Dulu, kamar utama di lantai dua ini adalah surga kecilku, tempat persembunyianku dari kerasnya dunia luar.

Aku masih bisa mengingat dengan sangat jelas detail malam pertama kami menempati ruangan ini. Tepat tiga hari setelah aku dan Arka kembali dari perjalanan bulan madu kami di Kyoto, Jepang. Aroma ruangan ini masih terekam kuat di memori penciumankuβ€”perpaduan wangi musk maskulin dari tubuh Arka yang baru selesai mandi, bercampur dengan kelembutan pengharum ruangan beraroma lavender yang kupilih sendiri. Malam itu, hujan turun rintik-rintik mengetuk kaca jendela besar di sisi barat kamar. Aku sedang berdiri di depan meja rias, menyisir rambut panjangku, ketika Arka tiba-tiba datang dari arah belakang.

Tangan besarnya melingkar posesif namun lembut di pinggangku. Ia menyandarkan dagunya di bahu kananku, menatap bayangan kami berdua yang terpantul di cermin rias berbingkai kayu jati itu.

"Rumah kita, Nay. Tempat kamu dan aku menua sama-sama. Tempat anak-anak kita nanti lari-larian sampai bikin pusing," bisiknya waktu itu. Suara baritonnya mengalun hangat, bergetar pelan di ceruk leherku. Tangannya naik, mengusap puncak kepalaku dengan kelembutan luar biasa yang seketika membuatku merasa menjadi perempuan paling berharga, paling dicintai, dan paling aman di seluruh alam semesta.

Dulu, tatapan mata Arka kepadaku selalu dipenuhi oleh pendar pemujaan yang tulus. Jika aku mencoba resep baru dan masakan itu berujung terlalu asin atau dagingnya sedikit keras, ia akan tetap menghabiskan isi piringnya bersih tak bersisa sambil tertawa renyah, merayuku bahwa bumbu cinta dariku menutupi semua rasa asinnya. Jika aku kelelahan setelah membersihkan rumah meski kami memiliki asisten rumah tangga, ia akan menarikku duduk di karpet, memaksaku bersandar di dadanya, lalu memijat bahu dan tengkukku perlahan tanpa pernah kuminta.

Arka yang dulu adalah tamengku. Ia adalah atap yang melindungiku dari badai.

Namun, semua kenangan indah itu kini terasa bias, memudar seperti lembaran foto usang yang dipaksa pudar oleh kejamnya waktu. Kenangan itu terasa seperti fragmen film fiksi romantis milik orang lain, bukan lagi realita hidupku.

Jam beker digital di atas nakas sebelah kiriku menunjukkan pukul dua belas lewat seperempat malam. Angka merahnya berkedip-kedip menembus kegelapan. Aku duduk meringkuk di tepi ranjang berukuran king size yang spreinya dingin menyentuh kulit. Aku memeluk kedua lututku erat-erat di balik balutan gaun tidur berbahan satin tipis yang tak mampu menghalau hawa dingin AC yang menyengat tulang. Lampu tidur berpendar temaram di sudut ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding bercat putih gading itu.

Suara derum mesin mobil Mercedes-Benz hitam memasuki garasi di bawah sana membuatku tersentak dari lamunan. Ban mobil berdecit pelan bergesekan dengan lantai garasi. Itu Arka. Suamiku akhirnya pulang.

Jantungku seketika berdegup sedikit lebih cepat. Otot-otot di perutku menegang. Ada perasaan antisipasi sekaligus ketakutan yang campur aduk mengaduk-aduk ususku. Aku buru-buru menurunkan kakiku ke lantai bersandal bulu, berjalan cepat ke arah meja rias untuk merapikan rambutku yang berantakan. Aku mengambil tisu, menghapus kasar sisa-sisa jejak air mata yang sedari siang tadi membeku dan mengering di pipiku. Aku menarik napas dalam-dalam, memaksakan otot wajahku untuk membentuk seulas senyum penyambutan, lalu berjalan perlahan ke arah pintu kamar.

Aku ingin menyambut suamiku pulang. Aku inginβ€”lebih dari apa pun malam iniβ€”menceritakan beban maha berat yang sedari siang menghimpit rongga dadaku hingga aku kesulitan bernapas. Aku ingin mengadukan kata-kata beracun ibunya yang menyuruhku mundur dari pernikahan ini. Aku butuh sandaran dada bidangnya untuk menangis. Aku butuh tangannya mengusap punggungku dan berbisik bahwa wanita tua itu salah, bahwa ia tidak akan pernah melepaskanku. Aku butuh Arka-ku.

Kenop pintu berputar ke bawah, diiringi bunyi klik yang pelan. Pintu terbuka lambat.

Arka berdiri di ambang pintu. Postur tubuhnya yang biasanya tegap kini tampak melengkung layaknya pria yang memikul beban dunia di bahunya. Wajahnya kusut masai, dihiasi bayangan gelap di bawah mata dan sisa-sisa janggut tipis yang belum dicukur. Kemeja kerja putih bersihnya sudah berantakan, kerah kancing teratasnya terbuka menampakkan lehernya yang berkeringat, sementara dasi mahalnya sudah longgar tak berbentuk. Jas kerja warna navy-nya hanya disampirkan asal-asalan di bahu kiri.

Bau udara malam, asap rokok yang pekat, dan aroma kopi hitam yang tajam seketika menguar dari tubuhnya, menutupi wangi musk favoritku.

"Mas Arka sudah pulang? Lembut banget kerjanya hari ini..." sapaku dengan suara yang kubuat selembut mungkin. Aku melangkah mendekat, memaksakan senyum yang kurasa pasti terlihat menyedihkan, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil alih jas dari bahunya. "Mau aku buatkan air hangat untuk mandi? Atau Mas mau makan malam dulu? Aku bisa panaskan sup di bawah."

Namun, Arka tidak membalas senyumanku. Jangankan membalas, matanya bahkan sengaja menghindari tatapanku. Ia tidak menatap mataku sama sekali, melainkan melihat ke arah dinding kosong di belakangku.

Ia berjalan melewatiku begitu saja, bahunya menyenggol lenganku pelan tanpa berniat meminta maaf. Ia melangkah ke tengah ruangan, melonggarkan dasinya dengan tarikan kasar sambil menghembuskan napas yang sangat berat, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton.

"Nggak usah, Nay. Jangan repot-repot," jawabnya datar. Suaranya serak dan kering. "Aku mandi pakai air dingin aja. Kepalaku pusing banget, badanku gerah."

Aku mematung di tempatku berdiri sambil memeluk erat jas kerjanya di dadaku. Tanganku meremas kain mahal itu dengan putus asa. Suaranya barusan... begitu hampa. Tidak ada kecupan di kening seperti ritual tahun-tahun pertama pernikahan kami. Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti 'kamu seharian di rumah ngapain aja, Sayang?'.

Hanya ada ruang hampa dan dinding es kasat mata yang perlahan namun pasti membentang semakin luas di antara kami. Setiap harinya, jarak itu terasa semakin jauh, hingga aku merasa suamiku sendiri adalah orang asing yang tak sengaja berbagi kamar denganku.

Aku menelan ludah, menatap nanar punggung lebarnya yang menghilang di balik pintu kamar mandi kaca buram. Tak lama, gemericik air shower yang deras mulai terdengar membentur lantai kamar mandi.

Aku memejamkan mata, memeluk diriku sendiri. Kesabaran, Nayla. Kamu harus sabar. Aku merapal mantra itu berulang-ulang di dalam hati. Arka pasti sedang sangat lelah memikirkan pekerjaannya yang menumpuk. Belakangan ini, ayahnya sengaja menyerahkan beberapa proyek tender besar dan bermasalah ke pundaknya, memaksa Arka bekerja nyaris dua puluh jam sehari. Wajar jika dia lelah. Wajar jika dia tidak punya energi ekstra untuk bersikap romantis. Aku mencoba membohongi diriku sendiri dengan memberikan sejuta pembenaran untuk sikap dinginnya.

Setengah jam kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Arka keluar dengan rambut basah yang airnya menetes ke kerah kaus oblong abu-abunya. Ia mengenakan celana tidur panjang berwarna senada. Tanpa melirik ke arahku yang sedang duduk diam di sofa kecil sudut ruangan, ia berjalan gontai menuju ranjang. Ia merebahkan dirinya dengan berat di sisi kiri kasur, segera memunggungiku, dan menarik selimut tebal sebatas bahu. Gerakannya begitu jelas menunjukkan gestur penolakan, menutup semua akses komunikasi.

Aku bangkit dari sofa perlahan, melangkah pelan tanpa suara mendekati ranjang, lalu naik ke atas kasur menempati sisi kananku. Ruang di tengah kasur terasa begitu luas bagai jurang yang memisahkan dua benua. Kutatap punggung lebarnya yang naik turun perlahan dalam diam.

Ada kerinduan yang tiba-tiba menyiksa ulu hatiku. Aku sangat ingin menyingkirkan selimut itu, memeluknya dari belakang, melingkarkan lenganku di pinggangnya, dan menyembunyikan wajahku yang basah di punggung hangatnya. Aku ingin mengadu. Aku ingin menangis. Namun, rasa takut akan penolakan memaku tubuhku di tempat.

Keheningan kamar ini mulai terasa mencekik. Detak jarum jam dinding berbunyi tik-tok-tik-tok, terdengar seperti palu godam raksasa yang memukul gendang telingaku berulang kali. Aku tidak bisa menahannya lagi. Perkataan Bu Ratna siang tadi terus terngiang-ngiang layaknya kaset rusak di kepalaku, membuat dadaku sesak ingin meledak.

"Mas..." panggilku pelan, memecah keheningan yang menyesakkan itu. Suaraku serak karena menahan tangis seharian.

"Hm?" gumamnya pendek tanpa bergerak sedikit pun, tanpa berniat berbalik.

Tanganku perlahan terulur meremas pinggiran selimut putih tebal di atasku. "Tadi siang... Ibu datang ke rumah."

Udara di dalam kamar mendadak terasa membeku. Aku bisa melihat dengan jelas dari cahaya remang lampu tidur bagaimana punggung Arka sedikit menegang mendengarku menyebut kata 'Ibu'. Ia diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya terdengar helaan napas panjang yang dihembuskan dengan kasar lewat hidungnya.

"Terus? Ibu ngomong apa lagi kali ini?" nadanya terdengar letih, tapi ada sedikit kilat kejengkelan di balik pertanyaannya.

Jantungku berdegup kencang memukul-mukul tulang rusuk. "Ibu... Ibu bahas soal masalah keturunan lagi, Mas. Ibu menyinggung soal teman kolega Papa kemarin malam di acara gala dinner." Suaraku mulai bergetar di ujung kalimat. Pertahananku yang kubangun sejak tadi kembali goyah. Aku menahan emosi yang menyumbat tenggorokan, sangat berharap setelah aku mengucapkan ini, Arka akan terkejut, membalikkan badannya, menatapku cemas, dan merengkuhku ke dalam dekapannya. Aku sangat menantikan ia marah karena ibunya mengatakan hal sekasar itu kepadaku saat ia tidak ada di rumah.

"Ibu bilang... Mas malu punya istri sepertiku." Air mataku akhirnya menetes satu per satu jatuh membasahi bantal, tak bisa lagi dibendung. "Ibu bilang aku wanita cacat, Mas. Dan pada akhirnya... Ibu menyuruhku memikirkan posisiku di rumah ini. Ibu menyuruhku... mundur dari hidupmu."

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan saat mengucapkan rentetan kalimat terakhir itu, tubuhku sedikit bergetar menahan isakan. Dadaku nyeri luar biasa seolah baru saja ditusuk sembilu berkarat lalu diputar paksa di dalamnya.

Ruangan itu kembali terjerumus ke dalam keheningan yang mematikan. Hanya terdengar suara napasku yang tersengal-sengal menahan tangis. Aku menunggu tanggapannya dengan perasaan hancur yang menggantung. Aku menunggunya berkata, 'Ibu keterlaluan, besok aku akan bicara dengan Ibu, jangan dengarkan dia, Nay.'

Namun, yang kudengar memecah keheningan justru helaan napas Arka yang jauh lebih panjang, lebih berat, dan sarat akan rasa frustrasi yang memuncak.

Arka perlahan memutar tubuhnya, menyingkirkan selimutnya dengan kasar, dan berubah posisi menjadi telentang menatap langit-langit kamar yang gelap. Cahaya temaram memperlihatkan wajahnya yang mengeras kaku. Rahangnya terkatup rapat hingga otot di pelipisnya menonjol. Tidak ada tatapan penuh cinta, tidak ada rasa iba.

"Nay, tolong. Mas lagi capek banget," desisnya tertahan, mengusap wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya seolah ia baru saja dibangunkan dari tidur nyenyak oleh suara bising yang menyebalkan. "Seharian aku meeting di kantor ngebahas tender proyek di Surabaya yang gagal. Papa seharian murka dan terus-terusan menceramahiku di depan dewan direksi. Kepalaku rasanya mau pecah. Bisa nggak sih, malam ini aja, kita nggak usah ngebahas drama masalah ini dulu? Beri aku waktu istirahat satu malam aja, Nay."

Aku tertegun. Napasku tercekat di tenggorokan. Mataku membulat menatap profil wajah suamiku dari samping. Aku menyingkirkan tanganku dari wajah, menatapnya dengan rasa tidak percaya yang mengalir dingin di nadiku. "Drama? Kamu bilang ini drama, Mas? Ibumu datang ke rumah saat kamu nggak ada, menghinaku habis-habisan, menyuruhku menceraikanmu, dan kamu pikir ini cuma drama?"

"Lalu kamu mau aku ngapain, Nayla?!" Arka tiba-tiba menoleh tajam ke arahku, suaranya meninggi setengah membentak, membuatku terkesiap mundur secara refleks. Sorot matanya memancarkan rasa lelah yang kini bercampur baur dengan kejengkelan yang tak ditutup-tutupi lagi.

"Kamu mau aku berantem sama Ibuku sendiri? Kamu mau aku besok pagi datang ke rumah orang tuaku, lalu aku bentak-bentak wanita tua yang udah ngelahirin aku dan ngasih aku kehidupan mewah sejauh ini demi ngebela kamu?!" Dada Arka naik turun dengan cepat. "Ibu itu cuma orang tua yang khawatir, Nay. Dia takut masa depan bisnis dan keluarga kita putus di generasi ini. Dia panik! Wajar kalau omongannya kadang lepas kontrol. Harusnya kamu yang lebih waras. Harusnya kamu yang ngertiin keadaannya, bukan malah menuntut aku buat melawan mereka!"

Ngertiin keadaan.

Dua kata laknat itu berdengung nyaring di dalam kepalaku, seperti lonceng kematian yang menertawakan sisa-sisa harapanku yang kini hancur berkeping-keping menjadi debu.

"Ngerti... ngertiin keadaan?" bisikku lirih. Air mata yang sejak tadi mengalir kini seakan membeku di pipiku. Rasa sedihku seketika menguap, digantikan oleh ruang kosong yang dingin di dalam dadaku. "Aku disuruh menyerah atas pernikahanku sendiri. Aku dihina cacat karena rahimku belum bisa memberikanmu anak, dan kalimat pertama yang keluar dari mulut suamiku adalah menyuruhku mengerti keadaan ibunya?"

Aku menatap tepat ke dalam manik matanya. "Lalu siapa yang mengerti keadaanku, Mas? Di mana letak posisiku di matamu? Saat ibumu terus-menerus menginjak-injak harga diriku sampai hancur tak tersisa, di mana letak pembelaanmu untuk aku sebagai istrimu yang sah?"

Arka membuang muka, menghindari tatapan terluka di mataku. Ia mengusap kasar belakang lehernya. Pria ini tampak seperti seseorang yang kehabisan udara di dalam ruangan kedap, frustrasi, terpojok, dan sama sekali tidak ingin berada di sini untuk membereskan kekacauan ini.

"Nay, please. Aku mohon sama kamu. Jangan bikin suasana rumah yang udah panas jadi tambah ruwet dan menyesakkan. Mas bener-bener capek," ucapnya final dengan nada finalitas yang mematikan pembicaraan.

Tanpa menambahkan sepatah kata pun untuk menghiburku, ia memutar tubuhnya kembali, memunggungiku seperti sedia kala. Ia menarik selimutnya tinggi-tinggi hingga menutupi telinganya, sebuah bahasa tubuh pertahanan absolut yang menutup akses apa pun untukku masuk. "Tidur aja. Besok pagi-pagi sekali Mas harus ke airport buat survei lapangan ke luar kota. Coba kamu tenangkan pikiranmu. Coba kamu ngertiin keadaan posisiku pelan-pelan."

Ia menutup mata, dan tidak butuh waktu lama hingga dengkuran halusnya mulai terdengar. Meninggalkanku sendirian dalam keadaan terjaga, memeluk luka yang menganga semakin lebar.

Aku duduk membatu, mematung di atas kasur di tengah remang cahaya lampu tidur kekuningan yang muram. Air mataku kembali menetes dalam diam, jatuh mengenai punggung tanganku yang dingin. Kuawasi punggung lebar pria yang kini tertidur pulas memunggungiku itu. Pria yang dulu, di atas altar pernikahan, dengan lantang mengucap janji di hadapan Tuhan dan keluargaku bahwa ia akan menjadi perisaiku dari kejamnya dunia. Pria yang dulu memelukku erat saat aku menangis karena kegagalan program IVF pertamaku, meyakinkanku bahwa rahimku bukanlah tolak ukur dari seberapa besar ia mencintaiku.

Namun malam ini, punggung yang sedang kulihat itu terasa sangat asing. Begitu jauh. Begitu tak tersentuh.

Udara malam yang menggigit perlahan merayap masuk, menyusup ke celah-celah hatiku yang kini retak di banyak sisi. Aku menatap ruang kosong di atas sprei putih yang terbentang di antara jarak tubuh kami di atas ranjang raksasa ini. Ruang kosong itu terasa seperti metafora yang sempurna untuk menggambarkan sisa pernikahan kami.

Aku menelan tangisku sendiri, menggigit bibirku kuat-kuat dalam diam, dan perlahan menyadari satu kenyataan pahit yang tak bisa lagi kutolak, tak bisa lagi kusangkal dengan seribu pembenaran palsu.

Arkaku yang dulu, pria yang berjanji akan menjagaku, sudah tidak ada. Ia sedang pelan-pelan berubah menjadi pengecut yang tak berani melindungiku, dan aku sedang dibiarkan mati perlahan-lahan sendirian di tengah medan perang yang tak pernah kuminta ini.

Jika pelindungku sudah meletakkan senjatanya, maka aku tahu persis, tak lama lagi musuh akan datang menghancurkanku hingga rata dengan tanah. Dan aku, tidak punya siapa-siapa lagi untuk bertahan hidup selain diriku sendiri.