Aku menyuruh sopir ojek berhenti di tengah jalan.


"Mas, maaf, saya batalkan. Saya turun di sini saja."


"Lho, kok di sini Bu? Ini di pinggir jalan banget."


"Saya bayar penuh. Maaf ya, Mas. Ada perubahan rencana."


Aku turun. Gendong Bintang. Sopir ojek menggeleng heran tapi tidak banyak tanya, melaju pergi setelah aku bayar dua kali lipat dari tarif aslinya.


Bintang menatapku, masih digendong. "Bunda kenapa?"


Aku tarik napas. Kepala berputar. Siapa yang mengirim pesan itu? Kalau dia tahu aku mau ke rumah Mira, berarti—


—berarti HP cadanganku juga tidak aman.


Aku tatap HP itu seperti tatap ular. Lalu aku matikan. Cabut baterai.


Bintang masih menatap. Wajahnya bingung tapi tidak takut. Anakku terlalu sering melihat ibunya panik untuk takut.


"Bintang. Kita ubah rencana. Kita ke rumah Eyang Putri (ibuku) dulu. Cuma sebentar. Bunda mau pinjam HP-nya."


"Eyang yang di Bekasi, Bunda?"


"Iya. Yang Eyang Lara."


Pulang ke rumah ibuku adalah taruhan. Ibuku—Bu Lara—adalah orang yang selama ini selalu menyuruhku sabar. *Suami itu kayak gitu, namanya nikah, Nak. Yang penting Damar nggak selingkuh. Yang penting dia ngasih makan kamu sama anakmu.*


Tapi sekarang aku tidak punya pilihan. Aku perlu telepon yang bersih—yang tidak diawasi. Dan rumah ibuku, kebetulan, di seberangnya ada warnet kecil yang masih buka. Tempat aku dulu sering ke sana sebelum menikah.


Aku pesan ojol lagi dari pinggir jalan—tapi dengan trik. Aku pinjam HP penjual gorengan terdekat untuk membantu pesan, dengan alasan "HP saya mati, Pak."


Lima ribu kuberikan ke penjual gorengan. Beliau setuju.


Aku pesan ojol ke alamat ibuku. Dari HP yang sama sekali bukan milikku.


Damar—atau siapa pun yang mengirim pesan tadi—tidak akan bisa melacak ini.


***


Rumah ibuku—rumah dua lantai sederhana di pinggir Bekasi—terlihat sama seperti dulu. Cat krem yang sudah agak luntur. Pagar besi dengan tanaman rambat. Bunga melati di pot besar samping pintu.


Ibu sedang menyapu halaman ketika aku turun dari motor.


"Rini?!"


Sapunya jatuh. Ibu berlari—setengah berlari, lutut beliau memang sudah tidak sekuat dulu. Bintang aku turunkan. Anakku langsung lari pelukan eyangnya.


"Eyang!"


"Astaga, Bintang. Astaga, Rini. Kalian ke sini tidak telpon? Damar mana?"


Aku menatap ibuku. Wanita lima puluh delapan tahun yang dulu pernah jadi guru SD, sekarang sudah pensiun. Rambutnya pendek, sudah banyak putih. Senyumnya tulus saat memeluk cucunya.


"Bu, Bintang main dulu di belakang ya. Bu cariin biskuit."


"Ya."


Ibu menggandeng Bintang ke dapur belakang. Aku duduk di ruang tamu. Foto pernikahanku dan Damar masih dipajang di dinding—bingkai kayu jati, foto saat kami berdua di pantai Bali untuk bulan madu, delapan tahun lalu.


Wanita di foto itu sudah lama tidak ada. Pria di foto itu, ternyata tidak pernah benar-benar ada.


Ibu kembali ke ruang tamu. Duduk di hadapanku. Wajahnya tegang.


"Rini. Damar mana?"


"Surabaya. Tugas kerja."


"Kok kamu tidak telpon dulu sebelum ke sini?"


"Bu—" Aku tarik napas. Sekarang atau tidak pernah. "Bu, aku perlu cerita sesuatu."


Ibu memandangku. Matanya, mata yang sama yang dulu pernah jadi tempat aku menangis pertama kali patah hati waktu SMP—mata itu menatapku. Tapi sekarang mata itu juga punya tembok.


Tembok yang sudah ibu bangun sejak aku menikah. Tembok bernama *suami harus dihormati apa pun yang terjadi.*


"Bu," aku menelan ludah. "Damar—Damar suka memukul aku, Bu."


Hening lima detik.


Ibu mengedip. Lalu tersenyum—senyum yang aku kenal. Senyum *jangan bicara hal yang tidak-tidak.*


"Rini. Kamu ngomong apa sih?"


"Aku ngomong dengan jujur, Bu. Sudah bertahun-tahun. Bukan baru sekali dua kali. Sering. Sudah bertahun-tahun."


"Rini—suamimu itu sayang kamu. Damar—Damar baik. Dia kasih kamu rumah, kasih kamu—"


"Bu." Suaraku, untuk pertama kalinya di depan ibuku, naik. "Bu, dengar aku dulu. Tolong."


Ibu diam.


Aku angkat lengan kanan baju kemejaku. Lengan panjang. Yang selama ini sengaja aku pakai walau cuaca panas.


Memar lama di pergelangan tangan. Kuning kehijauan. Sisa cengkeraman Damar minggu lalu saat aku "pulang terlalu lama dari minimarket."


Ibu menatap pergelangan tanganku. Aku bisa lihat ekspresinya berubah—dari penolakan menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih sulit dijelaskan.


Tapi lalu—


Ibu menarik napas. Memejamkan mata. Lalu membukanya.


"Rini. Pakai baju panjang itu sudah biasa kan. Memar bisa karena kepentok apa aja. Kamu kan emang dulu sering kepentok, dari kecil."


Sesuatu hancur di dalam diriku. Pelan. Tapi pasti.


"Bu."


"Sudahlah, Rini. Jangan dibesar-besarkan. Setiap pernikahan ada masalah. Yang penting Damar—"


"BU!"


Suaraku, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupku, meninggi di depan ibu sendiri.


Ibu terdiam.


Aku menatap mata ibuku. Mata yang masih sama seperti dulu. Tapi sekarang aku lihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


Ketakutan.


Ibuku takut. Ibu takut menerima bahwa anaknya jadi korban. Karena kalau dia menerima itu, dia harus menerima bahwa dia gagal melindungiku selama ini. Dia harus menerima bahwa dia salah merestui pernikahan itu. Dia harus menerima banyak hal yang membuatnya tidak nyaman.


Lebih mudah bagi ibuku untuk tidak percaya.


Aku bangun. Berjalan ke pintu kamar belakang. Bintang sedang main dengan boneka beruangnya, berbicara pelan padanya, masih bisa kudengar.


"Beruang, kita harus pergi dari rumah ya. Soalnya Ayah jahat sama Bunda. Tapi jangan cerita siapa-siapa ya, kita harus rahasia."


Tujuh tahun.


Aku menutup pintu kamar pelan. Kembali ke ruang tamu. Ibu masih duduk, sekarang menangis tanpa suara.


"Rini—"


"Bu, aku cuma minta satu hal. Pinjam HP Ibu sebentar. Lima menit. Aku mau telepon orang."


Ibu mengulurkan HP-nya. Tangannya gemetar. Aku tahu—aku tahu dia tidak akan membantuku. Mungkin sebagian dari dia ingin membantu. Tapi sebagian yang lebih besar tidak siap.


Aku akan harus melakukan ini sendiri.


Aku berjalan ke teras belakang. Telepon Mira.


"Halo?"


"Mira, ini aku. Aku pakai HP ibuku."


"Astaga, Rini, kamu di mana?! Aku tunggu-tunggu kamu, sopirku bilang ada mobil mencurigakan parkir di depan rumahku—"


"Aku tahu, Mira. Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak datang."


Mira menelan ludah. "Rini, jadi gimana?"


Aku pejamkan mata. Pikiran berputar. Damar di Surabaya tiga hari. Hari pertama. Aku punya waktu—mungkin—36 jam lagi sampai dia kembali.


"Mira. Aku perlu tempat tinggal sementara. Bukan rumahmu, karena rumahmu diawasi. Apa kamu punya saudara, atau teman, yang bisa aku percaya?"


"Adikku—Dewi. Dia tinggal di Depok. Damar tidak kenal dia."


"Bisa aku ke sana sekarang?"


"Bisa. Tunggu, aku telepon Dewi dulu. Lima menit ya."


Lima menit terasa lima jam. Tapi akhirnya Mira menelepon balik.


"Dewi siap terima kamu. Alamatnya aku SMS ke—tidak, jangan ke HP-mu. Aku titip alamatnya ke teman kita lainnya, kamu tahu Andi? Kamu hafal nomornya?"


"Hafal."


"Telepon dia. Dia akan kasih alamatnya. Andi tidak akan curiga dilacak Damar—dia tinggal di luar negeri."


Aku tersenyum kecil. Mira selalu pintar dalam keadaan darurat.


"Mira—terima kasih."


"Rini, kamu bertahan dulu ya. Aku akan bantu kamu. Apapun caranya."


Aku tutup telepon. Menghapus log panggilan dari HP ibuku.


Saat aku masuk ke ruang tamu lagi, ibu sudah berdiri.


"Rini—" Suara ibu lemah. "Rini, kamu mau ke mana? Tidur sini malam ini saja. Besok kita pikirkan baik-baik. Ibu bisa telepon Damar—"


"Tidak, Bu." Suaraku tenang. Datar. Bukan marah. "Ibu jangan telepon Damar. Janji sama aku."


"Tapi Damar suamimu—"


"Bu." Aku ambil tangan ibuku. Menggenggam. "Aku ke sini bukan minta Ibu menyelamatkan aku. Aku ke sini cuma pinjam HP. Itu saja. Aku tahu Ibu tidak akan bisa membantu—dan tidak apa-apa. Aku menyayangi Ibu. Tapi tolong, satu hal—jangan telepon Damar. Jangan cerita aku ke sini hari ini. Jangan, Bu. Tolong."


Ibu menatap aku. Air matanya turun lagi. Lalu, untuk pertama kalinya, dia tidak menjawab dengan kalimat *sabar.* 


Dia hanya mengangguk.


"Iya, Rini. Ibu... ibu janji."


***


Aku gendong Bintang. Pamit pada ibu. Ciuman tangan. Beliau memelukku lama sekali.


Saat aku sudah duduk di motor ojek baru, ibu berdiri di pagar. Melambai pelan. Wajahnya menua sepuluh tahun dalam dua jam.


Aku akan rindu ibuku. Tapi aku tidak bisa menunggu ibu siap. Ada hari-hari di mana kita harus menyelamatkan diri sendiri, bahkan dari kerelaan orang yang kita cintai.


***


Rumah Dewi di Depok—rumah kos kecil di komplek perumahan biasa. Dewi sendiri seorang single mother dengan satu anak perempuan seumuran Bintang.


Dia menerima aku tanpa banyak tanya. Hanya peluk. Hanya teh hangat. Hanya kamar tidur tamu di belakang.


Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidur tanpa harus memikirkan apa yang akan Damar lakukan kalau ada bantal yang salah letak.


Bintang tidur di sampingku. Lengannya melingkari leherku. Tidur paling nyenyak yang pernah dia tunjukkan dalam waktu lama.


Aku belum aman. Damar masih akan kembali dari Surabaya besok lusa. Dia pasti akan mencariku. Dia akan menemukanku—cepat atau lambat. Aku tahu itu.


Tapi malam ini—malam ini aku bebas.


Sebelum tidur, aku menyalakan HP cadangan—untuk membalas satu pesan, hanya satu pesan.


Pesan kepada pengirim misterius yang dua kali memperingatkanku.


*"Siapa kamu? Dan kenapa kamu membantu saya?"*


Aku tekan kirim. Pesan ratusan kilometer terkirim, di tengah malam, ke nomor yang aku belum tahu pemiliknya.


HP berkedip. Balasan datang. Cepat sekali. Seakan-akan dia sudah menunggu.


*"Saya pernah dalam posisi Anda. Dan saya tidak selamat. Tapi Anda bisa. Besok, jam 10 pagi, saya akan menelpon ke nomor ini. Pastikan Anda sendirian saat saya menelpon."*


Tanganku gemetar lagi.


Bukan ketakutan. Tapi sesuatu yang lebih asing—sesuatu yang aku tidak punya nama untuknya selama delapan tahun terakhir.


Mungkin... harapan?


Mungkin... hidup?


Aku peluk Bintang yang sudah tidur. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi malam ini, di kamar kecil rumah orang asing yang baik—aku merasakan sesuatu yang baru.


Aku ingin tahu siapa yang menelpon Damar dua hari lalu yang membuatnya pucat.


Dan besok jam 10 pagi, aku akan tahu.


---


*Bersambung ke Bab 5: Sahabat yang Hilang Kontak*