Pagi ini, entah setan apa yang membisikkan ide aneh di telinga gue, gue bangun tanpa menunda-nunda di pinggir kasur. Begitu alarm bunyi jam enam, gue langsung berdiri, mandi, dan berangkat. Gue sampai di lobi gedung jam 08:25.
Rekor baru dalam dua tahun terakhir.
Pak Yanto, satpam lobi, sampai membetulkan letak kacamatanya pas gue lewat. "Wah, Mas Adit? Salah lihat jam atau gimana, Mas?"
Gue cuma nyengir. "Lagi pengen cari pahala datang pagi, Pak."
Lobi masih cukup ramai, tapi belum segila jam sembilan nanti. Gue naik lift yang isinya cuma dua orang, beda banget sama biasanya yang harus desak-desakan sampai nempel ke dinding kaca. Pas pintu lift lantai 14 terbuka, suasana kantor masih redup. Lampu-lampu besar belum semuanya dinyalakan. Aroma ruangan itu beda—bukan bau parfum yang bercampur aduk, tapi bau pembersih lantai yang tajam dan segar.
Gue melangkah masuk, dan di sana, di dekat deretan meja tim marketing, gue melihat Bu Sari.
Beliau sedang membungkuk, mengelap debu di sela-sela kabel komputer dengan kain lap yang sudah agak kusam. Bu Sari adalah bagian dari cleaning service gedung ini yang sudah ada sejak gue pertama kali masuk kerja. Orangnya kecil, rambutnya selalu diikat rapi, dan wajahnya selalu terlihat tenang, seolah dia punya stok kesabaran yang nggak terbatas.
Gue berjalan menuju meja gue, tapi langkah gue melambat pas melewati beliau.
"Pagi, Bu Sari," sapa gue pelan.
Bu Sari kaget kecil, lalu langsung menegakkan punggungnya. Senyumnya mengembang, tulus banget sampai matanya ikut menyipit. "Eh, Mas Adit. Pagi benar hari ini, Mas? Ibu sampai pangling."
Gue meletakkan tas di meja. "Iya, Bu. Tiba-tiba pengen ngerasain udara pagi kantor."
Bu Sari tertawa kecil, suara tawanya halus. "Bagus itu, Mas. Udara pagi itu rejeki. Ibu mah tiap hari jam enam sudah di sini. Kalau nggak pagi-pagi, nanti keburu ramai, Ibu susah mau nyapu-nyapu."
Gue duduk di kursi, memutar sedikit badan ke arah beliau. "Nggak capek, Bu? Tiap hari datang paling pagi, bersihin meja orang-orang yang kadang naruh sampah sembarangan?"
Gue nggak bercanda soal sampah. Ada beberapa rekan kerja gue yang kelakuannya ajaib; ninggalin bekas bungkus gorengan atau gelas plastik sisa kopi sampai jamuran di laci.
Bu Sari berhenti mengelap sejenak. Dia menatap meja kerja di depannya, lalu mengusap permukaannya dengan lembut. "Capek ya pasti ada, Mas. Namanya juga kerja. Tapi kalau Ibu nggak datang, nanti Mas Adit dan teman-teman kerja nggak nyaman. Kalau mejanya bersih, kerjanya enak, rejekinya lancar. Ibu juga kecipratan pahalanya, toh?"
Gue terdiam. Jawaban itu kedengaran sederhana, tapi entah kenapa terasa kayak tamparan pelan di pipi gue. Selama ini gue datang jam 08:45 karena gue merasa pekerjaan gue nggak ada maknanya. Gue merasa kalaupun gue telat, dunia nggak bakal kiamat.
Sedangkan Bu Sari... dia merasa keberadaannya penting karena dia membantu orang lain merasa nyaman. Dia punya "kenapa" yang kuat, sementara gue cuma punya "kapan pulang".
"Anak Ibu sekarang kelas berapa?" tanya gue, mencoba mencairkan suasana hati gue yang mendadak melow.
"Yang bungsu sudah mau lulus SMA, Mas. Doakan ya, semoga bisa lanjut kuliah. Ibu sama Bapaknya lagi nabung pelan-pelan," matanya berbinar pas ngomongin anaknya. Ada binar yang nggak gue temukan di mata teman-teman seumuran gue yang gajinya lima kali lipat gaji Bu Sari. "Makanya Ibu semangat. Kalau Ibu malas-malasan datang, nanti cita-cita si bungsu jadi tertunda."
Kalimat terakhirnya kayak gema yang muter-muter di kepala gue. Tertunda.
"Ibu hebat," gumam gue jujur.
Bu Sari kembali membungkuk untuk mengambil embernya. "Ah, biasa saja, Mas. Semua orang kan punya tanggung jawabnya masing-masing. Mas Adit juga hebat, sudah kerja di kantor bagus begini."
Beliau mulai berjalan menjauh sambil menenteng ember, tapi kemudian dia berhenti dan menoleh ke arah gue.
"Mas Adit..."
"Ya, Bu?"
"Jangan terlalu banyak melamun pagi-pagi. Masih muda," dia tersenyum bijak, seolah dia bisa membaca semua beban yang gue simpan di balik kemeja biru ini. "Yang penting itu masih mau datang, Nak. Masih mau melangkah. Masalah sampai atau nggaknya, itu urusan belakangan. Yang penting langkahnya jangan berhenti."
Gue cuma bisa mengangguk pelan. "Iya, Bu. Makasih ya."
Bu Sari melanjutkan pekerjaannya di kubikel lain. Gue tetap duduk diam di meja gue yang sekarang terasa sangat bersih berkat usapannya tadi. Gue menatap layar monitor yang masih gelap.
Langkah jangan berhenti, katanya. Tapi masalahnya, gue merasa langkah gue selama ini cuma jalan di tempat. Gue datang, gue kerja, gue pulang, tapi gue nggak merasa bergerak ke mana-mana.
Namun, melihat punggung Bu Sari yang masih lincah bergerak di usia yang nggak lagi muda, gue merasa sedikit malu. Dia yang pekerjaannya dianggap rendah oleh sebagian orang, justru punya martabat yang jauh lebih besar daripada gue yang tiap pagi cuma bisa ngeluh soal rutinitas.
Gue menyalakan komputer. Kali ini, gue nggak menunggu sampai jam sembilan untuk mulai membalas email.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar