Bulan-bulan pertama pernikahan kami terus berlalu dengan berbagai cerita. Hamdan adalah orang yang sangat berbeda dari bayangan suami ideal yang kumiliki dulu. Tapi justru perbedaan itulah yang membuatku makin dalam menghargainya.

Suatu hari aku menemukan dua SMS di ponsel Hamdan. Pesan itu dalam bahasa daerah dari nomor tak dikenal. Iseng kuterjemahkan dengan bantuan Dewi, dan isinya membuat hatiku gelisah. Ada nama perempuan — Nadia — yang disebut-sebut sedang sakit dan meminta Hamdan pulang.

"Bang, ada SMS tentang Nadia. Siapa dia?"

Hamdan membaca SMS itu dengan wajah yang mendadak serius. "Hm. Abang harus cari tahu kabarnya."

"Siapa Nadia?"

Hamdan tidak langsung menjawab. "Nanti Adek tahu sendiri."

Dalam pikiranku langsung berputar berbagai skenario buruk. Jangan-jangan ada istri simpanan di kampung. Jangan-jangan aku istri kedua. Semua kekhawatiran itu bergolak di dada.

Berhari-hari aku penasaran sampai akhirnya aku nekat bertanya langsung pada Pak Darman ketika beliau datang berkunjung.

"Nadia itu siapa, Pak?"

Pak Darman tertawa kecil. "Nadia itu guru yang pernah mengajar Hamdan waktu dia kecil. Dia tinggal di Jawa. Anaknya Nadia yang kirim SMS — katanya Nadia sakit keras dan ingin ketemu Hamdan sebelum terlambat."

"Oh." Aku sedikit lega, tapi juga penasaran dengan hubungan seperti apa yang membuat seorang murid masih sangat dekat dengan gurunya puluhan tahun kemudian.

Cerita yang kemudian kudapat dari Pak Darman dan dari Hamdan sendiri — sepotong demi sepotong — menggambarkan sosok yang lebih utuh. Nadia adalah guru muda yang pernah mengajar di sekolah desa tempat Hamdan bersekolah. Perempuan berpendidikan dari kota yang mengabdikan diri ke pelosok. Hamdan muda sangat terkagum-kagum padanya — kekaguman seorang murid yang mungkin sedikit berkembang menjadi perasaan lain.

Nadia kemudian pergi, menikah, pindah ke Jawa. Hamdan meninggalkan kenangan itu, memfokuskan diri pada usaha, dan tidak menikah selama bertahun-tahun. Sampai Ayahku yang memperkenalkannya padaku.

"Abang pernah cinta pada Nadia?" tanyaku suatu malam.

Hamdan terdiam cukup lama. "Dulu, iya. Tapi waktu itu Abang belum cukup umur untuk tahu apa artinya cinta. Yang Abang tahu, Nadia adalah orang pertama yang membuat Abang percaya bahwa orang baik itu ada di mana-mana."

"Dan sekarang?"

"Sekarang Abang sudah menemukan orang baik itu di depan mata. Namanya Zahra," jawabnya sambil melirikku.

Aku mendorong bahunya sambil menahan senyum.

Yang paling mengejutkan adalah hari ketika Pak Darman datang berkunjung ke Medan. Beliau datang bersama saudaranya — yang Hamdan panggil "Bu'de" itu. Dan beliau membawa sebuah tas kresek hitam.

"Ini, Maen," kata Pak Darman, menyerahkan tas kresek itu padaku.

Aku membukanya. Penuh dengan uang tunai. Banyak sekali. Tanganku gemetar.

"Ini hasil panen sawit bulan ini. Sudah dipotong upah pekerja dan biaya pupuk. Sisanya ini," kata Pak Darman.

"Kok dikasih ke saya, Pak?"

"Dalam rumah tangga, istri itu menteri keuangannya. Bendaharanya. Sekaligus banknya," kata Pak Darman dengan senyum bijak.

"Simpan, Dek," perintah Hamdan dari balik koran yang dipegangnya.

Dengan tangan masih gemetar, aku mengangkat tas kresek itu dan menyimpannya di bawah tempat tidur. Entah berapa isinya. Aku tidak berani menghitungnya dulu.

Bu'de kemudian menyerahkan amplop lagi. "Ini uang sewa rumah dari kos-kosan."

Ah. Aku bendahara. Aku menteri keuangan. Jabatan yang belum pernah kusangka akan kusandang dengan cara yang tidak pernah kubayangkan.

Aku duduk di tepi tempat tidur, memandangi tas kresek hitam berisi uang itu, dan tersenyum pelan. Mungkin inilah jawaban dari semua keherananku selama ini tentang dari mana suamiku mendapat uang belanja setiap bulan. Dia bukan pengangguran. Dia hanya... berbeda cara kerjanya.