Aku sudah hafal urutannya. Concealer dulu, baru foundation. Tepuk lembut, jangan digosok—digosok hanya akan membuat memarnya makin terlihat.
Tiga tahun pernikahan mengajariku banyak hal yang tidak pernah diajarkan ibuku. Salah satunya: cara menutupi tamparan agar tidak terlihat saat foto-foto sosialita di Instagram.
"Bunda kenapa?"
Tanganku berhenti di udara. Di cermin, Bintang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Tujuh tahun, piyama biru bergambar dinosaurus, rambut acak-acakan baru bangun tidur. Mata bulatnya menatapku—mata yang terlalu tajam untuk anak seusianya.
"Bunda nggak kenapa-kenapa, sayang." Aku tersenyum. Bibir kanan masih perih. Damar pukul sambil pakai cincin kawin semalam. "Bunda lagi dandan. Hari ini Bunda harus ikut acara Ayah, kan?"
Bintang tidak bergerak. "Pipi Bunda kenapa?"
"Bunda kepentok lemari pas ambil baju di kamar gelap. Bunda ceroboh."
Aku berbohong dengan terlalu lancar. Aku benci diri sendiri karena itu.
Bintang masih menatap. Lalu, pelan-pelan, dia berjalan masuk dan memelukku dari belakang. Tangannya kecil melingkari pinggangku. Aroma sampo bayi—aku belum tega mengganti samponya karena itu satu-satunya hal yang masih membuatnya merasa kecil dan aman.
"Bunda hati-hati ya."
Aku mengangguk. Tidak berani bicara. Karena kalau bicara, suaraku pecah.
Aroma kopi Damar sampai ke kamar mandi sebelum suaranya.
"Arini!"
Bintang langsung lepaskan pelukannya. Otomatis. Refleks. Anak tujuh tahun tidak seharusnya punya refleks seperti itu. Tapi dia punya.
"Iya, Yah!"
"Cepat. Mobil sudah disiapkan. Aku tidak mau telat seperti minggu lalu."
"Iya, Yah. Lima menit lagi."
Pintu kamar utama dibanting. Aku menutup mata. Menghitung. Satu. Dua. Tiga. Pernapasan kembali normal. Tangan berhenti gemetar.
Aku menatap diriku di cermin. Wanita dua puluh tujuh tahun dengan rambut sebahu yang dulu disebut "wanita karir paling menjanjikan" di kantor akuntan publik tempatku magang. Wanita yang dulu menolak tiga lamaran kerja Big Four karena ingin fokus pada lamaran pernikahan dari Damar Pratama—pria yang katanya "tahu cara menghargai wanita."
Cermin tidak pernah bohong. Wanita di sana sudah lama bukan aku. Itu adalah cangkang.
Aku menyelesaikan riasan. Memakai gaun midi warna nude—pesan Damar, "jangan pakai yang terbuka, kamu sudah tidak pantas." Memakai kalung berlian yang dibelikannya dua bulan lalu setelah dia menendangku sampai aku tidak bisa duduk seharian. Sepatu hak tujuh senti, walau lutut kiriku masih ngilu sisa lemparan kemarin.
Damar menunggu di garasi. Mobil Alphard hitam. Sopir membukakan pintu.
"Senyum," bisik Damar saat aku duduk di sebelahnya. "Pak Wira ada di acara hari ini. Kalau kamu bikin malu lagi, kita bicara di rumah."
Tangan kanannya, yang dulu kukira pernah membelaiku dengan sayang, mencengkeram pahaku terlalu kuat. Tapi aku tersenyum.
"Iya, Yah."
***
Acara peluncuran produk skin care multinasional. Damar diundang sebagai keynote speaker mewakili induk perusahaan. Kupandang dia naik panggung—setelan biru navy yang kusetrika tadi malam, dasi warna sama dengan kalungku, senyum yang membuat seluruh ballroom berdesis kagum.
"Sukses banget suami Mbak Arini ya," seorang istri direktur berbisik di sampingku. "Cakep, pintar, sayang keluarga. Saya pernah lihat dia gendong Bintang di acara CSR—aduh, kayak ayah ideal banget. Saya jadi iri."
Aku tertawa kecil. Sopan. Terlatih. "Alhamdulillah, Mbak."
"Rahasianya apa sih, kok kalian awet? Tujuh, delapan tahun ya?"
"Delapan tahun." Aku menyesap jus jeruk yang sebenarnya terlalu manis untuk lidahku. "Saling memahami aja, Mbak. Saling sabar."
Sabar. Kata itu sudah jadi senjataku. Senjata yang menusuk balik ke jantungku setiap kali kuucapkan.
"Mbak Arini sendiri kenapa nggak buka usaha? Kan latar belakangnya akuntansi. Sayang banget loh."
"Ah, saya fokus ngurus Bintang dulu." Senyumku otomatis. "Suami juga lebih senang saya di rumah."
Lebih senang. Bahasa halus untuk "tidak mengizinkan."
Damar selesai pidato. Tepuk tangan riuh. Dia turun panggung, mata mencari satu orang di antara seluruh ballroom—aku. Begitu pandangan kami bertemu, dia tersenyum manis. Tersenyum sambil membuatku merasa diawasi.
Aku berdiri saat dia mendekat.
"Sayang." Tangannya melingkar di pinggangku, mesra di mata orang luar, mengontrol di mata pemiliknya. "Pak Wira, kenalkan, ini istri saya, Arini."
Pak Wira—pria enam puluhan dengan dasi sutra—menjabat tanganku. "Arini Pratama? Cantik sekali, Damar. Tidak salah pilih kamu."
Aku menunduk. Tersipu palsu.
"Saya yang beruntung, Pak." Damar mencium pucuk kepalaku. "Tanpa Arini, saya bukan apa-apa."
Beberapa istri di sekitar memekik kecil. *Suami romantis banget.* *Damar emang beda dari yang lain.* *Pengen punya suami kayak Pak Damar.*
Aku berdiri di sana. Tubuhku menempel di tubuh pria yang semalam memukulku karena pasta yang kumasak "terlalu matang setengah menit."
Dan aku tersenyum.
***
Telepon itu berbunyi saat acara hampir selesai. Bukan teleponku—teleponku tidak boleh berbunyi di depan umum kecuali nomor Damar. Itu telepon Damar.
Aku duduk di sofa lobby, menunggu sopir mengambil mobil. Bintang sedang menggambar di buku kecil yang kubawakan—dia ikut karena ibuku tidak bisa menjaganya hari ini. Dia menggambar rumah. Tapi rumah itu tidak punya pintu.
Telinga sopanku otomatis mendengar.
Damar berdiri lima meter dariku, di sudut pilar marmer. Wajahnya, yang lima menit lalu masih tersenyum saat foto dengan Pak Wira, sekarang pucat. Putih sama sekali. Tangan yang biasanya tegas memegang HP, sekarang bergetar.
"Dari mana kamu dapat nomor ini?"
Hening.
"Saya bilang—siapa kamu?"
Hening lebih lama.
"Bukan urusan kamu. Jangan pernah telepon nomor ini lagi atau—"
Telepon ditutup. Atau lebih tepatnya, telepon ditutup dari sisi sana sebelum Damar sempat mengancam.
Damar memandangi layar HP-nya. Lama sekali. Wajahnya berubah—dari pucat menjadi sesuatu yang lebih gelap. Aku sudah hafal wajah itu. Itu wajah yang muncul sebelum dia memukul.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Damar Pratama, suamiku selama delapan tahun, pria yang tidak pernah merasa salah, tidak pernah merasa kalah, tidak pernah merasa takut—Damar Pratama, untuk pertama kalinya, terlihat ketakutan.
Tangannya mengepal. Lalu rileks. Mengepal lagi. Rileks lagi.
Aku menarik napas pelan-pelan. Bintang masih menggambar. Rumah tanpa pintu, sekarang ditambah jendela tertutup.
Damar mengangkat kepala. Pandangannya mencariku. Begitu bertemu, dia tersenyum—senyum yang sama sekali tidak sampai matanya.
Dia berjalan mendekat. Duduk di sampingku. Tangannya merangkul, terlihat mesra dari luar, tapi tekanannya di pundakku terlalu kuat.
"Kita pulang sekarang."
"Iya, Yah."
Aku berdiri sambil memegang tangan Bintang. Damar berjalan di depan kami, langkahnya terlalu cepat. Pemandangannya yang biasanya tegak, sekarang terlihat seperti orang yang sedang lari dari sesuatu.
Atau—mungkin—dari seseorang.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku melihat retakan kecil di topeng Damar.
Dan untuk pertama kalinya pula, sebuah pertanyaan kecil tumbuh di kepalaku—pertanyaan yang belum berani kujawab sendiri:
*Siapa di telepon itu? Siapa yang bisa membuat Damar Pratama, monster di rumahku sendiri, terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu?*
Aku menatap punggungnya yang berjalan tergesa di depanku, dan untuk pertama kalinya juga—
—aku merasakan sesuatu yang sudah lama kupikir mati di dalam diriku.
Harapan.
Bahwa mungkin, hanya mungkin, monster itu juga punya monsternya sendiri.
---
*Bersambung ke Bab 2: Senyum di Kamera*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar