Mobil belum sampai sepertiga jalan pulang ketika Damar mulai menggebrak dashboard.
"Brengsek!"
Sopir tersentak. Bintang menempel ke jendela. Aku otomatis menarik anakku ke pelukan, badanku jadi tameng.
"Yah—"
"Diam."
Satu kata itu cukup. Aku diam. Bintang diam. Bahkan sopir diam, walau jari-jarinya gemetar di stir.
Damar memandangi HP-nya lagi. Mengetik sesuatu cepat-cepat. Lalu menghapus. Lalu mengetik lagi. Lalu menghapus lagi.
Ada yang tidak beres. Selama delapan tahun aku mengenalnya, aku tidak pernah melihat dia bingung. Damar Pratama tidak pernah bingung. Damar Pratama selalu tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dikatakan, dengan siapa harus bicara. Bingung adalah kelemahan, dan kelemahan adalah hal yang dia paling benci.
Tapi sekarang? Dia bingung. Dan itu menakutkan—karena artinya ada sesuatu di luar kontrolnya.
"Sayang."
Suaranya berubah. Lembut sekarang. Aku tahu trik ini. Setelah letupan—selalu ada periode hening singkat—lalu kelembutan yang terasa lebih berbahaya daripada amarah.
"Iya, Yah?"
"Setiba di rumah, kamu langsung mandikan Bintang. Suruh dia tidur siang. Aku mau bicara sebentar."
Tangan Bintang yang menggenggam tanganku menjadi lembap. Aku usap perlahan dengan jari. *Tidak apa-apa, sayang.* Tapi aku tahu, dan dia tahu—ada yang tidak apa-apa di sini.
"Iya, Yah."
***
Ada satu hal yang harus aku jelaskan sebelum lanjut.
Damar Pratama, suamiku, bukan orang yang langsung menjadi monster. Tidak ada monster yang langsung jadi monster. Mereka pelan-pelan jadi. Atau—lebih tepatnya—pelan-pelan menunjukkan diri mereka yang sebenarnya.
Dulu, di tahun pertama pernikahan, Damar hanya kontrol kecil-kecilan. Ganti bajumu—itu terlalu seksi. Jangan terlalu sering nelpon Mira, dia teman yang tidak baik untukmu. Aku tidak mau kamu kerja, kamu lebih dibutuhkan di rumah.
Tahun kedua: ATM aku yang pegang, ya. Biar gampang. Kartu kredit kamu nggak usah pakai—saldo gajiku cukup buat kebutuhan kita.
Tahun ketiga: kenapa kamu lama banget di luar? Kenapa kamu senyum sama tukang sayur? Kenapa kamu nggak angkat HP-ku tadi sore?
Tahun keempat: tamparan pertama. Karena aku lupa mengisi ulang shampoo-nya. Damar bersumpah tidak akan lagi. Membelikan kalung. Menangis. Aku memaafkan. Itu salahku—aku lupa.
Tahun kelima: tamparan lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Tahun keenam: tendangan pertama.
Tahun ketujuh: aku tidak pernah lagi mencatat hitungannya. Sudah terlalu banyak untuk diingat.
Sekarang—tahun kedelapan. Aku adalah Arini Pratama yang punya merk concealer favorit untuk menyamarkan memar. Yang tahu cara duduk di kursi dengan punggung tegak walau punggung itu sedang sakit. Yang tertawa kecil saat ditanya rahasia pernikahan langgeng.
Tapi hari ini, sesuatu berubah.
Untuk pertama kalinya, monster itu juga terlihat takut.
***
Mobil masuk garasi. Damar turun duluan, sopir mengantar Bintang dan aku.
Aku gendong Bintang masuk ke kamarnya. Mandikan cepat-cepat. Pakaikan piyama yang dia suka—piyama dinosaurus warna hijau, hadiah dari ibuku Lebaran lalu, yang masih disimpan Damar walau dia tidak suka karena "ibu kamu ngasih barang murahan."
"Bunda."
"Iya, sayang?"
"Ayah marah?"
Aku menatap mata anakku. Tidak bisa berbohong padanya hari ini. Tidak setelah dia memelukku tadi pagi.
"Ayah lagi banyak pikiran kerja, sayang. Bukan marah sama kamu, ya. Bukan marah sama Bunda juga."
Yang terakhir adalah kebohongan. Tapi dia perlu mendengarnya.
"Kalau Ayah marah, aku boleh tidur di kamar Bunda?"
Pertanyaan itu menusuk. Tidak ada anak tujuh tahun yang seharusnya bertanya begitu.
"Boleh, sayang. Bintang selalu boleh."
Aku tutupi dia dengan selimut. Cium kening. Matanya menutup pelan—dia lelah, dia takut, dan dia mencoba sembunyi di tidur seperti aku dulu di umur seusianya, saat ayahku marah-marah pada ibu.
Generasi yang berulang. Tuhan, jangan biarkan generasi ini berulang.
Aku keluar dari kamar Bintang. Pintu kututup pelan.
Damar duduk di ruang kerja. Lampu remang. Dia tidak menyalakan TV. Tidak buka laptop. Hanya duduk, memandangi gelas wiski di tangannya. Itu juga tanda bahaya—Damar minum wiski hanya kalau dia sedang berpikir keras.
"Yah."
"Duduk."
Aku duduk di sofa seberangnya. Kedua tanganku di atas pangkuan. Punggung tegak.
"Tadi di acara—kamu lihat aku menerima telepon, ya?"
"Iya, Yah."
"Apa yang kamu dengar?"
Hati-hati. Hati-hati sekali. Salah jawaban di sini bisa berakhir di UGD.
"Aku tidak dengar apa-apa, Yah. Aku duduk lumayan jauh. Aku cuma lihat Yayang menelpon. Tidak dengar isinya."
Damar memutar gelas wiski di tangannya. Es batu berdenting.
"Kamu yakin?"
"Yakin, Yah."
Dia diam lama sekali. Aku tidak berani bernapas terlalu keras.
"Kalau ada orang yang menelpon kamu," akhirnya dia bicara, "yang bilang dia kenal aku—jangan jawab. Jangan respon apa-apa. Langsung tutup. Mengerti?"
"Mengerti, Yah."
"Dan langsung lapor aku. Tidak peduli aku sedang sibuk apa, kamu lapor."
"Iya, Yah."
Damar mengangguk pelan. Lalu—dan ini yang aneh—dia mendekat. Berlutut di hadapanku, di lantai.
Damar Pratama, yang dua belas jam lalu menamparku karena pasta, sekarang berlutut di kakiku.
Tangannya, tangan yang tadi pagi membuat memar di pipiku, sekarang mengusap pipi yang sama dengan lembut.
"Maafkan aku semalam, sayang."
Aku tidak bergerak.
"Aku banyak tekanan di kantor. Bukan kamu yang salah. Aku tahu kamu sudah berusaha. Aku—aku cinta kamu. Kamu tahu itu, kan?"
Senyum di kamera. Senyum di hadapan teman-teman. Senyum di hadapan suami yang minta maaf.
Aku tersenyum.
"Iya, Yah. Aku tahu."
Dia mencium dahiku. Lembut. Hangat. Seperti suami normal pada istrinya.
"Besok aku akan kasih kamu kartu kredit baru. Kamu boleh belanja apa saja. Kamu pantas dimanjakan."
"Iya, Yah. Terima kasih."
Dia bangun. Memandangku dari atas. Matanya, sekali lagi, tidak konsisten dengan kata-katanya. Mata itu mengukur. Mata itu menghitung. Mata itu sedang memastikan aku masih takut.
Dan aku masih takut. Tapi tidak takut yang sama.
Sekarang, di antara semua ketakutanku, ada satu pertanyaan kecil yang akan kuselipkan ke dalam diri tanpa Damar tahu.
*Siapa yang menelpon? Apa yang dia tahu? Dan kenapa, untuk pertama kalinya, Damar takut?*
***
Malam itu, aku berpura-pura tidur di samping Damar. Punggungku menghadap dia. Dia tertidur cepat—pengaruh wiski.
Aku menunggu sampai napasnya teratur. Dengkur pelan. Aman.
Pelan-pelan, aku bangun. Berjalan tanpa suara ke ruang tengah. Lampu masih mati. Aku tidak menyalakannya.
HP Damar tertinggal di meja ruang kerja. Itu hal yang biasanya tidak pernah dia lakukan—Damar tidak pernah jauh dari HP-nya. Tapi malam ini, dia teler sampai lupa.
Aku ambil HP itu. Tanganku gemetar.
Pola layarnya aku tidak tahu. Tapi—mungkin... aku coba ulang tahun pernikahan kami. Tidak. Tanggal lahir Bintang. Tidak. Tanggal lahir Damar sendiri. Tidak.
Tanggal lahir ibunya.
Layar terbuka.
Jantungku berdegup keras sampai aku takut suaranya membangunkan Damar di kamar.
Aku buka log panggilan masuk. Telepon tadi siang. Nomor tidak tersimpan. Diawali dengan kode area Jakarta. Aku catat di otak—aku tidak berani screenshot, takut ada notifikasi.
Aku buka pesan WhatsApp. Tidak ada percakapan yang mencurigakan di sini—dia rapi.
Aku scroll cepat. Sampai aku menemukan satu folder yang dikunci sendiri di dalam aplikasi. *Folder Bisnis*. Tapi aplikasi itu bukan aplikasi bisnis. Itu aplikasi password protected note.
Aku coba password—
Suara batuk Bintang dari kamar.
Aku panik. Letakkan HP kembali tepat di posisi semula. Beranjak. Cek Bintang—dia hanya berputar tidur. Aku usap rambutnya.
Saat aku kembali ke kamar utama, Damar masih tertidur dengan napas teratur.
Tapi aku tahu satu hal sekarang. Satu hal yang tadi siang masih cuma firasat.
Damar Pratama, suami sempurnaku di mata semua orang, punya rahasia.
Dan rahasia itu cukup besar untuk membuatnya takut.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tidak hanya jadi korban.
Aku jadi penyelidik.
***
Pagi besoknya, Damar berangkat kerja seperti biasa. Mencium pipiku di depan Bintang. Tersenyum lebar pada sopir. Tampak suami yang sempurna.
Aku menatap punggungnya dari jendela. Lalu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, aku membuka kontak HP-ku—HP cadangan yang Damar tidak tahu kupakai, yang kusembunyikan di dalam kotak pembalut.
Aku mencari satu nama.
*Mira.*
Sahabat lamaku sejak kuliah. Yang tiga tahun lalu disuruh berhenti menghubungi aku oleh Damar. Yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang—dia masih mengirim pesan setiap ulang tahunku, walau aku tidak pernah balas.
Jariku gemetar di atas tombol panggil.
Lalu, sebelum aku sempat menekan, layar HP-ku berkedip.
Notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
*"Bu Arini Pratama. Suami Anda menyembunyikan banyak hal. Jangan percaya siapapun di rumah itu. Kalau Anda mau hidup, hubungi saya kembali dari telepon umum. Jangan dari HP yang dia tahu."*
Aku membaca pesan itu tiga kali sebelum menyadari—
—tanganku sudah berhenti gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun.
---
*Bersambung ke Bab 3: Bintang Melihat*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar