Namanya kuno, Hamdani Batubara, biasa dipanggil Hamdan. Tidak punya akun Facebook, apalagi Instagram. Kontak di ponselnya hanya ada dua belas nomor, semuanya anggota keluarga. Begitulah suamiku. Kakakku bilang dia suami jadul yang seperti hidup di era tahun delapan puluhan, padahal sekarang sudah tahun dua ribuan.

"Enak juga ya punya suami model lama begitu. Orang-orang pada sibuk main ponsel masing-masing, suamimu malah cabut rumput," kata kakakku, Fira, seraya menunjuk ke arah Hamdan yang sedang berjongkok di halaman rumah orang tua, tangan kanannya sibuk mencabuti ilalang yang tumbuh liar.

Perkataan Fira itu terasa seperti tamparan pelan di piangku. Niat hati ingin membela, tapi lidah ini kelu. Apa yang harus kukata? Bahwa suamiku memang begini adanya?

Saat itu kami sedang berkumpul seperti biasa, semacam arisan tidak resmi yang sudah jadi tradisi keluarga besar kami. Sebulan sekali, semua anak dan menantu berkumpul di rumah Ayah dan Ibu. Dan seperti biasa pula, ketika semua orang asyik dengan layar ponsel masing-masing, suamiku justru berkeliling rumah mencari-cari pekerjaan yang bisa dikerjakan. Tadi menyapu halaman, kini mencabut rumput liar di sisi pagar.

"Maklumi sajalah. Orang kampung memang keahliannya cabut rumput," celutuk Mas Bowo, suami kakak sulungku, sambil tertawa kecil yang terdengar lebih mengejek daripada bercanda.

Aku menggigit bibir bawahku. Ingin sekali aku berkata sesuatu yang pedas. Tapi suamiku yang berada tidak jauh dari kami seolah tidak terganggu sama sekali. Dia terus mencabut rumput dengan tenang, seperti tidak mendengar apa-apa.

Keluarga kami besar, enam bersaudara. Aku anak ketiga, dan ironinya akulah yang paling terakhir menikah. Ketika adik bungsuku, Mira, sudah punya dua anak, aku baru saja mendapat jodoh. Itupun karena dijodohkan Ayah. Lelaki kampung, pengangguran pula menurut banyak orang. Aku bilang pengangguran karena memang Hamdan tidak pergi kerja ke kantor, tidak punya karyawan ID, tidak punya slip gaji. Seharian hanya di rumah. Namun anehnya, setiap awal bulan dia selalu memberikan uang belanja yang jumlahnya tidak pernah membuatku kekurangan. Dari mana asalnya, aku belum tahu. Kami baru tiga bulan menikah. Bahkan aku belum tahu dengan pasti dia kerja apa.

Penampilannya pun memang sungguh jadul. Rambutnya dibiarkan tumbuh panjang di bagian belakang, diikat dengan karet gelang seperti ekor kuda. Di rumah seharian hanya pakai sarung dan kaus oblong lusuh. Kalau pergi baru memakai celana panjang, tapi modelnya bukan celana modern.

"Gaul dikit napa, Bang?" tanyaku waktu itu, mendatanginya yang sedang sibuk di halaman. Aku sudah tidak tahan dengan sindiran saudara-saudaraku sendiri.

"Abang tidak percaya diri, Dek," jawab Hamdan dengan nada santai, tangannya masih terus mencabut rumput. "Cerita mereka soal kantor terus, proyek terus, Abang cuma tahu soal rumput sama tanah."

"Sudah, kalau begitu Adek bantu cabut rumput juga," kataku akhirnya, duduk di sebelahnya dan mulai ikut bekerja.

Hamdan melirikku dengan ekspresi aneh — antara terharu dan heran — tapi tidak berkata apa-apa. Kami mencabut rumput berdua sampai halaman itu bersih, sementara saudara-saudaraku masih asik dengan ponsel mereka masing-masing.

Perkenalan kami dulu sangat singkat. Hanya sepuluh hari sebelum akad nikah.

"Kamu percaya pada Ayah, Zahra?" begitu kata Ayah waktu memperkenalkan kami.

"Tentu saja percaya, Ayah," jawabku.

"Menikahlah dengannya," kata Ayah, menunjuk pria jadul berambut gondrong yang berdiri kikuk di sebelahnya.

Waktu itu aku hanya diberi waktu satu hari untuk berpikir. Aku terima dengan pertimbangan usiaku yang sudah kepala tiga, dan karena aku percaya penuh pada Ayah. Tidak mungkin beliau menjerumuskan putrinya sendiri ke dalam kesengsaraan. Kami menikah sepuluh hari kemudian. Yang lebih aneh lagi, aku bahkan belum pernah dibawa ke rumah mertua. Berkenalan dengan keluarga besar Hamdan hanya saat resepsi pernikahan saja.

Aneh? Tentu saja. Tapi itulah hidupku.

Makan siang hari itu kami kumpul di ruang makan, enam anak beserta pasangan masing-masing. Ayah duduk di ujung meja dengan wajah serius, tanda beliau hendak bicara sesuatu yang penting.

"Ayah berencana mau umroh," kata Ayah membuka percakapan. Suasana meja makan langsung sunyi. "Tapi uangnya belum ada. Bersediakah kalian membantu Ayah?"

Semua terdiam. Saling pandang. Ini baru pertama kalinya Ayah meminta bantuan finansial dari anak-anaknya. Selama ini beliaulah yang selalu membantu kami. Hampir semua anaknya pernah diberi modal usaha oleh Ayah.

"Ayah tahu usaha lagi sepi," akhirnya Mas Rudi, kakak sulungku, angkat bicara. "Tapi aku bantu juga, satu juta."

Satu juta? Dia yang paling mapan di antara kami hanya sanggup satu juta? Aku menahan napas.

"Aku juga satu juta," sambung kakakku yang kedua, Kak Fira. Diikuti saudara-saudara lain yang masing-masing hanya bisa membantu lima ratus ribu.

Total hanya sekitar empat juta. Biaya umroh berapa kali lipatnya.

"Batalkan saja, Ayah. Uang segitu tidak cukup, jauh dari biaya umroh," kata Mas Rudi.

"Sisanya biar aku yang talang." Tiba-tiba suara tenang itu terdengar. Suara Hamdan.

Semua kepala di meja itu berbelok ke arah suamiku. Termasuk aku. Hamdan bicara dengan nada yang sangat yakin, padahal rumah kami saja masih ngontrak.

"Bang?" panggilku setengah bertanya, ingin memastikan.

"Iya. Aku bayar semuanya," kata Hamdan, matanya tidak berkedip.

Ayah menutup pembicaraan dengan mengucap "Alhamdulillah" lalu masuk ke kamar beliau. Sementara suasana di meja makan jadi riuh dengan bisik-bisik.

"Aku yakin ini hanya candaan Ayah," kata adik bungsuku, Mira.

"Benar juga. Ayah pasti sedang menguji kita. Makanya Bang Hamdan berani bilang begitu, karena sudah dikasih tahu Ayah duluan," kata Mas Rudi dengan yakin.

"Beli bedak saja dia tidak mampu, mau berangkatkan Ayah umroh?" sambung Kak Fira.

Aku melirik suamiku. Dia hanya diam seperti biasa. Orang-orang membicarakannya di depan matanya sendiri, dan dia tidak bereaksi sedikit pun.

Kutarik tangan Hamdan, kuajak bicara berdua di sudut ruangan yang agak sepi.

"Bang, apa benar?" tanyaku langsung.

"Iya, Dek. Benar."

"Kalau memang ada uang sebanyak itu, lebih baik kita beli motor baru dulu, Bang. HP baru juga."

"Lo, kok Adek bicara begitu? Itu orang tuamu, Dek. Mungkin ini keinginan terakhirnya."

Aku terdiam. Tertampar pelan oleh logika sederhana yang tidak pernah terpikirkan olehku.

"Baik. Tapi dari mana Abang ambil uang sebanyak itu?"

"Itu hanya seharga seekor sapi, Dek."

"Seekor sapi?"

"Iya. Seharga satu sapi saja."

Aku menatap wajah tenangnya yang sungguh tidak bisa kubaca. Satu sapi? Seekor sapi seharga biaya umroh dua orang? Berapa harga sapinya?

Banyak yang tidak aku tahu tentang lelaki yang sudah tiga bulan menjadi suamiku ini. Dan kurasa, aku perlu mulai mencari tahu.