Laci terbawah di lemari nakasku menyimpan sebuah rahasia kelam yang selalu berhasil membuat dadaku sesak setiap kali aku berani membukanya. Hari ini, setelah kepergian Arka ke luar kota pagi buta tadi, aku kembali terduduk di lantai kamar yang dingin, menatap nanar isi laci yang kubiarkan menganga.

Di dalamnya, tidak ada perhiasan mahal atau surat-surat cinta masa lalu. Laci itu penuh sesak dengan tumpukan map rumah sakit, puluhan botol vitamin kosong, strip obat hormon yang sudah diremas, dan sebuah kotak beludru merah yang ironisnya bukan berisi kalung berlian, melainkan sisa-sisa jarum suntik bekas program In Vitro Fertilization (IVF) pertamaku yang gagal total.

Kusentuh salah satu jarum suntik berukuran kecil itu dengan ujung telunjukku yang bergetar. Sensasi ngilu seketika menjalar, membangkitkan kembali memori rasa sakit yang mati-matian kububur dalam-dalam. Jarum-jarum inilah yang selama berbulan-bulan menjadi teman setiaku setiap malam. Aku menyuntikkannya sendiri ke perutku yang semakin lama semakin dipenuhi lebam biru keunguan, sementara Arka sering kali tertidur pulas karena kelelahan bekerja. Aku menahan perihnya cairan hormon yang menembus jaringan kulitku demi satu tujuan: menciptakan sebuah kehidupan kecil yang bisa menyelamatkan pernikahanku.

Namun, semua usaha itu menguap begitu saja. Hancur menjadi debu bersamaan dengan luruhnya darah bulananku yang seolah mengejek setiap tetes keringat dan air mataku.

Jika ada yang bertanya seberapa keras aku sudah mencoba, rasanya aku ingin berteriak di depan wajah mereka hingga pita suaraku putus. Aku sudah mencoba semuanya. Semuanya. Mulai dari saran paling masuk akal hingga yang paling tidak rasional sekalipun.

Aku rela menelan puluhan pil yang membuat kepalaku pusing berputar dan berat badanku naik tak terkendali. Aku rutin meminum ramuan herbal Tiongkok rebus yang rasanya lebih mirip lumpur bercampur empedu, yang sering kali membuatku muntah-muntah di wastafel setiap pagi. Aku menuruti perintah Bu Ratna untuk mendatangi berbagai tabib dan ahli pengobatan alternatif dari ujung pulau ke ujung pulau lainnya. Aku membiarkan perutku dipijat dengan kasar hingga memar, membiarkan tubuhku disorot lampu inframerah, hingga berbaring pasrah di atas ranjang periksa rumah sakit mewah di Singapura dengan kaki terbuka lebar, ditonton oleh perawat dan dokter seolah aku adalah spesimen laboratorium yang rusak.

Dan semua proses menyakitkan itu diperparah dengan satu hal yang tak pernah absen diingatkan oleh ibu mertuaku: biayanya.

"Satu ampul suntikan hormon yang kamu pakai ini, harganya sama dengan gaji setahun pegawai cleaning service di kantor Papa, Nayla. Jangan sampai terbuang percuma. Obat-obatan impor dari Swiss ini tidak bisa dibeli hanya dengan doa," begitu kata Bu Ratna suatu sore, saat ia mengantarku ke klinik kesuburan mewah di Jakarta Selatan dengan diiringi supir dan ajudannya.

Ia mengucapkan kalimat itu sambil merapikan lipatan tas mahalnya, tanpa sedikit pun melihat wajahku yang pucat pasi menahan mual akibat efek samping obat. Setiap rupiah yang dikeluarkan oleh keluarga suamiku untuk rahimku, dicatat dengan rapi dalam buku besar hutang budi yang entah bagaimana caranya harus kulunasi. Setiap kegagalan program hamil yang kualami, bukanlah sebuah tragedi kehilangan bagi mereka, melainkan sebuah kerugian investasi bernilai ratusan juta.

Aku menutup laci itu dengan dorongan keras, tak sanggup lagi melihat bukti-bukti penyiksaan diriku sendiri. Napasku terengah. Aku menyandarkan punggungku ke sisi ranjang, memeluk lututku erat-erat.

Tiba-tiba, ingatanku terlempar pada kunjunganku ke dokter kandungan langgananku, Dokter Anwar, tiga hari yang lalu. Kunjungan yang kulakukan sendirian, diam-diam tanpa sepengetahuan Arka maupun Bu Ratna, karena aku merasa ada yang mengganjal di hatiku.

Ruangan Dokter Anwar selalu berbau antiseptik yang khas, dicampur dengan wangi pengharum ruangan beraroma green tea. Saat itu, aku duduk meremas tali tasku di seberang meja kerjanya. Dokter pria paruh baya yang sudah menanganiku sejak awal program kehamilan itu tampak serius membolak-balik rekam medisku yang tebalnya sudah menyerupai ensiklopedia.

"Bagaimana, Dok? Apakah ada kista baru yang tumbuh? Atau dinding rahimku menebal lagi sehingga embrio kemarin gagal menempel?" tanyaku saat itu, suaraku nyaris seperti rintihan putus asa. Aku sudah bersiap menerima vonis terburuk. Aku sudah menyiapkan hatiku jika ia mengatakan rahimku harus diangkat, atau indung telurku tidak lagi berfungsi. Aku sudah siap menyalahkan diriku sendiri.

Dokter Anwar menghela napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya dan menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan. Bukan tatapan kasihan yang biasa kuterima dari dokter-dokter sebelumnya, melainkan tatapan simpatik yang sarat akan keraguan untuk berbicara.

"Bu Nayla..." panggilnya lembut. Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Saya sudah mempelajari seluruh hasil tes laboratorium Ibu yang terbaru, termasuk hasil pemeriksaan pasca-kegagalan IVF bulan lalu."

Jantungku berhenti berdetak selama sekian milidetik. "Lalu, Dok? Apa yang salah dengan tubuh saya?"

"Itulah masalahnya, Bu," Dokter Anwar terdiam sejenak, menatapku tepat di mata. "Secara medis, tidak ada yang salah dengan tubuh Ibu."

Aku ternganga. Udara seolah tersedot dari paru-paruku. "M-maksud Dokter? Tapi... tapi tiga tahun, Dok. Tiga tahun kosong. Program inseminasi gagal dua kali. Bayi tabung gagal satu kali. Bagaimana bisa Dokter bilang tidak ada yang salah?"

"Bu Nayla, saya tahu ini sangat membuat frustrasi," Dokter Anwar membuka sebuah halaman dari map medisku dan menunjukkannya kepadaku, meski aku sama sekali tidak paham membaca deretan angka dan grafik di sana. "Kadar hormon Ibu sangat stabil. Sel telur yang Ibu hasilkan pada siklus terakhir memiliki kualitas Grade A, sangat sempurna. Ketebalan dinding rahim Ibu juga sangat ideal untuk implantasi. Saluran tuba falopi bersih, tidak ada sumbatan. Secara anatomi dan fungsional, rahim Ibu sangat siap untuk mengandung."

Aku menggeleng pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Kebingungan melanda otakku hebat. Jika mesin pabriknya sempurna, mengapa tidak pernah ada hasil produksi yang keluar?

"Kalau rahim saya sesempurna itu... lalu kenapa saya tidak hamil-hamil, Dok? Kenapa embrionya tidak pernah mau menempel? Kenapa benihnya selalu gugur sebelum berkembang?" cecarku, suaraku mulai naik, dipenuhi keputusasaan yang tak terbendung.

Dokter Anwar terdiam lagi. Kali ini keheningannya terasa jauh lebih berat. Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja, seolah sedang menimbang-nimbang sebuah rahasia besar yang melanggar kode etiknya jika diungkapkan.

"Kehamilan itu proses dua arah, Bu Nayla. Sebuah sel telur yang sempurna, membutuhkan sel sperma yang sama sempurnanya untuk bisa membelah dan berkembang menjadi embrio yang kuat." Dokter Anwar berbicara dengan nada yang sangat berhati-hati, memilih setiap kosa kata dengan presisi tingkat tinggi.

Aku tertegun. Alisku berkerut dalam. "Mas Arka... Mas Arka sudah pernah tes juga di awal pernikahan kami, Dok. Dan kata mertua saya, semuanya baik-baik saja. Makanya selama ini fokus pengobatan selalu diarahkan ke tubuh saya."

"Bu Nayla," potong Dokter Anwar halus namun tegas. Ia menatapku dengan pandangan yang membuat darah di nadiku terasa membeku seketika. "Apakah Ibu pernah melihat secara langsung lembar hasil tes analisis sperma milik suami Ibu?"

Pertanyaan itu menghantamku seperti godam godam raksasa. Mulutku terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Aku memutar memori di otakku dengan cepat. Tes pertama Arka dilakukan di rumah sakit rekanan milik perusahaan ayahnya. Saat itu, Bu Ratna yang mengambil hasilnya. Malam itu, mertuaku datang ke rumah dan melempar sebuah map kosong ke atas meja ruang tamu, lalu menatapku dengan pandangan menghakimi sambil berkata, 'Anak laki-lakiku sehat seratus persen. Masalahnya ada di kamu, Nayla. Perbaiki rahimmu.' Aku tidak pernah melihat lembaran kertas aslinya. Aku hanya menelan mentah-mentah ucapan Bu Ratna karena aku terlalu naif, terlalu percaya, dan terlalu takut untuk menuntut bukti kepada keluarga konglomerat itu.

"Dokter..." suaraku bergetar hebat saat menyadari arah pembicaraan ini. "Apa maksud Dokter? Apa ada rekam medis Mas Arka yang disembunyikan dari saya?"

Dokter Anwar menarik napas berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. "Sebagai dokter, saya terikat sumpah kerahasiaan pasien. Saya tidak bisa membeberkan hasil rekam medis Bapak Arka tanpa persetujuan beliau secara tertulis. Terlebih lagi, tes terakhir beliau dilakukan di laboratorium luar, bukan di klinik saya."

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku lekat-lekat, mencoba menyampaikan pesan tersirat yang tak berani ia ucapkan secara gamblang. "Tapi sebagai manusia yang melihat Ibu Nayla berjuang menyiksa diri selama bertahun-tahun... saya hanya bisa menyarankan satu hal. Tolong, minta suami Ibu untuk melakukan tes ulang di klinik independen, dan kali ini... Ibu harus melihat sendiri hasilnya dengan mata kepala Ibu."

Kepingan memori itu berakhir, menarikku kembali ke realita di lantai kamarku yang dingin.

Aku meremas gaun tidurku tepat di atas dada. Napasku memburu. Jantungku berdetak liar hingga rasanya ingin melompat keluar dari tulang rusukku. Kepalaku pening luar biasa. Ratusan skenario buruk berputar-putar di dalam kepalaku seperti kaset rusak.

Apakah mungkin?

Apakah mungkin selama tiga tahun ini, ratusan jarum suntik yang menembus kulit perutku, literan obat pahit yang merusak ginjalku, miliaran rupiah yang seolah dihutangkan ke leherku, dan semua hinaan cacat dari Bu Ratna... semuanya adalah sebuah kebohongan besar?

Aku berdiri perlahan, merasakan kakiku lemas seolah tak bertulang. Aku menatap pantulan diriku di cermin rias yang besar. Lingkaran hitam di bawah mataku, pipiku yang sedikit tirus, dan kulitku yang memucat akibat stres. Aku telah menghancurkan diriku sendiri demi sebuah keluarga yang mungkin sejak awal sedang menjadikanku kambing hitam demi menutupi aib putra mahkota mereka.

Sebuah benih kecurigaan yang sangat gelap dan dingin mulai tumbuh, berakar kuat di dasar rahimku yang katanya 'kosong' ini. Tanganku mengepal kuat di sisi tubuh.

Jika firasat Dokter Anwar benar... jika memang Arka dan keluarganya menyembunyikan sesuatu yang vital dariku... maka semua air mata yang kukeluarkan selama ini bukanlah pengorbanan cinta. Itu adalah kebodohan paling absolut.

Dan aku, bersumpah demi Tuhan, tidak akan membiarkan kebodohan ini berlanjut. Rahasia ini bukan lagi soal medis. Ini soal penghianatan yang lebih busuk dari bangkai apa pun.