Setelah pesta Dewi, aku semakin sering melihat sisi-sisi Hamdan yang tidak pernah kutebak sebelumnya. Hari demi hari, lapisan demi lapisan, lelaki jadul ini terus mengejutkanku.
Dari pesta itu, kami pulang dengan Hamdan yang masih mengenakan pakaian koboinya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba dia menghentikanku.
"Dek, kenapa tadi kakak ipar bilang Adek 'telanjang'?"
Aku menjelaskan bahwa itu bahasa gaul Medan — artinya pergi ke pesta tanpa memakai perhiasan.
Wajah Hamdan berubah. Sesuatu yang jarang sekali terjadi — marah.
"Abang tidak terima Adek disebut telanjang. Seolah-olah Abang tidak mampu belikan perhiasan."
"Bang, tidak usah ditanggapi—"
"Tidak bisa. Kita mampir dulu."
Kami berhenti di ATM. Lalu Hamdan mengeluarkan uang dari dompetnya — segepok yang menurutku tidak lazim dibawa orang kemana-mana.
Di toko emas, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku masuk ke toko emas bukan sekadar untuk lihat-lihat. Kami membeli kalung emas murni, gelang, dan sepasang anting. Nilainya jauh melebihi yang pernah kubayangkan.
Sepanjang malam itu aku berdiri di depan cermin, memandangi diriku sendiri yang berhias emas. Bukan karena emas itu mahal — tapi karena cara suamiku yang jadul itu mendapatkannya untukku. Bukan dari cicilan. Bukan karena dipaksa. Tapi karena tidak rela istrinya dihina.
Tapi kesenangan itu terusik ketika aku menemukan sesuatu di ponsel Hamdan. Sebuah SMS lama dari nomor yang tidak dikenal, bertulisan dalam bahasa daerah. Setelah diterjemahkan, isinya ternyata tentang seorang perempuan bernama Nadia yang menyimpan perasaan pada Hamdan sejak dulu.
Lebih mengejutkan lagi, aku menemukan bahwa rambut ekor kuda Hamdan yang selalu dia jaga itu ternyata ada kaitannya dengan Nadia. Sebuah janji yang dia buat bertahun-tahun lalu — bahwa dia akan memanjangkan rambut belakangnya sampai mereka bertemu lagi.
Malam itu, ketika Hamdan tertidur, aku mengambil gunting. Dengan tangan sedikit gemetar karena campuran cemburu dan rasa bersalah, aku menggunting kuncir itu.
Keesokan paginya, Hamdan panik.
"Dek, rambutku hilang, Dek!"
"Mungkin digigit tikus, Bang."
"Mana mungkin!"
"Mungkin si Nadia sudah ikhlas, Bang."
Hamdan terdiam. Lalu menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. "Ini sudah dua puluh tahun, Dek. Selalu kujaga tetap seperti ini."
"Aku yang gunting, Bang. Cemburu. Ternyata Abang berambut begitu karena perempuan."
"Adek egois," kata Hamdan dengan nada lebih serius dari biasanya. Baru kali ini aku melihatnya marah padaku.
Aku memeluknya dari belakang. "Maafkan Adek, Bang. Abang sendiri yang buat Adek cemburu."
Setelah keributan kecil itu mereda, aku mengusulkan sesuatu. "Biar Adek bantu cari si Nadia."
"Bagaimana caranya?"
"Lewat Facebook. Kalau dia masih hidup, pasti ketemu."
Aku buat postingan yang sengaja terlihat mesra — foto kami berdua dengan caption: *Bagi yang kenal Nadia, tolong sampaikan, ini Bang Hamdani mau tepati janji.*
Kubagikan ke beberapa grup Facebook, berharap pesan itu sampai pada Nadia. Bagaimanapun, aku kasihan pada suamiku yang terus merasa berhutang pada masa lalunya itu.
Tidak lama kemudian, kabar tentang pindahan kami juga mewarnai hari-hari itu. Rumah orang tua yang sudah kami beli harus ditempati. Kami pindah dari kontrakan ke sana.
Tapi saudara-saudaraku langsung datang dengan tuntutan. Adik bungsuku, Riki, bicara soal isi rumah — tempat tidur tua, sofa Jepara, vespa Ayah — semuanya mau dibagi-bagi.
"Kasikan saja semuanya. Kita beli yang baru," kata Hamdan.
Aku malu pada diriku sendiri. Tapi dari pada bertengkar, kuiyakan saja.
Keesokan harinya, ketika saudara-saudaraku berkumpul dan mulai membahas warisan, Hamdan angkat bicara untuk pertama kalinya dengan tegas.
"Silakan kalian ambil semua. Kosongkan dari sini. Kami tidak akan bayar."
"Kok begitu, sombong sekali kamu, Hamdan?" protes kakak ipar.
"Yang perhitungan itu kalian. Masa belum tiga hari sudah bicara warisan. Padahal harga beli rumah sudah kami lebihkan. Dan ingat pesan Ayah — rukun, jangan saling iri."
Para saudaraku terdiam.
Akhirnya semua isi rumah dilelang oleh saudara-saudaraku sendiri. Bahkan kompor gas pun ikut terjual. Aku malu dengan sifat mereka. Tapi aku juga tahu — tidak semua orang bisa seperti Hamdan, yang selalu melihat dengan mata hati lebih dari sekadar mata kepala.
Pak Darman kemudian datang lagi, membawa hasil panen sawit di tas kresek hitam seperti biasa. Kali ini lebih banyak dari sebelumnya.
"Ini semua untukmu, Maen," kata Pak Darman. "Kamu bendahara keluarga sekarang."
Tanganku gemetar menerima amanah itu.
Di malam harinya, aku duduk di tepi tempat tidur menghitung uang di dalam tas-tas kresek itu. Jumlahnya jauh melebihi yang kupikir.
Dan aku tersenyum.
Bukan karena jumlah uangnya. Tapi karena aku sadar, aku sudah dipercaya oleh keluarga yang luar biasa ini. Keluarga yang tidak memandang ukuran rumah, bukan menilai dari jumlah following media sosial, tapi dari kejujuran dan ketulusan.
Keluarga suamiku yang jadul.
Dan entah sejak kapan, kejadulan itu tidak lagi terasa seperti kekurangan. Justru terasa seperti kelebihan yang langka.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar