Udara di dalam ruang kerja pribadi ayah mertuaku terasa jauh lebih dingin dan mencekik daripada ruang makan utama. Selepas makan malam neraka yang menelanjangi harga diriku di depan seluruh anggota keluarga besar, Pak Surya menitahkan asisten rumah tangganya untuk memanggil aku dan Arka ke ruangan ini.

Ruangan ini adalah jantung kekuasaan Grup Surya. Dindingnya dilapisi panel kayu jati berwarna gelap yang menyerap cahaya, rak-rak buku menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit berukir, dan di tengah ruangan, berdiri sebuah meja kerja dari kayu mahogany solid yang ukurannya setengah dari luas kamar tidurku di rumah. Aroma pekat dari tembakau cerutu impor bercampur dengan wangi kertas tua mendominasi indra penciumanku, membuat kepalaku yang sudah berdenyut sejak tadi terasa semakin pening.

Pak Surya duduk bersandar di kursi kulit besarnya, menatap kami berdua dalam diam dengan jemari bertaut di atas meja. Di sofa chesterfield panjang berbalut kulit merah marun di sudut ruangan, Bu Ratna duduk menyilangkan kaki dengan anggun, memegang secangkir teh panas yang baru diseduh.

Sementara aku dan Arka? Kami duduk berdampingan di dua kursi tamu di seberang meja Pak Surya, layaknya dua orang terdakwa yang sedang menanti ketukan palu hakim untuk vonis mati.

Jarak kursi kami berdekatan, mungkin hanya terpisah sepuluh sentimeter, tapi aku bisa merasakan aura penolakan yang kuat menguar dari tubuh suamiku. Arka duduk menunduk, kedua sikunya bertumpu pada lutut, dan tangannya menangkup wajah. Ia tidak menoleh padaku sedikit pun sejak kami beranjak dari meja makan.

Detak jarum jam dinding antik di sudut ruangan terdengar seperti hitungan mundur bom waktu yang siap meledak dan meluluhlantakkan duniaku.

"Arka," suara berat Pak Surya memecah keheningan yang menyiksa itu. Suaranya menggema, rendah, dan penuh otoritas. "Berapa usiamu tahun ini?"

Arka mendongak perlahan, menelan ludah sebelum menjawab dengan suara serak, "Tiga puluh dua, Pa."

"Tiga puluh dua," ulang Pak Surya, mengangguk-angguk pelan sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja. "Di usia tiga puluh dua, Papa sudah memiliki kamu. Papa sudah memiliki penerus yang sah untuk duduk di kursi dewan direksi kelak. Kehadiranmu saat itu bukan sekadar kebahagiaan keluarga, Arka, tapi sebuah garansi. Garansi bagi para pemegang saham, relasi bisnis, dan seluruh ribuan karyawan yang bergantung pada Grup Surya, bahwa kapal besar ini memiliki nahkoda masa depan yang jelas garis keturunannya."

Aku menundukkan pandanganku ke pangkuanku, meremas gaunku hingga kusut. Tanganku sedingin es.

"Dan sekarang, lihat dirimu," lanjut Pak Surya, nada suaranya mulai menajam, mengiris harga diri putra tunggalnya. "Tiga tahun menikah. Posisi direktur utama sudah di depan mata. Tapi setiap kali kita mengadakan RUPS atau jamuan bisnis, apa yang jadi kasak-kusuk para dewan komisaris? Mereka meragukan kapabilitasmu. Mereka bilang, pria yang tidak bisa mengurus rumah tangganya hingga gagal menghasilkan keturunan, tidak pantas memimpin ribuan orang. Keluarga kita jadi bahan tertawaan di belakang punggung, Arka!"

"Papa tahu aku dan Nayla sudah berusaha. Kami cuma butuh waktu..." Arka menjawab dengan nada bergetar, namun tak ada sedikit pun ketegasan di dalamnya. Itu adalah pembelaan yang rapuh, lebih terdengar seperti rengekan anak kecil yang ketakutan ketimbang pernyataan seorang suami yang melindungi istrinya.

"Waktu?" Tiba-tiba Bu Ratna menyela dari sudut ruangan. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan sentakan halus yang memperdengarkan denting porselen yang memuakkan. Ia berdiri, merapikan gaunnya, lalu berjalan perlahan menghampiri kami. "Sampai kapan, Arka? Sampai rahim istrimu itu benar-benar mengering dan keriput? Sampai Papa lengser dan kursi direktur utama direbut oleh pamanmu sendiri karena kamu dianggap mandul dan cacat?"

Aku terkesiap mendengarnya. Cacat. Kata itu lagi.

"Ibu..." panggilku lirih, memberanikan diri menatap mata wanita yang menatapku seolah aku adalah serangga hama. "Tolong, jangan sebut kami cacat. Aku wanita normal. Rahimku sehat, dokter sendiri yang memastikannya. Kami hanya sedang menunggu waktu dari Tuhan."

"Tuhan tidak akan mengubah nasib kaum yang tidak mau berusaha mencari jalan keluar sendiri, Nayla!" bentak Bu Ratna, suaranya meninggi menembus gendang telingaku. Ia berdiri tepat di sebelah kursiku, menatapku dengan sorot mata menyala-nyala. "Kamu pikir menangis di sini dan berlindung di balik kata 'menunggu waktu Tuhan' akan menyelamatkan wajah keluarga ini di depan publik? Kamu sangat naif atau memang sengaja menutup mata karena kamu nyaman hidup bermanja-manja di atas kekayaan suamimu?"

Pipiku memanas, seakan baru saja ditampar dengan keras bolak-balik. Napasku mulai tersengal. Aku ingin membalas, aku ingin berteriak bahwa mereka selama ini telah menipuku soal hasil tes medis Arka. Rahasia yang kudapat dari Dokter Anwar tiga hari lalu meronta-ronta di ujung lidahku, ingin kumuntahkan tepat di wajah arogan mereka.

Anak kalian yang bermasalah! Bukan aku! jerit batinku.

Tapi aku menahannya. Aku menggigit bagian dalam bibirku hingga terasa anyir. Aku tahu, mengungkap kebenaran itu sekarang tanpa memegang bukti fisik rekam medis Arka di tanganku, hanya akan menjadi bumerang. Mereka akan menyebutku gila, tukang fitnah, dan pembohong. Aku berada di kandang mereka. Aku sendirian, dan aku tidak memiliki senjata apa pun.

Pak Surya menghela napas panjang, sebuah gestur pura-pura lelah yang sangat teatrikal. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat tangannya di atas meja, lalu menatapku dan Arka secara bergantian dengan pandangan seorang negosiator bisnis yang dingin dan tanpa belas kasihan.

"Kita tidak akan menyelesaikan apa pun dengan perdebatan emosional seperti ini," ucap Pak Surya dengan nada datar yang membekukan darah. "Sebagai kepala keluarga, saya sudah memberikan waktu, saya sudah memfasilitasi pengobatan, saya sudah cukup bersabar. Tapi kesabaran saya ada batasnya. Perusahaan membutuhkan jaminan, dan saya tidak akan membiarkan keegoisan satu pihak menghancurkan apa yang sudah saya bangun puluhan tahun."

Ia menatap lurus ke arahku. Mata tuanya yang tajam seolah menembus langsung ke dasar jiwaku, menimbang seberapa cepat ia bisa menghancurkanku.

"Nayla," panggilnya, menyebut namaku tanpa intonasi kekeluargaan sedikit pun. "Malam ini, di ruangan ini, saya dan ibunya Arka sudah mencapai satu kesepakatan final. Kami akan memberikan dua jalan keluar untuk masalah ini. Dan kami tidak menerima negosiasi dalam bentuk apa pun."

Ruangan mendadak terasa hampa udara. Jantungku berpacu begitu cepat hingga rasanya tulang rusukku akan retak. Aku menoleh ke arah Arka, menatap suamiku dengan pandangan memohon yang amat sangat. Mas, tolong. Bicara. Jangan diam saja. Jangan biarkan mereka melakukan ini.

Namun, Arka menundukkan kepalanya semakin dalam. Rahangnya mengeras. Ia bahkan tidak berani menatap sekilas pun ke arahku. Pria pengecut ini sudah tahu apa yang akan dibicarakan. Ia sudah tahu, dan ia membiarkannya terjadi.

"Pilihan pertama," suara Pak Surya terdengar seperti lonceng kematian di telingaku. "Kami akan mengurus semua dokumen perceraian kalian secara tertutup. Kamu berpisah baik-baik dengan Arka. Kembali ke keluargamu di kampung. Jangan khawatir soal materi, saya akan memberikan pesangon uang tunai yang sangat cukup untuk menjamin hidupmu selama sisa usiamu, ditambah sebuah rumah dan kendaraan atas namamu. Sebagai kompensasi karena kamu bersedia pergi tanpa membuat keributan di media."

Duniaku berhenti berputar. Udara yang kutarik paksa ke dalam paru-paruku terasa seperti pecahan kaca yang menyayat saluran pernapasanku. Cerai? Mereka menyuruhku menceraikan pria yang sangat kucintai, yang telah bersumpah sehidup semati di hadapan Tuhan, hanya karena urusan penerus bisnis?

"P-Pa..." suaraku bergetar parah, nyaris tak terdengar. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, membuat pandanganku mengabur. "Aku... aku istri Mas Arka. Kami saling mencintai. Tolong, jangan pisahkan kami..."

"Cinta tidak bisa diwariskan ke akta notaris perusahaan, Nayla," sela Bu Ratna dengan nada sinis yang menyakitkan. Ia menatapku dari atas. "Kamu pikir cinta bisa membungkam mulut para pesaing bisnis ayah mertuamu? Berhentilah hidup di dalam novel roman picisan."

"Tapi jika kamu merasa masih terlalu mencintai Arka, atau..." Pak Surya memberi jeda, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang sangat merendahkan. "...atau terlalu sayang untuk melepaskan statusmu sebagai nyonya di keluarga ini, kami memberikan pilihan kedua."

Aku menahan napas. Tanganku mencengkeram pegangan kursi kayu dengan sangat kuat.

"Kamu tetap menjadi istri sah Arka. Kamu tetap tinggal di rumah kalian, tetap menikmati semua fasilitas kartu kredit dan kehidupan mewah ini. Statusmu di mata publik tidak akan berubah," lanjut Pak Surya perlahan, menikmati setiap detik penyiksaan psikologis yang ia lakukan kepadaku. "Dengan syarat... kamu harus ikhlas dan menyetujui Arka menikah lagi."

Deg.

Waktu seolah terhenti. Suara jam dinding menghilang. Suara deru AC menghilang. Aku merasa jiwaku ditarik paksa keluar dari ragaku, lalu dilemparkan ke dasar jurang yang gelap gulita.

"Poligami," tegas Bu Ratna, mengucapkan kata terkutuk itu dengan sangat ringan, seolah ia sedang menawarkan menu makanan tambahan. "Arka akan mengambil istri kedua. Perempuan dari keluarga baik-baik yang sudah terbukti subur dan bisa langsung memberikan pewaris untuk keluarga ini. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Kamu hanya perlu diam, menandatangani surat persetujuan, dan tetap tersenyum di depan kamera wartawan."

Mulutku terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Otakku rasanya mengalami korsleting hebat. Aku menatap mertuaku silih berganti dengan pandangan horor yang tak terlukiskan. Mereka gila. Keluarga ini benar-benar sakit jiwa.

Mereka menyuruhku memilih antara memenggal leherku sendiri atau meminum racun setiap hari sampai aku mati membusuk dari dalam.

Aku menoleh dengan gerakan kaku ke arah kursi di sebelahku. "Mas..." panggilku, suaraku pecah, air mata akhirnya jatuh menganak sungai membasahi pipiku. "Mas Arka... kamu... kamu dengar apa yang mereka bilang? Mas, tolong bicara..."

Aku meraih tangan suamiku, menggenggamnya erat-erat, menyalurkan semua ketakutan, keputusasaan, dan rasa sakitku. Aku sangat berharap ia akan menepis omongan gila orang tuanya. Aku berharap ia akan berdiri, menarik tanganku, membawaku keluar dari ruangan neraka ini, dan membuktikan janjinya bahwa akulah satu-satunya wanita di hidupnya.

Arka perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap tanganku yang menggenggam tangannya dengan putus asa, lalu menatap mataku. Matanya merah, terlihat lelah dan dipenuhi rasa bersalah yang memuakkan.

Namun, yang ia lakukan selanjutnya adalah hal yang paling menghancurkan dalam hidupku.

Dengan perlahan, Arka menarik tangannya dari genggamanku. Lepas. Jari-jariku yang dingin kini menggantung di udara, kehilangan pegangan.

"Nay..." Arka berbisik parau. Ia menelan ludah, membuang muka tak sanggup menatap wajah hancurku. "Aku... aku nggak mau kita cerai, Nay. Aku nggak bisa kehilangan kamu. Kamu tahu kan, aku sayang banget sama kamu."

Aku tersenyum pedih di sela tangisku. "Kalau begitu, kita pergi dari sini, Mas. Kita keluar dari rumah ini. Kita bisa hidup berdua, biar dari nol pun aku siapβ€”"

"Tapi aku nggak bisa kehilangan perusahaan ini, Nay," potong Arka cepat, suaranya kini sedikit lebih keras, memotong jalur harapanku tanpa ampun. Ia menatapku dengan sorot mata pengecut yang dipenuhi egoisme absolut. "Papa benar. Aku ditekan dari semua sisi. Posisiku terancam. Aku butuh penerus... Aku butuh keturunan untuk mengamankan hakku di perusahaan."

Duniaku runtuh detik itu juga. Hancur berkeping-keping tanpa sisa.

Pria ini... suamiku yang dulu bersumpah akan menjagaku, baru saja mengonfirmasi bahwa ia bersedia membagiku dengan wanita lain demi mengamankan kursi jabatannya.

"Jadi..." napasku tersengal, dadaku sakit seolah ada ribuan jarum yang ditusukkan ke dalamnya. "Kamu... setuju dengan semua ini? Kamu mau menikah lagi?"

Arka menunduk dalam-dalam. "Ini cuma untuk formalitas, Nay. Cuma demi anak. Tolong, ngertiin posisi aku. Cintaku cuma buat kamu, aku janji. Tapi aku nggak punya pilihan lain."

Tidak punya pilihan. Kata-kata itu terdengar sangat menjijikkan keluar dari mulutnya. Ia punya pilihan. Ia selalu punya pilihan untuk berdiri sebagai seorang pria sejati, melindungi istrinya, dan menolak tunduk pada tradisi kolot yang menindas. Tapi ia memilih untuk menjadi boneka pengecut yang lebih mencintai harta dan kekuasaan daripada wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuknya.

Aku duduk terpaku di atas kursiku, menatap ketiga manusia yang berada di ruangan ini dengan pandangan nanar. Dua orang tua tiran yang memaksakan kehendak mereka dengan menginjak-injak harga diri manusia lain, dan seorang suami bermental tempe yang rela menumbalkan hati istrinya demi kestabilan finansial.

Aku dikepung. Tidak ada celah untuk lari. Jika aku memilih cerai, aku akan dibuang, difitnah sebagai istri pembangkang, dan kehilangan segalanya saat aku belum memiliki pegangan apa pun. Tapi jika aku bertahan... aku harus menelan pil pahit melihat suamiku bersanding dengan wanita lain.

"Jadi, apa keputusanmu, Nayla?" suara Bu Ratna membuyarkan lamunanku. Ia tersenyum menang, tahu persis bahwa ia telah berhasil menyudutkanku ke tepi jurang. "Pilih dengan cerdas. Karena malam ini juga, semuanya harus sudah diputuskan."

Aku menundukkan kepala. Air mataku jatuh menitik ke pangkuanku secara beruntun, tak bisa dihentikan. Tubuhku bergetar hebat. Di ruangan yang megah dan beraroma cerutu mahal ini, harga diriku sebagai seorang wanita benar-benar dipijak hingga rata dengan lantai marmer tempatku berpijak. Aku dipaksa menelan racun yang disodorkan kepadaku oleh orang-orang yang seharusnya menjadi keluargaku.