Aku menatap pantulan diriku di cermin besar kamar mandi, mencoba mengenali wanita yang balas menatapku dengan sorot mata kosong itu. Wanita itu mengenakan gaun malam berbahan chiffon sutra berwarna biru navy yang elegan, melekat sempurna di tubuhnya yang ramping. Rambut panjangnya disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya dengan anggun. Lipstik matte berwarna mauve menutupi bibirnya yang pucat, dan lapisan foundation tebal berhasil menyembunyikan lingkar hitam keputusasaan di bawah matanya.
Sempurna. Dari luar, aku terlihat seperti menantu idaman keluarga konglomerat. Layak dipamerkan. Layak disandingkan dengan Arka, sang penerus tahta Grup Surya.
Namun di dalam, aku tahu betul wanita di cermin ini hanyalah sebuah cangkang kosong yang sedang bersiap melangkah masuk ke dalam kandang singa.
Malam ini adalah jadwal makan malam keluarga besar yang diadakan rutin setiap akhir bulan di kediaman utama mertuaku. Sebuah tradisi yang awalnya kuanggap sebagai momen hangat berkumpulnya keluarga, namun kini telah berubah menjadi arena pembantaian mental di mana aku selalu menjadi hidangan utamanya.
Arka mengetuk pintu kamar mandi dari luar. "Nay? Udah siap? Sopir udah nunggu di bawah."
Suaranya datar, tanpa emosi, sama seperti rutinitas percakapan kami selama seminggu terakhir. Sejak pertengkaran kami malam itu, dinding es di antara kami semakin tebal dan tak tertembus. Kami hidup seperti dua orang asing yang kebetulan mengontrak kamar yang sama.
"Iya, Mas. Sebentar," balasku, memaksakan suaraku terdengar normal. Aku merapikan sedikit blush on di tulang pipiku, mengambil clutch bag perakku, dan keluar dari kamar mandi.
Sepanjang perjalanan di dalam kursi belakang mobil Mercedes-Benz hitam yang meluncur mulus membelah kemacetan jalanan Jakarta, keheningan mencekik kami. Arka sibuk membalas email di tabletnya, keningnya berkerut fokus. Ia sama sekali tidak menoleh ke arahku, apalagi memuji penampilanku malam ini seperti yang selalu ia lakukan di tahun pertama pernikahan kami. Dulu, perjalan ke rumah orang tuanya adalah momen di mana tangan kami saling bertaut erat di atas jok kulit ini. Sekarang, ada jarak setengah meter di antara paha kami, tapi rasanya seperti terpisahkan oleh lautan lepas.
Mobil memasuki gerbang besi raksasa berukir emas milik keluarga Surya. Sebuah rumah mewah bergaya pilar-pilar Romawi berdiri angkuh di ujung jalan masuk yang melingkar, dikelilingi taman yang dipangkas dengan presisi militer. Rumah ini terlalu besar, terlalu dingin, dan menakutkan bagiku.
Saat kami melangkah masuk ke ruang makan utama, suasana ramai segera menyergap pendengaran. Ruangan itu diterangi oleh lampu kristal raksasa yang menggantung tepat di atas meja makan kayu mahoni panjang berkapasitas dua puluh orang. Peralatan makan dari perak murni berdenting beradu dengan piring porselen fine bone china.
Keluarga besar sudah berkumpul. Ada Tante Mirna, adik dari Pak Surya yang mulutnya tak kalah tajam dari pisau daging. Ada sepupu-sepupu Arka beserta pasangan mereka, beberapa di antaranya sedang menggendong balita yang berlarian kesana-kemari.
Dan di ujung meja, duduklah sang penguasa absolut: Pak Surya. Ayah mertuaku. Posturnya tegap meski usianya sudah menginjak pertengahan enam puluh. Wajahnya keras, rahangnya kotak, dan sorot matanya tajam layaknya rajawali yang sedang mengawasi mangsa. Di sebelahnya, duduk Bu Ratna yang malam ini mengenakan gaun merah maroon menyala, menatap kedatanganku dengan senyum tipis yang tak pernah kunjung bersahabat.
"Akhirnya datang juga putra mahkota kita," sapa Tante Mirna dengan nada riang yang dibuat-buat. "Kirain Tante kalian nggak jadi datang karena Arka lembur lagi. Ayo, duduk-duduk. Sop buntutnya keburu dingin."
Aku dan Arka mengambil tempat duduk yang tersisa di tengah meja. Baru saja pantatku menyentuh bantalan kursi berbalut beludru itu, perasaan mual sudah mulai menyerang lambungku.
Acara makan malam berlangsung dengan perbincangan bisnis yang membosankan di sepuluh menit pertama. Pak Surya dan Arka mendiskusikan fluktuasi saham dan proyek infrastruktur di Kalimantan. Aku menyuapkan sedikit nasi dan daging ke mulutku, mengunyahnya pelan-pelan seolah sedang memakan kapas yang tak ada rasanya.
Lalu, momen yang selalu kutakutkan itu tiba. Layaknya jam weker yang sudah disetel pada waktunya, topik pembicaraan berubah arah.
"Oh ya, Nayla," suara Bu Ratna tiba-tiba membelah percakapan bisnis suaminya, membuat semua mata di meja itu seketika tertuju ke arahku. "Kemarin Ibu tidak sengaja bertemu ibunya Tasya di acara arisan."
Tasya. Salah satu sepupu Arka yang menikah hanya beda dua bulan denganku.
"Tasya baru saja lahiran anak kedua, kan?" sambung Tante Mirna dengan antusias, memanaskan suasana dengan sempurna. "Ya ampun, cepat banget ya. Padahal kayaknya baru kemarin dia pamer hasil USG anak pertamanya. Subur banget itu anak. Suaminya pasti bahagia bukan main."
Aku menghentikan suapanku. Garpu di tanganku mendadak terasa seberat barbel puluhan kilogram. Aku menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokanku menyempit.
"Betul sekali," Bu Ratna tersenyum lebar, menatapku tepat di mata dari seberang meja. "Anak pertamanya laki-laki, yang kedua ini perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan mereka. Ibunya Tasya sampai pamer foto cucu-cucunya ke semua orang. Ibu sampai iri melihatnya."
Hening sejenak. Aku bisa merasakan tatapan iba, meremehkan, dan sinis dari berbagai sudut meja makan ini menusuk-nusuk kulitku. Aku mencoba tersenyum, sebuah senyuman kaku yang kurasa lebih mirip seringaian kesakitan.
"Wah, selamat untuk Tasya. Semoga ibu dan bayinya sehat," ucapku pelan, berusaha menjaga kesopanan yang tersisa.
Bu Ratna meletakkan sendoknya. Dentingannya terdengar nyaring. "Kapan giliranmu, Nayla? Ibu capek ditanya terus oleh teman-teman kolega Papa. Setiap kumpul keluarga, Ibu cuma bisa diam kalau ditanya soal cucu dari Arka. Mau sampai kapan kalian membiarkan kursi di sebelah Arka ini kosong tanpa anak?"
Dadaku bergemuruh. Rasa panas menjalar dari leher hingga ke telingaku. Dipermalukan di dapur secara berdua saja sudah sangat menyakitkan, tapi ditelanjangi harga dirinya di depan belasan pasang mata keluarga besar? Ini adalah sebuah eksekusi publik.
"Kami sedang berusaha, Bu," jawabku lirih, menundukkan pandangan ke piringku.
"Berusaha itu harus ada batas waktunya, Nayla," Suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba menyela.
Semua orang di meja makan seketika terdiam. Menahan napas. Itu suara Pak Surya.
Ayah mertuaku meletakkan serbet kainnya ke atas meja, lalu menatapku dengan pandangan tanpa kompromi layaknya seorang CEO yang sedang memecat karyawan tak berguna. "Perusahaan ini, Grup Surya, dibangun dengan keringat dan darah selama puluhan tahun. Bisnis ini bukan sekadar angka di kertas saham, ini adalah warisan. Dan warisan membutuhkan penerus darah daging. Laki-laki."
Jantungku serasa dihantam godam. Aku membeku di kursiku.
"Arka adalah anak laki-laki saya satu-satunya," lanjut Pak Surya, suaranya menggema di ruangan yang kini mendadak senyap bak kuburan. "Beban masa depan keluarga ada di pundaknya. Sebagai istrinya, kamu seharusnya menyadari bahwa kewajiban utamamu bukanlah sekadar menemaninya tidur atau menghabiskan uang belanjanya, tapi memberikannya keturunan. Kalau selama tiga tahun ini tidak ada hasil..."
Pak Surya menjeda kalimatnya, menatapku dengan sorot mata sedingin es. "Maka sebagai laki-laki, Arka harus memikirkan alternatif lain demi kelangsungan marga keluarga ini. Kamu mengerti maksud saya, Nayla?"
Udara di dalam ruangan itu terasa tersedot habis. Paru-paruku lumpuh total. Aku mengerjap pelan, merasakan kelopak mataku memanas oleh air mata yang mendesak ingin tumpah. Alternatif lain. Kata-kata itu dibungkus dengan elegan, namun maknanya lebih kejam dari sebilah pedang yang diarahkan ke leherku.
Dalam keputusasaan yang memuncak, aku menoleh ke sebelah kiriku. Menatap Arka. Suamiku. Pria yang seharusnya menjadi dinding pelindungku. Aku memandangnya dengan tatapan memelas, mengirimkan sinyal pertolongan melalui mataku yang sudah berkaca-kaca. Tolong aku, Mas. Tolong bicara sesuatu. Tolong bela aku.
Namun, apa yang kulihat menghancurkan sisa-sisa hatiku hingga menjadi serpihan debu tak kasat mata.
Arka tidak menatapku. Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya untuk menatap ayahnya. Tangannya yang memegang pisau dan garpu terus bergerak dengan kaku, memotong daging steak di piringnya dalam diam. Rahangnya mengeras, matanya terpaku pada makanannya. Ia pura-pura tuli. Ia memilih untuk menjadi patung bernapas.
Di saat seluruh dunia, keluarganya sendiri, merobek-robek harga diriku, menginjak-injak kehormatanku sebagai seorang perempuan di depan umum... suamiku hanya diam, membiarkan dagingku dikoyak habis.
Tanganku yang berada di bawah meja mengepal kuat hingga kuku-kukuku menancap telapak tangan, menimbulkan rasa perih yang tak sebanding dengan hancurnya batinku.
Aku kembali menatap ke depan, ke arah piring kosong di hadapanku. Di ruang makan yang megah ini, dikelilingi oleh belasan manusia yang memiliki pertalian darah dengan suamiku, di tengah gelak tawa basi dan denting gelas kristal... aku menyadari realita yang paling mengerikan dalam hidupku.
Aku belum mati, namun aku dikubur hidup-hidup. Aku menikah, bersuami, namun di meja makan ini, malam ini... aku berdiri benar-benar sendirian. Tidak ada yang berada di pihakku. Dan suamiku, adalah pengkhianat pertama yang membiarkan pintu neraka ini terbuka untukku.
Rasa mual kembali mengaduk perutku, tapi kali ini bukan karena makanan. Melainkan karena rasa muak yang perlahan, diam-diam, mulai bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya. Jika mereka pikir menginjak harga diriku akan membuatku mati perlahan, mereka salah. Rasa sakit ini, tidak akan kubiarkan berlalu begitu saja tanpa bayaran yang pantas.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar