Suara dentingan sendok porselen kecil yang beradu dengan dinding cangkir teh mengambang di udara, memecah keheningan yang menekan di dalam dapur bersih nan megah ini. Bau seduhan daun chamomile kualitas premium yang menguar hangat ke udara sama sekali tidak mampu menenangkan debar jantungku yang berpacu tak karuan. Ujung jemariku terasa sedingin es, sedikit gemetar saat aku menata potongan buah kiwi, stroberi, dan anggur shine muscat di atas piring saji berbingkai emas. Piring itu memantulkan cahaya dari lampu kristal di atas meja island marmer tempatku berdiri, seakan mengejek pantulan wajahku yang pucat pasi dan kehilangan rona kehidupannya.
Di seberang meja marmer yang dingin ini, duduk seorang wanita paruh baya dengan postur punggung tegak sempurna. Ibu mertuaku, Bu Ratna. Balutan blus sutra berwarna hijau zamrud membalut tubuhnya dengan pas, menegaskan status sosialnya yang tak tersentuh. Rambutnya disanggul rapi tanpa sehelai pun yang berani keluar dari tempatnya, sama seperti bagaimana ia menginginkan segala sesuatu di dalam rumah ini berjalanβsempurna, tanpa cacat, dan sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Auranya terasa sangat mengintimidasi, memenuhi setiap sudut ruangan hingga membuat pasokan oksigen di sekitarku terasa menipis.
Tatapannya tidak tertuju pada buah-buahan segar yang kusiapkan susah payah sejak pagi dengan memilahnya satu per satu di supermarket premium langganannya, melainkan langsung menembus pertahananku, mengunci kedua bola mataku. Dingin. Menusuk. Sarat akan penghakiman yang sudah bertahun-tahun kutelan dalam diam.
"Kemarin sore, Ibu baru saja pulang dari acara syukuran kelahiran cucu ketiga Jeng Tari." Suara Bu Ratna akhirnya memecah kesunyian yang mencekik. Nadanya tenang, begitu datar, nyaris tanpa emosi. Namun, setiap suku kata yang meluncur dari bibir berpoles lipstik merah maroon itu sengaja ditekankan, dirancang khusus untuk menjadi pisau tak kasat mata yang merobek kewarasanku.
Tanganku yang sedang memegang garpu kecil terhenti di udara. Ujung logamnya bergetar pelan. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini bermuara. Aku selalu tahu. Topik ini adalah hantu kelaparan yang terus bergentayangan di setiap sudut rumah keluarga besar ini selama tiga tahun terakhir, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam dan mencabik-cabik sisa harga diriku.
"Lucu sekali bayi laki-lakinya. Sehat, montok, kulitnya bersih. Jeng Tari bahkan sampai menangis terharu di depan semua tamu saat memeluk cucunya itu." Bu Ratna melanjutkan, matanya perlahan turun, melirik ke arah perutku yang datar di balik balutan gaun rumahan berwarna krem yang kukenakan. Sebuah gerakan bola mata yang sangat halus, sangat presisi, namun terasa seperti tamparan sekeras baja di wajahku. "Ibu melihatnya dan tiba-tiba Ibu jadi berpikir. Rasanya, selama ini Ibu tidak pernah meminta terlalu banyak dari kamu, Nayla. Ibu tidak pernah menuntut kamu harus memiliki latar belakang keluarga yang setara dengan keluarga kita. Ibu menutup mata rapat-rapat saat Arka bersikeras dan hampir melawan ayahnya hanya untuk menikahimu. Karena apa? Karena Ibu pikir, sebagai perempuan yang lahir dari keluarga biasa, perempuan yang tidak membawa keuntungan bisnis apa pun ke dalam rumah ini, setidaknya kamu tahu cara mengabdi."
"Ibu..." Suaraku keluar berupa cicitan lirih yang menyedihkan. Tenggorokanku tiba-tiba terasa sekering padang pasir. Aku menelan ludah yang terasa sepahit empedu, berusaha melumasi pita suaraku yang seolah menolak bekerja.
"Tiga tahun, Nayla. Tiga tahun." Bu Ratna meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan dengan sedikit sentakan, membuat sisa cairan keemasan di dalamnya beriak membentur dinding porselen. Suara benturan itu membuat bahuku melonjak kecil. "Untuk ukuran sebuah rumah tangga yang difasilitasi segalanya, waktu selama itu sudah lebih dari cukup. Kamu tidak perlu bekerja banting tulang dari pagi sampai malam. Kamu tidak perlu memikirkan besok mau makan apa, bagaimana cara membayar tagihan listrik, atau bagaimana membayar cicilan rumah. Kamu hidup seperti ratu di sangkar emas ini. Tugasmu hanya satu, Nayla. Hanya satu! Memberikan keturunan untuk keluarga ini. Memberikan pewaris darah daging untuk meneruskan kerajaan bisnis yang dibangun susah payah oleh Papa mertuamu."
Aku menundukkan kepala dalam-dalam, menatap serat-serat abu-abu pada meja marmer Italia di hadapanku seolah itu adalah hal paling menarik di dunia. Sudut mataku memanas dengan cepat. Ada desakan kuat dari kelenjar air mataku, tetapi aku memutar otak, menahan sekuat tenaga agar cairan bening itu tidak jatuh mengkhianatiku. Menangis di depan Bu Ratna adalah sebuah kesalahan fatal yang tak termaafkan. Ia tidak pernah melihat air mata sebagai tanda kesedihan atau kerapuhan batin. Di matanya, air mata perempuan miskin sepertiku hanyalah senjata manipulasi, sebuah taktik murahan untuk mencari belas kasihan putranya.
"Kita sudah mencoba semuanya, bukan? Bukankah keluarga ini sudah memberikan yang terbaik?" Nada suara Bu Ratna mulai naik satu tingkat, menanggalkan sedikit demi sedikit kesan anggun yang sedari tadi ia pertahankan sebagai tameng. "Kita sudah membawamu ke dokter kandungan terbaik di Singapura. Kita membelikanmu vitamin dan obat-obatan impor yang harga per botolnya bisa digunakan orang di luar sana untuk makan berbulan-bulan. Sampai terapi-terapi alternatif aneh yang kamu minta itu pun Ibu turuti. Lalu, apa hasilnya?"
Bu Ratna tersenyum sinis. Senyuman miring yang tidak pernah mencapai matanya. Mata itu tetap sedingin bongkahan es di kutub utara. "Kosong. Tetap tidak ada apa-apa di dalam sana."
Dadaku sesak luar biasa, seolah ada balok beton berton-ton yang dihempaskan tepat ke atas tulang rusukku, meremukkan paru-paruku. Setiap kata yang memantul dari dinding dapur ini menggoreskan luka kasat mata yang perihnya menjalar cepat melalui aliran darah, hingga ke ujung-ujung saraf terdalamku.
Aku adalah seorang perempuan. Aku adalah seorang istri yang sangat mencintai suaminya. Tentu saja, lebih dari siapa pun di dunia ini, aku ingin menjadi seorang ibu. Tidakkah wanita arogan di depanku ini tahu berapa ratus malam yang kuhabiskan sendirian meringkuk di lantai kamar mandi yang dingin? Menangis tanpa suara hingga dadaku rasanya mau pecah sambil memegang benda pipih sialan bernama test pack yang tak pernah lelah menunjukkan satu garis merah yang sama? Tidakkah ia tahu bagaimana hancurnya kewarasanku setiap kali aku menemukan noda darah di pakaian dalamku, menandakan bahwa bulan itu pun rahimku kembali gagal mempertahankan sebuah kehidupan? Tidakkah ia tahu bahwa setiap jarum suntik program IVF yang menembus perutku meninggalkan memar biru keunguan yang nyerinya membuatku tidak bisa tidur berhari-hari?
Aku melakukan semuanya. Aku menanggung semua rasa sakit medis itu sendirian tanpa mengeluh, demi pria yang kucintai, demi keluarga ini. Tapi di mata mereka, aku hanyalah sebuah mesin pabrik yang rusak karena tidak bisa memproduksi barang sesuai target perusahaan.
"Ibu... Nayla dan Mas Arka terus berusaha. Tolong beri kami sedikit waktu lagi. Dokter bilang rahimku tidak bermasalah secara fatal, aku hanya butuh waktu agar hormonku..."
"Berusaha apa?!" potong Bu Ratna dengan suara tajam dan keras, menyentakku dari pembelaan diri yang rapuh. Ia menatapku seolah aku adalah bakteri yang menjijikkan. "Berusaha membuat Arka terlihat semakin bodoh di mata teman-teman bisnis ayahnya? Kamu tahu apa yang terjadi kemarin malam di acara gala dinner Asosiasi Pengusaha Konstruksi? Pak Handoyo, rival bisnis utama ayah mertuamu, dengan sengaja bertanya dengan suara lantang di depan puluhan petinggi perusahaan kapan Arka akan mengadakan acara tujuh bulanan untuk istrinya."
Napas Bu Ratna memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang meletup-letup. "Kamu tahu wajah suamimu seperti apa saat itu, Nayla? Dia menunduk. Dia terdiam. Dia malu! Anak laki-lakiku yang kebanggaan keluarga ini, dipermalukan di depan umum karena tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Arka malu memiliki istri yang cacat secara kodrat!"
Kata 'cacat' itu melesat cepat dan menembus tepat di tengah jantungku layaknya peluru sniper. Mataku melebar. Aku mematung. Otakku seakan berhenti beroperasi memproses kalimat barusan. Napasku tertahan di tenggorokan, menciptakan rasa sakit yang mencekik.
Cacat.
Dia menyebutku cacat.
"Aku... aku tidak cacat, Bu," balasku dengan suara bergetar parah. Pertahananku runtuh. Setetes air mata akhirnya lolos dan jatuh membentur permukaan meja marmer, meninggalkan bercak basah yang menyedihkan. Aku memberanikan diri mengangkat wajahku yang basah, menatap langsung ke dalam mata mertuaku. Ada sisa-sisa kepingan harga diri yang dengan putus asa berusaha kupertahankan, meski jiwaku rasanya sudah hangus terbakar. "Aku wanita normal. Tuhan hanya belum menitipkan rezeki itu kepada kami. Tolong, jangan sebut aku cacat."
Bu Ratna mendengus kasar. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja dan perlahan mendorong tubuhnya berdiri. Suara gesekan kaki kursi dengan lantai marmer terdengar ngilu di telinga. Ia merapikan kerah blusnya dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan, lalu berjalan memutar melewati meja island, menghampiriku. Ketukan hak sepatu stilettos-nya terdengar seperti ketukan palu hakim yang bersiap menjatuhkan vonis mati.
Aroma parfum mewahnyaβcampuran mawar Bulgaria dan muskβtercium semakin menyengat saat ia berhenti tepat di depanku. Ia menunduk, menatapku dari atas ke bawah seolah aku adalah barang rongsokan tak bernilai yang salah diletakkan di dalam etalase butik perhiasan. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa melihat lapisan bedak tebal yang menutupi kerutan di sudut matanya.
"Perempuan yang tidak bisa memberikan anak untuk suaminya..." Suaranya kini merendah menjadi bisikan mendesis yang merayap masuk ke telingaku seperti bisa ular. "Tidak ada bedanya dengan pohon mati di halaman rumah. Ia hanya menumpang berdiri di atas tanah milik orang lain, menghisap air dan nutrisinya, merusak pemandangan, tapi tidak pernah sudi menghasilkan buah."
Tanganku yang berada di bawah meja meremas gaunku sendiri hingga buku-buku jariku memutih dan kram. Aku menggigit bagian dalam pipiku kuat-kuat hingga mengecap rasa anyir darah demi menahan isak tangis yang meronta ingin dilepaskan. Aku tidak boleh hancur di depannya. Tidak sekarang.
"Arka itu anak laki-laki satu-satunya, Nayla," lanjut Bu Ratna, matanya menatap tajam, menelanjangi segala kelemahanku. "Masa depan keluarga ini, tongkat estafet perusahaan bernilai triliunan rupiah itu, semuanya ada di tangannya. Dia tidak bisa mati tanpa meninggalkan pewaris. Garis keturunan kami tidak boleh berhenti hanya karena keegoisan seorang wanita mandul dari keluarga miskin yang tidak tahu diri menempel pada puteraku."
Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, nyaris menyentuh telingaku. Hembusan napasnya terasa dingin.
"Kalau kamu memang menyayanginya seperti yang sering kamu gembar-gemborkan selama ini dengan air mata buayamu itu..." Ia memberi jeda satu detik yang terasa seperti satu abad. "Kalau kamu masih punya malu... mundur dari hidup Arka."
Udara di sekitarku seolah tersedot habis ke dalam ruang hampa. Paru-paruku mendadak lumpuh, menolak bekerja menarik oksigen. Mataku melebar menatap lantai, pandanganku mulai kabur oleh tumpukan air mata.
Bu Ratna menegakkan tubuhnya kembali. Ia meraih tas Hermes birkin hitamnya dari atas kursi. Tanpa repot-repot menoleh lagi ke arahku, seolah berbicara denganku lebih lama akan menularkan penyakit menular, ia membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan dapur. Ketukan heels-nya menggema angkuh di lorong rumah, perlahan menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu utama yang ditutup rapat.
Saat suara mesin mobilnya terdengar meninggalkan pekarangan, di detik itu pula kakiku kehilangan seluruh fungsinya sebagai penopang tubuh. Aku merosot jatuh ke lantai dingin. Lututku membentur ubin marmer dengan keras, tapi rasa sakit fisiknya sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya batinku.
Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan, meredam jeritan pilu yang akhirnya pecah menyayat hati. Tangisku meledak, bahuku berguncang hebat. Air mataku jatuh menderas, membasahi lantai mewah yang tak pernah benar-benar menjadi rumahku ini. Di tengah kemegahan arsitektur klasik Eropa, di bawah kerlap-kerlip lampu kristal seharga ratusan juta ini, aku tersadar akan satu realita yang paling menyakitkan.
Aku tak lebih dari seonggok parasit tak berguna yang sedang menunggu waktu eksekusi untuk ditendang keluar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar