Bercak darah segar yang menodai punggung tangan Bagas tampak hitam di bawah pendar lampu neon area parkir Basement 2. Delila membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan, menekan kuat-kuat agar jeritan ngeri yang meronta di tenggorokannya tidak lolos. Udara lembap bercampur aroma knalpot dan oli di basement itu tiba-tiba terasa mencekik, seolah oksigen baru saja disedot habis dari ruangan.

Dari balik pilar beton tebal, Delila menyaksikan suaminya—pria yang diagungkan sebagai lambang kesempurnaan dan vitalitas Prodjo International Hospital—bersandar tak berdaya pada dinding marmer di samping pintu lift VVIP. Napas Bagas terdengar seperti tarikan parut pada logam berkarat; serak, basah, dan menyakitkan.

Sebagai seorang dokter, otak Delila secara otomatis mulai mendiagnosis. Hemoptisis. Batuk berdarah. Mengingat tremor hebat, keringat dingin, dan warna kulit kelabu yang ia lihat semalam dan saat ini, kemungkinannya mengerucut pada hal-hal yang fatal: gagal jantung kongestif tahap lanjut, emboli paru akut, atau degenerasi organ internal yang masif.

Bagas merogoh saku celananya dengan tangan kiri yang gemetar, mengeluarkan sapu tangan sutra berwarna gelap, lalu mengusap kasar darah di bibir dan punggung tangannya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang melalui hidung, dan menahannya selama beberapa detik.

Tepat pada saat itu, sorot lampu mobil Maybach hitam membelah kegelapan basement, meluncur mulus tanpa suara dan berhenti tepat di depan area lift VVIP. Sang sopir pribadi bergegas keluar untuk membukakan pintu penumpang.

Apa yang terjadi selanjutnya membuat darah di nadi Delila benar-benar membeku.

Dalam hitungan detik, postur tubuh Bagas yang rapuh lenyap. Tulang punggungnya tegak. Tarikan napasnya yang serak berubah menjadi teratur. Warna pucat pasi di wajahnya seolah tersapu oleh kontrol otot wajah yang luar biasa. Saat pria itu melangkah menuju mobil, langkahnya tegap, mantap, penuh otoritas. Tidak ada lagi pria sekarat yang memuntahkan darah. Yang tersisa hanyalah CEO Prodjo yang angkuh dan tak tersentuh.

"Malam, Pak Bagas," sapa sang sopir seraya menunduk hormat.

"Malam, Harun. Langsung kembali ke estate. Istri saya memberi tahu bahwa dia akan pulang sedikit terlambat malam ini karena harus merapikan jurnal di ruangannya. Pastikan keamanan menjemputnya nanti," perintah Bagas, suaranya bariton, jernih, dan tidak memiliki jejak getaran sedikit pun.

"Baik, Pak."

Pintu mobil ditutup. Maybach itu meluncur pergi, meninggalkan Delila sendirian dalam keheningan basement yang pekat. Tubuh Delila merosot perlahan hingga terduduk di lantai beton yang dingin. Tangannya masih gemetar. Suaminya bukan sekadar orang sakit yang menyembunyikan diagnosisnya. Suaminya adalah seorang sosiopat yang mampu memanipulasi fisiologi tubuhnya sendiri demi mempertahankan fasad kesempurnaan. Kemampuan Bagas berakting dan menyembunyikan rasa sakit kronis di level itu membutuhkan latihan bertahun-tahun, serta kemauan baja yang mengerikan.

Dia sudah sakit sejak lama, batin Delila, memeluk lututnya sendiri. Dan dia tidak pernah memberitahuku.




Satu jam kemudian, mobil jemputan Delila tiba di estate Menteng. Ia telah menggunakan waktu di perjalanan untuk mencuci wajahnya dengan air dingin di toilet rumah sakit, menata ulang rambutnya, dan menampar pipinya sendiri agar tidak terlihat pucat. Ia tahu, mulai malam ini, ia sedang bermain peran di atas panggung sandiwara yang sama dengan suaminya.

Saat Delila melangkah masuk ke ruang tamu keluarga yang luas dan sepi, ia menemukan Bagas sedang duduk di sofa kulit Chesterfield. Pria itu sudah mandi. Ia mengenakan piyama sutra berwarna navy yang elegan. Rambutnya sedikit basah, dan wajahnya tampak segar—mungkin efek dari riasan tipis atau injeksi vitamin instan yang baru saja ia terima dari dr. Surya. Di atas meja di hadapannya, terdapat dua cangkir teh kamomil yang masih mengepul, bersama sebuah botol kecil berisi pil-pil suplemen.

Melihat Delila datang, Bagas meletakkan tablet bisnisnya dan berdiri. Senyum hangat dan penuh kerinduan langsung mengembang di wajahnya.

"Sayang, akhirnya kamu pulang," sapa Bagas lembut. Ia berjalan menghampiri Delila, meraih pinggang istrinya, dan mendaratkan kecupan hangat di keningnya. "Aku baru saja ingin menyusulmu ke rumah sakit kalau kamu tidak muncul dalam lima belas menit ke depan."

Delila memaksa sudut bibirnya untuk melengkung. "Hanya merapikan beberapa jurnal yang tertinggal, Mas. Aku tidak ingin meja kerjaku berantakan setelah ditinggal cuti."

"Kamu bekerja terlalu keras, Lila," Bagas menghela napas, mengusap pipi Delila dengan ibu jarinya. Sentuhan itu sangat lembut, sangat penuh kasih sayang, hingga membuat perut Delila melilit ngeri. Tangan yang sama dengan yang mengusap darah satu jam yang lalu, kini membelai wajahnya dengan kelembutan yang mematikan. "Ingat kata Mama? Kondisimu adalah yang utama. Mari, duduklah. Aku sudah meminta pelayan membuatkan teh untukmu."

Bagas menuntun Delila duduk di sofa, lalu menyorongkan cangkir porselen berisi teh kamomil ke hadapannya. Di sebelahnya, ia meletakkan botol kaca kecil berisi dua butir pil berwarna putih bersih.

"Dan ini, dari Dokter Surya," lanjut Bagas dengan senyum yang tak pudar. "Suplemen malammu. Untuk memastikan kualitas tidurmu maksimal dan regenerasi sel tubuhmu berjalan baik."

Delila menatap pil putih itu. Instingnya memberontak. Ia adalah seorang dokter; menelan obat tanpa resep jelas adalah pantangan terbesar. "Mas, aku rasa aku tidak butuh suplemen tidur. Teh kamomil ini sudah cukup."

Raut wajah Bagas tidak berubah, senyumnya tetap terpasang sempurna, namun sorot matanya menajam sepersekian milimeter. "Sayang, jangan membantah anjuran medis dari kepala tim dokter kita. Dr. Surya meracik ini khusus untuk profil genetikmu. Kamu tahu sendiri betapa khawatirnya Mama melihatmu sedikit pucat di pesta pernikahan kita kemarin. Makanlah. Hanya dua butir."

Suara Bagas terdengar seperti bujukan seorang suami yang peduli. Namun, Delila bisa merasakan beban tekanan yang mengendap di balik setiap kata. Perhatian ini bukanlah bentuk kasih sayang. Ini adalah pengawasan. Bagas tidak sedang merawat istrinya, ia sedang memastikan bahwa jadwal pemeliharaan 'aset' keluarganya berjalan sesuai protokol.

Dengan tangan yang sedikit kaku, Delila mengambil kedua pil itu, meletakkannya di lidah, lalu meminum tehnya. Ia memastikan menelannya di depan Bagas.

"Pintar," puji Bagas, senyumnya kembali melembut. Ia menggeser duduknya mendekat, memijat perlahan bahu dan tengkuk Delila yang tegang. "Biar aku pijat sebentar. Bahumu kaku sekali. Apa pekerjaan di rumah sakit membuatmu stres? Aku sudah bilang pada Dokter Haris untuk mengurangi beban pasienmu. Mulai besok, aku tidak ingin kamu mengambil lebih dari tiga pasien VIP sehari."

Delila memejamkan mata, membiarkan jemari suaminya memijat tengkuknya. Pijatan itu terasa enak secara fisik, namun secara psikologis, setiap sentuhan Bagas terasa seperti rantai tak kasat mata yang perlahan-lahan melilit lehernya.

"Aku butuh kesibukan, Mas," gumam Delila, mencoba menjaga nada suaranya tetap rasional dan tenang. "Aku tidak bisa hanya diam di ruanganku, menyeruput kopi sambil melihat kolega lain sibuk di UGD. Menjadi dokter anak adalah identitasku jauh sebelum aku menjadi istrimu."

Pijatan di tengkuk Delila terhenti. Jari-jari Bagas mencengkeram bahu Delila dengan kekuatan yang sedikit berlebihan—tidak sampai menyakiti, namun cukup untuk memberikan peringatan fisik.

"Identitasmu telah berevolusi, Delila," suara Bagas terdengar lebih rendah sekarang, berbisik tepat di telinga kirinya. Aroma mint dan teh dari napas pria itu menggelitik kulitnya. "Dunia luar mungkin melihatmu sebagai dokter yang hebat. Tapi di dalam dinding ini, kamu adalah masa depanku. Masa depan keluarga ini. Tubuhmu tidak lagi hanya milikmu sendiri. Ia adalah fondasi dari keluarga Prodjo."

Tubuhmu tidak lagi hanya milikmu sendiri. Kata-kata itu bergema di kepala Delila, menghantam logika akal sehatnya. Kalimat romantis yang biasa diucapkan dalam ikrar pernikahan—tubuhku adalah milikmu, jiwaku adalah milikmu—terdengar begitu klinis dan harfiah saat keluar dari mulut Bagas.

Delila perlahan memutar tubuhnya, menatap langsung ke dalam sepasang mata kelam suaminya. Ia mencari jejak kelemahan di sana. Jejak penyakit yang ia saksikan di basement tadi. Namun Bagas membalas tatapannya dengan mata yang jernih, penuh dominasi, dan rahasia yang terkunci rapat.

"Aku akan mencoba menyesuaikan diri, Mas," jawab Delila akhirnya, memilih untuk mundur teratur. Memancing konfrontasi malam ini tanpa bukti yang cukup adalah bunuh diri.

"Itu baru istriku yang baik," Bagas mengecup bibir Delila sekilas. "Ayo kita tidur. Kamu harus menjaga ritme sirkadian tubuhmu."




Kamar tidur master suite di rumah utama keluarga Prodjo besarnya menyamai ukuran seluruh lantai rumah masa kecil Delila. Ranjang king-size dengan kanopi bergaya Eropa mendominasi bagian tengah ruangan, diapit oleh meja rias antik dan deretan lemari pakaian walk-in yang berbaris rapi.

Delila duduk di depan meja rias, perlahan menyisir rambut panjangnya. Matanya terus menatap pantulan dirinya dan pantulan ruang tidur di cermin besar di hadapannya. Ia sedang mencari sesuatu. Mengingat insiden di hotel saat bulan madu artifisial mereka, di mana ia menyadari ada pergerakan bayangan dari smoke detector di langit-langit, Delila yakin bahwa privasinya hanyalah sebuah ilusi.

Ada kamera tersembunyi di ruangan ini. Ia bisa merasakannya. Dan Bagas tahu itu. Itulah mengapa pria itu tidak pernah melepas fasad sempurnanya semenit pun selama berada di area estate, bahkan di dalam kamar tidur mereka sendiri. Mereka berdua adalah subjek observasi dari Ratu yang sesungguhnya di rumah ini: Ratna Prodjo.

Bagas keluar dari kamar mandi khusus pria di sayap kiri ruangan. Ia berjalan menghampiri Delila, berdiri di belakang istrinya, lalu mengambil alih sisir dari tangan Delila.

Dengan gerakan yang sangat telaten dan penuh perhatian, Bagas mulai menyisir rambut istrinya. Tarikannya lembut, tidak pernah menyangkut, memastikan kulit kepala Delila terasa rileks.

"Rambutmu indah sekali, Lila," bisik Bagas, menatap pantulan mata Delila di cermin. "Kamu tahu, dari semua perempuan yang pernah Mama perkenalkan padaku—anak menteri, pewaris perusahaan tambang, model papan atas—tidak ada satu pun yang memiliki apa yang kamu miliki."

"Apa itu?" tanya Delila pelan, mencoba menyelami arah pembicaraan ini.

Bagas meletakkan sisir itu di atas meja rias berhiaskan marmer Italia. Ia menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Delila, membungkuk hingga dagunya nyaris menyentuh bahu istrinya. Di cermin, mereka terlihat seperti lukisan keluarga bangsawan yang sempurna. Pria yang berkuasa dan wanita yang cantik paripurna.

"Kemurnian," jawab Bagas, suaranya mengalun seperti melodi yang menghipnotis. "Kamu tidak rusak oleh gaya hidup hedonis. Tubuhmu sehat. Hatimu tulus. Kamu mendedikasikan hidupmu untuk menyembuhkan orang lain. Itulah yang membuatku yakin… bahwa kaulah satu-satunya yang ditakdirkan untukku."

Delila menelan ludah. Rentetan pujian itu seharusnya membuat hatinya berbunga-bunga, namun yang terjadi justru sebaliknya. Pujian Bagas tidak terdengar seperti apresiasi terhadap karakternya, melainkan evaluasi terhadap kualitas biologis dan utilitas fungsionalnya. Kemurnian. Sehat. Menyembuhkan orang lain.

Kombinasikan itu dengan apa yang dikatakan dr. Surya tentang HLA-Typing, ditambah dengan pemandangan batuk berdarah di basement... kesimpulan yang terbentuk di kepala Delila semakin mengerucut pada satu kenyataan yang terlalu mengerikan untuk diucapkan dengan lantang.

Delila memberanikan diri. Ia harus menguji seberapa jauh manipulasi pria ini bekerja.

"Mas," Delila meletakkan tangannya di atas tangan Bagas yang mencengkeram bahunya. "Kenapa kamu membicarakan hal ini tiba-tiba? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Di pesta kemarin, lalu di hotel, dan bahkan hari ini… aku merasa ada jarak yang kamu sembunyikan dariku."

Bagas terdiam. Otot di rahangnya menegang sejenak, sebuah reaksi micro-expression yang berhasil ditangkap oleh mata terlatih Delila. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Delila melalui cermin, menembus dinding pertahanan istrinya.

Perlahan, Bagas memutar kursi Delila hingga mereka saling berhadapan. Ia berlutut dengan satu kaki di atas karpet Persia yang tebal, sebuah postur kerendahan hati yang sangat kontras dengan arogansinya di luar sana. Ia meraih kedua tangan Delila, menggenggamnya erat, membawanya ke depan bibirnya dan mengecup buku-buku jari Delila satu per satu dengan penuh pemujaan.

"Lila," panggil Bagas, suaranya kini terdengar rapuh, seolah topeng kesempurnaannya sedikit retak—entah itu akting atau sungguhan, Delila sudah tidak bisa membedakannya lagi. "Aku adalah pria yang memikul beban ribuan nyawa di rumah sakit, dan beban ekspektasi ibuku di pundak ini. Tapi di hadapanmu, aku hanya seorang manusia biasa yang takut kehilangan. Takut pada kerapuhan hidup."

Bagas menunduk menatap tangan Delila yang berada dalam genggamannya, lalu kembali mendongak. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, mata pria itu terlihat begitu gelap, menyimpan jurang keputusasaan yang tak berdasar.

"Dalam sumpah pernikahan kita, kamu berjanji untuk berada di sisiku dalam suka dan duka. Dalam sehat dan sakit," suara Bagas berubah menjadi bisikan parau yang menggetarkan udara di antara mereka. Jari-jari besarnya mengelus punggung tangan Delila dengan ritme yang lambat dan menghipnotis.

Lalu, pertanyaan itu meluncur dari bibir suaminya, menghantam dada Delila dengan kekuatan beton yang dijatuhkan dari lantai 30.

"Kalau suatu hari aku sakit parah… sakit yang mengancam nyawaku dan tidak ada dokter di dunia ini yang bisa menyembuhkannya…" Bagas menatap tepat ke bagian terdalam pupil Delila, sorot matanya merupakan campuran antara permohonan yang putus asa dan tuntutan seorang tiran. "Apakah kamu akan melakukan apa pun untuk menyelamatkanku, Lila? Apa pun itu?"