Motor matic-ku melaju di Jalan Hayam Wuruk, menembus sore Jambi yang terik. Rambut Raja yang kugendong di depan tertiup angin, sedikit menggelitik daguku. Bocah itu tertawa-tawa kecil, menikmati angin. Tidak tahu dia bahwa mamanya saat ini sedang berusaha keras menahan agar airmata tidak jatuh menemani laju kendaraan.
Jambi sore hari selalu ramai. Pedagang martabak sudah menggelar lapaknya. Pentol bakar, es teh tarik, cendol. Klakson motor dan mobil saling bersahutan. Suara hiruk-pikuk kota ini biasanya membuatku tenang—tapi hari ini tidak. Hari ini, semua suara seolah ikut memekakkan telinga.
Dua puluh menit kemudian, aku sampai di perumahan BTN Paal Merah. Sebuah kompleks sederhana di pinggiran kota, di mana aku membeli rumah kedua dua tahun lalu—dari hasil keringat sendiri, bukan dari uang Mas Bram atau siapa pun. Rumah ini kufungsikan sebagai kantor sekaligus gudang boutique online-ku, "Aruna Hijab."
Aku memarkirkan motor asal di halaman. Beberapa motor lain juga terparkir, sama asal. Aku memang belum menata tempat parkir khusus karena jarang ke sini akhir-akhir ini—sibuk mengurus Mas Bram dan keluarganya.
Dari luar, sudah terdengar suara ramai.
"Kak Runi datang!"
Pintu dibuka sebelum aku sempat mengetuk. Melati menyambut dengan senyum lebar khasnya. Gadis berhijab merah itu—sahabatku sekaligus asisten setiaku—selalu tampak bahagia di manapun dia berada. Rasa-rasanya, tidak pernah ada masalah yang bisa membuat Melati murung lebih dari lima menit.
"Ya Allah, Raja! Lama kali tak jumpo!" Melati langsung menggendong Raja. Logat Jambinya yang kental muncul kalau sudah ketemu Raja.
"Tanteee!" Raja melingkarkan tangan di leher Melati, manja.
"Ramai?" tanyaku, melangkah masuk.
Di dalam, Dinar sedang sibuk packing pesanan. Karton-karton coklat tertumpuk rapi di sudut ruangan. Label-label ekspedisi sudah tertempel. Plastik wrap berserakan.
"Ramai banget, Kak," jawab Dinar sambil tetap fokus pada pekerjaannya. "Hari ini masuk 147 orderan. Minggu ini total sudah 890. Gudang hampir kosong."
"Alhamdulillah."
Setidaknya ada satu hal yang masih berjalan lancar di hidupku. Bisnis ini—meskipun baru berjalan tiga tahun—sudah bisa menghidupi keluarga mertuaku sekeluarga. Bahkan membiayai kuliah Sekar di Universitas Jambi.
Dan apa balasannya? Suami membawa pulang pelakor dari kampung.
"Sekalian ini." Aku mengulurkan catatan pesanan yang masuk ke akun pribadiku kepada Dinar. Sebenarnya aku sudah mencantumkan kontak Melati dan Dinar sebagai admin, tapi ada pelanggan lama yang sudah merasa nyaman denganku—tetanggaku di Kota Baru, teman-teman pengajian, atau mereka yang sudah mengenalku di dunia nyata.
"Siap, Kak."
Setelah menyerahkan rekapan itu, aku beranjak menuju kamar. Ada dua kamar di rumah ini. Satu kugunakan untuk pribadi, tempat istirahat kalau aku dan Raja sedang berkunjung. Yang satu digunakan Melati dan Dinar, karena mereka tinggal di sini sekaligus sebagai penjaga.
"Raja mau ikut Mama atau di sini sama Tante Melati?" tanyaku ketika bocah itu terlihat asyik di antara tumpukan kardus.
"Di sini!" jawabnya semangat.
"Ya sudah. Titip, ya," ucapku pada kedua sahabatku. Mereka mengangguk.
Di kamar, aku menutup pintu pelan. Lalu duduk di atas petiduran, bersandar di pucuk sambil terpejam. Berulang kali kutarik napas panjang, lalu menghembuskannya lagi. Berharap bersama embusan napas itu, beban yang menyesak turut keluar.
Tapi ternyata tidak semudah itu.
Dada terasa demikian sesak. Amat sakit. Amarah, kecewa, juga luka kokoh bertahta dalam jiwa. Kedua tanganku mengepal menahannya.
Akhirnya aku bangkit, mengarahkan langkah menuju kamar mandi. Kubasuh organ tubuhku dengan wudhu. Sentuhan air sejuk yang mengalir dari ujung rambut hingga ujung kaki sedikit menenangkan. Kusapu wajahku yang panas, membiarkan air mengalir bercampur dengan titik-titik bening yang tak bisa lagi kutahan.
Aku sudah terbiasa sendiri.
Sejak Ibu pergi ketika aku masih SMA—ketika aku belum lulus, ketika aku belum tahu apa itu dewasa—tidak ada lagi bahu yang senantiasa ada untukku bersandar. Tidak ada lagi telinga yang bersedia jadi pendengar. Bapak sudah lebih dulu pergi saat aku berusia tujuh tahun. Jadi praktis, aku sudah menjadi anak yatim piatu sejak usia tujuh belas.
Semua kesah hanya kubisikkan pada bumi, berharap ia bisa merambat hingga ke langit.
Ketika sudut mataku menghangat, kubiarkan ia mencair. Menjadi tegar bukan berarti tidak boleh menangis. Menangis bukan pula berarti cengeng. Kita hanya perlu menakar porsi, memilih waktu dan tempat yang tepat. Menangis adalah caraku meluruhkan gumpalan di dada bersama air mata, lalu membuangnya bersama setiap tetes yang jatuh.
Karena itu, menangis adalah salah satu caraku untuk menjaga agar diri tetap waras.
Pikiranku melayang pada awal pertemuanku dengan Mas Bram.
Tiga tahun lalu. Aku masih dua puluh tahun. Baru membuka akun Shopee dan Instagram untuk jualan hijab dari supplier Tanah Abang. Saat itu, aku tinggal sendiri di kos sederhana dekat Simpang III Sipin, setelah menjual rumah peninggalan orangtua untuk modal usaha.
Mas Bram dikenalkan oleh Dimas, teman SMA-ku yang menjadi kerani di perkebunan tempat Mas Bram bekerja. Katanya, ada asisten afdeling yang baru dimutasi dari Riau. Masih muda, masih jomblo, masih polos.
"Cocoklah buat Runi," kata Dimas saat itu.
Aku awalnya tidak tertarik. Laki-laki yang tinggal di kebun? Tidak. Aku butuh laki-laki yang bisa stabil di kota. Tapi Dimas bersikeras mengajakku ke cafe.
Dan di sanalah, di meja sudut Kopi Arabika Jambi, aku bertemu Bramantya Wijaya.
Tingginya 175. Kulit sawo matang karena sering terbakar matahari kebun. Alis tebal. Rahang tegas. Senyumnya—ya Allah, senyumnya seperti matahari terbit di pagi yang dingin. Bukan senyum yang dibuat-buat. Bukan senyum yang dipaksakan. Senyum yang tulus, yang membuatku langsung tahu bahwa laki-laki ini tidak punya niat buruk.
Setidaknya saat itu.
Hanya sebulan berkenalan, Mas Bram mantap melamar. Membawaku pulang ke Tasikmalaya, mengenalkanku pada kedua orangtuanya.
Dengan keteguhan hati, dia meyakinkan Ibu yang kala itu kukuh menolak. "Runi tidak punya gelar, Bu. Tapi hatinya emas. Dan dia bisa masak masakan Sunda yang enak—Bram sudah coba."
Aku terharu dengan usahanya. Aku merasa sangat dicintai. Siapa sangka, di hatinya ternyata tidak ada aku. Benar kata pepatah, dalamnya laut dapat diukur, hati orang siapa yang tahu. Ternyata aku hanyalah pelarian dari cintanya yang kandas. Bukan sepenuhnya sosok yang mampu mengalihkan hatinya dari Kirana.
Sekarang, ketika bahtera rumah tangga Kirana hancur—janda, kabarnya, sudah berpisah dari suami pertama—Mas Bram menawarkan bahtera kami untuk berlindung, dengan menyisihkan keberadaanku.
Perih.
Sebelum menikah, Mas Bram tinggal di mess perkebunan. Setelah menikah, ia memboyong semua keluarganya dari Tasikmalaya ke Jambi dengan alasan Bapak sulit mencari pekerjaan di Jawa. Kami membeli rumah di perumahan Kota Baru dengan mengajukan pinjaman KPR bank. Mas Bram tahu usaha online-ku, karena itu ia merasa aman meskipun gajinya dipotong untuk membayar cicilan.
Aku telah berusaha menjadi menantu yang baik. Tidak masalah meskipun pada akhirnya Bapak tidak pernah mau bekerja—sukarela kutanggung segala kebutuhan, termasuk biaya kuliah Sekar di UNJA. Hadir Bapak dan Ibu kuanggap pengganti kedua orangtuaku yang telah tiada.
Kulayani kebutuhan mereka dengan baik. Memasak makanan yang mereka sukai, mencuci pakaian, membersihkan rumah agar mereka nyaman. Semua kulakukan bukan karena kebodohan diri yang sudi dijadikan pembantu di rumah sendiri—tapi penuh kesadaran sebagai bakti seorang anak. Kepada mereka kucurahkan kasih sayang yang hilang.
Sifat cerewet dan sinis yang Ibu tunjukkan selalu kuyakini sebagai tanda kasih sayang orang tua kepada anaknya. Sebagaimana ibuku dulu yang sering memarahiku, bukan karena benci, melainkan untuk mendidik.
Namun, ternyata aku salah menilai mereka. Rupanya benar-benar tidak ada kasih sayang untukku. Hati mereka telah terkunci oleh rasa tidak suka sehingga apa pun yang kuperbuat, enggan diterima.
Aku bisa menerima segala sikap sinis Ibu selama ini. Tapi membawa perempuan lain dalam rumah tanggaku tidak bisa ditoleransi. Apalagi cara yang ditempuh begitu menyakitkan.
Ibu yang selalu mendewakan gelar. Mas Bram yang masih mengingat perempuan itu meskipun tidak kurang baktiku selama ini. Kirana yang tidak punya perasaan sesama wanita. Serta Bapak dan Sekar yang juga mendukung—atau setidaknya, tidak menentang.
Semua merasa tidak penting atas keberadaanku. Maka biarlah kuturuti keinginan mereka. Memulai hidup baru tanpa kehadiranku.
***
Maghrib tiba.
Aku keluar kamar setelah mendirikan salat. Raja sudah mulai mengantuk, tergeletak di karpet ruang tengah dengan mainan berserakan di sekitarnya. Melati menatapku khawatir.
"Kak, wajahmu pucat."
"Nggak apa-apa, Mel."
"Bohong."
Aku tersenyum tipis. Memang susah membohongi sahabat yang sudah kenal kita lima tahun.
"Nanti kuceritakan. Sekarang aku mau pulang dulu. Ada... hal yang harus kuselesaikan."
Melati tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu memelukku singkat.
"Jaga diri, Kak. Kalau butuh apa-apa, tinggal telepon."
"Makasih, Mel."
Ba'da Isya, aku kembali ke rumah Mas Bram. Raja sudah tidur di gendonganku. Segala kebutuhanku dan dia sudah kutunaikan. Perut sudah terisi—aku dan Raja makan di warung bakso langganan dekat Paal Merah. Jadi sampai di rumah nanti, aku bisa langsung menidurkan Raja, lalu memenuhi permintaan Mas Bram untuk bicara.
Pintu depan tampak terbuka ketika motorku memasuki pekarangan. Langsung kuarahkan kuda besi itu menuju garasi. Dari sini, kudengar tawa renyah bahagia keluarga itu dari dalam rumah. Suara tawa Ibu juga terdengar lepas dan bahagia.
Berdesir perih hatiku lagi. Selama tiga tahun pernikahanku, tidak pernah Ibu bercengkerama segembira itu denganku. Selalu ketus dan sinis yang aku terima. Padahal tidak kurang baktiku—sementara perempuan itu sudah berkhianat sebelum ikatan tercipta.
"Karena itu, kamu cepat-cepatlah menikah dengan Bram," terdengar suara Ibu.
Entah apa pembicaraan mereka sebelumnya. Topik pernikahan lagi yang kudengar. Memuakkan.
"Iya, Bu. Saya juga sudah tidak sabar," sahut perempuan itu.
Aku tertawa miris dalam hati. Sudah ngempet benar rupanya. Apa tidak sungkan mengucapkan kalimat itu di depan laki-laki dan keluarganya? Tidak malu?
Kugendong Raja dan melangkah perlahan. Terus terang saja, rasa ingin tahuku masih tinggi tentang apa yang mereka bicarakan.
"Terima kasih, Sayang," suara Mas Bram.
Tanganku mengepal keras di belakang punggung Raja. Bergetar tubuhku menahan emosi. Kurasa jika diturutkan, tangan ini mampu mengangkat motor yang baru kutunggangi itu dan melemparkannya ke muka Mas Bram, sekaligus perempuan yang ada di sampingnya.
Namun... sabar, Runi. Sabar.
Kuusap dada, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kulakukan berulang hingga kepala yang panas terasa sejuk kembali.
Aku mengucap istighfar berkali-kali. Kemudian melangkah masuk untuk menyaksikan drama yang sedang berlangsung di ruang tamuku sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar