Sepulang dari pesta, hidup kami berjalan seperti biasa. Sampai suatu malam, aku iseng membuka ponsel jadul Hamdan yang tergeletak di atas meja. HP Nokia lama itu hampir tidak pernah berbunyi.

Ternyata ada dua SMS yang belum terbaca.

Iseng, kubuka. Tulisannya dalam bahasa daerah yang tidak kupahami. Dari nomor tak dikenal. Ada satu nama yang membuatku terpaku: Mawar.

*Si Mawar marun, dung do kehe Abang, seteres ia, mulak jolo, Bang, ligi si Mawar.*

Begitu kira-kira tulisannya. Aku tidak mengerti. Segera kufoto layarnya dan kukirim ke Dewi.

*Tolong translate ini, Dew.*

Tidak lama kemudian balasan Dewi masuk.

*Artinya kira-kira: Si Mawar sakit, semenjak Abang pergi dia stres, pulanglah, lihat si Mawar.*

Tanganku dingin. Siapa Mawar? Kenapa ada wanita yang minta suamiku pulang dengan alasan stres karena ditinggal?

Keesokan harinya Hamdan melihat SMS itu dan wajahnya langsung berubah. Serius. Sedikit panik.

"Oii, Mawar, Mawar," gumamnya.

"Bang, apa benar itu?" tanyaku.

"Abang harus pulang, Dek. Tolong pesan tiket bus."

"Aku ikut."

"Tidak bisa, Dek. Nanti kamu bisa sakit malaria di sana."

"Pokoknya aku ikut."

"Jangan, Dek. Nanti kamu sakit."

"Takut si Mawar cemburu ya?"

"Iya, Dek. Si Mawar suka cemburu."

Aku menahan napas. Suamiku baru saja mengakui ada wanita lain yang cemburu. Dan dia malah bilang iya.

Dengan perasaan campur aduk, kupesan tiket bus. Habis. Kupesan travel online. Akhirnya kudapat seorang teman yang bisa disewa sebagai sopir rental sampai ke kampung.

Perjalanan itu menghabiskan hampir semalam penuh. Aku mabuk sepanjang jalan, muntah beberapa kali, dan hampir pingsan saat melewati jalan berbatu empat puluh kilometer menjelang akhir perjalanan. Hamdan terbukti benar — aku memang tidak tahan.

Tapi aku tidak mau kalah. Rasa cemburu itu menguatkan tekadku.

Sesampainya di kampung, kotoran sapi menyambutku pertama kali. Kakiku menginjak gundukan yang cukup besar. Di mana-mana ada sapi — tidak dikandangkan, berkeliaran bebas di antara pohon-pohon sawit yang tinggi.

Seorang wanita tua menyambutku masuk ke rumah panggung yang besar. Hamdan langsung menghilang ke arah ladang. "Tunggu sini ya, Dek. Abang lihat si Mawar sebentar."

Aku terlalu lemah untuk protes. Aku masuk, seorang gadis memijat kakiku sampai aku tertidur.

Ketika aku bangun, Pak Darman — ayah mertua — sudah ada di ruangan.

"Bagaimana keadaan si Mawar, Pak?" tanyaku setelah salim.

"Entah. Kotorannya encer, sudah tua juga. Dua puluh tahun lebih."

"Dua puluh tahun dibilang tua?"

"Iya. Umur sapi memang cuma segitu kira-kira."

Aku membeku. "Jadi... si Mawar itu sapi?"

"Ya, iya. Tapi bukan sapi biasa. Jenis limosin. Itu sapi pertama si Hamdan. Sayang sekali dia pada sapinya itu. Tidak dia kasih dijual padahal sudah tua. Sudah enam kali beranak. Sapinya itu aneh — kalau melihat Hamdan dekat dengan wanita, dia bisa ngamuk." Pak Darman tertawa pelan.

"Ya, Allah," bisikku. Aku cemburu pada sapi.

"Jangan dekat Hamdan dulu kalau si Mawar sudah pulang ya," kata Pak Darman menambahkan.

Malam harinya Hamdan pulang dari dokter hewan.

"Kenapa tidak bilang Mawar itu sapi?" tanyaku langsung.

Hamdan tertawa. "Ada yang cemburu sama sapi."

"Kenapa namanya harus Mawar?"

"Dia gemuk dan kulitnya kemerahan. Mirip bunga mawar yang mekar."

"Sapi itu harus dijual, kata dokter hewan umurnya tidak akan sampai dua tahun lagi. Uangnya untuk Adek saja," kata Hamdan kemudian.

"Kenapa untuk aku, Bang?"

"Karena Adek pengganti Mawar kesayangan Abang."

Aku hampir melempar bantal ke mukanya. Pengganti sapi. Suami macam apa ini.

Keesokan harinya, aku berkeliling kampung bersama Pak Darman. Ada dua truk besar parkir di sana. Enam kandang sapi yang cukup besar. Dua puluh lima orang karyawan bekerja mengolah kotoran sapi jadi pupuk, memanen sawit, dan merawat ternak.

"Abang-abangnya Bang Hamdan di mana, Pak?" tanyaku.

"Mereka merantau semua. Bang Rahmat di Kalimantan, Bang Syamsul di Jambi, adiknya Arif di Riau. Mereka semua usahanya sama — berkebun sawit dan ternak sapi."

Malam itu, setelah Hamdan pulang dan kami berdua, aku mendapat gambaran lebih lengkap tentang usahanya.

Satu sapi penggemukan menghasilkan sekitar sepuluh juta dalam setahun, dibagi dua dengan peternak yang mengurusnya, jadi lima juta per sapi per tahun. Dua ratus sapi... berarti satu milyar per tahun dari penggemukan saja. Dibagi dua dengan para peternak, berarti lima ratus juta setahun. Belum ditambah hasil sawit dan pembibitan.

Aku menghitung pelan-pelan. Hamdan menghasilkan ratusan juta setahun, hanya dengan duduk di rumah dan sesekali mengurus paparannya sendiri. Dan dia memakai HP Nokia lama, tidak punya akun media sosial, dan mencabut rumput di halaman rumah orang tuaku.

Dunia memang penuh kejutan.