"Runi, kenalkan ini Kirana," ucap ibu mertua. Beliau bersama Bapak dan adik iparku baru saja pulang dari kampung.


Aku tersenyum sembari mengulurkan tangan.


"Kirana ini pacar Bram sejak SMP dulu, cinta pertamanya," lanjut beliau.


Tanganku membeku di udara. Mataku mengerjap beberapa kali, memastikan telinga ini tidak salah dengar. Ibu mertua—perempuan yang telah melahirkan suamiku—baru saja memperkenalkan wanita lain sebagai cinta pertama Mas Bram. Di rumahku sendiri. Di hadapanku, istri sah laki-laki itu.


"Kirana akan menikah dengan Bram. Karena Bram masih berbaik hati tidak menceraikan kamu, maka kamu harus rela dimadu," sambung Ibu tenang. Seolah baru saja mengumumkan menu makan malam, bukan menghancurkan rumah tangga menantunya.


Tanganku perlahan turun. Kutarik kembali sebelum sempat bersentuhan dengan wanita bernama Kirana itu.


Kubiayai seluruh akomodasi dan transportasi pulang-pergi mereka ke Tasikmalaya. Tiket pesawat empat orang dari Jambi ke Bandung. Sewa mobil untuk perjalanan dari bandara ke desa. Uang saku Ibu yang katanya untuk oleh-oleh saudara. Semua dari dompetku. Dari hasil keringatku membuka toko online setiap hari sejak subuh hingga tengah malam.


Tapi ketika mereka pulang, oleh-oleh gundik yang aku terima.


Mataku beralih pada laki-laki yang berdiri di belakang perempuan itu. Mas Bram. Suamiku. Ia terlihat sangat tenang, menjinjing tas besar yang kuyakini bukan milik keluarganya sendiri. Barangkali itu tas Kirana.


Pantas saja tadi ia begitu semangat menjemput dan melarangku ikut ke bandara. Pantas saja ia meminta aku memasak yang banyak dan enak. Rupanya ada yang istimewa—yang harus disambut dengan menu terbaik, dengan piring-piring terbaik, dengan senyum terbaik dari istri yang tidak tahu apa-apa.


Hatiku berdesir perih. Rasanya nyaris ambruk di tempat. Sedih dan amarah berpadu menjadi satu gelombang besar yang menyerang dada. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada tanda apa-apa yang menjadi firasat bahwa hal semenyakitkan ini akan terjadi.


Ibu mertua memang tidak pernah setuju dengan pernikahan kami sejak awal. Aku yang hanya tamatan SMA, di matanya tidak punya masa depan. Aku yang orang Jambi, di matanya tidak pantas bersanding dengan anak lelaki kesayangannya. Aku yang yatim piatu sejak usia tujuh belas, di matanya hanya wanita tak bertuan yang beruntung dilamar.


Tapi kala itu Mas Bram kukuh melanjutkan hubungan kami. Katanya hanya aku yang mampu membuatnya move on dari Kirana yang telah mengkhianatinya. Katanya aku adalah penyembuh lukanya. Katanya aku adalah rumah.


Rumah apa, kalau akhirnya ia membawa perempuan itu masuk ke dalamnya?


Ya. Aku tahu Kirana sebelumnya. Memang dia cinta pertama Mas Bram. Aku yang kedua dan merasa bahagia karena berpikir menjadi yang terakhir. Akan tetapi, nyatanya aku salah. Bukan aku yang terakhir.


Mas Bram merantau ke Jambi lima tahun yang lalu untuk mengadu peruntungan nasib. Ia bekerja sebagai asisten afdeling di salah satu perkebunan kelapa sawit terbesar di Muaro Jambi. Meninggalkan Kirana di Tasikmalaya dalam waktu yang lama, membuat perempuan itu menjatuhkan pilihan pada laki-laki lain yang lebih dekat dan lebih mapan.


Mas Bram pernah dikhianati, tahu rasanya disakiti. Tapi mengapa sekarang tega menyakitiku dengan cara yang sama?


Cukup berani juga dia, ingin beristri dua. Padahal sudah jelas aturan perusahaan tempatnya bekerja melarang poligami bagi karyawan.


"Masuklah dulu. Kita bicarakan di dalam," tuturnya tenang. Namun suaranya terdengar muak di telingaku.


Ingin rasanya kuusir wanita tidak tahu diri itu. Seenaknya pergi saat Mas Bram mencintainya, lalu seenaknya datang kembali ketika Mas Bram sudah berstatus suamiku. Dia hanya memikirkan perasaannya sendiri, tanpa peduli bahwa ada wanita lain dan seorang anak kecil yang akan hancur hidupnya.


Ingin pula kucakar laki-laki yang telah mengikat janji setia padaku di hadapan Allah dan dua saksi itu. Tapi berlaku kasar tidaklah elegan. Akan terbukti ucapan Ibu bahwa aku hanyalah gadis kampung yang tidak tahu sopan santun.


Tidak.


Aku tidak akan memberi mereka kepuasan itu.


Aku menarik napas panjang, meredam emosi dan sakit yang merajai sukma. Semua harus dihadapi dengan anggun. Aku adalah Arunika Maharani—gadis Jambi yang telah belajar banyak hal sejak kehilangan kedua orangtuanya di usia remaja. Aku bukan wanita yang mudah dihancurkan.


"Silakan," ucapku pelan.


Aku menepi dari mulut pintu, memberi ruang untuk mereka berlalu. Senyum tipis kuuntai di bibir, meskipun di dalam dada rasanya seperti ada pecahan kaca yang berputar.


Mas Bram memegang pundak Kirana, mengiringnya menuju kamar tamu dengan lembut. Tangan kekarnya yang dulu mengusap punggungku setiap malam ketika aku tidak bisa tidur, kini mendarat di pundak wanita lain. Di rumahku sendiri.


Allahu Rabbi. Hatiku teriris rasanya.


Sakit sekali menyaksikan laki-laki yang masih berstatus suamiku itu berlaku mesra pada perempuan lain. Sudut mataku seketika menghangat. Segera kutarik napas dalam-dalam. Tidak boleh ada air mata yang keluar di hadapan mereka. Hal itu hanya akan menunjukkan bahwa aku lemah.


Dan aku bukan wanita lemah.


Kualihkan langkah menuju dapur. Di meja makan, hidangan yang kusiapkan sejak pagi masih tertata rapi. Tempoyak ikan patin—masakan khas Jambi yang dulu menjadi favorit Mas Bram ketika pertama kali ia merantau ke sini. Sambal tempoyak dengan aroma tajam khas buah durian yang difermentasi. Ikan patin bakar yang gurih. Sayur asam. Nasi gemuk yang masih hangat.


Dulu, saat Mas Bram pertama datang dari Tasikmalaya untuk bekerja di perkebunan, ia jatuh cinta pada tempoyak. Setiap kali Ibu datang dari Jawa, ia selalu minta dibuatkan. Katanya, lidah Sunda-nya bisa menerima masakan Jambi hanya karena yang memasaknya adalah aku.


Sekarang, masakan itu akan kusajikan untuk menyambut wanita yang akan merebut laki-laki itu dariku.


Lucu sekali hidup ini.


Kusiapkan minuman. Air jeruk peras dingin untuk Bapak, teh hangat untuk Ibu, dan segelas sirop merah untuk Sekar, adik iparku. Untuk Mas Bram dan Kirana, kuletakkan dua gelas kosong. Biar mereka tuang sendiri. Aku tidak sudi melayani mereka dengan tangan ini.


Ketika kembali ke ruang keluarga, mereka sudah duduk bercengkerama. Seperti tidak ada yang salah. Seperti baru saja pulang dari pesta biasa.


"Mau langsung makan atau istirahat dulu?" tanyaku. Kutahan emosi sedemikian rupa agar sikap dan bicaraku tampak tenang. Aku tidak mau ibu mertua bersorak girang atas keterpurukanku. Beliau harus menyaksikan bahwa apa yang mereka rencanakan tidak akan mempengaruhiku—setidaknya di permukaan. Karena di dalam, hatiku remuk redam. Tapi mereka tidak boleh melihat keremukan itu.


"Makan dulu saja. Sudah lapar," jawab Mas Bram tanpa menatapku.


"Nik, Runi masak makanan kesukaanmu," ucapnya pada wanita di sampingnya. Parasnya tidak ada yang istimewa. Standar saja. Kulitnya lebih gelap dibandingkan denganku. Hidungnya tidak mancung. Matanya tidak besar. Tapi mungkin karena dia cinta pertama Mas Bram, maka semua kekurangan itu menjadi keistimewaan.


Cinta memang buta. Atau dalam kasus Mas Bram—obsesi memang buta.


"Wah, tempoyak, ya?" Kirana mengamati hidangan di meja. Ekspresinya tidak antusias. Mungkin ia tidak suka. Atau mungkin ia menunggu dilayani seperti ratu.


"Iya," jawabku singkat. Kutarik kursi di ujung meja, menjauh dari mereka.


"Fira pintar masak juga rupanya," celetuk Ibu sambil mengambil sendok. "Biar besok Ibu ajari Kirana resep-resep Sunda. Biar Bram tidak bosan makan masakan Jambi terus."


Aku mendengkus pelan. Baru datang, sudah mengklaim dapur. Baru datang, sudah merencanakan menu keluarga. Baru datang, sudah bersikap seperti nyonya rumah.


"Kirana pintar masak, Bu?" tanyaku, menoleh pada Bu Rahayu.


"Tentu dong. Mantan guru TK. Pasti pintar urus rumah tangga," jawab Ibu bangga.


"Oh," sahutku pendek. Lalu kuarahkan pandang pada Kirana. "Nanti saya ajari cara menghadapi Mas Bram, Mbak. Dia sering bangun tengah malam minta susu hangat. Pusing kalau tidak ada gula tidak ada madu, katanya."


Mas Bram nyaris tersedak ikan patinnya.


"Oh, Mas juga suka minta dibuatkan sarapan jam empat pagi sebelum subuh ke kebun. Nasi harus panas. Kalau dingin, dia akan merajuk seharian."


Kulirik Kirana. Wajahnya mulai memerah.


"Dan yang paling penting, Mbak—Mas suka mendengkur keras sekali saat tidur. Awalnya saya tidak bisa tidur tiga bulan. Sekarang sudah biasa. Tapi buat Mbak nanti, mungkin perlu beli penyumbat telinga."


"Runi!" Mas Bram menatapku tajam.


"Apa, Mas?" tanyaku polos. "Saya hanya mau berbagi informasi. Supaya Mbak Kirana nanti tidak kaget. Kasihan, kan, baru datang langsung kaget."


Bu Rahayu berdeham keras.


"Fira, jaga bicaramu."


"Iya, Bu. Bicara saya jaga. Yang perlu dijaga sebenarnya kehormatan rumah tangga orang, bukan mulut saya." Kata-kataku meluncur begitu saja. Tenang. Tanpa nada tinggi. Tapi setiap suku katanya kutujukan untuk menusuk.


Hening.


Sendok garpu berhenti bergerak. Semua mata tertuju padaku. Bapak yang sedari tadi diam hanya menunduk, sibuk dengan piringnya sendiri. Sekar menatapku dengan mulut sedikit ternganga. Mas Bram menggenggam gelasnya erat-erat hingga buku jarinya memutih.


Dan Kirana—wanita itu menatapku dengan pandangan yang sulit kutebak. Antara terkejut dan tersinggung.


"Silakan lanjutkan makan," ucapku sambil bangkit. "Saya mau lihat Raja di kamar. Dia tidur terlalu lama, kasihan."


Aku melangkah meninggalkan ruang makan, membawa kakiku yang bergetar menuju kamar tempat putraku terlelap.


Di balik bahuku, kudengar Bu Rahayu berbisik pada Kirana—cukup keras agar aku mendengar.


"Sabar, Nduk. Nanti juga perempuan itu pergi sendiri. Ibu yang jamin."


Kuhentikan langkah.


Perlahan kutengok ke belakang.


Bu Rahayu balas menatapku. Dan di bibirnya terlukis senyum. Senyum puas yang selama tiga tahun pernikahan ini tidak pernah ia tunjukkan padaku. Senyum yang mengatakan: "Akhirnya aku menang."


Tanganku bergetar menahan sesuatu—entah air mata, entah amarah, entah keduanya sekaligus.


Tapi aku tersenyum balik. Tipis. Dingin.


"Ibu benar," ucapku pelan. "Saya memang akan pergi. Tapi saya yang memilih kapan. Bukan Ibu."


Lalu kulanjutkan langkah menuju kamar, meninggalkan Bu Rahayu yang senyumnya perlahan memudar dari wajahnya.