08:45.
Angka merah di layar mesin fingerprint itu berkedip singkat sebelum berubah hijau. Bunyi bip nyaring memecah suasana lobi gedung yang sudah mulai sepi. Sebagian besar orang yang punya ambisi—atau sekadar rasa takut potong gaji—sudah raib ditelan lift sejak setengah jam yang lalu.
Gue menarik napas pelan, mengusap belakang leher yang sedikit berkeringat, lalu berjalan santai melewati meja resepsionis.
"Pagi, Mas Adit," sapa Pak Yanto, satpam lobi yang entah kenapa selalu punya stok senyum berlebih setiap pagi. Tangannya sibuk merapikan buku tamu, tapi matanya melirik ke arah jam dinding. "Pas banget ya, Mas. Kayak udah diatur."
Gue tersenyum tipis, menghentikan langkah sejenak di depan mejanya. "Kalau datang jam delapan, nanti malah bingung mau ngapain, Pak. Terlalu pagi."
Pak Yanto tertawa kecil, suara seraknya terdengar renyah. "Bisa aja sampeyan. Nanti kalau ditanya HRD, jawabnya gitu aja, Mas. Biar HRD-nya yang bingung."
"Udah pernah, Pak. HRD-nya nyerah," balas gue asal.
"Ya udah, buruan naik sana. Nanti bosnya keburu nyariin. Eh, tapi tumben hari ini nggak bawa kopi dari depan?" Pak Yanto menunjuk tangan gue yang kosong. Biasanya gue selalu bawa gelas plastik es kopi susu dari warung di dekat stasiun.
"Lagi males ngantre, Pak. Bikin di pantry atas aja nanti. Duluan ya, Pak."
"Mari, Mas."
Gue membalikkan badan dan berjalan menuju deretan lift di ujung lorong. Langkah gue pelan. Sepatu pantofel gue yang solnya mulai menipis bergesekan dengan lantai marmer yang mengilap, memantulkan bayangan lampu neon di langit-langit.
Seharusnya, jam masuk kantor adalah 08:30. Aturan itu tertulis jelas di buku panduan karyawan yang gue tanda tangani empat tahun lalu. Tahun pertama, gue selalu datang jam 08:15. Datang, nyalakan komputer, bikin kopi, siap kerja. Tahun kedua, mulai bergeser ke 08:25. Masih aman.
Tahun ketiga, dan sekarang masuk tahun keempat, entah kenapa angka 08:45 ini seolah jadi settingan default di kepala gue.
Bukan karena jalanan macet. Gue naik MRT, jadwalnya selalu presisi. Bukan juga karena gue bangun kesiangan. Alarm HP gue selalu bunyi jam enam pagi, dan gue selalu langsung bangun. Gue mandi, pakai kemeja, sarapan roti tawar—semuanya selesai sebelum jam tujuh.
Lalu, sisa waktunya gue pakai buat apa?
Duduk di pinggir kasur. Menatap dinding kamar kos yang catnya mulai mengelupas di bagian sudut. Mengecek timeline media sosial yang isinya orang-orang pamer pencapaian, atau sekadar memutar kunci motor berulang-ulang di tangan. Gue sering menghabiskan waktu dua puluh menit di halte cuma buat ngeliatin mobil lewat, menunda langkah buat naik ke tangga stasiun.
Gue menekan tombol lift berpanah ke atas. Lampunya menyala merah.
Ada perasaan aneh yang belakangan ini sering muncul tiap kali gue bersiap berangkat kerja. Rasanya kayak dada lo dipenuhi kapas basah. Nggak sakit, nggak berdarah, tapi berat dan bikin napas agak sesak. Setiap kali gue mengikat tali sepatu, ada suara kecil di kepala yang nanya, “Buat apa sih buru-buru? Toh sampai sana yang lo kerjain itu-itu aja.”
Dan gue nggak pernah punya jawaban buat bantah suara itu.
Ting.
Pintu lift terbuka. Kosong. Gue melangkah masuk, menekan tombol lantai 14, lalu bersandar di dinding kaca sambil melihat pantulan diri gue sendiri. Kemeja kotak-kotak biru, celana bahan hitam, ID card yang talinya udah mulai kusam melingkar di leher. Kantung mata gue terlihat sedikit lebih gelap dari minggu lalu. Usia gue 27 tahun, tapi kadang ngerasa energi gue udah habis dikuras sejak umur 22.
Gue menatap angka digital di atas pintu lift yang bergerak naik perlahan. 1... 2... 3...
Gue punya pekerjaan tetap, gaji yang cukup buat hidup di Jakarta—walau pas-pasan—dan cicilan yang masih dalam batas aman. Kalau orang tua gue di kampung nanya, gue bisa bilang dengan bangga kalau hidup gue baik-baik aja. Nggak ada drama, nggak ada utang pinjol, nggak ada masalah hukum.
Tapi mungkin, justru itu masalahnya. Nggak ada apa-apa.
Lift melewati lantai 8.
Gue ingat obrolan sama tukang ojek minggu lalu. Bapaknya nanya, “Kerja di gedung tinggi enak ya, Mas? Adem, nggak kena debu.” Waktu itu gue cuma ketawa pelan sambil bilang, “Iya, Pak. Adem.” Padahal di dalam hati, gue pengen bilang kalau kadang gue iri sama dia yang tahu jelas ke mana dia harus pergi setiap kali dapet orderan. Tujuan dia jelas: titik A ke titik B. Selesai, dapet uang.
Sedangkan gue? Gue tiap hari naik ke lantai 14, duduk delapan jam, menatap layar monitor, membalas email yang besoknya bakal dibalas lagi dengan email lain, lalu pulang. Besoknya, diulang lagi. Begitu terus sampai gue lupa kapan terakhir kali gue bener-bener ngerasa "hidup" saat ngerjain sesuatu.
Lift berhenti dengan bunyi denting pelan. Lantai 14.
Pintu terbuka, menampilkan lorong berkarpet abu-abu dengan logo perusahaan di dinding depan. Suara ketikan keyboard dan sayup-sayup obrolan langsung terdengar. Semuanya berjalan sesuai script. Tidak ada yang peduli gue telat lima belas menit, karena pada akhirnya pekerjaan gue tetap selesai sebelum jam enam sore.
Gue melangkah keluar dari lift. Menarik napas sekali lagi, memasang ekspresi netral yang udah gue latih bertahun-tahun.
Gue berjalan menuju meja kerja gue. Melewati kubikel-kubikel yang isinya orang-orang yang mungkin merasakan hal yang sama, atau mungkin cuma gue doang yang berengsek karena kurang bersyukur. Entahlah.
Satu hal yang gue sadari pagi ini, saat gue menarik kursi kerja dan meletakkan tas di bawah meja...
Gue nggak telat kerja.
Gue telat hidup.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar