Bima menghela napas panjang, menatap langit-langit kamarnya yang memiliki noda air berbentuk menyerupai wajah orang yang sedang menertawakannya. Jarum jam dinding menunjuk ke angka delapan tepat. Seharusnya, ini bukan masalah besar jika saja jam masuk kantornya bukan pukul delapan.

Bima meraih ponsel cerdasnya yang tergeletak di atas nakas, hanya untuk menemukan layarnya mati total. Bukan karena kehabisan baterai—semalam ia sudah memastikan kabel charger menancap sempurna. Namun, entah bagaimana, di tengah malam, seekor cicak tampaknya memutuskan untuk melakukan aksi bunuh diri dengan menjatuhkan diri tepat di atas stopkontak, membuat aliran listrik di kamarnya korslet dan mati seketika. Hal yang menakjubkan adalah, hanya kamarnya yang mati lampu. Kamar indekos di sebelah kiri dan kanannya terang benderang.

"Tentu saja," gumam Bima dengan suara serak khas orang bangun tidur, suaranya sarat akan kepasrahan yang telah dilatih bertahun-tahun. "Kenapa aku harus berharap pagi ini akan berbeda?"

Bima adalah pria berusia dua puluh enam tahun yang memiliki satu bakat alami yang tidak pernah ia minta: menarik kesialan. Jika ada sepuluh orang berdiri di pinggir jalan saat hujan deras, dan sebuah mobil melaju kencang melewati genangan air, bisa dipastikan hanya Bima seorang yang akan terkena cipratan airnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jika ada promo diskon makan siang untuk lima puluh pembeli pertama, Bima selalu menjadi pelanggan nomor lima puluh satu. Kehidupannya bagaikan sebuah komedi situasi di mana ia adalah pemeran utama yang tidak pernah dibayar.

Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar mandi. Mengingat listrik kamarnya mati, ia sudah bersiap mental untuk mandi dengan air es. Namun, kesialan Bima selalu punya cara untuk melampaui ekspektasinya. Saat ia membuka kran air, tidak ada setetes air pun yang keluar. Hanya suara mendesis pelan, seolah pipa air itu sedang mengejeknya.

Bima memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. "Baiklah. Mandi koboi pakai air galon sisa semalam."

Proses membersihkan diri pagi itu berlangsung tragis. Menggosok gigi dengan sisa pasta gigi yang harus ia peras sekuat tenaga menggunakan ujung sikat, hingga sikat gigi itu terpelanting dan jatuh—tentu saja—tepat masuk ke dalam lubang kloset. Bima hanya menatap sikat gigi warna birunya yang mengambang pasrah di sana selama lima detik, sebelum memutuskan bahwa berkumur dengan obat kumur setengah botol sudah cukup untuk hari ini.

Setelah berganti pakaian dengan kemeja biru muda yang untungnya sudah disetrika sejak akhir pekan, Bima bergegas keluar indekos. Ia menuju tempat parkir, bersiap memanaskan motor matic kesayangannya, satu-satunya benda yang cukup setia menemaninya menembus kejamnya ibu kota.

Namun, semesta tampaknya belum selesai bermain-main. Ban belakang motornya kempis total. Rata dengan tanah. Bima berjongkok, mengamati pentil ban yang hilang entah ke mana. Kemungkinan besar dicabut oleh anak-anak nakal yang suka bermain di gang depan.

Melihat jam tangannya yang kini menunjukkan pukul 08:20, Bima menyerah pada opsi kendaraan pribadi. Ia mengeluarkan ponselnya yang tadi sempat diisi daya sebentar menggunakan powerbank—yang ternyata juga tinggal satu bar indikator baterainya—dan memesan ojek online.

Menunggu adalah seni dari kesabaran, dan Bima adalah maestronya. Tiga kali pesanannya dibatalkan dengan berbagai alasan tak masuk akal. Maaf Mas, ban saya tiba-tiba bocor. (Bima sangat memahami hal ini). Maaf Mas, saya mendadak sakit perut. Dan yang paling menyakitkan: Maaf Mas, muka Mas di foto profil kelihatan judes, saya takut.

Ketika akhirnya ada seorang driver yang mau menjemputnya, cuaca yang tadinya cerah berawan tiba-tiba mendung gelap khusus di atas area tempat tinggalnya. Begitu Bima naik ke boncengan dan memakai helm yang kacanya tidak bisa ditutup rapat, rintik hujan mulai turun. Bukan hujan badai, hanya gerimis menyebalkan yang cukup untuk membuat kemeja birunya dipenuhi bintik-bintik air yang membuatnya terlihat seperti baru saja terkena wabah cacar air.

"Mas, nasib banget ya kita, baru jalan langsung gerimis," kata si driver ojek bersimpati.

"Bukan kita, Pak," jawab Bima datar. "Cuma saya. Bapak perhatikan saja, nanti pas saya turun di kantor, hujannya pasti berhenti."

Dan benar saja. Tiga puluh lima menit kemudian, saat Bima turun di depan gedung perkantorannya di kawasan Sudirman, awan gelap itu seolah tertinggal di belakang, digantikan oleh sinar matahari pagi yang cerah menyengat, membuat kemeja lembap Bima mulai mengeluarkan aroma apek yang samar. Ia membayar ojeknya, berjalan gontai memasuki lobi dengan sepatu yang berbunyi ciut-ciut karena solnya basah, mengabaikan tatapan iba dari satpam gedung yang sudah terlalu hafal dengan rutinitas paginya.

Di belahan kota yang sama, namun dengan realitas yang terasa seperti dimensi berbeda, Alana membuka matanya tepat sepuluh detik sebelum alarm ponselnya berbunyi.

Ia menggeliat pelan di atas kasur empuknya, meregangkan tubuh dengan keanggunan yang alami. Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamarnya, jatuh tepat menyinari wajahnya, memberikannya efek glowing seolah ia baru saja melakukan perawatan kulit mahal semalaman. Rambut sebahunya yang semalam ia biarkan tergerai, entah bagaimana bangun dalam keadaan bergelombang sempurna layaknya model iklan sampo.

Alana mematikan alarm tepat saat angka berubah menjadi 06:30, tersenyum menyapa hari. Gadis berusia dua puluh lima tahun ini adalah anomali dari hukum probabilitas alam semesta. Jika Bima adalah kutub negatif, maka Alana adalah kutub positif yang bersinar terlalu terang. Ia memiliki apa yang oleh teman-temannya disebut sebagai Golden Touch atau Sentuhan Emas. Keberuntungan bukan sekadar menghampirinya; keberuntungan adalah sahabat karibnya yang selalu mengikutinya ke mana-mana bagai bayangan.

Sambil bersenandung kecil, Alana berjalan ke dapur apartemennya yang rapi. Ia menekan tombol mesin pembuat kopi, dan aromanya seketika memenuhi ruangan. Sambil menunggu, ia membuka ponselnya dan mengecek email. Sebuah notifikasi berkedip di bagian paling atas.

Selamat! Anda adalah pemenang undian Liburan Gratis ke Bali dari Bank XYZ!

Alana hanya tertawa kecil. "Wah, menang lagi. Padahal aku cuma iseng klik banner iklannya minggu lalu." Ini adalah kali keempat ia memenangkan undian besar dalam tahun ini. Sebelumnya ia mendapat smartphone edisi terbatas, set alat masak mahal, dan voucher belanja setahun penuh. Bagi Alana, memenangkan giveaway sudah terasa seperti rutinitas membosankan.

Setelah menyeruput kopinya yang memiliki rasio pahit dan manis yang sempurna, ia berjalan menuju lemari pakaian. Ia mengambil kemeja berwarna mustard berbahan jatuh yang sangat pas dengan warna kulitnya, memadukannya dengan celana jin hitam berpotongan lurus. Saat ia memasukkan tangan ke saku celana jin yang sudah lama tidak ia pakai, jari-jarinya menyentuh selembar kertas. Ia menariknya keluar dan menemukan selembar uang seratus ribu rupiah yang masih renyah.

"Lumayan untuk beli camilan nanti siang," gumamnya ceria, menyelipkan uang itu ke dalam dompetnya.

Pagi Alana berjalan dengan mulus tanpa cela. Air hangat di kamar mandinya mengalir dengan suhu yang sangat presisi. Riasan wajahnya—eyeliner yang biasanya menuntut konsentrasi tinggi—berhasil ia buat simetris sempurna hanya dalam satu tarikan napas. Saat ia turun ke lobi apartemen untuk memesan taksi online, aplikasinya menunjukkan bahwa mobil penjemput sudah berada tepat di depan lobi, bahkan sebelum ia sempat menekan tombol 'Pesan'. Rupanya sang supir baru saja menurunkan penumpang di sana.

"Pagi, Mbak Alana," sapa supir taksi itu ramah ketika Alana masuk ke dalam mobil yang wangi peppermint menyegarkan. "Jalanan ke arah Sudirman hari ini lancar jaya, Mbak. Tumben-tumbenan."

"Syukurlah, Pak. Berarti hari ini kita beruntung," balas Alana dengan senyum manis yang membuat supir itu ikut tersenyum.

Sepanjang perjalanan, lampu lalu lintas seakan bekerja sama dengan mereka. Setiap kali taksi yang ditumpangi Alana mendekati persimpangan, lampu merah seketika berubah menjadi hijau. Perjalanan yang biasanya memakan waktu empat puluh lima menit di jam sibuk Jakarta, berhasil ditempuh hanya dalam waktu dua puluh menit.

Taksi berhenti tepat di depan sebuah kedai kopi populer yang berada di lantai dasar gedung perkantoran tempat Alana bekerja. Coffee & Fate, begitu nama kedai itu tertera di papan kayunya yang estetik. Alana turun dengan langkah ringan, auranya memancarkan energi positif yang membuat beberapa orang di trotoar tanpa sadar menoleh menatapnya.

Ia melangkah masuk ke dalam Coffee & Fate. Antrean yang biasanya mengular panjang hingga ke pintu, entah kenapa pagi itu sangat sepi. Hanya ada satu orang di depannya yang baru saja selesai memesan.

"Pagi, Kak Alana!" sapa barista yang sudah hafal dengan pelanggan VIP mereka. "Seperti biasa? Caramel Macchiato dingin, less ice, extra shot?"

"Pagi, Rio. Iya, seperti biasa," jawab Alana ceria, mengeluarkan kartu pembayarannya.

"Eh, tunggu sebentar Kak," kata Rio sambil mengecek layar komputernya. Ia kemudian tersenyum lebar. "Hari ini Kakak adalah pelanggan kami yang ke-888 bulan ini. Jadi pesanan Kakak pagi ini gratis, dan kami juga memberikan upgrade ukuran ke ukuran paling besar, plus croissant almond yang baru saja keluar dari oven. Ini croissant terakhir loh untuk kloter pagi ini."

Alana menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut walau sebenarnya ia sudah sangat terbiasa dengan hal-hal semacam ini. "Astaga, benarkah? Terima kasih banyak, Rio! Kalian yang terbaik."

Sambil membawa gelas plastik besar berisi es kopi andalannya dan kantong kertas berisi croissant hangat yang menguarkan aroma mentega yang menggoda, Alana berjalan keluar dari kedai kopi menuju lobi utama gedungnya. Ia melirik jam tangannya. Pukul 08:45. Masih ada lima belas menit sebelum jam kerja resminya dimulai. Waktu yang lebih dari cukup untuk naik lift tanpa harus berdesak-desakan.

Namun, di saat Alana melangkah keluar dari pintu kaca kedai kopi sambil mengecek ponselnya untuk membalas pesan grup teman-temannya, di arah yang berlawanan, Bima sedang berjalan gontai, setengah berlari, berusaha mengejar waktu agar tidak terlambat untuk rapat divisi jam sembilan. Sepatunya yang basah membuatnya tergelincir sedikit di lantai marmer trotoar yang licin sisa gerimis tadi.

Keberuntungan dan kesialan sedang berjalan di satu garis lurus, bersiap untuk saling bertabrakan, tanpa menyadari bahwa alam semesta baru saja menekan tombol reset untuk takdir mereka berdua.