Kututup pintu kamar dengan perlahan. Di atas petiduran, terlelap malaikat kecilku. Buah cintaku bersama Mas Bram yang sama sekali tidak mereka tanyakan sejak tadi.
Begitu penting perempuan itu bagi keluarga Mas Bram, sampai tidak ada rindu sedikit pun untuk cucu semata wayang mereka. Dua minggu mereka di Tasikmalaya. Dua minggu Raja tidak bertemu neneknya. Tapi begitu sampai di Jambi, yang dicari bukan cucu sendiri, melainkan menantu baru.
Bening yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah juga dari sudut mata. Kubayangkan bocah tidak berdosa itu akan mendapat kasih sayang yang pincang. Namun, biarlah. Itu lebih baik daripada hidup berkubang luka. Tidak mengapa pincang, daripada lumpuh karena digerogoti dari dalam.
Kuusap kepala buah hatiku yang baru berusia dua tahun itu. Aku harus mampu membesarkannya sendiri. Tidak ada istilah berbagi keringat dalam kamus hidupku. Aku bukan penentang poligami—asal bukan suamiku yang melakukannya. Aku tahu kualitas dirinya yang tidak akan mampu berlaku adil. Jika dia kukuh, maka aku yang akan melepaskan.
Kubaringkan diri di samping tubuh mungil putraku. Terpejam, kuhapus jejak basah yang tadi sempat tercipta. Meskipun hati ini sakit, tidak perlu menangis berlebihan. Cukuplah sekadar membuat lega, membuang sesuatu yang menyesak dada. Me-recharge energi sekarang lebih penting, untuk bekal menjalani rencana selanjutnya. Untuk menguatkan hati menghadapi tingkah mereka yang pastinya akan semakin menyakitkan.
Adiraja—putraku—masih pulas. Bulu matanya lentik menyapu pipi chubby-nya. Bibir mungilnya sedikit terbuka, menghembuskan napas teratur. Kutenangkan pikiran agar dapat terlelap pula di sampingnya.
***
Aku terbangun ketika petiduran terasa bergerak. Kemudian satu tangan mungil meraba pipiku. Kebiasaan Raja ketika bangun—selalu meraba wajah orang yang ada di sampingnya.
"Anak Mama sudah bangun?" tanyaku gemas. Kuangkat tubuhnya ke atas dadaku, lalu kucium wajahnya bertubi-tubi. Renyah tawanya menentramkan hatiku, sedikit menyembuhkan luka yang tadi mencabik.
"Nen," ucapnya sambil hendak membuka baju atasku.
"Eh, nen-nya sekarang bukan ini lagi, Nak," tolakku halus.
Bocah itu merengek. Dia baru saja kusapih bulan lalu, jadi masih sering minta ASI kalau sedang manja. Sulit melepaskan kebiasaan yang sudah berlangsung dua tahun.
"Kita bikin nen di dapur, yuk," hiburku. Kugendong bocah menggemaskan itu menuju pintu. Susu formula selalu siap di kulkas. Aku memang menstok banyak, karena Raja kadang minta susu tengah malam, pagi buta, siang, sore—tidak kenal waktu.
Ketika pintu terbuka, di ruang televisi yang terletak persis di depan kamarku, aku dihadapkan pada dua sosok yang gelagapan. Keduanya menarik wajah mereka yang sebelumnya seperti menyatu. Mas Bram dan Kirana. Duduk berdempetan di sofa, tangan Mas Bram melingkar di pundak perempuan itu.
Darahku langsung mendidih.
"Hmm, masih siang, Mas. Mbok ya Mbak Kirana-nya dibiarkan istirahat dulu," sindirku sinis. Laki-laki itu nyengir salah tingkah.
"Raja, lihat, Papa diambil Bude," ucapku.
Mataku menatap tajam perempuan yang duduk rapat di samping suamiku. Raja paling tidak suka kalau ada yang berkata bahwa aku atau Mas Bram diambil orang. Segera kuturunkan bocah itu dan melihat apa yang akan dia lakukan.
Raja bergegas berlari ke arah Mas Bram, kemudian mendorong kasar tubuh Kirana. Perempuan itu cengengesan kikuk. Terlebih ketika mata bocah itu menyorot penuh amarah. Meskipun tidak sebesar amarah yang ada pada diriku, tapi aku cukup puas. Merasa terwakilkan.
"Hai, siapa namanya," tanya perempuan itu SKSD—sok kenal sok dekat. Ia mendekat dan mengulurkan tangan hendak menjawil pipi Raja.
"Gak mau! Pergi sana! Jangan ambil Papa!" seru Raja dengan logat kanak-kanaknya. Cepat, ia menepis tangan Kirana.
Aku tersenyum puas. Bukan mengajarkan anak tidak sopan, tapi menunjukkan bahwa kita perlu mempertahankan hak milik kita. Meskipun sebenarnya aku sudah tidak ingin mempertahankan Mas Bram. Dia bagai hak milik yang sudah usang.
"Raja, gak boleh begitu, Sayang. Ayo salim sama Bunda," ucap Mas Bram.
Mendidih darahku mendengar ia membahasakan "Bunda" pada perempuan itu. Inginku berkata kasar, tapi sekuat hati kutahan. Aku tidak boleh terpancing. Bisa-bisa nanti kekasaran itu dijadikan alasan mereka untuk menjatuhkanku.
Raja diam. Tidak menuruti ucapan Mas Bram.
"Raja, salim Bude dulu, Nak," pintaku lembut.
Ogahlah aku menyebutnya Bunda. Tidak rela. Ambil saja Mas Bram—anakku, secuil pun tidak kuizinkan. Meskipun hanya menyangkut sebuah panggilan. Karena umur perempuan itu lebih tua dariku, kubahasakan saja Bude. Bocah itu menurut, meskipun dengan wajah merengut.
"Yuk, ke dapur. Bikin susu," ucapku sambil mengulurkan tangan.
Lagi-lagi bocah itu menurut. Tapi sebelum meninggalkan mereka, kujulurkan kepala agak mendekat pada keduanya.
"Agak ditahan-tahan, ya, Mbak, Mas. Aku tahu kalian sudah ngempet banyak. Tapi kalau belum halal, itu dosa. Kata Rasulullah, ada enam bahaya yang akan mengikuti orang yang tidak mampu menahan. Di dunia, cahaya akan hilang dari wajah, umur dipendekkan, harta dimiskinkan. Di akhirat, murka Allah yang menanti. Iih, serem," tuturku sinis sambil bergidik pura-pura.
Lalu kutinggalkan mereka yang memerah wajahnya. Entah malu atau marah. Biarlah, aku tidak peduli.
Aku menghembuskan napas setelah tiba di dapur, menenangkan emosi yang memuncak. Pantas saja ada seorang istri yang sampai menumpahkan cabai ke organ sensitif perempuan simpanan suaminya. Ternyata semenyakitkan ini rasanya.
Namun, aku tidak mau mengotori tangan dan namaku dengan perbuatan anarkis. Karena apa yang aku lakukan sekarang akan meninggalkan jejak sejarah. Akan kuukir jejak sejarah yang indah untuk namaku. Agar kelak Raja mengenangnya dengan bangga. Agar kelak dia bisa mengambil pelajaran bagaimana mamanya menghadapi masalah.
Setelah membuat susu untuk Raja, aku kembali ke kamar, melintasi mereka yang tampak duduk kikuk sambil menonton sinetron azab di salah satu kanal televisi swasta. Sedikit geli aku melihat gelagat mereka. Memuakkan, memang. Tapi ada lucu-lucunya, gitu.
Kubiarkan Raja menikmati susunya sambil berbaring di atas tempat tidur. Sementara aku bersiap diri. Kupulas sedikit bedak tipis di wajah, lipstik nude yang tidak mencolok, dan kenakan gamis hijau tosca—warna favoritku, warna yang katanya Mas Bram paling suka.
Biarlah hari ini dia melihat bahwa istrinya ini tidak kalah cantik dari perempuan yang dibawanya pulang.
Kepulangan mertua beserta oleh-olehnya membuat suhu kepalaku meningkat. Jika tidak diangin-anginkan sebentar, aku takut akan meledak. Lebih baik aku ke BTN Paal Merah dulu, mendinginkan diri di sana. Sekalian cek stok boutique.
"Sudah habis?" Aku bertanya kepada Raja ketika ia menyerahkan botol yang telah kosong. Kumasukkan botol itu sekalian ke dalam tas. Biar dicuci di sana saja nanti.
Setelah semua siap, aku segera keluar. Menemui dua sejoli yang masih saja duduk kikuk di depan televisi.
"Mas," panggilku.
Laki-laki itu menoleh. Sedikit terkejut melihat penampilanku.
"Mau ke mana?" tanyanya.
"Aku mau ke BTN. Pulang mungkin agak malam. Oh ya, nanti makan saja, tidak usah menunggu. Aku sama Raja makan di luar," tuturku. Kutatap sebentar wajah tidak enak perempuan di sampingnya.
"Lauknya kalau masih, suruh Mbak Kirana panaskan saja. Kalau tidak cukup, masak sajalah apa yang ada di kulkas. Nasi juga lihat. Kalau kurang, masak," ucapku santai.
Sebenarnya aku enggan mengurus makan mereka. Mau makan atau tidak, kelaparan sekalian pun aku tidak peduli. Hanya saja aku ingin menunjukkan power-ku di rumah ini pada perempuan itu. Bahwa selama ini, akulah yang mengatur dapur. Akulah yang memastikan mereka makan. Akulah yang—selama tiga tahun—melayani keluarga ini seperti pembantu tanpa gaji.
"Kirana kan baru datang, Dek. Kasihan masih capek. Lagi pula, dia juga baru di sini. Mana bisa langsung disuruh ini itu," bela laki-laki itu.
"Makanya, tadi kan aku suruh istirahat. Ngapain mau diajak mepet-mepetan," sinisku.
"Dek!" serunya. Sepertinya dia tidak senang dengan sindiranku.
"Tidak usah ngegas. Slowly. Itu benar, kan?" tanyaku kalem.
"Kalau Mbak Kirana belum paham seluk beluk rumah ini, nanti tolong Mas jelaskan. Atau tanya Ibu. Kan besok-besok dia yang akan jadi menantu dan istri kesayangan di rumah ini," tuturku, masih kalem.
"Maksud kamu apa?" tanya laki-laki itu dengan intonasi tinggi.
"Ya, begitulah maksudku. Pahami sendiri. Masa sarjana begitu saja tidak paham," sindirku.
"Dek!" serunya lagi.
"Ssst. Ibu lagi tidur, nanti bangun. Sudah, ya, Mas, Mbak. Aku berangkat dulu," pamitku sambil menggandeng tangan mungil Raja.
Beberapa langkah, laki-laki itu kembali memanggilku. Aku menghentikan langkah.
"Ada apa lagi?" tanyaku. Kesal, sebenarnya. Tapi tetap kulembutkan suaraku.
"Kita perlu bicara," sahutnya.
"Oh, iya. Tentu saja. Nanti malam kita musyawarah keluarga," balasku santai.
Pastilah dia ingin membicarakan tentang pernikahan mereka. Aku pun sudah tidak sabar membahasnya. Lebih cepat lebih baik. Akan kuberikan hadiah yang mengejutkan untuk mereka jika tetap kukuh ingin menikah. Bukan hanya surprise yang akan mereka rasakan—bahkan mungkin syok.
"Sudah, ya. Aku pamit. Assalamualaikum."
Kugandeng tangan Raja, melangkah menuju pintu. Dari balik pundakku, kudengar Kirana bertanya pelan pada Mas Bram—dengan suara yang cukup untuk kudengar.
"Mas, istrimu itu... kok, galak banget?"
Mas Bram tidak menjawab.
Tapi aku tersenyum. Galak? Mbak, aku belum tunjukkan apa-apa. Nanti malam, baru kamu akan lihat siapa Arunika Maharani sebenarnya.
Kunaiki motor matic kesayanganku, Raja kudekap di depan. Mesin menderu. Roda berputar. Dan meninggalkan rumah yang dulu kubangun dengan cinta—kini berubah menjadi tempat paling menyakitkan di dunia.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar