Jam sepuluh kurang lima menit. Aku duduk di pojok kamar tamu di rumah Dewi, HP cadangan di tangan, jantung berpacu seperti orang baru selesai lari maraton.
Bintang sudah aku titipkan ke Dewi dan anaknya di ruang depan—mereka asyik nonton kartun. Pintu kamar kututup. Aku perlu sendiri untuk panggilan ini.
Tepat jam sepuluh nol nol, HP berkedip.
Aku angkat di dering kedua.
"Halo?"
"Bu Arini Pratama?" Suara perempuan. Tidak muda, tidak terlalu tua—mungkin akhir tiga puluhan. Suara tenang, terlatih.
"Iya. Saya."
"Saya Vania. Tolong dengarkan saya baik-baik karena saya mungkin tidak punya banyak waktu untuk menelpon Anda lagi."
Vania. Nama itu—
Tanah di Bali. Akta atas nama Damar Pratama dan *Vania Wijaya.*
Tanganku berhenti. Lalu sangat pelan, aku tanya:
"Apakah—apakah nama lengkap Anda Vania Wijaya?"
Hening sebentar.
"Bagaimana Anda tahu?"
Hatiku jatuh. Lalu naik lagi. Lalu jatuh lagi.
"Saya... saya menemukan dokumen di rumah suami saya. Akta tanah di Canggu. Atas nama Damar Pratama dan Vania Wijaya."
Di sana, hening. Lebih lama kali ini. Lalu napas yang panjang.
"Bu Arini, saya akan jujur dengan Anda. Saya bukan istri kedua Damar."
"Lalu Anda siapa?"
"Saya selingkuhannya. Selama tiga tahun. Sampai dua bulan lalu."
Aku menutup mata.
Tiga tahun. Dua bulan lalu. Berarti—berarti Damar berhenti dengan Vania dua bulan lalu. Tapi tanah dibeli setahun lalu. Berarti—
"Tanah itu—"
"Bonus dari Damar. Untuk diam. Saya mengetahui sesuatu tentang dia—sesuatu yang lebih besar dari sekadar perselingkuhan. Dia ingin saya pergi tanpa banyak bicara, jadi dia kasih saya tanah itu."
"Kenapa sekarang Anda menelpon saya?"
Vania menghela napas. Panjang. Berat.
"Karena dua bulan lalu, saya bilang ke Damar saya hamil."
Dunia berhenti.
Aku duduk lebih tegak. HP lekat di telinga sampai sakit.
"Saya tidak hamil. Itu kebohongan saya. Saya tahu dia tidak akan pernah mau punya anak dari selingkuhan—Damar terlalu menjaga citranya. Saya ingin lihat reaksinya."
"Dan?"
"Dan dia menyuruh saya gugurkan. Lalu, dua minggu lalu, dia menyuruh orangnya—seseorang dari kantornya—ke rumah saya. Tujuannya saya tidak tahu pasti. Tapi yang saya tahu, saya beruntung saat itu saya sedang keluar kota."
Aku menelan ludah.
"Bu Vania, Anda bilang Anda... pernah dalam posisi saya. Dan Anda tidak selamat. Apa maksudnya?"
Hening lebih lama.
"Bu Arini, saya juga pernah jadi istri."
Aku tertegun.
"Istri Damar?"
"Bukan. Istri pria lain. Pria yang—seperti Damar. Lima belas tahun lalu. Saya berhasil cerai. Tapi suami saya meninggal dalam kecelakaan mobil enam bulan setelah cerai. Kecelakaan yang sampai sekarang... saya curiga... ada yang mengatur."
"Anda yang mengatur?"
"Bukan."
"Lalu siapa?"
Vania diam. Lama sekali. Lalu—
"Saya tidak akan jawab itu sekarang. Tapi yang harus Anda tahu: saya tidak selamat dari pernikahan saya yang dulu hanya untuk masuk ke neraka yang lebih besar. Saya tahu pria seperti Damar. Saya kenal pria seperti Damar. Karena saya pernah dengan pria seperti Damar."
Aku menutup mata.
"Lalu sekarang—Anda mau saya melakukan apa?"
"Saya ingin Anda selamat. Dan saya ingin Damar dihancurkan. Dua-duanya. Tapi yang nomor satu—Anda selamat. Karena kalau Anda mati seperti suami saya dulu... saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri."
Suaranya pecah. Untuk pertama kalinya, suara Vania—yang tenang dan terlatih—pecah. Aku bisa mendengar tangis yang ditahan di sana.
"Bu Vania."
"Iya?"
"Telepon Anda yang ke Damar, yang dua hari lalu. Anda yang menelpon?"
"Iya. Saya hanya bilang satu kalimat. 'Saya tidak akan diam lagi.' Lalu saya tutup. Cukup untuk membuatnya panik. Cukup untuk membuatnya membongkar rahasianya sendiri—karena pria seperti Damar selalu salah langkah saat panik."
Aku tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya hari itu.
"Saya rasa rencana Anda berhasil. Damar memang panik."
"Bagus."
"Tapi Bu Vania—" Aku menarik napas. "Saya tidak tahu bisa percaya Anda atau tidak. Anda mantan selingkuhan suami saya. Anda punya alasan untuk benci dia dan alasan untuk menjebak saya."
"Saya tahu Bu Arini tidak percaya saya. Itu wajar. Tapi pikirkan ini: kalau saya mau menjebak Anda, saya tinggal kasih info ini ke Damar. Atau ke mertua Anda. Atau ke media. Selesai. Tapi saya menelpon Anda. Anda yang paling bisa saya bantu—dan Anda yang paling tidak bisa membantu saya. Itu bukan strategi seseorang yang mau menjebak."
Vania benar. Logikanya benar.
"Apa yang Anda mau dari saya?"
"Saya ingin Anda kabur dengan benar. Saya akan kirim alamat tempat aman untuk Anda. Pengacara yang bisa dipercaya. Dokter forensik yang bisa dokumentasikan luka-luka Anda. Anda butuh bukti. Banyak bukti. Sebelum Anda berani melapor."
"Anda akan membayari semua ini?"
"Iya."
"Kenapa?"
Vania hening sebentar. Lalu jawabnya, pelan:
"Karena saya tidak punya cara lain untuk meminta maaf kepada istri-istri dan anak-anak yang suaminya pernah memilih saya. Anda salah satu mereka. Saya tahu itu tidak menghapus kesalahan saya. Tapi saya akan melakukan apa yang saya bisa."
Aku menutup mata. Air mataku akhirnya turun. Dua tetes. Lalu kuhapus cepat.
"Bu Vania."
"Iya?"
"Terima kasih."
"Belum. Anda baru harus berterima kasih kalau Anda sudah aman. Sekarang dengarkan. Damar akan pulang dari Surabaya dua hari lagi—saya tahu jadwalnya karena saya yang dulu pegang kalender pribadinya. Dia akan mencari Anda. Anda harus pindah dari rumah teman Anda hari ini juga. Saya akan kirim alamat baru dalam satu jam. Siapkan dokumen-dokumen penting Anda dan anak Anda. Kita harus bergerak cepat."
"Iya."
"Dan satu hal lagi."
"Apa?"
"Damar punya banyak musuh, Bu Arini. Bukan cuma saya. Dan saya tidak yakin musuh-musuh itu semua punya niat baik. Ada orang di balik layar yang sudah mengincar Damar lebih lama daripada saya. Saya tidak tahu siapa. Tapi saya bisa merasakan. Saat saya masih dekat dengan Damar, ada beberapa kali dia mendapat ancaman—dan dia tidak pernah jelaskan dari siapa. Hati-hati. Bukan semua orang yang membantu Anda berniat baik."
Aku menelan ludah.
"Saya mengerti."
"Saya tutup dulu. Tunggu alamatnya."
Telepon ditutup.
Aku duduk di pojok kamar, HP di pangkuan, menatap dinding kosong di hadapan.
Vania. Selingkuhan suamiku tiga tahun. Sekarang jadi—apa? Sekutu? Penyelamat? Atau perangkap yang lebih halus?
Tapi tubuhku tidak gemetar.
Itu pertanda baik.
***
Satu jam kemudian, pesan masuk.
*"Alamat: Jl. Patal Senayan III No. 14. Apartemen kecil di atas toko bunga. Saya sudah bayar sewa satu bulan ke depan. Datang sebelum jam 5 sore. Setelah jam 5, jalanan ke sana macet luar biasa karena hujan."*
Aku menatap jam. Sudah jam dua siang. Aku punya tiga jam.
Aku panggil Bintang. "Sayang. Kita pindah lagi ya."
"Ke rumah teman Bunda yang lain?"
"Bukan. Ke rumah baru. Cuma kita berdua."
Bintang menatap. Lalu mengangguk. Tidak banyak tanya, seperti biasa.
Aku pamit pada Dewi. Pelukan terakhir. Dia tidak banyak tanya juga—Mira pasti sudah memperingatkan dia.
"Kalau butuh apa-apa, telpon Mira. Aku selalu siap, Rini."
"Terima kasih, Dewi. Aku tidak akan lupa kebaikanmu."
Kami naik taksi konvensional kali ini—pesan dari telepon umum di sebelah minimarket, supaya tidak ada jejak digital. Dewi yang membantu mencari taksi.
Saat taksi melaju ke Senayan, Bintang tertidur di pelukanku. Lelah karena pagi-pagi sudah pindah.
Aku menatap pemandangan Jakarta di luar jendela. Kota yang sama yang dulu menampung mimpi-mimpiku, mimpi seorang gadis akuntansi muda yang ingin jadi auditor handal. Kota yang sama yang juga menampung tangis-tangis tanpa suaraku.
Aku menelan ludah. Damar masih di Surabaya. Tapi aku tahu—dia pasti sudah curiga sekarang. Bu Yati pulang dari libur hari ini—dia pasti akan menemukan rumah kosong, pakaianku berkurang, dan menelpon Damar.
Aku belum aman. Tapi sudah lebih aman dari kemarin.
***
Apartemen kecil di atas toko bunga itu hangat. Bukan mewah—hanya satu kamar tidur, dapur kecil, kamar mandi. Tapi bersih. Ada bunga lavender segar di vas di meja dapur—Vania pasti meminta toko bunga di bawah untuk menyiapkan.
Aku menggendong Bintang yang sudah ngantuk. Aku letakkan di tempat tidur. Selimuti. Cium kening.
Lalu aku duduk di sofa. Mengeluarkan kertas dan pulpen yang aku temukan di laci meja.
Sudah waktunya aku mulai mencatat.
Aku tulis di bagian atas kertas: **BUKTI.**
Lalu di bawahnya, daftar:
1. Memar di lengan kanan (tanggal terakhir: 4 hari yang lalu). Foto diambil pakai HP cadangan.
2. Memar di pipi kanan (tertutup makeup). Foto pakai HP cadangan saat di kamar mandi rumah Dewi tadi pagi.
3. Akta tanah Canggu—Damar dan Vania Wijaya. Foto sudah ada di HP.
4. Saksi anak (Bintang) — gambar dari buku gambarnya.
Daftar masih pendek. Akan kupanjangkan.
Aku tarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti diriku sendiri.
Arini Larasati. Lulus akuntansi dengan IPK 3.85. Yang dulu dipuji dosennya sebagai "analis terbaik di angkatannya." Yang otaknya pernah bisa membongkar laporan keuangan fiktif tujuh perusahaan dalam tugas akhir.
Aku tidak hilang. Aku hanya disembunyikan. Oleh diriku sendiri, oleh suamiku, oleh tahun-tahun yang membuatku percaya bahwa aku tidak ada.
Tapi aku ada.
Dan sekarang, aku kembali.
***
HP cadangan berkedip. Pesan masuk.
Tapi bukan dari Vania.
Dari nomor Mira.
*"Rini. Damar sudah pulang dari Surabaya. Bukan besok, hari ini. Dia tidak meeting di sana—dia sudah di Jakarta sejak tadi pagi. Dia datang ke kantor lama-mu yang dulu, minta nomor teman-temanmu. Hati-hati, Rini. Sangat hati-hati."*
Aku menatap layar.
Damar tidak pernah ke Surabaya.
Dia berbohong tentang perjalanan dinas.
Itu artinya—
—dia sudah mencurigaiku sebelum aku kabur.
Itu artinya seseorang sudah memberitahu Damar.
Aku menatap pintu apartemen kecil ini. Lalu HP cadangan di tanganku. Lalu pesan baru dari Vania—
—yang baru saja masuk lima detik yang lalu.
*"Bu Arini. Maafkan saya. Saya rasa kita sudah dilacak. Saya kirim alamat ini ke Anda lewat pesan—dan pesan itu mungkin sudah dibaca oleh orang lain. Bersiaplah."*
Pintu apartemen di bawah, di toko bunga, berdenting.
Lonceng kecil pintu masuk.
Seseorang baru masuk.
---
*Bersambung ke Bab 6: Interogasi*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar