Cahaya matahari pagi menembus celah gorden beludru Presidential Suite Hotel Mulia, jatuh tepat di wajah Delila. Ia terbangun dengan rasa pening yang berdenyut di pelipisnya. Sisa-sisa kelelahan dari resepsi pernikahan semalam masih menempel erat di tulang-tulangnya. Butuh beberapa detik bagi kesadarannya untuk berkumpul, mengingatkannya bahwa ia kini berada di sebuah kamar hotel seharga puluhan juta per malam, dan bahwa ia kini adalah seorang istri.
Delila meraba sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Seprai sutra Mesir itu terasa dingin, menandakan bahwa Bagas sudah bangun sejak lama.
Seketika, ingatan tentang kejadian semalam menghantam benaknya seperti siraman air es. Botol kaca tanpa label. Tiga butir pil biru heksagonal. Tangan yang bergetar hebat. Keringat dingin. Wajah suaminya yang tampak kesakitan dan putus asa di depan cermin kamar mandi.
Dengan jantung yang mulai berdebar lebih cepat, Delila bergegas bangkit. Ia mengikat rambut panjangnya asal-asalan dan berjalan keluar dari kamar tidur menuju ruang tengah.
Bagas ada di sana. Pria itu berdiri di dekat jendela kaca raksasa, sedang berbicara melalui ponsel dengan suara rendah namun tegas. Ia sudah rapi. Sangat rapi. Ia mengenakan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana chinos berwarna navy. Rambutnya tersisir sempurna ke belakang. Tidak ada tanda-tanda kelemahan. Tidak ada sisa-sisa pria rapuh yang gemetar menahan sakit belasan jam yang lalu.
Mendengar langkah kaki Delila, Bagas menoleh. Wajahnya seketika melembut. Ia mengakhiri panggilannya dan tersenyum—senyum memukau yang mampu meluluhkan hati wanita manapun.
"Pagi, Sayang," sapa Bagas lembut, melangkah menghampiri Delila dan mengecup kening istrinya dengan sayang. "Tidurmu nyenyak? Aku sengaja tidak membangunkanmu. Kamu pasti sangat kelelahan."
Delila menatap mata Bagas lekat-lekat. Pupilnya normal. Tidak ada semburat kuning pada sclera matanya. Warna kulitnya sehat. Aroma tubuhnya masih didominasi wangi sabun dan mint. Pria di hadapannya ini tampak seperti lambang kesehatan dan vitalitas yang sempurna.
"Mas Bagas," panggil Delila pelan, tidak membalas pelukan suaminya. Insting dokternya mengambil alih, menuntut rasionalisasi atas anomali semalam. "Obat apa yang kamu minum semalam?"
Gerakan tangan Bagas yang sedang merapikan anak rambut Delila terhenti sepersekian detik. Sebuah jeda yang terlalu singkat untuk disadari orang awam, namun cukup panjang bagi seorang dokter yang terbiasa membaca bahasa tubuh pasien. Namun dengan cepat, senyum Bagas kembali mengembang, diiringi tawa renyah yang terdengar sangat natural.
"Obat? Oh, maksudmu pil yang di kamar mandi?" Bagas menggelengkan kepala pelan, mengusap bahu Delila. "Itu hanya muscle relaxant dan suplemen dosis tinggi, Lila. Resep khusus dari dokter olahraga di rumah sakit kita. Aku belakangan ini kurang tidur karena mengurus merger perusahaan farmasi dan persiapan pernikahan kita. Semalam otot punggungku kram parah. Seharusnya aku minta tolong padamu untuk memijatnya, tapi aku tidak tega melihatmu sudah nyaris pingsan karena gaun itu."
Penjelasan itu meluncur dengan sangat mulus. Masuk akal. Logis. Siapapun yang berdiri berjam-jam menyalami ribuan tamu bisa saja mengalami kejang otot parah.
"Tapi botolnya tidak berlabel, Mas. Dan tremor di tanganmu semalam… itu bukan sekadar kram otot biasa. Berapa dosis muscle relaxant yang kamu minum?" cecar Delila, suaranya naik setengah oktaf tanpa ia sadari.
Bagas menangkup kedua pipi Delila, menatapnya dengan pandangan teduh dan penuh cinta yang membuat dada Delila sesak. "Sayang, hei… tenanglah. Istriku ini dokter yang sangat perhatian, ya? Maafkan aku sudah membuatmu khawatir di malam pertama kita. Itu botol lab khusus karena dokterku meracik vitaminnya sendiri agar lebih efektif. Aku berjanji, aku baik-baik saja. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh membedah rekam medisku begitu kita sampai di rumah sakit nanti. Oke?"
Mata Bagas begitu jernih. Kata-katanya begitu menenangkan. Delila menghela napas panjang, membiarkan suaminya menariknya ke dalam pelukan hangat. Mungkin ia yang terlalu paranoid. Mungkin kelelahan membuat otaknya membesar-besarkan sesuatu yang sepele. "Berjanjilah padaku, kalau ada apa-apa dengan kesehatanmu, aku harus jadi orang pertama yang tahu, Mas. Aku istrimu sekarang."
"Tentu saja, Sayang," bisik Bagas di puncak kepala Delila. "Kamu adalah satu-satunya orang yang paling kubutuhkan di dunia ini."
Kata-kata itu terdengar sangat romantis. Namun, entah mengapa, Delila merasa ada hawa dingin yang merayap di tengkuknya.
Perjalanan dari Senayan menuju kawasan elit Menteng memakan waktu kurang dari setengah jam. Delila duduk di jok kulit baris belakang mobil Maybach hitam milik keluarga Prodjo. Di luar jendela, jalanan ibu kota tampak sibuk, namun di dalam kabin mobil yang kedap suara ini, suasana terasa hampa.
Mobil mewah itu berbelok memasuki sebuah jalan rindang yang dipenuhi pepohonan trembesi berusia puluhan tahun, sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa hitam yang menjulang setinggi empat meter. Dua orang penjaga berseragam safari gelap segera membuka gerbang, menunduk hormat saat mobil meluncur masuk.
Delila menahan napas. Ia sudah tahu keluarga Prodjo itu kaya raya, tapi melihat langsung kediaman utama mereka memberikan intimidasi psikologis yang berbeda.
Ini bukan sekadar rumah. Ini adalah sebuah kompleks perkebunan (estate) bergaya kolonial Belanda yang dipadukan dengan arsitektur modern-minimalist yang dingin. Bangunan utamanya bercat putih gading dengan pilar-pilar raksasa yang menyangga balkon melingkar. Halamannya ditutupi rumput manila yang dipangkas dengan presisi militer—tidak ada sehelai rumput pun yang tumbuh keluar dari jalurnya. Tidak ada bunga berwarna-warni yang ceria, hanya tanaman hias berdaun gelap dan air mancur marmer yang memuntahkan air dengan suara statis.
Segalanya di tempat ini tampak steril. Terlalu sempurna hingga terasa tidak bernyawa.
Saat pintu mobil dibukakan, selusin pelayan berseragam hitam putih sudah berdiri berbaris rapi di tangga teras. Mereka menunduk serentak dalam diam. Tidak ada yang tersenyum. Tidak ada ucapan selamat datang yang hangat.
"Selamat datang di rumah utama, Nyonya Muda," ucap seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi—kepala pelayan keluarga—sembari membungkuk kaku. "Nyonya Besar sudah menunggu Anda dan Tuan Muda di ruang makan utama untuk sarapan."
Bagas menggenggam tangan Delila, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Interior rumah itu lebih mirip museum seni kontemporer bercampur galeri sejarah daripada sebuah tempat tinggal. Lantai marmer putihnya memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang bahkan dinyalakan di siang hari bolong. Lukisan-lukisan bernilai miliaran rupiah tergantung kaku di dinding. AC sentral berhembus terlalu dingin, membawa aroma samar antiseptik yang disembunyikan di balik pengharum ruangan beraroma mawar putih.
Bau rumah sakit. Delila sangat mengenali bau itu. Tapi mengapa rumah pribadi berbau seperti ruang sterilisasi VIP?
Mereka melangkah memasuki ruang makan utama. Sebuah meja kayu mahoni padat sepanjang lima meter mendominasi ruangan. Di ujung meja yang posisinya paling berkuasa, duduklah Ratna Prodjo.
Wanita itu sudah berpakaian rapi dengan blus sutra berwarna zamrud. Rambutnya disanggul kencang. Di hadapannya, bukan terhidang nasi goreng atau roti panggang hangat, melainkan secangkir teh hijau pucat, beberapa butir suplemen, dan semangkuk kecil buah berry yang ditakar jumlahnya.
"Duduklah," perintah Ratna, bahkan tanpa mengangkat wajahnya dari tablet berita bisnis yang sedang ia baca. Suaranya menggema di ruangan yang langit-langitnya setinggi enam meter itu.
Bagas menarik kursi di sebelah kanan ibunya untuk Delila, sebelum ia sendiri duduk di sisi kiri. Pelayan segera datang membawa porsi sarapan untuk mereka berdua.
Delila mengerutkan kening saat melihat piringnya. Selembar dada ayam rebus yang dipotong presisi, brokoli kukus tanpa garam, quinoa, dan segelas jus sayuran hijau yang baunya menyengat. Porsi itu sangat terukur, seperti diet pasien pra-operasi di bangsal bedah gizi.
"Keluarga Prodjo tidak membangun dinasti ini dengan membiarkan genetika yang lemah atau kebiasaan buruk merusak garis keturunan," Ratna meletakkan tablet-nya, menatap Delila dengan pandangan menguliti. "Mulai hari ini, makananmu akan diatur langsung oleh dr. Surya Kusuma, kepala tim medis keluarga kita. Semua kalori, protein, dan mikronutrisi harus terukur."
"Maaf, Ma," Delila mencoba tersenyum sopan, meski nafsu makannya langsung menguap. "Tapi saya seorang dokter. Saya mengerti betul cara menjaga asupan gizi saya sendiri. Saya terbiasa makan sehat, tapi diet ketat seperti ini… ini biasanya diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi medis khusus atau persiapan prosedur berat."
Ratna Prodjo mengangkat sebelah alisnya. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan porselen dengan bunyi clink tajam yang memecah kesunyian.
"Di rumah ini, Delila," suara Ratna sangat pelan, namun bergetar dengan otoritas yang absolut, "statusmu bukan dokter. Statusmu adalah istri pewaris utama Prodjo. Tubuhmu, kesehatanmu, dan sel-sel di dalam dirimu, sekarang adalah aset keluarga ini. Aset yang harus dijaga dengan tingkat pengamanan tertinggi. Apakah aku kurang jelas?"
Delila terdiam. Ia menatap Bagas, mencari dukungan. Di drama televisi atau novel picisan, ini adalah momen di mana sang suami akan menggebrak meja dan membela istrinya dari mertua yang otoriter.
Namun Bagas hanya memotong dada ayamnya dengan tenang, mengunyahnya, lalu menelan sebelum menatap Delila dengan senyum lembut yang manipulatif. "Turuti saja, Sayang. Mama hanya ingin yang terbaik untuk kita berdua. Anggap saja ini fasilitas VIP yang tidak bisa didapatkan orang luar. Jangan keras kepala, ya?"
Perut Delila melilit. Ia bukan merasa sedang dirawat, ia merasa sedang dibesarkan di dalam peternakan eksklusif.
"Bagus kalau kamu mengerti," lanjut Ratna dingin. "Selesai sarapan, dr. Surya sudah menunggumu di sayap barat. Kamu harus menjalani medical check-up lengkap pagi ini."
Delila refleks meletakkan garpunya. Ini sudah tidak masuk akal. "Pemeriksaan lagi? Maaf, Nyonya—maksud saya, Ma. Bulan lalu, tepat sebelum pernikahan, saya sudah menjalani pre-marital check-up terlengkap di Prodjo International Hospital. Saya mengambil paket paling mahal yang mencakup rontgen paru, USG abdomen, tes darah lengkap, TORCH, semuanya. Hasil saya sempurna. Tidak ada urgensi medis untuk mengambil darah saya lagi secepat ini."
"Pemeriksaan pranikah itu adalah standar untuk publik, Delila," sahut Ratna, nada suaranya mulai menyiratkan kebosanan. "Untuk memastikan kamu tidak membawa penyakit menular murahan ke dalam ranjang putraku. Pemeriksaan hari ini adalah standar internal keluarga Prodjo. Kami memiliki parameter sendiri."
"Tapi—"
"Delila," potong Bagas, kali ini senyumnya menghilang, digantikan oleh raut wajah serius yang membuat nyali Delila sedikit menciut. Tangan suaminya itu meremas punggung tangan Delila di atas meja. Sangat kuat. "Jangan membuat Mama mengulangi kata-katanya di pagi pertama kita di rumah ini. Lakukan saja. Itu hanya tes darah. Setelah itu kamu bisa beristirahat seharian."
Terjebak antara rasa hormat, kebingungan, dan intimidasi psikologis, Delila akhirnya mengalah. Ia menundukkan wajahnya, menatap dada ayam rebus di depannya yang kini terlihat seperti daging mentah yang mengerikan. Sangkar emas itu mulai menunjukkan jerujinya.
Tiga puluh menit kemudian, Delila diantar oleh seorang pelayan menuju sayap barat rumah utama. Bagas beralasan harus segera memimpin rapat direksi secara online terkait lonjakan saham rumah sakit mereka usai pernikahan.
Sayap barat rumah itu terasa sangat berbeda dari area utama. Jika ruang tamu dan ruang makan bergaya klasik, lorong ini berdinding panel putih bersih dengan penerangan neon netral. Di ujung lorong, sebuah pintu kaca otomatis terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan yang membuat Delila nyaris tersedak napasnya sendiri.
Itu bukan sekadar ruang periksa. Itu adalah sebuah mini-ICU dan laboratorium yang dilengkapi mesin-mesin diagnostik bernilai miliaran rupiah. Ada mesin centrifuge darah, pendingin sampel biologis, dan sebuah kursi periksa hidrolik berlapis kulit hitam yang lebih mirip kursi bedah.
Seorang pria berkacamata tebal dengan jas putih dokter berdiri di dekat konter stainless steel. Ia berbalik dan tersenyum ramah. Terlalu ramah.
"Selamat pagi, Dokter Delila. Atau haruskah saya memanggil Anda Nyonya Bagas sekarang?" sapa pria itu. "Saya dr. Surya Kusuma. Saya yang bertanggung jawab atas seluruh rekam medis keluarga inti."
"Panggil saya Delila saja, Dokter Surya," jawabnya kaku, melangkah masuk ke ruangan yang berbau alkohol pekat dan klorin itu. "Saya tidak mengerti kenapa kita harus mengulang tes darah saya. Parameter internal apa yang keluarga ini cari yang tidak dicakup oleh panel VIP rumah sakit?"
Dokter Surya tertawa pelan, suara tawanya terdengar kering. "Oh, Anda akan segera mengerti. Nyonya Besar sangat spesifik mengenai standar genetik. Silakan duduk."
Delila duduk di kursi hidrolik yang dingin itu. Ia menggulung lengan blusnya, memperlihatkan lipatan sikunya. Sebagai sesama tenaga medis, ia mencoba mengawasi setiap langkah dr. Surya. Ia melihat pria itu menyiapkan perlengkapan phlebotomy. Jarum, tourniquet, alcohol swab. Sangat standar.
Lalu, dr. Surya mengeluarkan rak tabung darah.
Mata Delila melebar. Biasanya, untuk tes darah lengkap (CBC), fungsi hati, dan ginjal, dokter hanya membutuhkan dua atau maksimal tiga tabung kecil (vacutainer). Tabung bertutup ungu untuk darah utuh, merah untuk serum, dan kuning untuk tes kimiawi.
Namun dr. Surya menjejerkan tidak kurang dari delapan tabung besar di atas meja stainless.
"Dokter Surya," Delila menegakkan punggungnya, nada suaranya berubah tajam, "Untuk apa darah sebanyak itu? Itu hampir 60 mililiter. Tes biokimia apa yang butuh sampel masif seperti ini pada individu sehat?"
"Hanya beberapa profil antibodi tambahan dan pemetaan molekuler, Dokter Delila. Tidak perlu khawatir. Darah Anda akan bereproduksi dalam hitungan jam," jawab dr. Surya dengan nada menenangkan layaknya berbicara pada pasien anak-anak. Ia memasang tourniquet di lengan Delila dengan tarikan yang sedikit terlalu kencang, lalu menusukkan jarum ke pembuluh vena Delila.
Darah merah gelap mengalir deras memenuhi tabung pertama. Tutup ungu. Normal.
Tabung kedua. Tutup merah. Normal.
Tabung ketiga. Tutup kuning. Normal.
Namun dr. Surya tidak berhenti. Ia menukar tabung dengan kecepatan mekanis. Tabung keempat, kelima. Lalu tabung keenam dengan tutup hijau (Heparin).
Saat dr. Surya mengambil tabung ketujuh dan kedelapan, napas Delila tertahan. Matanya yang awas menangkap label barcode spesifik yang tercetak di botol-botol terakhir itu. Ia pernah stase di departemen Imunologi dan Transplantasi Organ semasa residensinya. Ia hafal betul warna dan kode barcode pada tabung-tabung medis.
Tabung-tabung terakhir itu bukan untuk tes kolesterol. Bukan untuk profil vitamin. Bukan pula untuk mengecek penyakit menular.
Kode di tabung itu bertuliskan HLA-Typing dan Lymphocyte Crossmatch.
Itu adalah jenis tes darah tingkat tinggi yang secara eksklusif hanya dilakukan pada dua kelompok manusia: pasien yang sedang menunggu donor organ vital, dan calon pendonor hidup yang sedang diukur tingkat kecocokan jaringannya.
"Tunggu," Delila mencengkeram lengan kursi dengan tangan kirinya yang bebas, menatap dr. Surya dengan sorot mata menuntut. Jantungnya bergemuruh hebat memompa adrenalin. "Kenapa Anda melakukan tes Human Leukocyte Antigen pada saya? Saya tidak menderita autoimun, dan saya bukan pendonor organ untuk siapapun!"
Gerakan tangan dr. Surya terhenti seketika. Ruangan steril itu mendadak terasa hampa udara. Suara dengungan mesin pendingin reagen di sudut ruangan terdengar begitu keras di telinga Delila.
Dokter senior itu menatap Delila dari balik kacamata tebalnya. Tidak ada lagi keramahan artifisial di wajahnya. Senyumnya lenyap, digantikan oleh ekspresi klinis yang sedingin es. Ia mencabut jarum dari lengan Delila, menekan kapas beralkohol ke atas luka tusukan itu, dan menempelkan plester dengan sedikit kasar.
Sambil menyusun perlahan delapan tabung darah Delila yang kini penuh dan berwarna merah pekat, dr. Surya menunduk mendekati wajah Delila dan berbisik dengan suara yang membuat darah di nadi Delila terasa membeku.
"Tentu saja Anda adalah pendonor, Dokter Delila. Untuk itulah Anda dibawa ke rumah ini."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar