Ketika mengantar Ayah ke bandara, suasana terasa begitu mengharukan. Ayah memeluk kami satu per satu, air matanya menetes seperti hendak pergi untuk selamanya, padahal beliau hanya berangkat umroh.

"Tugas Ayah sudah selesai. Kalian semua sudah berumah tangga. Yang rukun ya, anak-anakku. Jangan saling iri," pesan Ayah dengan suara bergetar.

Memang betul, sebelum aku menikah Ayah selalu terlihat gelisah. Setiap bertemu selalu menanyakan kapan aku menikah. Aku terlambat menikah bukan karena tidak laku, tapi karena setiap hubungan yang kujalani selalu berakhir sebelum sampai ke pelaminan. Entah kenapa. Sampai akhirnya aku kelelahan menunggu dan menyerahkan semuanya pada takdir. Siapa sangka di usia tiga puluh dua tahun aku bertemu jodoh — lelaki lajang berusia tiga puluh enam tahun — yang dijodohkan langsung oleh Ayah.

Setelah Ayah berangkat, kami semua kembali ke rumah masing-masing.

Suatu sore, aku melihat Hamdan sedang membuat bangku dari kayu di halaman belakang. Sudah beberapa kali ini aku melihatnya membuat perabot sendiri — kandang ayam, rak buku, bahkan lemari kayu yang kini berdiri kokoh di kamar kami. Semuanya dibuat dengan tangannya sendiri.

"Bang, aku pengen main ke kampung Abang," kataku tiba-tiba.

Hamdan menghentikan pekerjaannya sebentar, menatapku dengan ekspresi ragu.

"Tidak ada enaknya di kampung, Dek. Adek tidak akan tahan. Rumah terdekat jaraknya seratus meter lebih. Sapi berkeliaran bebas, bukan yang dikandangkan — justru rumah yang seperti dikandang, sementara sapinya yang bebas keluyuran." Hamdan tersenyum kecil menceritakannya.

Aku justru makin penasaran. Seperti apa peternakan dengan ratusan sapi itu?

"Abang punya kebun sawit ya?" tanyaku.

"Sedikit, Dek."

"Tapi Ayah bilang luas?"

Hamdan meletakkan pahatnya dan duduk lebih nyaman. "Begini, Dek, Abang kasih gambaran ya. Ada kebun sawit sepuluh hektar. Sekelilingnya dipagar, terus sapi dilepas di bawah pohon sawit di dalam kebun itu. Di dalam kebun ada enam rumah karyawan, plus rumah kita jadi tujuh. Bayangkan, seluas sepuluh hektar hanya tujuh keluarga. Jarak dari jalan besar ke kebun kita empat puluh kilometer, dan jalannya belum bagus. Kalau Adek ke sana, belum sampai sudah pingsan duluan." Dia tertawa lepas — pertama kalinya aku melihatnya tertawa seperti itu.

"Aku tetap mau, Bang."

"Ya sudah, nanti kita ke sana. Sekarang kita masih bulan madu."

"Sudah tiga bulan, masih bulan madu?" tanyaku sambil mencubit pinggangnya pelan.

"Iya, Dek. Sebenarnya Abang ingin selamanya bulan madu. Sudah dua puluh tahun lebih Abang kerja keras, sekarang ingin menikmati hidup. Ingin lihat dunia yang luas ini."

"Emang bisa selamanya bulan madu? Kebun dan sapi itu tidak diurus?"

"Ada yang urus, Dek. Kita hanya terima hasilnya setahun sekali. Panen sapi hanya waktu Idul Adha saja."

"Sawit?"

"Itu Ayah yang urus. Biarpun sudah tua, Ayah masih sanggup."

Percakapan kami terhenti ketika ada tamu datang. Dewi, sahabatku sejak SMA, muncul dengan helm masih di kepala.

"Gimana sih kamu, Zahra! Ditelepon tidak diangkat, di-WA tidak dibaca. Kirain kamu sudah pindah ke kutub utara!" seru Dewi begitu membuka helm.

Aku baru ingat, ponselku terletak di kamar. Entah kenapa aku jadi ikut-ikutan suami malas memegang ponsel.

"Memangnya ada apa kamu cari aku, Dew?"

"Ini, nganter undangan. Aku tidak kayak kamu, nikah tidak ngundang teman," kata Dewi sambil menyerahkan undangan berwarna merah muda.

"Wah, laku juga kamu ya, Dew!"

"Ya, iyalah. Datang ya, sekalian kita reuni. Ajak si Tarzan ini," kata Dewi sambil melirik Hamdan sebelum akhirnya pamit pulang.

Reuni? Apa nanti kata teman-teman satu gengku kalau melihat suamiku yang jadul ini?

Hari-hari berlalu, dan rumah tanggaku ini memang terbilang unik. Setidaknya begitu kata orang-orang sekitar. Kami melakukan segalanya bersama — belanja bersama, makan bersama, bahkan menyuci baju pun berdua. Bersama Hamdan, aku perlahan mulai bisa mengurangi ketergantungan pada gadget. Jadulnya Hamdan seperti menular padaku.

Tetangga di sekitar kontrakan kami mulai sering bertanya tentang Hamdan. Penampilan suamiku yang seperti tukang kebun ditambah rambut ekor kudanya membuat mereka tidak henti bergunjing. Sering terdengar bisik-bisik itu sampai ke telingaku.

"Bang, kita tidak bisa terus begini. Berhentilah pura-pura miskin," kataku suatu hari.

"Abang tidak pernah pura-pura, Dek. Memang begini adanya. Orang saja yang menganggap miskin."

"Kita pergi tiap hari saja, Bang, biar dikira tetangga pergi kerja."

"Itu baru namanya pura-pura, Dek."

Ah, susah bicara dengan suamiku ini. Dia tenang-tenang saja jadi bahan pembicaraan orang.

Sampai suatu hari, aku benar-benar naik darah membaca pesan kakak iparku di grup WhatsApp keluarga.

*Hasil dari jaga lilin tidak akan berkah. Lihat saja, rumah saja ngontrak.*

Aku tahu pesan itu ditujukan untukku. Lalu disambung pesan dari istri adikku:

*Bukan jaga lilin, tapi miara bocil.*

"Banggg!" teriakku memanggil suami.

"Ada apa, Dek?"

"Aku lelah selalu dihina! Saudara sendiri pun menghina. Aku mau tunjukkan pada mereka bahwa suamiku punya rumah sendiri. Rumah itu hanya seharga sepuluh sapi!"

Hamdan menatapku sebentar, lalu menggenggam tanganku pelan. "Udah, Dek. Kita beli rumah dan mobil. Telepon bank, kita cairkan uang kita. Kalau kurang, kita jual sapi."

Aku terharu. Di balik penampilannya yang biasa saja itu, ternyata ada seseorang yang tidak terima bila istrinya dihina. Ternyata kelemahan suamiku adalah ini: dia tidak bisa diam bila aku yang diperlakukan tidak baik.

Ah, aku makin cinta pada lelaki jadul ini.

Tapi kemudian aku berpikir. Apa bedanya aku dengan mereka jika aku ikut-ikutan pamer? Mereka rela terjerat cicilan demi terlihat wah. Aku tidak mau seperti itu.

Lagipula, kami baru berdua. Anak pun belum ada. Untuk apa rumah besar?

"Sudah, Bang. Tidak usah. Yang kita butuhkan hanya tempat berteduh. Rumah ini sudah cukup," kataku akhirnya.

Hamdan menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca. Antara bangga dan lega.

Hari undangan pernikahan Dewi tiba. Tadinya aku ingin berpura-pura lupa, tapi Hamdan justru yang mengingatkan.

"Hari ini kan pesta itu, Dek. Kita tidak pergi?"

"Malas, Bang."

"Tidak baik begitu. Diundang orang harus pergi."

Akhirnya kami ke mall dulu untuk membeli pakaian Hamdan. Seperti biasa kalau naik motor, aku yang membawa motor — Hamdan tidak punya SIM dan mengaku gugup berkendara di jalan ramai. Celutukan tetangga tentang "dunia terbalik" sudah biasa kuabaikan.

Di mall, yang terjadi justru sebaliknya. Hamdan sangat pemilih soal pakaian, tidak ada yang cocok menurutnya. Sampai akhirnya matanya tertuju pada satu gerai.

"Itu baru cocok," katanya sambil menunjuk.

Celana jeans, kemeja kotak-kotak flannel, dan topi koboi. Niat mengubah kejadulan suami, yang terjadi malah makin jadul.

Tapi anehnya, ketika Hamdan memakainya dan aku ikat rambutnya ke belakang, dia justru terlihat gagah. Ada sesuatu yang berbeda darinya tadi — aura yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Pesta Dewi malam itu menjadi momen yang tak terduga. Teman-teman gengku semua sudah berkumpul dengan pasangan masing-masing. Sudah kusiapkan diri untuk cemoohan, tapi yang terjadi jauh melebihi perkiraanku.

Salah satu temanku, Romli — mantan pacarku yang dulu selalu suka membuat orang lain tidak nyaman — meminjam mikrofon pembawa acara dan mempersilakan "Pak Koboi" untuk menyumbangkan sebuah lagu sebagai perkenalan.

Aku berbisik pada Hamdan, "Jangan mau, Bang. Itu mantanku. Dia sengaja mau buat Abang malu."

Hamdan justru naik ke panggung.

Jantungku seperti berhenti sejenak. Apa yang akan dilakukan suamiku di atas sana?

Kulihat Hamdan bicara sebentar dengan pemain keyboard, lalu pemain itu memberikan seruling. Hamdan mengangkat seruling bambu itu ke bibirnya.

Dan kemudian...

Suara seruling itu mengalun. Mendayu-dayu. Melambat. Menghanyutkan.

Seluruh suasana pesta yang ribut itu tiba-tiba sunyi. Semua orang berhenti bicara. Musik pengiring bahkan berhenti bermain sendiri. Yang terdengar hanya suara seruling Hamdan yang seperti mengalir dari jantung alam yang paling dalam.

Lalu Hamdan mulai bernyanyi. Aku tidak mengerti kata-katanya — mungkin bahasa daerahnya — tapi nadanya seperti tangisan indah yang tidak bisa ditahan. Setelah sebait, seruling berbunyi lagi. Bergantian. Seperti dialog antara manusia dan alam.

Ketika lagu itu selesai, seluruh tamu pesta bertepuk tangan riuh. Aku yang tidak menyangka justru menangis pelan. Entah apa yang sedih — mungkin justru aku tidak tahu apa yang kurasakan selain kagum dan terharu.

Pembawa acara kemudian mengambil mikrofon. "Sekedar informasi, lagu yang baru kita dengarkan adalah seni tradisional dari tanah leluhur Sumatera. Biasanya dinyanyikan para penggembala atau untuk menidurkan bayi. Saya cukup terkejut masih ada yang bisa menyanyikannya, karena kesenian ini sudah hampir punah."

Semua mata memandang suamiku yang sudah duduk kembali di sebelahku.

Ah, suamiku memang jadul. Selera musiknya pun ikut jadul. Tapi ternyata banyak orang yang rindu pada kejadulan itu.

Aku menggenggam tangannya erat. "Abang luar biasa."

Hamdan hanya tersenyum kecil, seperti tidak ada yang istimewa. "Kenapa menangis, Dek?"

"Entah. Indah sekali."

"Itu lagu yang dulu dinyanyikan Ibu untuk menidurkan Abang waktu kecil."

Aku tidak berkata apa-apa lagi. Hanya menggenggam tangannya lebih erat sepanjang jalan pulang.