"Sama-sama, Mas. Aku yang terima kasih karena Mas mau menerimaku," jawab Kirana. Suaranya terdengar mendramatis di telingaku.
"Apa pun kondisi kamu, Mas selalu menerima. Selama ini Mas selalu menunggumu kembali," balas laki-laki itu.
"Cie... cie..." Terdengar suara Sekar, diikuti tawa Ibu dan Bapak.
Allahu Akbar. Panas benar-benar panas hatiku. Kuucap lagi istighfar. Kemudian meneruskan langkah untuk masuk. Tidak sanggup lagi rasanya mendengar celoteh mereka.
"Assalamualaikum," ucapku setelah berusaha sekuat tenaga menenangkan emosi.
Tidak ada jawaban. Masih terdengar tawa renyah dari mereka semua.
"Tapi bagaimana dengan Runi?" suara perempuan itu masih terdengar seiring gerak kakiku.
"Gampanglah itu Runi," jawab Ibu meremehkan.
"Iya, nanti Mas yang bicara dengannya. Dia pasti bisa menerima. Kamu lihat sendiri kan tadi dia tidak apa-apa," tutur laki-laki itu.
Aku berhenti tiga langkah dari pintu ruang tamu. Tanpa kentara, kuintip. Kirana duduk bersandar di lengan Mas Bram. Ibu tertawa-tawa di seberang. Bapak menikmati kopinya. Sekar asyik dengan ponselnya.
Seolah-olah rumah ini sudah bukan milikku lagi.
Kuhela napas sekali. Lalu kumelangkah masuk dengan wajah yang kupaksa setenang mungkin.
"Iya, Mbak Kirana. Aku tidak apa-apa. Yang penting Mbak Kirana. Aku mah gampang," celetukku santai.
Semua mata yang ada dalam ruangan itu mengarah padaku. Mendadak suasana lengang. Sepertinya mereka cukup terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba.
"Asyik banget ngobrolnya, sampai aku mengucap salam pun tidak dengar," lanjutku.
Satu senyum kuterbitkan dari bibir. Senyum paling manis yang bisa kubuatβyang kutahu lebih menakutkan daripada amarah.
"Sudah lama sampai, Dek?" tanya Mas Bram. Gestur tubuhnya gugup.
"Lumayan," sahutku.
Kupindai raut mereka yang seketika hening. Tidak satu pun di antaranya terlihat tenang. Sepertinya mereka resah aku sudah mencuri dengar beberapa kalimat yang mereka ucapkan.
"Aku tidurkan Raja dulu, ya. Setelah itu kita bicara," lanjutku, lalu melangkah menuju kamar.
Kubaringkan buah hatiku di atas tempat tidur, kemudian mendekapnya dari samping. Merapalkan doa pengantar tidur, sambil memberi kecupan dan usapan lembut. Mata yang memang sudah mengantuk itu terlelap tanpa butuh waktu lama.
Setelah merapikan bantal dan selimutnya, aku beringsut turun dari ranjang. Kumembuka laci lemari, mengeluarkan amplop coklat besar yang sudah kusiapkan sejak sore tadi di Paal Merah.
Di dalamnya: sertifikat rumah atas nama Bramantya Wijaya, BPKB mobil Avanza silver kami, buku tabungan bersama, dan... sebuah catatan kecil berisi daftar aset yang belum terealisasi.
Aku tersenyum sinis.
Ini akan menjadi hadiah terbaik bagi mereka untuk memulai lembaran baru.
***
Aku segera keluar kamar, menemui mereka yang tiba-tiba menjadi hening sejak menyadari kedatanganku tadi.
"Kita bicara di sini?" tanyaku sambil berdiri tegak.
Mengukir raut tenang, tapi tegas. Kuarahkan pandang pada mata mereka satu per satu.
Biasanya aku selalu berlaku lembut, santun, dan merendah di hadapan Mas Bram. Apalagi pada Ibu dan Bapak. Tidak pernah kutegakkan diri dan berkesan tegas. Namun, saat ini situasi dan kondisi berbeda. Aku harus bisa menempatkan sikap. Jika pada situasi saat ini aku masih terus merendah, akan terkesan lemah. Mereka akan leluasa mengintimidasi.
Semuanya bergeming. Termasuk Ibu. Padahal selama ini beliau selalu cepat menyambut bicaraku dengan kalimat ketus atau pedas.
Begitu pula Mas Bram yang seperti tercenung menatapku. Seolah aku makhluk asing yang baru mereka temui.
"Apa kita tidak jadi bicara?" tanyaku lembut dan tenang. Namun, meninggalkan sedikit kesan mengancam.
Karena jika mereka hanya diam dan musyawarah dibatalkan, mereka yang rugi. Aku tidak masalah. Bukankah mereka yang mempunyai kepentingan dalam pembicaraan ini?
"Jika tidak jadi, aku mau tidur," lanjutku. Kuuntai senyum tipis.
"Dek...!" panggil Mas Bram, seperti baru tersadar.
"Ya?" sahutku cepat.
"Duduklah," ucapnya.
"Oke."
Aku menarik sofa tunggal yang lain dan membawanya berhadapan dengan Mas Bram. Kirana beringsut hendak menjauh, memberi tempat untukku.
Hmm, tahu diri juga dia. Akan tetapi, aku sudah enggan duduk dekat-dekat dengan Mas Bram.
"Tidak apa, Mbak. Di situ saja. Saya duduk di sini," tahanku.
Mereka bertigaβKirana, Mas Bram, dan Ibuβduduk berjejer di sofa panjang. Sekar dan Bapak masing-masing di sofa tunggal kiri kanan.
"Apa yang ingin Mas bicarakan?" tanyaku tenang. Meskipun hanya tenang di luar. Hati sebenarnya sudah berkecamuk.
Mas Bram berdeham. Ia tampak kikuk, beberapa kali mengatur posisi duduk serta menegakkan bahu. Ia juga beberapa kali menghela napas, seperti sungkan memulai kata.
Aku yang menunggu mulai kesal. Tapi tidak akan kubantu. Biar dia sendiri yang menjatuhkan palu.
"Dek..." suaranya mulai terdengar. "Mas... akan menikahi Kirana."
Walaupun sudah kuduga, tapi tetap saja rasanya sakit mengiris-iris sukma.
Wanita mana yang tidak akan sakit ketika suami berkata akan menikah lagi? Sekuat apa pun wanita itu, seikhlas apa pun dia dengan poligami, aku yakin di satu sudut terdalam sanubarinya, tersimpan rasa cemburu yang menyebabkan sakit.
"Terus?" sambutku dibuat-buat tenang.
"Mas harap kamu mengizinkan," jawabnya.
Aku menghela napas panjang beberapa jenak.
"Apa masih perlu izinku?" tanyaku. Kali ini sinis.
Ketika dia mengajak perempuan itu ke rumah ini, adakah meminta izin?
Ketika mereka bermesraan di ruang terbuka di depan kamarku, sudahkah meminta izin?
Ketika sekeluarga mereka membicarakan rencana menikah, apakah meminta izinku?
Seharusnya jika memang menghargaiku, dia bicarakan dulu denganku. Meminta izin dulu, baru kemudian berencana tentang sebuah pernikahan dan mengajak perempuan itu kemari.
"Lha, iyo. Kenapa harus minta izin segala? Kamu itu laki-laki, berhak memutuskan segalanya sendiri," celetuk Ibu.
Aku mendengkus.
Ibu... Kalimatmu membuat sesuatu yang panas semakin membara saja.
Kuhela napas panjang. Menurutkan hati, ingin rasanya berkata kasar menanggapi kalimat Ibu. Tapi semenyakitkan apa pun ucapannya, beliau adalah orang tua yang tidak patut dikasari.
"Ibu..." ucapku berusaha kalem. "Mas Bram memang kudu minta izin dan membicarakan setiap masalah dengan saya sebagai istrinya. Tidak boleh memutuskan sendiri. Terlebih untuk keinginan menikah lagi. Mas Bram harus minta izin, tapi itu sebelum Mbak Kirana datang ke rumah ini."
Kirana melengos.
"Jika Ibu berpendapat seorang suami tidak perlu meminta izin kepada istri untuk menikah, hati-hati lho, Bu. Besok tiba-tiba Ibu ada temannya."
Kualihkan netra pada Bapak sambil tersenyum jahil. Laki-laki lebih dari paruh abad itu terperangah salah tingkah.
"Ngomong opo, toh?" ucapnya cengengesan.
Sementara ketika kulirik Ibu, wajahnya tampak merah padam.
"Jadi, apakah masih perlu izinku, Mas?" Kualihkan fokusku kembali pada Mas Bram.
Laki-laki itu terdiam. Tampak beberapa kali menelan saliva.
"Bagaimana jika tidak kuizinkan?" tanyaku menginterogasi.
"Mas akan tetap menikahi Kirana, dengan atau tanpa izin kamu," tegasnya.
Aku terdiam. Menahan perih yang menghunjam. Kutenangkan hati dengan beberapa kali menghela napas panjang lagi.
"Apa Mas lupa bahwa perusahaan tempat Mas bekerja melarang poligami?"
"Kamu mengancam, Mas?" tanyanya dengan intonasi agak tinggi. "Kamu tidak akan melaporkan Mas, kan?"
"Kenapa tidak? Aku punya channel di sana," jawabku kalem menantang.
"Dek...!" serunya. Cemas.
"Tapi tenang saja, aku memang tidak pernah berniat melaporkan Mas," sahutku sambil tersenyum, menikmati raut kecemasan yang ia pertontonkan.
"Karena poligami itu tidak akan pernah terjadi," lanjutku dingin.
Kukunci tajam netranya. Dia terperangah. Begitu pula ekspresi Ibu dan Kirana. Sedangkan Bapak dan Sekar terkesan netral, tidak berpendirian memihak siapa.
"Aku tidak pernah mau diduakan. Tidak akan pernah." Aku mengerling perempuan yang duduk di sampingnya. "Aku tidak yakin Mas mampu berlaku adil. Baik secara lahir maupun batin."
Laki-laki itu membalas tatapku tajam. "Kamu sadar konsekuensi yang akan kamu terima dari apa yang kamu katakan itu, Dek?"
"Sangat sadar," sahutku.
"Mas akan menceraikanmu."
Aku terdiam. Sudah menduga dia lebih memilih perempuan itu.
"Jika Mas lebih memilih dia, mungkin lebih baik daripada di penghujung hari, hubungan kita bagai duri dalam daging."
"Bagaimana dengan Raja?" tanyanya.
"Memangnya kenapa dengan Raja?" tanggapku cepat.
"Kamu tidak memikirkan dia jika kita berpisah?"
"Apa Mas yakin akan memikirkan dia meskipun kita tetap bersama?" sinisku.
"Dek!"
"Ya."
Aku membalas santai sorot tajam netra Mas Bram. Frekuensi napas laki-laki itu terlihat sedikit cepat.
"Mas..." Kirana bersuara sambil memegang tangan Mas Bram.
Geram aku melihatnya. Laki-laki itu menoleh, menatap sendu.
"Bukankah memang lebih baik begitu?" tanyanya pelan.
Aku mendengkus. Tersenyum miris. Terkuak bahwa dia memang menginginkan kami berpisah. Jika aku memilih bertahan, pasti dia akan melakukan banyak cara untuk menjadikan Mas Bram miliknya utuh.
"Iya, Bram. Lebih baik pisah saja sekalian. Bukan salah kamu, dia yang minta," sambung Ibu.
"Tapi, Bu..."
"Tidak ada tapi-tapi. Kalau dia tidak mengizinkanmu menikah lagi, lebih baik ceraikan saja. Seharusnya memang kalian tidak pernah menikah."
Kunikmati saja setiap kata-kata Ibu yang mencipta perih. Toh, mungkin ini untuk yang terakhir.
"Mas bilang tidak pernah mencintainya, jadi mengapa berat untuk menalaknya?" tanya Kirana.
Aku terkekeh dalam hati. Tidak pernah mencintaiku?
"Dek, kita tidak perlu berpisah. Mas akan berusaha adil," Mas Bram mengabaikan ucapan dua wanita yang mengapitnya.
Adil? Bahkan pada perempuan itu dia mengatakan tidak pernah mencintaiku, bagaimana bisa berbuat adil?
"Meskipun Mas bisa berlaku adil, aku tidak mau. Hatiku tidak sesempurna para istri Nabi yang ikhlas diduakan. Lagi pula aku benar-benar tidak yakin," sanggahku cepat.
"Mas, aku minta kamu segera menceraikannya jika kamu memang mencintaiku," Kirana mulai unjuk gigi.
"Aku akan mendampingimu lebih baik dari dia, selalu setia bersamamu."
Aku tertawa sinis dalam hati. Bucin. Kita buktikan saja sebentar lagi.
"Kamu janji?" Mas Bram menggenggam tangan Kirana sambil menatap sendu.
"Iya," jawab Kirana sambil tersenyum.
"Iya, Bram. Cepat talak saja. Paling nanti juga dia menyesal. Tidak usah diberi gono-gini," ucap Ibu sinis.
"Baiklah..." terdengar suara Mas Bram.
Hatiku bergetar ketika laki-laki itu kembali berdeham dan menegakkan punggungnya. Bersiap memulai untaian kata yang akan menjadi awal cerita baru dalam hidupku.
"Arunika Maharani binti Yusuf Ibrahim, saya talak engkau dengan talak satu. Mulai saat ini saya bebaskan engkau, dan lepas tanggung jawab saya terhadapmu," ucapnya lantang.
Aku terpejam. Merasakan perih yang semakin menelusup. Mataku menghangat, kubiarkan satu dua tetesnya mengalir. Ikatan yang selama tiga tahun ini coba kusimpul erat, akhirnya terurai.
"Terima kasih," ucapku dengan bibir bergetar.
Kupindai wajah yang telah menjadi asing untukku itu. Ia menunduk.
"Mas." Kujeda kataku karena masih terdengar bergetar. Kuatur lagi frekuensi napasku.
"Aku sudah mencari tahu tentang prosedur cerai. Setiap istri yang ditalak mempunyai masa tunggu tertentu, dan sejauh yang kutahu, harus dilalui di rumah suami."
Kujeda lagi kalimatku agar tidak terkesan bergetar.
"Karena itu, mau tidak mau aku akan tetap di rumah ini selama tiga bulan ke depan. Aku akan menempati kamar Raja."
"Meskipun aku masih di rumah ini, aku tidak bisa lagi mengurusmu. Jadi segeralah menikah dengan Mbak Kirana. Tidak perlu lagi memikirkanku. Seiring talak itu, sudah kubebaskan Mas berbuat apa yang Mas mau."
Kupandang Mas Bram yang masih menunduk beberapa jenak, kemudian beralih menatap Ibu.
"Bu, saya tidak meminta gono-gini. Sepeser pun tidak. Saat saya turun dari rumah ini, saya akan pergi seperti saat saya masuk," ucapku tenang.
"Semua surat dan catatan aset ada di dalam amplop ini. Mulai saat ini saya serahkan kepada Mas Bram, untuk kelak dikelola istri barunya."
Kuletakkan amplop itu di atas meja, di depan Mas Bram.
Laki-laki itu bergeming, kian menunduk. Tangannya bergetar di pangkuan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar