Kilatan blitz kamera dari puluhan fotografer dan jurnalis membuat malam Jakarta yang pekat terasa seperti siang hari yang menyilaukan. Di dalam Grand Ballroom Hotel Mulia yang disewa secara eksklusif selama dua hari berturut-turut, Delila Arum Kartika berdiri mematung. Gaun pengantin putih tulang rancangan eksklusif dari seorang desainer haute couture Paris itu terasa seperti zirah baja seberat belasan kilogram yang menjerat tubuhnya. Ribuan kristal Swarovski yang dijahit dengan tangan memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal raksasa di atas mereka, menciptakan ilusi bahwa Delila adalah seorang dewi yang baru saja turun dari kahyangan.
"Bergeser sedikit ke kiri, Dokter Delila! Pak Bagas, tolong rangkul pinggang istri Anda, tatap matanya dengan mesra!" teriak seorang fotografer dari majalah gaya hidup elit ibu kota, suaranya hampir tenggelam oleh alunan musik orkestra klasik yang dimainkan secara live di sudut ruangan.
Bagas Adisetyo Prodjo—pewaris tunggal dari kerajaan medis Prodjo International Hospital—merespons arahan itu dengan keanggunan seorang pangeran yang sudah terbiasa hidup di bawah sorotan kamera sejak lahir. Ia menarik pinggang Delila mendekat, sentuhannya lembut namun posesif. Aroma parfum woody yang sangat mahal, campuran dari oud dan sandalwood, menguar dari tubuh pria itu, membungkus Delila dalam kehangatan yang memabukkan.
"Tersenyumlah sedikit lagi, Sayang," bisik Bagas tepat di telinga Delila, suaranya bariton, tenang, dan sangat menenangkan di tengah kekacauan media ini. "Ini malam kita. Malam di mana seluruh Jakarta, bahkan mungkin seluruh negeri, melihat betapa beruntungnya aku memilikimu."
Delila mengulas senyum terbaiknya, senyum yang sudah ia latih selama berminggu-minggu di depan cermin. Di usianya yang menginjak 29 tahun, menjadi seorang dokter anak yang disegani di rumah sakit elit ibu kota sebenarnya sudah merupakan pencapaian luar biasa. Apalagi bagi seseorang sepertinya. Seseorang yang masa lalunya hanyalah lembaran kertas kosong di sebuah yayasan panti asuhan, sebelum keluarga angkatnya yang sederhana dari pinggiran kota mengambilnya dan memberikannya kasih sayang yang tulus.
Namun malam ini, Delila merasa ia telah melampaui segala batas ekspektasi yang pernah ia bayangkan. Ia telah resmi menjadi Nyonya Prodjo. Sebuah kisah Cinderella di era modern yang sedang disiarkan langsung di beberapa stasiun televisi nasional. Media massa menyebutnya sebagai 'Pernikahan Dekade Ini'—bersatunya seorang dokter berbakat yang mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan, dengan seorang CEO muda nan karismatik yang memimpin rumah sakit terbesar di Asia Tenggara. Sempurna. Terlalu sempurna, hingga rasanya seperti sebuah mimpi yang rapuh.
Setelah sesi pemotretan yang terasa seperti hukuman fisik itu selesai, Bagas membimbing Delila menuruni panggung pelaminan yang dihiasi ribuan mawar putih impor. Mereka mulai berjalan mengitari meja-meja bundar untuk menyapa tamu undangan VIP. Menteri, pejabat tinggi negara, pengusaha konglomerat, hingga kolega medis dari luar negeri hadir di sana.
Delila mengangguk, tersenyum, dan mengucapkan terima kasih berulang kali sampai otot rahangnya terasa kebas. Bagas tidak pernah melepaskan genggaman tangannya, seolah memastikan bahwa istrinya tidak akan terjatuh oleh beratnya gaun atau kelelahan. Pria itu menangkis setiap pertanyaan tajam dari wartawan dengan diplomasi yang memukau. Ia adalah pelindung yang sempurna. Suami idaman yang membuat setiap wanita di ruangan itu menatap Delila dengan pandangan iri yang tidak ditutup-tutupi.
Namun, di tengah hingar-bingar musik, tawa basa-basi, dan denting gelas sampanye kristal, ada satu hal yang membuat bulu kuduk Delila meremang tanpa alasan yang jelas.
Di meja bundar paling depan, tepat di tengah ruangan yang memberikan sudut pandang terbaik ke seluruh penjuru ballroom, duduklah Nyonya Besar keluarga Prodjo. Ratna Prodjo. Ibu mertuanya.
Wanita berusia awal enam puluhan itu terlihat luar biasa anggun dengan kebaya beludru hitam pekat dan sanggul Jawa yang sempurna tanpa sehelai rambut pun yang keluar dari tempatnya. Sebuah kalung berlian zamrud sebesar ibu jari bertengger di lehernya, memancarkan aura kekuasaan absolut. Namun, bukan perhiasan atau status sosialnya yang membuat napas Delila sering kali tertahan saat berdekatan dengannya. Melainkan sepasang mata di balik kacamata berbingkai tipis itu.
Sepanjang malam, Ratna Prodjo tidak banyak tersenyum. Ketika Bagas dan Delila mendekati mejanya untuk bersulang, wanita itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi. Berbeda dengan ibu pada umumnya yang akan menangis haru melihat putra tunggalnya menikah, tatapan Ratna kepada Delila sungguh berbeda.
Itu bukan tatapan seorang ibu. Itu adalah tatapan dingin, analitis, dan tajam—seperti seorang ahli permata yang sedang mengevaluasi aset investasinya di bawah kaca pembesar. Ratna menatap Delila dari ujung kepala, menelusuri tulang selangkanya, turun ke pinggang, lalu kembali menatap tepat ke manik mata Delila.
"Selamat, Bagas," ucap Ratna, suaranya datar dan tenang, nyaris tanpa intonasi emosional. Ia menyentuh lengan putranya sekilas sebelum beralih sepenuhnya pada Delila. "Dan Delila. Kamu terlihat sedikit pucat malam ini. Apakah gaunnya terlalu berat untukmu?"
"Hanya sedikit lelah, Ma," jawab Delila dengan suara yang berusaha ia buat setenang mungkin, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat. "Tapi saya baik-baik saja. Ini malam yang sangat indah."
Mata Ratna menyipit, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. "Kesehatan adalah aset terpenting dalam keluarga ini, Delila. Kamu seorang dokter, kamu pasti sangat memahami hal itu. Keluarga Prodjo tidak memiliki ruang untuk kelemahan fisik. Mulai besok, kamu akan tinggal di rumah utama. Aku sudah mengatur agar ahli gizi keluarga menyusun ulang menu makananmu. Jadwal praktikmu di bagian pediatri juga harus dikurangi. Tubuhmu butuh asupan yang tepat dan istirahat yang sangat, sangat cukup."
Delila tertegun selama beberapa detik. Ada sesuatu yang janggal dalam cara wanita itu menyusun kalimatnya. Mengurangi jadwal praktik? Mengatur menu makanan? Perhatian itu terdengar lebih seperti sebuah instruksi dari seorang komandan militer kepada prajuritnya. Atau lebih buruk lagi, seperti seorang peternak yang sedang memastikan kualitas ternak primadonanya.
"Mama benar, Sayang," potong Bagas cepat, tangannya meremas jari-jari Delila dengan lembut, sebuah peringatan halus agar ia tidak membantah. "Mama hanya tidak ingin kamu jatuh sakit. Apalagi setelah semua persiapan pernikahan yang melelahkan ini. Kita harus menjaga kondisimu tetap prima."
"Tentu saja," Ratna menyela sebelum Delila sempat menjawab, mengangkat gelas sampanyenya perlahan. Bibir wanita itu melengkung membentuk senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Pastikan kondisi menantuku ini tetap sempurna, Bagas. Keluarga ini bergantung pada masa depan yang akan ia berikan."
Masa depan yang akan ia berikan. Kalimat itu terngiang di telinga Delila bagaikan kaset rusak, bahkan ketika mereka sudah berpindah ke meja lain untuk menyapa jajaran direksi Prodjo International Hospital. Kata-kata itu wajar jika diartikan sebagai harapan seorang ibu mertua untuk segera mendapatkan cucu. Wajar. Sangat normal. Tapi insting Delila, insting yang ia asah selama bertahun-tahun di ruang gawat darurat dan bangsal anak, mengatakan ada makna yang jauh lebih kelam dan literal di balik pemilihan kata tersebut.
"Dokter Delila! Ah, maaf, Nyonya Prodjo sekarang," sapa dr. Hendra, Kepala Departemen Bedah Saraf Prodjo Hospital, dengan tawa menggelegar yang sedikit dipengaruhi oleh alkohol. "Malam ini Anda benar-benar mencuri perhatian seluruh Jakarta. Pak Bagas, Anda harus menjaga istri Anda baik-baik. Fisiknya terlihat agak lelah. Ingat, genetika yang baik membutuhkan lingkungan yang baik pula untuk berkembang!"
Bagas tertawa pelan, menepuk bahu dokter senior itu. "Jangan khawatir, Dokter Hendra. Saya akan memastikan istri saya mendapatkan perawatan terbaik di dunia. Dia adalah prioritas utama saya sekarang."
Lagi-lagi, penekanan pada kata 'fisik', 'kesehatan', dan 'genetika'. Delila menelan ludahnya yang terasa pahit, menepis pikiran-pikiran paranoid yang mulai merayap di benaknya. Ini adalah rumah sakit, Lila, batinnya mengingatkan diri sendiri. Tentu saja mereka membicarakan kesehatan. Mereka semua adalah dokter dan ilmuwan medis. Jangan merusak malam pernikahanmu sendiri dengan overthinking.
Waktu berlalu layaknya siksaan yang lambat. Menjelang pukul satu dini hari, tamu terakhir akhirnya meninggalkan ballroom. Pintu kayu ek ganda berukir megah ditutup oleh para staf hotel, meninggalkan Delila dan Bagas dalam keheningan yang akhirnya membebaskan.
Bagas melepaskan jas tuxedo-nya dan menyerahkannya pada asisten pribadinya yang berjaga di luar ruangan, lalu berbalik menatap Delila dengan senyum lega yang membuat garis-garis kelelahan di sudut matanya terlihat jelas.
"Sudah selesai," bisik Bagas, melangkah maju dan merengkuh wajah Delila dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap tulang pipi Delila dengan kelembutan yang membuat hati wanita itu luluh. Segala keraguan dan ketakutannya menguap seketika. Pria di hadapannya ini adalah suaminya. Pria yang memilihnya dari sekian banyak wanita dari keluarga konglomerat lain. "Kamu bertahan dengan sangat hebat malam ini. Maafkan ibuku jika kata-katanya tadi sedikit menekanmu. Dia… dia hanya sangat protektif terhadap keluarga."
"Aku mengerti, Mas," jawab Delila jujur. Ia bersandar pada telapak tangan Bagas, memejamkan mata sejenak untuk menyerap kehangatan suaminya. "Aku hanya butuh tidur. Kakiku rasanya sudah mati rasa sejak dua jam yang lalu."
Bagas tertawa pelan, suara baritonnya bergema di dada. "Mari kita naik. Presidential Suite sudah menunggu. Kita bahkan tidak perlu melihat jadwal praktik sampai minggu depan."
Perjalanan ke lantai teratas Hotel Mulia menggunakan lift privat terasa sangat sunyi. Hanya ada suara dengungan mesin lift yang membawa mereka naik. Delila bersandar di dinding kaca, menatap pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang berkerlap-kerlip di bawah sana. Kota itu terasa begitu kecil sekarang, berada tepat di bawah telapak kakinya. Ia menoleh untuk menatap Bagas, namun pria itu sedang memejamkan mata rapat-rapat, memijat pangkal hidungnya dengan dua jari. Dadanya naik turun dengan ritme yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Mas Bagas? Kamu sakit?" tanya Delila, insting dokternya langsung mengambil alih. Ia menyentuh lengan Bagas. Terasa dingin. Sangat dingin. Keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahi pria itu, merusak riasan sempurnanya.
Bagas membuka mata seketika, menepis sentuhan Delila dengan gerakan refleks yang terlalu cepat, hampir kasar. Namun, sedetik kemudian, ekspresinya kembali berubah menjadi senyum lembut yang menenangkan. Perubahan mikro-ekspresi yang begitu cepat hingga Delila berpikir ia mungkin hanya salah lihat akibat kelelahan.
"Tidak, Sayang. Hanya migrain biasa," jawab Bagas, suaranya terdengar sedikit serak. "Terlalu banyak lampu blitz dan alkohol. Jangan mengkhawatirkanku."
Pintu lift terbuka dengan bunyi denting pelan. Mereka melangkah menyusuri lorong berkarpet tebal menuju pintu ganda bertuliskan Presidential Suite. Saat pintu otomatis itu terbuka, aroma aromatherapy lavender dan chamomile langsung menyambut mereka. Ruangan seluas apartemen mewah itu dihiasi kelopak mawar merah di mana-mana. Lilin-lilin kecil menyala redup, menciptakan suasana romantis yang seharusnya menjadi puncak malam pertama mereka.
Namun, keheningan yang tebal langsung menggantikan riuh rendah pesta. Atmosfer di dalam ruangan ini terasa berbeda. Lebih berat. Lebih tertutup.
Delila menghela napas panjang, berjalan perlahan menuju sofa beludru di ruang tengah dan menjatuhkan dirinya di sana. Ia membungkuk, dengan susah payah melepaskan sepatu hak tingginya yang sudah menyiksa jemarinya selama sepuluh jam terakhir.
"Akhirnya," gumamnya, memijat betisnya yang kram.
Bagas berdiri di tengah ruangan, punggungnya membelakangi Delila. Ia melonggarkan dasi kupu-kupunya dengan gerakan kasar dan membuka dua kancing kemeja teratasnya. Ia tidak langsung menghampiri istrinya, melainkan berdiri mematung menghadap jendela kaca raksasa yang menampilkan skyline Jakarta. Bahunya terlihat tegang, naik turun seiring napasnya yang mulai terdengar sedikit memburu.
"Kamu sungguh luar biasa malam ini, Lila," suara Bagas memecah keheningan, meski ia masih belum menoleh. "Beristirahatlah dulu di sofa. Biar staf hotel yang membereskan gaunmu besok pagi. Aku… aku perlu ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan riasan sialan ini."
Delila mengerutkan kening. Nada suara Bagas terdengar aneh. Terburu-buru dan tertahan. "Biar kubantu lepaskan kemejamu, Mas. Kamu kelihatan pucat di lift tadi. Biar aku periksa tekanan darahmu sebentar, aku yakin ada tensimeter di tas kerjaku—"
"Tidak perlu!"
Suara Bagas sedikit meninggi, memotong kalimat Delila dengan tajam. Kesunyian seketika mengambil alih ruangan itu. Menyadari reaksi berlebihannya, Bagas segera menoleh, memaksakan sebuah senyum tipis yang terlihat sangat menyakitkan. "Maksudku, tidak perlu, Sayang. Ini malam pengantin kita, jangan bersikap seperti dokterku sekarang. Aku hanya butuh mencuci muka dengan air dingin. Tunggulah di sini."
Tanpa menunggu jawaban dari Delila, Bagas segera berbalik dan melangkah setengah berlari menuju kamar mandi utama yang berlapis marmer hitam pekat. Langkahnya tidak seimbang. Kaki kanannya sedikit terseret, seolah ia sedang menahan rasa sakit luar biasa atau beban yang sangat berat di sendinya.
Pintu kayu jati berukir itu dibanting tertutup, namun tidak sampai terkunci rapat. Bantingan yang terlalu terburu-buru itu membuat pintunya sedikit memantul, menyisakan celah selebar dua jari yang tidak disadari oleh Bagas.
Delila terdiam di tengah ruangan, sebelah sepatunya masih menggantung di tangan. Sebagai seorang istri yang baru dinikahi beberapa jam lalu, ia seharusnya merasa tersinggung dibentak seperti itu. Namun, sebagai seorang dokter, alarm tanda bahaya di kepalanya berdering nyaring. Ia mengenali bahasa tubuh itu. Ia melihatnya setiap hari pada pasien-pasien di bangsal yang berusaha menyembunyikan rasa sakit kronis dari keluarga mereka. Napas yang memburu, keringat dingin, gaya berjalan yang asimetris, dan kepanikan yang ditutupi amarah.
Bagas tidak sedang migrain.
Didorong oleh rasa khawatir yang tiba-tiba mencekik dadanya, Delila bangkit dari sofa. Ia mengabaikan rasa sakit di kakinya, melangkah tanpa suara di atas karpet tebal mendekati pintu kamar mandi. Ia hanya ingin memastikan suaminya baik-baik saja. Mungkin Bagas mengalami asam lambung akut akibat terlalu banyak minum sampanye saat perut kosong. Ia hanya akan mengecek dari balik pintu, menanyakan apakah pria itu butuh obat.
Namun, ketika Delila mendekatkan wajahnya ke celah pintu selebar dua jari tersebut, kata-kata itu mati di tenggorokannya.
Melalui celah sempit itu, ia bisa melihat pantulan suaminya di cermin besar di atas wastafel. Bagas tidak sedang mencuci wajahnya. Pria itu tidak menyentuh keran air sama sekali.
Bagas mencengkeram tepi wastafel marmer dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Kepalanya menunduk dalam, napasnya terdengar serak, terputus-putus, dan berat, seperti seseorang yang sedang mengalami serangan asma parah atau gagal jantung ringan.
Tangan kanan Bagas terlepas dari tepi wastafel. Tangan itu gemetar. Bukan gemetar biasa karena kedinginan atau gugup, melainkan tremor hebat yang tak terkendali, seperti pasien yang mengalami kerusakan neurologis akut. Dengan susah payah, Bagas menggerakkan tangannya yang bergetar itu untuk merogoh saku dalam celana tuxedo-nya.
Ia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berwarna cokelat gelap. Botol itu polos. Tidak ada stiker apotek, tidak ada label nama obat, tidak ada resep dokter. Benar-benar botol kaca steril yang biasa digunakan di laboratorium riset internal tingkat tinggi.
Dengan gerakan terburu-buru yang nyaris panik dan putus asa, Bagas menggunakan ibu jarinya untuk membuka tutup botol tersebut. Ia menuangkan tiga butir pil berwarna biru gelap ke telapak tangannya. Tiga butir pil padat berbentuk heksagonal yang belum pernah Delila lihat selama ia menempuh pendidikan kedokteran maupun praktik di rumah sakit bergengsi.
Tanpa mengambil segelas air, Bagas melemparkan ketiga pil itu ke dalam mulutnya dan menelannya mentah-mentah dengan susah payah. Pria itu mendongak, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan tatapan kosong, penuh penderitaan, dan sesuatu yang terlihat seperti… kebencian pada tubuhnya sendiri.
Saat Bagas mengangkat tangannya yang lain untuk mengusap keringat dingin yang membanjiri dahinya, Delila refleks mundur satu langkah, menahan napasnya dengan kedua tangan menutup mulut. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia takut suaminya bisa mendengarnya dari dalam sana.
Tangan suaminya itu masih bergetar hebat. Rahang pria itu mengeras menahan sakit yang tak terbayangkan.
Di luar ruangan Presidential Suite ini, dunia mengenal Bagas Adisetyo Prodjo sebagai lambang kesempurnaan. Pria muda, tampan, kaya raya, dan sehat secara fisik. Namun di balik pintu marmer ini, tepat di malam pernikahan mereka, Delila baru menyadari satu kebenaran yang mengerikan.
Suaminya yang "sempurna" ini tidak hanya menyembunyikan sebuah rahasia kecil. Pria itu menyembunyikan sebuah penyakit mematikan. Dan yang lebih menakutkan bagi Delila, ia tidak tahu sudah berapa lama kebohongan ini berlangsung, dan untuk alasan apa penyakit sebesar ini disembunyikan darinya—seorang dokter yang kini terikat sumpah pernikahan dengannya seumur hidup.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar