"Tentu saja Anda adalah pendonor, Dokter Delila. Untuk itulah Anda dibawa ke rumah ini."

Udara di dalam ruang medis mini itu seolah tersedot habis. Jantung Delila berhenti berdetak selama satu ketukan yang terasa seperti keabadian. Otot-otot di lengannya menegang. Matanya membelalak, menatap wajah dr. Surya yang berjarak hanya beberapa inci darinya. Pria berkacamata tebal itu menatapnya tanpa berkedip, sorot matanya sedingin pisau bedah.

Dalam sepersekian detik, ribuan skenario horor berputar di kepala Delila. Sindikat perdagangan organ. Sekte elit pemuja keabadian. Eksperimen manusia ilegal. Semua teori konspirasi paling gila yang biasa ia tertawakan kini terasa nyata dan mengancam nyawanya. Secara refleks, Delila menarik lengannya dengan kasar, membuat plester yang baru dipasang dr. Surya sedikit terlepas.

"Apa maksud Anda?!" suara Delila keluar sebagai desisan tajam. Tangan kirinya mencengkeram erat tepi kursi hidrolik, siap melompat dan berlari keluar dari ruangan itu jika dr. Surya melakukan satu gerakan mencurigakan. "Pendonor untuk siapa? Jelaskan sekarang!"

Melihat kepanikan Delila yang nyaris meledak, ekspresi klinis dr. Surya tiba-tiba mencair. Pria itu menegakkan tubuhnya, memundurkan langkahnya, lalu tertawa. Tawa yang renyah, hangat, dan terdengar sangat menyebalkan di telinga Delila.

"Astaga, Nyonya Muda. Tenanglah, tolong jangan salah paham," dr. Surya mengangkat kedua tangannya dengan gestur menyerah, senyum kebapakan kembali menghiasi wajahnya. "Maksud saya pendonor darah rutin. Bank Darah VIP Prodjo."

Delila masih membeku, napasnya memburu. "Bank darah? Lalu kenapa Anda membutuhkan panel HLA-Typing dan Lymphocyte Crossmatch? Itu panel untuk transplantasi organ!"

"Benar sekali, dan itu juga panel standar untuk Stem Cell Repository dan plasma darah khusus yang dikelola internal oleh keluarga Prodjo," jelas dr. Surya dengan nada sabar, seolah sedang mengajari mahasiswa kedokteran tahun pertama. Pria itu menyusun kedelapan tabung darah Delila ke dalam kotak pendingin stainless steel.

"Keluarga ini memiliki bank biologis rahasia untuk berjaga-jaga jika ada anggota keluarga inti yang membutuhkan transfusi darurat atau terapi sel punca. Nyonya Besar sangat paranoid soal penyakit menular dari darah orang luar. Karena Anda sekarang adalah Nyonya Prodjo, profil genetik dan kecocokan sel Anda harus dipetakan dan disimpan di database tertutup kami. Jika suatu saat—amit-amit—Pak Bagas atau Nyonya Besar mengalami kecelakaan, Andalah pendonor darah prioritas pertama mereka. Begitu juga sebaliknya."

Dr. Surya menutup kotak pendingin itu dengan bunyi klik logam yang tegas. "Apakah penjelasan saya cukup masuk akal, Dokter Delila?"

Penjelasan itu terlalu rapi. Terlalu logis secara medis, namun pada saat yang sama, terasa sangat manipulatif. Delila adalah seorang dokter; ia tahu bahwa menyimpan database HLA keluarga untuk terapi sel punca memang dilakukan oleh beberapa keluarga ultra-kaya di dunia. Namun, instingnya meneriakkan sesuatu yang lain. Cara dr. Surya menatapnya tadi… itu bukan tatapan seorang dokter yang menjelaskan prosedur bank darah. Itu adalah tatapan sosiopat yang sedang menikmati ketakutan korbannya.

Namun, tanpa bukti konkret, Delila tahu ia tidak bisa berteriak atau menuduh dr. Surya melakukan eksperimen ilegal. Ia hanya akan terlihat seperti menantu perempuan paranoid yang kehilangan kewarasannya di hari kedua pernikahan.

"Saya mengerti," jawab Delila akhirnya, suaranya dingin dan kaku. Ia turun dari kursi periksa, merapikan lengan blusnya. "Tapi lain kali, Dokter Surya, saya minta Anda menjelaskan tujuan tes sebelum memasukkan jarum ke pembuluh vena saya. Itu adalah hak dasar pasien, bukan?"

"Tentu, Nyonya. Permintaan maaf saya yang terdalam," dr. Surya menunduk sopan, meski senyum tipis di bibirnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

Delila berbalik dan melangkah keluar dari ruangan steril itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan menyusuri lorong sayap barat kediaman Prodjo yang sepi dengan langkah cepat. Udara dingin dari AC sentral menusuk tengkuknya, namun punggungnya basah oleh keringat dingin. Sangkar ini, batinnya, bukan sekadar tempat tinggal. Ini adalah fasilitas observasi.




Satu minggu kemudian.

Masa cuti pernikahan yang diklaim media sebagai "bulan madu eksklusif di Eropa" nyatanya hanya dihabiskan Delila di dalam kediaman keluarga Prodjo di Menteng. Nyonya Ratna beralasan bahwa "kondisi keamanan" dan "pemulihan fisik" adalah prioritas utama. Delila merasa dirinya seperti burung kenari mahal yang sedang dikarantina. Setiap makanannya ditimbang, waktu tidurnya diawasi, dan ia sama sekali tidak diizinkan meninggalkan area estate tanpa pengawalan ketat.

Karena itu, ketika masa cutinya berakhir dan ia akhirnya melangkah masuk ke lobi utama Prodjo International Hospital, Delila nyaris bisa bernapas lega. Bau antiseptik, espresso dari kafe lobi, dan suara dering telepon dari meja resepsionis terasa seperti oase di tengah gurun. Ini adalah dunianya. Tempat di mana ia memegang kendali.

Prodjo International Hospital bukanlah sekadar rumah sakit. Bangunan tiga puluh lantai berlapis kaca dan baja ini lebih menyerupai hotel bintang tujuh di Dubai daripada fasilitas kesehatan. Lobi utamanya dihiasi marmer Italia yang didatangkan khusus, dengan lampu gantung kristal di tengah ruangan dan alunan piano live yang dimainkan di sudut lobi. Pasien yang datang ke sini bukanlah masyarakat umum yang mengantre dengan BPJS, melainkan menteri, konglomerat, selebritas papan atas, dan ekspatriat kaya raya.

"Selamat pagi, Dokter Delila!"

"Pagi, Nyonya Prodjo."

"Selamat atas pernikahan Anda, Nyonya!"

Sepanjang langkahnya menuju lift, para perawat, dokter jaga, dan staf administrasi menepi, menunduk hormat dengan tingkat kepatuhan yang membuat Delila risih. Sebelum menikah dengan Bagas, ia memang dokter anak yang disegani karena kemampuannya, tapi sapaan mereka dulu terasa hangat dan kolektial. Sekarang, sapaan itu bercampur dengan ketakutan dan rasa segan yang berlebihan. Ia bukan lagi sekadar rekan kerja; ia adalah istri dari penguasa tertinggi gedung ini.

Delila melangkah masuk ke lift khusus staf dan menekan tombol lantai 4—Departemen Pediatri.

Ketika pintu lift terbuka, Kepala Departemen Pediatri, dr. Haris, sudah berdiri di sana lengkap dengan jas putihnya yang disetrika kaku. Pria paruh baya itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

"Dokter Delila! Selamat datang kembali. Bagaimana bulan madunya? Oh, mari, ruangan Anda sudah kami rapikan ulang."

Delila mengerutkan kening, mengikuti dr. Haris menyusuri lorong yang penuh dengan stiker dinding bergambar hewan-hewan lucu. "Dirapikan ulang? Ruangan saya baik-baik saja, Dok. Ada apa?"

Dr. Haris membuka pintu ruangan Delila. Napas Delila tercekat. Ruangannya yang dulu fungsional, penuh dengan mainan donasi untuk anak-anak pasien dan buku-buku referensi medis yang menumpuk di meja, kini berubah total. Mejanya diganti dengan kayu mahoni besar. Ada sofa kulit mewah di sudut ruangan. Bahkan mesin espresso pribadi tersedia di atas kabinet. Mainan-mainan pasiennya telah disingkirkan ke dalam lemari tertutup.

"Ini instruksi langsung dari Pak Bagas," jelas dr. Haris dengan bangga. "Beliau juga menginstruksikan agar beban pasien Anda dikurangi hingga tujuh puluh persen. Nyonya Prodjo tidak boleh terlalu kelelahan. Pasien-pasien reguler Anda sudah dialihkan ke dokter lain, Anda sekarang hanya menangani konsultasi VIP."

Delila mencengkeram tali tasnya kuat-kuat. Dikurangi tujuh puluh persen. Instruksi Ratna Prodjo di meja makan seminggu yang lalu terngiang kembali di telinganya. Mereka benar-benar melakukannya. Mereka memotong aksesnya ke dunia nyata, membatasinya hanya pada rutinitas ringan agar tubuhnya tidak stres. Tubuhnya dijaga bukan demi kariernya, melainkan demi sesuatu yang lain.

"Terima kasih, Dokter Haris," ucap Delila dengan senyum yang dipaksakan. "Saya hargai usahanya. Tapi tolong kembalikan jadwal beberapa pasien kritis saya. Saya dokter mereka sejak awal, saya tidak akan lepas tangan begitu saja."

Dr. Haris terlihat ragu, namun karena yang meminta adalah Nyonya Prodjo, ia akhirnya mengangguk patuh dan pamit undur diri.

Delila duduk di kursi kulit barunya yang terasa terlalu empuk. Ia menyalakan komputernya. Sebagai pelampiasan atas rasa frustrasinya, ia memutuskan untuk kembali memeriksa database rekam medis suaminya yang sempat terkunci di hari sebelum pernikahan mereka.

Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Ia memasukkan ID Dokternya, lalu mencoba mencari file atas nama Bagas Adisetyo Prodjo.

Loading... Access Denied. Level 5 Clearance Required.

Delila mendengus pelan. Ia sudah menduganya. Level 5 adalah otorisasi tingkat tertinggi, hanya dimiliki oleh Bagas sendiri dan dewan direksi utama. Bahkan Nyonya Ratna mungkin memiliki akses itu. Tapi Delila, meski berstatus istri, tidak memiliki izin tersebut.

Rasa penasaran yang bercampur dengan insting medisnya semakin meronta. Ia mengingat botol tanpa label dan pil biru heksagonal malam itu. Obat itu pasti diracik di suatu tempat di rumah sakit ini. Prodjo Hospital memiliki divisi farmasi dan risetnya sendiri.

Saat jam istirahat makan siang tiba, Delila mengenakan jas putihnya, memastikan nametag 'dr. Delila Arum K.' terpasang rapi, dan keluar dari ruangannya. Ia berjalan melewati kafetaria staf dan menuju area lift sentral.

Di dalam lift, ia memperhatikan deretan tombol. Lantai 1 hingga 14 adalah ruang perawatan, poliklinik, dan fasilitas umum. Lantai 16 hingga 28 adalah ruang rawat VIP dan VVIP. Lantai 29 dan 30 adalah kantor manajemen dan direksi.

Namun, tidak ada tombol untuk Lantai 15.

Angka di panel lift melompat langsung dari 14 ke 16. Bagi masyarakat umum, itu adalah hal yang lumrah. Banyak gedung tinggi di Jakarta yang melompati angka 4, 13, atau 14 karena mitos kesialan. Tapi ini adalah rumah sakit berstandar internasional yang mendewakan sains, bukan fengshui.

Delila teringat percakapannya dengan seorang perawat senior beberapa tahun lalu. Perawat itu pernah berbisik bahwa Prodjo Hospital memiliki lantai khusus untuk riset genetika dan biomolekuler yang sangat tertutup.

Delila turun di lantai 14—Departemen Onkologi. Ia berjalan menyusuri lorong menuju area belakang yang jarang dilewati pasien. Di sana, terdapat tangga darurat khusus staf medis. Jantungnya berdebar kencang saat ia mendorong pintu besi berat itu. Ia menaiki anak tangga satu demi satu. Hening. Hanya ada suara gesekan sepatu flat-nya dengan beton.

Ia tiba di landing tangga yang seharusnya merupakan Lantai 15. Di depannya berdiri sebuah pintu baja ganda yang kokoh, tanpa gagang, hanya dilengkapi dengan pemindai retina, pemindai sidik jari, dan pembaca kartu akses berwarna hitam. Di atas pintu itu, terdapat papan nama logam bertuliskan huruf kapital yang tegas:

DEPARTMENT OF ADVANCED MOLECULAR RESEARCH & GENETICS RESTRICTED AREA. AUTHORIZED PERSONNEL ONLY.

Delila menatap pintu itu. Dari balik baja tebal itu, ia bisa mendengar dengungan mesin berskala besar. Mesin server? Atau mesin pendukung kehidupan?

Ia mendekatkan wajahnya, mencoba mengintip dari celah kecil di bawah pintu, namun sebuah suara berat menghentikan gerakannya.

"Bisa saya bantu, Dokter?"

Delila terkesiap dan langsung berdiri tegak. Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu gelap—bukan seragam satpam biasa—muncul dari ujung tangga seberang. Wajah mereka tanpa ekspresi, masing-masing memiliki earpiece melingkar di telinga kanan.

"Saya… um, saya rasa saya tersesat," Delila memaksakan senyum santai, mencoba menggunakan otoritas barunya. "Saya sedang mencari rute terpendek menuju kantor direksi di lantai 30."

Salah satu penjaga itu melirik nametag Delila, lalu menunduk kaku, meski sorot matanya tetap waspada dan dingin. "Nyonya Prodjo. Mohon maaf, ini adalah area terbatas. Bahkan staf medis tidak diizinkan melintasi tangga darurat ini."

"Saya bukan sekadar staf medis. Saya istri CEO rumah sakit ini," balas Delila, menegakkan dagunya. "Apakah lantai riset ini tertutup untuk keluarga inti?"

"Lantai ini hanya bisa diakses oleh individu dengan Black Access Card, Nyonya," jawab penjaga itu dengan nada robotik, sama sekali tidak terpengaruh oleh intimidasi Delila. "Hanya Tuan Bagas, Nyonya Besar, dan Dokter Surya Kusuma yang memilikinya. Otorisasi Anda belum didaftarkan. Mari, saya antar Anda kembali ke lift utama."

Itu bukan tawaran. Itu adalah perintah pengusiran yang dibungkus dengan kesopanan. Delila mengepalkan tangannya di dalam saku jas putihnya, namun ia mengangguk dan mengikuti penjaga itu turun kembali ke lantai 14.

Di balik pintu baja lantai 15 itu, rahasia suaminya disembunyikan. Obat biru itu. Penyakit misterius itu. Delila sangat yakin, jawaban atas keanehan yang menyelimuti pernikahan dan tubuhnya ada di dalam sana.




Malam harinya, Delila memutuskan untuk lembur. Ia beralasan pada ajudan keluarga bahwa ia sedang merapikan jurnal medis lamanya. Namun sebenarnya, ia sedang menyusun strategi.

Pukul 22.30 WIB. Rumah sakit mulai sepi, hanya menyisakan aktivitas di ruang UGD dan ICU.

Delila tahu Bagas masih berada di ruang kerjanya di lantai 30. Pria gila kerja itu belum menghubunginya untuk pulang bersama. Delila turun ke lantai dasar Basement 2 (B2), area parkir khusus VVIP yang hanya berisi deretan mobil mewah petinggi rumah sakit. Area ini temaram dan sangat sunyi.

Tujuannya bukan mobil Maybach yang menunggunya. Tujuannya adalah sebuah lift pribadi di sudut terdalam basement, lift khusus yang terhubung langsung dari kantor lantai 30 hingga ke ruang parkir, tanpa melewati lobi utama. Dan menurut denah evakuasi kebakaran yang ia pelajari sore tadi, lift ini juga satu-satunya lift yang memiliki akses berhenti di Lantai 15.

Delila bersembunyi di balik pilar beton tebal, nyaris menyatu dengan bayangan, matanya tak lepas dari pintu lift logam berpendar perak tersebut. Ia hanya ingin melihat. Ia ingin memastikan apakah firasatnya benar bahwa suaminya selalu mengunjungi lantai terlarang itu sebelum pulang.

Setengah jam berlalu. Udara basement yang lembap dan berbau knalpot mulai membuat kepalanya pening.

Lalu, bunyi denting pelan memecah kesunyian.

Angka digital di atas lift yang tadinya menunjukkan angka 30, perlahan turun. Berhenti lama di angka 15. Lalu turun kembali hingga akhirnya huruf 'B2' menyala merah.

Pintu lift bergeser terbuka.

Delila menahan napasnya. Dari balik pilar beton, ia mengintip sosok yang keluar dari sana.

Itu Bagas. Tapi bukan Bagas sang CEO yang karismatik dan sempurna yang dilihat dunia.

Suaminya melangkah keluar dengan langkah terseret, nyaris limbung. Jas mahalnya sudah entah ke mana, hanya menyisakan kemeja putih yang basah kuyup oleh keringat. Dasi mahalnya terlepas longgar di leher.

Namun yang membuat darah Delila seolah berhenti mengalir adalah wajah pria itu.

Di bawah cahaya lampu neon basement yang putih pucat, wajah Bagas sewarna dengan mayat di kamar mayat. Kulitnya kelabu. Kantung matanya menghitam pekat seperti seseorang yang belum tidur berhari-hari.

Bagas mencengkeram erat dinding beton di dekat lift dengan tangan kanannya untuk menopang tubuhnya agar tidak rubuh. Sementara tangan kirinya… tangan kirinya meremas bagian kiri dadanya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah berusaha merobek dadanya sendiri untuk menghentikan rasa sakit di balik tulang rusuknya.

Pria itu terbatuk pelan, sebuah batuk kering dan menyakitkan yang menggema di area parkir kosong itu. Saat Bagas melepaskan tangannya dari mulut, Delila bisa melihat dengan sangat jelas bercak darah segar menodai punggung tangan suaminya.

Delila menutup mulutnya dengan kedua tangan, membekap rapat-rapat jeritan yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

Bagas, pewaris dinasti Prodjo yang diagung-agungkan itu, sedang sekarat. Dan lantai 15 baru saja melakukan sesuatu padanya.