"Satu hal yang tidak pernah saya toleransi di perusahaan ini adalah ketidakbecusan. Dan proposal di depan saya ini, adalah definisi paling nyata dari kata tersebut."

Aku melempar map biru bersampul tebal itu ke tengah meja kaca. Suara debuman yang dihasilkannya menggema di ruang rapat utama, membuat bahu beberapa manajer di hadapanku tersentak kaget. Tidak ada yang berani menatap mataku. Semuanya menunduk, menatap ujung sepatu mereka sendiri atau berpura-pura sibuk dengan layar tablet masing-masing.

"Bisa tolong jelaskan, Dimas?" tanyaku, memecah keheningan yang menyesakkan. Suaraku tidak meninggi. Cenderung datar, dingin, dan tenang. Namun, aku tahu persis efeknya jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

Dimas, Manajer Pemasaran yang duduk di seberangku, menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. "M—maaf, Bu Alya. Kami sudah merevisi bagian anggaran sesuai dengan catatan Ibu minggu lalu, tapi—"

"Tapi apa?" potongku tajam. "Kamu menaikkan proyeksi margin keuntungan tanpa dasar data pasar yang jelas? Kamu pikir klien kita sekumpulan orang bodoh yang mau membuang uang miliaran hanya karena presentasi yang diwarnai grafik palsu?"

"Bukan begitu maksud saya, Bu. Tim riset kami menyimpulkan—"

"Tim riset yang mana?" Aku menyandarkan punggung ke kursi kulitku, melipat kedua tangan di dada. "Sebutkan nama kepalanya. Biar saya panggil dia sekarang juga ke ruangan ini."

Dimas terdiam. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar.

"Tidak ada, kan?" tebakku dingin. "Karena kamu menyusun angka-angka ini semalam suntuk hanya untuk menutupi kelalaian departemenmu dalam negosiasi dengan vendor. Benar begitu, Dimas?"

Keheningan kembali mengambil alih. Dimas menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengangguk pelan. "Maafkan saya, Bu Alya."

"Saya tidak membayar kalian puluhan juta setiap bulan untuk mendengarkan kata maaf." Aku berdiri, merapikan blazer hitamku yang sama sekali tidak kusut. "Kalian punya waktu dua puluh empat jam. Rombak ulang semuanya dari nol. Gunakan data asli. Kalau besok jam delapan pagi proposal ini belum ada di meja saya dengan angka yang masuk akal, saya akan mencari tim pemasaran baru yang tahu cara bekerja. Mengerti?"

"Mengerti, Bu Alya," jawab mereka serempak, suaranya pelan dan penuh tekanan.

"Rapat selesai."

Aku berbalik tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, melangkah keluar dari ruang rapat dengan ketukan stiletto yang menggema di lorong. Rina, sekretarisku yang sangat sigap, setengah berlari menyusul langkahku yang cepat.

"Jadwal saya selanjutnya, Rin?" tanyaku tanpa menoleh.

"Wawancara eksklusif dengan Majalah Inspirasi Bisnis, Bu. Tim mereka sudah menunggu di ruang VIP sejak sepuluh menit yang lalu," jawab Rina sambil mengecek tablet di tangannya.

"Pastikan mereka hanya bertanya sesuai draf yang sudah kamu setujui. Kalau mereka melenceng, kamu tahu apa yang harus dilakukan."

"Baik, Bu. Saya sudah menegaskan batasannya kepada pihak pemimpin redaksi mereka."

Aku mengangguk pelan. Menjadi CEO di usia dua puluh tujuh tahun membuatku menjadi santapan empuk media. Mereka suka memelintir narasi. Perempuan muda yang ambisius. Tangan besi berwajah cantik. Pemimpin tanpa ampun. Aku tidak peduli dengan semua julukan itu. Bagiku, dunia bisnis adalah arena bertahan hidup. Siapa yang lengah, dia yang mati. Dan aku, sudah belajar cara untuk tidak mati sejak aku masih sangat kecil.

Kami memasuki ruang VIP. Tiga orang kru dan satu jurnalis perempuan langsung berdiri menyambutku. Jurnalis itu tersenyum lebar, mengulurkan tangannya.

"Selamat siang, Bu Alya. Saya Sarah dari Inspirasi Bisnis. Terima kasih sudah meluangkan waktu."

"Siang, Mbak Sarah. Sama-sama. Mari kita mulai saja, jadwal saya cukup padat hari ini," balasku sambil menjabat tangannya sekilas, lalu duduk di sofa single yang sudah disiapkan.

Wawancara berjalan lancar di lima belas menit pertama. Sarah mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar tentang strategi perusahaanku dalam menghadapi resesi, inovasi produk terbaru, dan pandanganku tentang kepemimpinan perempuan. Aku menjawab semuanya dengan lugas, terukur, dan tanpa celah.

Namun, seperti yang sudah kuduga, media tidak pernah puas dengan jawaban yang terlalu rapi. Mereka butuh drama. Mereka butuh emosi untuk dijual.

"Bu Alya, cerita kesuksesan Anda di usia yang begitu muda sangat menginspirasi banyak orang," ujar Sarah, nada suaranya tiba-rata melunak, mencoba membangun kedekatan semu. "Pembaca kami sering kali penasaran... siapa sebenarnya sosok di balik seorang Alya Maheswari?"

"Maksud Anda?" Aku menatapnya datar.

"Kita semua tahu kesuksesan seorang anak biasanya tidak lepas dari support system di belakangnya. Apakah itu keluarga, orang tua... Siapa sosok yang paling memotivasi Anda hingga bisa berada di titik ini?"

Sudut mataku menangkap gerakan gelisah Rina di pinggir ruangan. Rina sudah bersiap menyela, tapi aku mengangkat satu jari, memberinya isyarat untuk diam. Aku mengalihkan pandanganku kembali pada Sarah.

"Motivasi terbesar saya adalah ambisi saya sendiri, Mbak Sarah," jawabku tenang.

Sarah tertawa kecil, seolah aku baru saja melontarkan lelucon. "Ah, Bu Alya bisa saja. Pasti ada sosok ayah atau ibu yang menjadi role model, kan? Kami jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah, mendengar Bu Alya membicarakan soal keluarga di media manapun."

Udaranya mendadak terasa lebih dingin. Rahangku mengeras, meski aku berjuang keras mempertahankan ekspresi datarku. Ayah. Satu kata itu berdenging di telingaku seperti suara alarm peringatan bahaya.

"Kita sepakat untuk membahas peluncuran aplikasi baru perusahaan saya hari ini, Mbak Sarah," ucapku, suaraku turun satu oktaf, lebih berat dan sarat peringatan. "Bukan silsilah keluarga saya."

"Tentu, tentu," Sarah mencoba tersenyum, meski terlihat sedikit gentar. "Hanya saja, kisah from zero to hero akan lebih menyentuh jika ada bumbu humanisnya. Apakah Anda berasal dari keluarga pebisnis? Atau ada didikan khusus dari orang tua—terutama seorang ayah—yang membentuk karakter keras Anda?"

"Mbak Sarah." Aku memotong kalimatnya. Tatapanku menghujam tepat ke manik matanya. "Saya menghargai profesi Anda sebagai jurnalis. Tapi saya tidak mencampuradukkan urusan profesional dengan kehidupan pribadi. Jika pertanyaan ini berlanjut, wawancara ini selesai sekarang juga."

Wajah Sarah memucat. Ia buru-buru menunduk melihat catatannya. "M—maaf, Bu Alya. Saya tidak bermaksud menyinggung. Baik, kita kembali ke topik aplikasi terbaru Anda."

Sisa wawancara itu terasa seperti formalitas yang membosankan. Begitu kamera dimatikan, aku langsung berdiri tanpa basa-basi, mengucapkan terima kasih dengan kaku, lalu keluar dari ruangan.

Di dalam lift menuju basement, Rina berdiri di belakangku. Suasana hening.

"Maafkan saya, Bu Alya," suara Rina akhirnya terdengar. "Saya akan memberikan komplain tertulis kepada redaksi mereka karena melanggar draf pertanyaan."

"Lakukan," jawabku singkat. Mataku terus menatap angka digital lift yang bergerak turun.

Begitu masuk ke dalam mobil, aku menyandarkan kepalaku ke jok kulit yang dingin. Pak Yanto, sopirku yang sudah bekerja bersamaku selama empat tahun terakhir, melirik dari kaca spion.

"Langsung pulang ke apartemen, Bu?"

"Iya, Pak Yanto. Tolong agak cepat. Saya lelah."

"Baik, Bu."

Mobil melaju membelah jalanan ibukota yang mulai disergap kemacetan sore. Aku memejamkan mata. Pertanyaan jurnalis tadi terus berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak. Didikan khusus dari seorang ayah. Aku tersenyum sinis. Ya, tentu saja ada didikan khusus. Pria itu mengajariku satu hal paling berharga di dunia ini: bahwa manusia yang paling dekat denganmu adalah manusia yang paling mungkin menghancurkanmu.

Ponsel di dalam tas tanganku bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Ibu'. Aku menarik napas panjang, menata ulang emosiku sebelum menggeser ikon hijau.

"Halo, Bu," sapaku, mengusahakan nada suaraku selembut mungkin. Hanya di depan wanita ini dinding pertahananku runtuh.

"Halo, Nduk. Kamu masih di kantor?" Suara lembut Ibu mengalun dari seberang sana. Suara yang menyimpan terlalu banyak lelah, namun tak pernah mengeluh.

"Ini baru di jalan pulang, Bu. Ibu lagi apa? Obatnya sudah diminum?"

"Sudah, sayang. Ibu lagi duduk di teras depan. Tadi sore Ibu bikin kue lumpur kesukaanmu. Nanti akhir pekan kalau kamu mampir ke rumah, Ibu buatkan yang baru ya."

Dengusan pelan keluar dari hidungku, kali ini disertai senyum tipis yang tulus. "Aku usahakan ya, Bu. Kerjaan lagi gila-gilanya minggu ini. Ibu jangan capek-capek bikin kue terus, kan aku sudah sewa asisten rumah tangga buat bantu Ibu."

"Ya ampun, Al. Ibu ini cuma bikin kue, bukan nguli bangunan. Lagian kalau diam saja badan Ibu malah sakit semua." Ibu terkekeh pelan. "Kamu sendiri gimana? Makanmu teratur? Jangan cuma minum kopi hitam saja kerjamu."

"Makan kok, Bu. Tadi siang diatur sama Rina."

Hening sejenak. Aku bisa mendengar suara jangkrik dari pekarangan rumah Ibu di pinggiran kota.

"Al..." panggil Ibu pelan. Nada suaranya berubah. Lebih hati-hati.

"Ya, Bu?"

"Tadi siang... Paklek Sumarno telepon Ibu."

Jantungku terasa berhenti berdetak selama sekian detik. Cengkeramanku pada ponsel mengerat. "Lalu?"

"Dia nanya-nanya soal kamu. Katanya dia lihat kamu di majalah atau TV gitu. Dia bilang... dia bangga sama keponakannya."

"Ibu tahu kan aku nggak mau dengar nama keluarga pihak sana lagi?" desisku, suaraku mendadak mendingin.

"Ibu tahu, Nduk. Ibu cuma ngasih tahu. Paklekmu juga tanya... apa kamu ada niat buat nyari bapakmu."

Napas yang kutahan sejak tadi berhembus kasar. Rasa panas menjalar di dadaku. "Berapa kali harus aku bilang, Bu? Aku nggak punya ayah. Dan tolong, kalau keluarga sana telepon Ibu lagi, blokir saja nomornya. Ibu nggak perlu melayani mereka."

"Al, bagaimanapun juga dia—"

"Bu, kumohon," potongku, kali ini suaraku sedikit bergetar karena menahan amarah. "Jangan sebut kata itu. Jangan memintaku untuk peduli pada orang yang bahkan tidak pernah ingat kalau dia punya anak. Aku kerja keras sampai di titik ini untuk Ibu, bukan untuk siapa-siapa lagi."

Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon. "Maafin Ibu, Al. Ibu nggak maksud bikin kamu marah pas lagi capek."

"Aku nggak marah sama Ibu," ucapku pelan, memijat pangkal hidungku. "Aku cuma... nggak mau bahas ini. Udah ya, Bu. Aku mau istirahat sebentar di mobil."

"Iya, Nduk. Hati-hati di jalan. Ibu sayang kamu."

"Aku juga sayang Ibu."

Panggilan terputus. Aku melempar ponsel ke kursi kosong di sebelahku. Di luar jendela, lampu-lampu jalanan mulai menyala, menerangi deretan gedung pencakar langit yang tampak angkuh. Dulu, aku sering berdiri di trotoar yang kotor, menatap gedung-gedung itu, berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari nanti aku akan berada di puncaknya. Tidak akan ada lagi yang bisa meremehkanku. Tidak akan ada lagi kemiskinan yang mencekik leher ibuku.

Sekarang, aku memiliki segalanya. Uang, kekuasaan, rasa hormat. Tapi pertanyaan jurnalis tadi sore dan telepon dari Ibu membuktikan satu hal yang menyebalkan: seberapa tinggi pun aku memanjat, bayangan masa lalu itu selalu mencari cara untuk menarik kakiku.

Aku merapatkan jaketku, merasakan hawa dingin AC mobil yang menusuk tulang. Mataku kembali terpejam.

Orang-orang menyebutku perempuan tanpa hati. Perempuan yang tidak pernah menoleh ke belakang. Mereka tidak tahu bahwa keenggananku menoleh ke belakang bukanlah karena kesombongan.

Tapi karena ada bagian hidupku yang sudah mati sejak lama. Dan aku, tidak sudi membangkitkannya kembali.