Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan mencekik.
Apakah kamu akan melakukan apa pun untuk menyelamatkanku, Lila? Apa pun itu?
Di atas karpet Persia yang tebal, Bagas masih berlutut, menggenggam kedua tangan Delila dengan kekuatan yang membelenggu. Sepasang mata kelam suaminya menatap lurus, mengunci setiap jalan keluar di benak Delila. Bagi orang awam, pemandangan ini tampak seperti puncak keromantisan—seorang suami yang rapuh memohon cinta sejati dari istrinya.
Namun bagi Delila, ini adalah sebuah jebakan psikologis yang dirancang dengan sangat presisi.
Alarm di kepala Delila berdering nyaring. Ia ingat botol tanpa label, tremor hebat, dan darah segar di basement. Bagas tidak sedang berandai-andai tentang masa depan yang jauh. Pria ini sedang menguji kesetiaannya untuk sebuah eksekusi yang sudah di depan mata. Jika Delila menjawab dengan ragu, ia akan dianggap sebagai aset yang membangkang. Namun jika ia mengiyakan secara buta, ia secara harfiah sedang menandatangani surat persetujuan atas tubuhnya sendiri.
Delila menarik napas perlahan, menekan segala kepanikan yang meronta di dadanya, dan memanggil seluruh kemampuan klinisnya untuk tetap rasional. Ia adalah seorang dokter. Ia tahu cara menghadapi pasien manipulatif.
"Mas Bagas," Delila membalas tatapan itu dengan kelembutan yang sengaja ia buat-buat, mengusap rahang suaminya dengan sebelah tangan. "Aku ini istrimu, dan aku juga seorang dokter. Tugasku—sumpah profesiku dan sumpah pernikahanku—adalah merawatmu. Kalau suatu hari kamu sakit, kita akan mencari pengobatan medis terbaik di dunia ini. Kita akan melawan penyakit itu bersama, dengan logika dan ilmu pengetahuan. Kamu tidak perlu takut."
Sebuah jawaban diplomatis yang sempurna. Delila memberikan komitmen emosional, namun memberikan batasan yang jelas pada koridor 'pengobatan medis' dan 'ilmu pengetahuan'. Ia tidak menjanjikan pengorbanan buta.
Mata Bagas menyipit sekilas, hanya sepersekian milimeter. Senyum di bibirnya mengembang, namun kali ini senyum itu tidak mencapai matanya. Keputusasaan artifisial tadi menguap, digantikan oleh kepuasan dingin seorang pemburu yang menyadari mangsanya cukup cerdas untuk diajak bermain lebih lama.
"Jawaban yang sangat menenangkan, Istriku," Bagas berdiri, menarik Delila ke dalam pelukan yang menekan tulang rusuknya. Ia mengecup puncak kepala Delila dalam-dalam. "Aku tahu aku tidak salah memilih. Kamu sungguh rasional dan kuat. Ayo, kita harus tidur."
Malam itu, Delila berbaring membelakangi suaminya di atas ranjang king-size mereka. Ia memejamkan mata, mengatur napasnya agar terdengar teratur, berpura-pura terlelap di bawah pengaruh pil tidur sialan yang dipaksakan padanya. Namun di balik selimut sutra itu, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Ia sedang tidur seranjang dengan seorang predator, dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan tidak terlihat seperti mangsa.
Tiga hari kemudian. Akhir pekan di kediaman utama Prodjo tidak dihabiskan dengan bersantai, melainkan dengan persiapan yang menyerupai mobilisasi militer.
Malam ini adalah jadwal Perjamuan Keluarga Besar Prodjo. Sebuah tradisi bulanan di mana cabang-cabang keluarga—mulai dari paman yang menguasai pabrik farmasi, sepupu yang memimpin riset bioteknologi, hingga bibi yang mengelola yayasan adopsi—berkumpul di rumah utama.
Sejak pukul tiga sore, Nyonya Ratna telah mengirimkan tim penata gaya pribadinya ke kamar Delila. Delila diperlakukan bak manekin pameran. Wajahnya dirias oleh makeup artist kelas atas, rambutnya disanggul elegan bergaya klasik, dan tubuhnya dibalut gaun malam sutra berwarna merah maroon rancangan desainer Italia. Gaun itu menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna, memamerkan tulang selangkanya yang proporsional, namun korset di bagian dalamnya begitu ketat hingga membuat Delila sulit menarik napas panjang.
"Tahan sedikit napasnya, Nyonya Muda," ucap kepala penata gaya seraya menarik tali korset di punggung Delila.
Delila mematut dirinya di cermin besar. Ia terlihat luar biasa menawan. Kulitnya bercahaya, posturnya tegak, auranya memancarkan keanggunan aristokrat. Namun, di matanya sendiri, ia tidak melihat seorang Nyonya Rumah yang berkuasa. Ia melihat sebuah komoditas mahal yang sedang dikemas rapi untuk dipamerkan kepada para dewan direksi keluarga.
Pintu kamar terbuka. Ratna Prodjo melangkah masuk tanpa mengetuk, tongkat kayu eboni berukir perak di tangannya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang mengintimidasi. Wanita tua itu mengitari Delila perlahan, matanya memindai setiap inci penampilan menantunya seperti mesin X-ray.
"Sempurna," gumam Ratna dingin. Tidak ada nada pujian di sana, hanya konfirmasi atas sebuah pekerjaan yang memuaskan. "Warna merah menyamarkan kulitmu yang kadang terlihat pucat. Ingat pesanku, Delila. Malam ini adalah kali pertama kamu duduk di meja utama sebagai anggota keluarga inti. Jangan bicara tentang kasus-kasus pasien miskin di bangsal pediatrimu. Bicara seperlunya. Tersenyumlah. Mereka akan menilaimu."
"Menilai saya sebagai apa, Ma? Sebagai dokter atau sebagai istri Mas Bagas?" tanya Delila, memberanikan diri.
Ratna menghentikan langkahnya tepat di hadapan Delila. Mata di balik kacamata berbingkai emas itu menatap Delila dengan superioritas yang absolut. "Menilai kelayakanmu untuk menyandang nama Prodjo di dalam darahmu. Jangan mengecewakanku."
Tepat pukul tujuh malam, ruang perjamuan utama yang biasanya terasa sangat luas kini dipenuhi oleh sekitar dua puluh anggota keluarga besar. Suasana ruangan itu dihiasi oleh denting gelas kristal Baccarat dan aroma cerutu Kuba yang bercampur dengan parfum musk bernilai puluhan juta.
Bagas menggenggam tangan Delila saat mereka menuruni tangga utama. Semua mata langsung tertuju pada mereka. Sorot mata anggota keluarga besar itu tidak memancarkan kehangatan, sapaan ramah, atau candaan khas keluarga. Sebaliknya, mata-mata itu menelanjangi Delila dengan kalkulasi yang sangat klinis.
"Ah, Bagas! Akhirnya kau membawa keajaiban kecil kita ke hadapan publik," seorang pria paruh baya dengan rambut memutih sempurna mendekat, memeluk Bagas singkat lalu beralih menatap Delila lekat-lekat. "Saya pamanmu, Darmawan. Direktur Utama Prodjo Pharmaceuticals."
"Selamat malam, Paman," Delila tersenyum sopan, mengangguk sedikit.
Darmawan menahan tangan Delila sedikit lebih lama saat bersalaman, ibu jarinya seolah menekan nadi di pergelangan tangan Delila. "Luar biasa. Detak jantung yang sangat stabil. Struktur tulang yang sangat simetris. Ratna benar-benar tidak berbohong soal kualitas genetika pilihan yayasan."
Darah Delila berdesir mendengarnya. Pilihan yayasan? Sebelum Delila sempat mencerna kalimat ganjil itu, Bagas dengan halus menarik pinggang Delila, melepaskan tangan istrinya dari cengkeraman pamannya. "Tentu saja, Paman. Istriku selalu menjaga kesehatannya dengan sangat baik. Mari kita duduk, Mama sudah menunggu di ujung meja."
Meja makan panjang berhiaskan taplak linen putih itu menyajikan hidangan ala fine dining Prancis. Delila duduk di sebelah kanan Bagas, posisinya tepat berhadapan dengan dr. Surya Kusuma yang malam ini hadir bukan sebagai staf, melainkan sebagai tamu kehormatan keluarga.
Seiring berjalannya makan malam, Delila menyadari bahwa percakapan di meja ini jauh lebih mengerikan dari sekadar intrik bisnis biasa. Ini bukan obrolan tentang ekspansi rumah sakit, tender pemerintah, atau pembagian dividen saham. Ini adalah diskusi morbid yang disamarkan dengan bahasa intelektual kelas tinggi.
"Bagaimana progres uji klinis terapi sel punca tahap ketiga kita, Darmawan?" tanya Ratna dari ujung meja, memotong daging wellington-nya dengan presisi yang mengerikan.
"Sangat menjanjikan," jawab Darmawan, menyeka bibirnya dengan serbet. "Tapi masalah utamanya tetap pada penolakan host terhadap jaringan donor sintetis. Rejeksi imunologis masih berada di angka empat puluh persen. Organ buatan, sehebat apa pun rekayasa genetikanya, tidak akan pernah bisa mengalahkan spare part asli yang dikembangkan dari spesimen biologi murni."
Spare part. Suku cadang.
Delila meletakkan garpunya, nafsu makannya menguap seketika. Mereka membicarakan organ manusia seolah sedang membicarakan suku cadang mesin mobil mewah.
"Itulah sebabnya," sahut seorang bibi yang duduk di dekat dr. Surya, "Investasi biologi jangka panjang jauh lebih efisien daripada riset lab belaka. Membesarkan wadah yang kompatibel secara alami adalah strategi yang jauh lebih minim risiko rejeksi, asalkan diet dan lingkungannya dikontrol penuh sejak usia dini."
"Tepat sekali," dr. Surya tersenyum tipis, matanya melirik sekilas ke arah Delila sebelum kembali menatap piringnya. "Tubuh manusia, jika dipelihara dengan parameter yang ketat, adalah pabrik biologis yang sempurna. Tentu saja, menemukan kecocokan HLA yang mencapai 99,8% di luar garis keturunan sedarah adalah keajaiban probabilitas. Seperti memenangkan lotre genetik."
Delila mencengkeram serbet di pangkuannya kuat-kuat. Tangannya gemetar di bawah meja. Percakapan ini tidak lagi tersirat; percakapan ini secara terang-terangan sedang membahas dirinya tepat di depan wajahnya, namun dibungkus dengan jargon medis yang berlapis. Mereka menganggap Delila terlalu naif atau terlalu bodoh untuk menyadari bahwa dirinyalah wadah dan investasi biologi yang sedang mereka agung-agungkan.
Delila menoleh perlahan ke arah Bagas. Suaminya itu sedang menyesap wine merahnya dengan tenang, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Pria itu sesekali mengangguk, setuju dengan argumen paman dan bibinya. Bahkan, wajah Bagas malam ini terlihat sangat bugar, tanpa ada jejak pria sekarat yang memuntahkan darah di basement beberapa hari yang lalu. Riasan dan obat-obatan yang ditelannya benar-benar melakukan sihir yang menakutkan.
"Bagas," panggil Paman Darmawan, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu harus berhati-hati dengan jadwal kerjamu. Waktu kita tidak banyak. Masa transisi selalu menjadi masa yang krusial. Kau mengerti maksudku, kan?"
"Aku sangat mengerti, Paman," Bagas tersenyum tipis, meletakkan gelasnya. "Semua sudah dipersiapkan. Aku hanya menunggu lampu hijau dari tim medis."
"Bagus," Ratna menyela dengan suara beratnya yang mematikan segala percakapan lain di ruangan itu. "Dinasti ini tidak dibangun oleh mereka yang lemah. Keberlangsungan Prodjo adalah prioritas mutlak. Satu nyawa yang hilang atau berkorban tidak ada artinya dibandingkan dengan ribuan nyawa lain yang diselamatkan oleh rumah sakit kita. Itu adalah pengorbanan yang mulia."
Udara di ruang makan itu terasa beracun. Delila merasa dinding-dinding berukir itu mulai menyempit, mencekiknya. Ia butuh udara. Ia butuh keluar dari ruangan yang dipenuhi oleh manusia-manusia psikopat berseragam aristokrat ini.
"Maaf, permisi sebentar," Delila berdiri dengan tiba-tiba, kursinya berderit pelan bergesekan dengan lantai marmer. Ia memaksakan senyum meminta maaf. "Saya butuh ke powder room."
"Biar kuantar," Bagas langsung bersiap berdiri.
"Tidak perlu, Mas. Lanjutkan saja makan malamnya," cegah Delila cepat, nada suaranya sedikit lebih tinggi dari yang ia rencanakan. Ia menatap Bagas dengan tatapan memperingatkan. "Aku hanya butuh waktu sebentar."
Ratna memberi isyarat dengan matanya, dan Bagas kembali duduk perlahan. "Jangan terlalu lama, Delila. Hidangan penutup akan segera disajikan," ucap ibu mertuanya tanpa ekspresi.
Delila melangkah setengah berlari keluar dari ruang perjamuan. Begitu pintu ganda berukir itu tertutup di belakangnya, ia menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa sakit di rongga dada.
Ia berjalan menyusuri lorong panjang yang sepi, menjauhi area powder room utama dan memilih untuk mengambil jalan memutar melewati koridor perpustakaan yang temaram. Ia butuh kesunyian untuk menata kembali serpihan-serpihan informasi gila yang baru saja ia dengar.
Investasi biologi. Dikontrol sejak usia dini. Pilihan yayasan.
Kata 'yayasan' itu terus mengganggunya. Delila dibesarkan di sebuah yayasan panti asuhan kecil di pinggiran Jakarta sebelum orang tua angkatnya mengadopsinya di usia balita. Apakah Paman Darmawan sedang membicarakan yayasan yang sama? Tapi bagaimana mungkin konglomerat sebesar Prodjo tahu detail masa lalunya yang terpelosok itu, kecuali jika... kecuali jika mereka sendirilah yang mendanai yayasan tersebut dari balik layar.
Langkah Delila terhenti ketika ia mendengar suara langkah kaki berat dan ketukan tongkat kayu di ujung koridor perpustakaan. Ia langsung mundur, menyembunyikan dirinya di balik pilar pualam besar, menahan napasnya.
Dua sosok berjalan lambat di lorong yang bersebelahan dengannya. Nyonya Ratna dan dr. Surya. Mereka rupanya meninggalkan meja makan melalui pintu samping.
"...dia cerdas, Nyonya Besar. Jauh lebih cerdas dari yang kita perkirakan," suara dr. Surya terdengar berbisik, namun gema di lorong sepi itu membuat Delila bisa mendengarnya dengan jelas. "Reaksinya saat saya mengambil sampel HLA kemarin menunjukkan tingkat kecurigaan yang tinggi. Saya sarankan kita membatasi akses internet dan komunikasinya dengan pihak luar secara bertahap. Kita tidak ingin insiden kebocoran informasi seperti dua puluh tahun yang lalu terulang kembali."
"Kecurigaan adalah hal yang wajar bagi seorang dokter, Surya. Tapi dia terjebak di sini sekarang. Kontrak pranikah itu mengikatnya secara hukum dan finansial. Jika dia mencoba lari, orang tua angkatnya yang akan menanggung akibatnya," jawab Ratna, suaranya sedingin es kering.
Ketukan tongkat eboni itu berhenti. Ratna menghela napas panjang yang terdengar sarat akan beban dan ketidaksabaran.
"Bagaimana progres kemunduran organ Bagas?" tanya Ratna tajam.
"Sangat agresif. Jauh lebih cepat dari prediksi awal kita," lapor dr. Surya, nada suaranya berubah menjadi profesional yang tegang. "Bagas diam-diam mengonsumsi inhibitor yang mempercepat kerusakannya sendiri untuk menahan rasa sakit saat tampil di publik. Jantung dan ginjalnya berada di batas toleransi maksimal. Jika kita tidak melakukan tindakan dalam waktu maksimal dua bulan, kita akan kehilangannya."
Delila menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Dua bulan. Waktu Bagas hanya tersisa dua bulan. Itu menjelaskan serangan di basement malam itu.
"Kita tidak akan kehilangannya. Aku tidak menghabiskan waktu dua puluh tahun mendanai panti asuhan kumuh itu dan merekayasa adopsi perempuan itu hanya untuk melihat putraku mati," geram Ratna, nada suaranya memancarkan kekejaman murni seorang ibu tiran.
Udara di lorong itu mendadak terasa membeku saat Ratna Prodjo membalikkan badannya, menatap lurus ke depan, memberikan instruksi terakhirnya pada kepala tim medis keluarga.
"Percepat protokolnya, Surya. Mulai minggu depan, naikkan dosis suplemennya. Singkirkan siapapun yang mencoba mencampuri urusan ini. Dan yang paling penting..." Ratna menjeda kalimatnya, suaranya menggema mengerikan di sela-sela lorong yang gelap.
"...pastikan kondisi donornya tetap sempurna."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar