Pesan itu kubaca lima belas kali sebelum kuhapus. Lalu kuhapus lagi dari folder hapusan. Lalu aku menarik napas tiga kali, mencoba menghilangkan bayangan jari-jariku yang sempat gemetar.


*Jangan percaya siapapun di rumah itu.*


Sopir? Asisten rumah tangga? Damar sendiri? Mertua yang sering datang? Siapa yang dia maksud?


Aku menatap Bintang yang sedang sarapan pancake. Anakku, pasti bukan dia. Anak tujuh tahun yang masih percaya tooth fairy.


"Bunda, hari ini ada PR matematika. Bunda bantuin ya nanti?"


"Iya, sayang. Bunda bantuin."


Aku berusaha tampak normal. Padahal kepalaku sedang berlari kencang. Siapa pengirim pesan itu? Apa motifnya? Apa dia musuh Damar atau jebakan Damar untuk menguji kesetiaanku?


Damar tidak pernah lelah menguji.


Dua tahun lalu, dia pernah pura-pura pergi keluar kota, lalu mengirim teman kantornya untuk merayuku. Aku menolak. Damar masih tetap memukulku malam itu karena aku "memberi senyum yang tidak perlu" pada pria itu.


Tidak ada yang aman.


Tapi tanganku, untuk pertama kalinya, tidak gemetar setelah membaca pesan tadi. Itu berarti sesuatu. Tubuhku tahu sebelum otakku tahu—pesan itu bukan jebakan Damar.


Damar tidak akan pernah menulis: *"Kalau Anda mau hidup."*


Damar tidak melihat aku sebagai orang yang masih hidup.


***


Siang itu, sopir mengantarku ke supermarket. Damar menyuruhku belanja kebutuhan dapur. ATM masih dipegang dia, tapi aku diberi uang cash secukupnya untuk belanja seminggu.


Bintang ikut. Liburan sekolah. Sopir menunggu di mobil.


Di rak sereal, Bintang menarik bajuku.


"Bunda."


"Iya?"


"Kemarin malam Bintang dengar Bunda menangis di kamar mandi."


Aku tertegun. Tanganku terhenti di kotak Coco Crunch yang dia suka.


"Kapan?"


"Kemarin malam. Sebelum tidur."


Damar memukul tubuhku semalam kemarin—dia menabraknya di sudut lemari, dadanya, supaya tidak terlihat. Aku menangis sebentar di kamar mandi sebelum keluar dengan wajah segar.


Aku pikir Bintang sudah tidur.


"Bunda bukan menangis, sayang. Bunda lagi pilek. Hidungnya gatel."


Bintang menatapku. Mata tajam itu lagi.


"Ayah yang bikin Bunda nangis?"


Aku menjatuhkan kotak sereal. Tidak sengaja. Sereal itu tergeletak di lantai. Aku jongkok. Bintang juga jongkok. Sekarang muka kami sejajar di tengah lorong supermarket.


"Bintang," suaraku pelan, "kenapa kamu tanya gitu?"


Bintang menggigit bibirnya. Lalu—sangat pelan—berbisik:


"Kemarin pas aku bangun mau ke kamar mandi, aku lihat dari celah pintu. Ayah dorong Bunda. Bunda jatuh. Tapi Bunda nggak teriak. Bunda diam aja."


Dunia berhenti. Sekejap saja. Lalu mulai lagi.


Aku tahu Bintang sudah lihat banyak hal selama ini. Sudah dengar banyak hal. Tapi aku selalu meyakinkan diri sendiri—dia masih kecil, dia akan lupa, dia tidak benar-benar paham.


Tapi mata Bintang yang menatapku sekarang—mata itu paham. Mata itu sudah lama paham. Mata itu hanya menunggu, bertahun-tahun, sampai akhirnya berani bicara.


Tujuh tahun. Anakku berumur tujuh tahun. Dan dia sudah tahu ibunya korban kekerasan.


Sesuatu retak di dalam dadaku. Bukan retak yang sakit—retak yang membuat sesuatu lain keluar. Sesuatu yang sudah lama mati, atau lama tidur, atau lama bersembunyi.


Marah. Aku marah. Bukan marah yang lemah seperti biasa. Marah yang punya tujuan.


Aku peluk Bintang. Erat sekali. Di tengah lorong sereal supermarket. Tidak peduli ada beberapa ibu lain yang menatap heran.


"Bintang sayang."


"Iya, Bunda?"


"Bunda janji satu hal sama Bintang, ya."


"Apa?"


Aku tarik napas. Berani. Aku harus berani.


"Bunda akan keluarkan kita dari sini. Pelan-pelan. Tapi Bunda akan keluarkan kita. Bintang mau bantu Bunda?"


Anakku, yang katanya masih terlalu kecil untuk paham, mengangguk cepat-cepat. Mata bulatnya berkaca-kaca.


"Mau, Bunda. Bintang mau bantu."


"Bintang nggak boleh cerita siapa-siapa, ya. Bahkan Eyang Putri (ibu mertuanya) juga jangan. Sama Eyang Kakung juga jangan. Cuma Bunda yang boleh tahu rencana kita. Janji?"


"Janji, Bunda."


Aku mencium kening anakku. Lama. Lalu kami bangun. Aku ambil kotak sereal yang jatuh, taruh di troli. Tersenyum pada ibu-ibu yang masih melihat. Mereka senyum balik—pasti mengira aku ibu yang sedang menasihati anak yang tantrum.


Hidup di luar dan di dalam selalu jadi dua hal yang berbeda.


***


Di parkiran supermarket, sebelum masuk mobil, aku merogoh dompet. Damar memberi uang lebih hari ini—mungkin masih sisa rasa bersalah dari semalam.


Aku ambil seratus ribu. Selipkan ke tas Bintang.


"Bintang. Ini sembunyikan, ya. Jangan sampai Ayah tahu. Jangan sampai sopir tahu. Bunda titip."


"Buat apa, Bunda?"


"Bunda nabung. Pelan-pelan. Buat kita."


Bintang mengangguk. Tidak banyak tanya. Anak kecil yang tumbuh terlalu cepat selalu jadi anak yang tidak banyak tanya.


Hari itu, di parkiran supermarket, aku—Arini Pratama, korban yang sudah delapan tahun diam—memulai sesuatu yang dulu kupikir tidak mungkin kulakukan.


Aku menabung. Untuk kabur.


Seratus ribu pertama. Akan ada lagi.


***


Malam itu, Damar pulang lebih awal. Membawa kantong belanjaan dari butik mahal.


"Sayang, kado buat kamu."


Aku buka. Tas tangan—merk yang harganya bisa beli motor. Hadiah maaf untuk tamparan semalam. Untuk tamparan-tamparan sebelumnya. Untuk semua memar yang pernah ada.


"Cantik kan?"


"Cantik banget, Yah. Terima kasih."


Aku tersenyum. Damar mencium dahiku. Bintang melihat dari sudut sofa—tidak ikut tersenyum.


Tapi anakku, anak pintar yang aku besarkan dengan semua sisa cintaku, mengerti. Dia hanya membuka buku gambarnya, dan dia mulai menggambar.


Aku menengok kemudian, saat dia sudah tidur. Gambarnya hari ini bukan rumah lagi.


Tapi tiga orang. Seorang anak laki-laki di tengah. Seorang perempuan di samping kiri—aku, jelas, karena rambutnya sebahu. Dan di sebelah kanan—


—bukan Damar.


Bintang menggambar seorang laki-laki tinggi yang tidak punya wajah. Belum punya wajah.


Tapi di atas gambar itu, anakku menulis dengan crayon merah:


*KELUARGAKU NANTI.*


Aku duduk di tepi tempat tidurnya. Lama sekali. Sampai pagi hampir tiba.


Lalu aku tutup gambar itu di halaman terbelakang buku, di mana Damar tidak akan pernah melihatnya.


Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berdoa bukan untuk minta sabar.


Aku berdoa minta keberanian.


***


Dua hari kemudian, aku menemukan kesempatan.


Damar harus ke Surabaya untuk meeting. Tiga hari. Sopir ikut. Asisten rumah tangga, Bu Yati, libur karena anaknya sakit.


Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku sendirian di rumah—dengan Bintang—tanpa pengawasan.


Begitu mobil Damar keluar dari gerbang kompleks, aku berjalan ke ruang kerja. Mengunci pintu dari dalam. Membuka laci tempat Damar menyimpan dokumen penting—laci yang biasanya juga dia kunci, tapi karena dia buru-buru tadi pagi, dia lupa.


Aku duduk di kursinya. Membuka.


Dan apa yang kutemukan—


Akta tanah atas nama Damar Pratama. Wajar. Akta tanah lain, di Bali, atas nama Damar dan—nama wanita yang aku tidak kenal. *Vania Wijaya.*


Aku pegang akta itu. Membacanya tiga kali.


Vania Wijaya. Dibeli setahun lalu. Tanah seluas lima ratus meter persegi di Canggu.


Tangan Damar Pratama. Tangan yang sama yang dua malam lalu menamparku karena "boros air saat mandi." Tangan yang membelikan tanah di Bali atas nama wanita lain.


Aku duduk diam. Lima menit. Sepuluh menit. Mungkin lebih.


Lalu aku berdiri. Foto akta itu pakai HP cadanganku—HP yang Damar tidak tahu. Letakkan kembali persis di posisi semula.


Kunci laci. Tutup pintu ruang kerja.


Berjalan ke dapur. Buka kulkas. Ambil air mineral. Minum. Tangan masih tidak gemetar.


Aku, Arini Pratama, sekarang punya tiga hal yang sebelumnya tidak pernah kupunya:


Anakku yang siap membantu.

Seratus ribu yang ditabung di tas Bintang.

Dan satu rahasia besar suamiku—yang aku belum tahu apa artinya, tapi yang aku tahu—


—bisa kuubah jadi senjata.


Tapi belum.


Belum sekarang.


Hari itu, aku menelpon Mira dari telepon rumah—sambungan yang Damar pikir tidak pernah kupakai karena dia tidak pernah menyuruhku menggunakannya.


"Halo?"


"Mira."


Di sana, hening sebentar. Lalu suara Mira—sahabat yang sudah tiga tahun tidak kuhubungi—pecah.


"Arini? Astaga, Arini, ini kamu?"


"Ini aku."


"Kamu di mana sekarang?"


"Di rumah. Suamiku ke luar kota tiga hari."


"Arini." Suara Mira gemetar. "Arini, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?"


Aku tarik napas.


"Mira. Aku perlu bantuanmu."


"Apa pun, Arini. Apa pun. Bilang aja."


Aku menelan ludah. Lalu, dengan suara pelan—pelan tapi tegas—aku ucapkan empat kata yang sudah delapan tahun tidak berani kuucapkan kepada siapa pun:


"Aku mau kabur, Mira."


Di sana, hening. Sangat hening. Hening yang berisi air mata yang tidak kelihatan tapi terasa.


Lalu Mira menjawab.


"Datang ke rumahku sekarang."


***


Aku menutup telepon. Bintang sudah bangun dari tidur siangnya—dia berdiri di ambang pintu dapur, masih memegang boneka beruangnya.


"Bunda mau ke mana?"


Aku duduk di lantai. Sejajar dengannya.


"Bintang. Ayo kita jalan-jalan."


"Ke mana?"


"Ke rumah teman Bunda. Namanya Tante Mira. Bunda mau Bintang ketemu beliau."


Bintang menatap. Lalu mengangguk.


Aku ambil tas kecil. Masukkan baju ganti Bintang, baju ganti aku, beberapa surat penting—termasuk akta lahir Bintang yang Damar simpan di laci yang sama (untung dia juga lupa kunci).


Lalu kami berdua keluar dari rumah itu. Tidak pakai mobil—mobil dipasangi GPS. Aku pesan ojek online dari HP cadangan.


Sopir ojol datang lima menit kemudian. Aku gendong Bintang. Tas di pundak.


Aku menutup pintu pagar rumah itu. Tidak menoleh ke belakang.


Tidak akan kuingat sebagai rumah lagi. Mulai detik ini.


Tapi tepat saat motor mulai bergerak meninggalkan kompleks—


—HP cadanganku berbunyi. Pesan dari nomor tidak dikenal yang sama dengan yang dulu.


*"Jangan ke rumah sahabatmu. Suamimu sudah menyuruh sopirnya mengawasi rumahnya. Dia tahu lebih banyak daripada yang kamu pikir."*


Tanganku akhirnya gemetar lagi.


Tapi kali ini bukan karena takut.


Karena marah.


---


*Bersambung ke Bab 4: Ulang Tahun Pernikahan*