topengnya lebih lama lagi. Dia sudah terlalu ahli dalam sandiwara ini.