Lantai lobi utama gedung perkantoran itu terbuat dari marmer impor kelas satu yang selalu dipoles setiap pagi oleh petugas kebersihan hingga mengilap seperti cermin. Di hari-hari biasa, lantai ini adalah simbol kemewahan dan profesionalisme. Namun, bagi Bima yang sol sepatunya terbuat dari karet murahan dan basah kuyup akibat gerimis, lantai marmer ini tak ubahnya seperti arena seluncur es yang mematikan.

Bunyi ciut... ciut... ciut... mengiringi setiap langkah gontai Bima. Ia setengah berlari, matanya terpaku pada jarum jam tangan yang terus bergerak tanpa belas kasihan menuju angka sembilan. Tinggal sepuluh menit lagi sebelum rapat divisi dimulai, dan manajernya, Pak Herman, memiliki kebijakan potong gaji yang kejam bagi siapa saja yang telat masuk ke ruang rapat. Bima sudah bisa membayangkan omelan yang akan diterimanya.

Di saat yang bersamaan, Alana melangkah keluar dari pintu kaca Coffee & Fate. Senyum puas tersungging di bibirnya. Tangan kirinya memegang gelas plastik venti berisi Caramel Macchiato dingin yang embunnya mulai menetes, sementara tangan kanannya sibuk mengetik pesan di grup WhatsApp 'Gadis-Gadis Hoki' yang berisi teman-teman arisannya.

β€œGuys, kalian nggak akan percaya. Aku baru aja dapat kopi gratis plus croissant almond ukuran jumbo cuma karena aku pelanggan ke-888. This is going to be a great day!” ketik Alana sambil tertawa kecil, pandangannya sepenuhnya terkunci pada layar ponsel berlogo apel tergigit tersebut.

Semesta seolah menahan napasnya.

Jarak mereka hanya tersisa tiga meter. Bima, yang sibuk merogoh saku celananya mencari kartu akses masuk gedung, baru mendongak ketika jarak mereka tersisa satu setengah meter. Matanya membelalak lebar melihat seorang perempuan berkemeja mustard berjalan lurus ke arahnya tanpa melihat ke depan.

"Awas, Mbak!" teriak Bima refleks.

Ia mencoba mengerem langkahnya. Namun, hukum fisika berpihak pada kesialannya. Sepatu basahnya kehilangan friksi dengan lantai marmer yang licin. Bukannya berhenti, kaki kanan Bima meluncur lurus ke depan bak pemain bowling yang salah mengambil ancang-ancang. Keseimbangannya hilang total. Kedua lengannya berputar-putar di udara seperti kincir angin yang rusak, berusaha mati-matian mencari pegangan di ruang hampa.

Mendengar teriakan itu, Alana mendongak. Detik berikutnya, waktu seolah berjalan dalam gerak lambat yang menyiksa.

Alana melihat seorang pria berkemeja biru apek meluncur tak terkendali ke arahnya dengan wajah panik yang konyol. Ia mencoba menghindar, melangkah ke samping. Namun, gerakan refleksnya terlalu lambat. Tubuh Bima yang kehilangan keseimbangan sepenuhnya, menabrak tubuh Alana dengan momentum yang cukup kuat.

"KYAA!"

Jeritan Alana pecah saat tubuh mereka bertabrakan. Benturan itu membuat gelas Caramel Macchiato di tangan kiri Alana terlepas. Gelas raksasa itu melayang di udara selama sepersekian detik yang dramatis, sebelum akhirnya berputar dan menumpahkan seluruh isinya. Hujan kopi, susu, es batu, dan lelehan karamel pekat mengguyur mereka berdua, sebagian besar mendarat telak di dada Bima, namun cipratannya yang lengket sukses mengotori kemeja mustard Alana yang tadinya tanpa cela.

Namun, tragedi sebenarnya baru saja dimulai.

Gravitasi menarik mereka jatuh bersamaan. Bima yang berusaha tidak menimpa perempuan itu sepenuhnya, mencoba menahan berat badannya dengan tangan. Sayangnya, tangannya malah mendarat tepat di atas kantong kertas berisi croissant almond yang langsung hancur menjadi serpihan menyedihkan. Karena dorongan yang canggung itu, wajah mereka justru terdorong ke arah satu sama lain.

Dalam kekacauan es batu yang berjatuhan dan lengketnya karamel, bibir Bima membentur bibir Alana.

Bukan sebuah ciuman romantis yang diiringi musik latar, melainkan benturan keras yang terasa ngilu, di mana gigi mereka beradu dan rasa kopi dingin mendominasi segalanya. Namun, tepat pada detik ajaib saat kulit mereka bersentuhan, ada sebuah sensasi aneh yang menyengat. Seperti aliran listrik statis berskala kecil, sebuah zap tak kasat mata yang menjalar dari bibir, mengalir cepat ke tulang belakang mereka, dan meledak di dada. Rambut-rambut halus di tengkuk mereka berdiri bersamaan. Sensasi itu hanya berlangsung sekedipan mata, begitu cepat hingga tertutupi oleh rasa kaget yang luar biasa.

BUK!

Mereka mendarat di lantai dengan posisi yang sangat tidak beradab. Bima setengah tengkurap dengan tangan menancap di atas remahan kue, sementara Alana jatuh terduduk dengan kaki berselonjor, ponsel mahalnya terlempar sejauh dua meter.

Hening sejenak melanda lobi. Beberapa orang yang berlalu-lalang menghentikan langkah mereka, menatap adegan tabrakan beruntun itu dengan mulut sedikit terbuka. Satpam gedung yang berjaga di dekat metal detector segera berlari menghampiri.

"Mbak! Mas! Ya ampun, tidak apa-apa?" seru satpam itu panik.

Bima buru-buru menarik wajahnya, rasa panas menjalar hingga ke telinganya. Ia segera bangkit berdiri, meski sempat terpeleset lagi oleh es batu yang berserakan. Kemeja birunya kini berwarna cokelat kotor, lengket, dan berbau manis yang memuakkan. Ia memandang perempuan di bawahnya dengan rasa bersalah yang menggunung. Ini adalah rekor kesialan baru, bahkan untuk standar seorang Bima.

"M-maaf! Astaga, maafkan saya, Mbak! Saya benar-benar tidak sengaja, lantai ini licin sekali, sepatu saya basah, dan..." Bima mengoceh panik, mengulurkan tangannya yang kotor oleh remahan croissant untuk membantu Alana berdiri.

Alana menepis tangan Bima dengan kasar. Wajahnya merah padam, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang mendidih. Ia menatap kemeja mahalnya yang kini ternoda parah oleh karamel. Sepanjang hidupnya yang penuh keberuntungan, ia tidak pernah mengalami penghinaan publik seperti ini.

"Jangan sentuh aku!" desis Alana tajam. Ia bangkit berdiri sendiri, menepuk-nepuk celana jinnya yang basah. Matanya menatap Bima seolah pria itu adalah kecoak yang baru saja merayap keluar dari saluran pembuangan. "Kamu punya mata tidak sih?! Kalau jalan itu lihat ke depan, jangan main seluncuran di lobi!"

"Saya sudah teriak awas tadi, Mbak. Mbak-nya juga jalan sambil main HP terus," gumam Bima membela diri dengan suara kecil, kepasrahannya mulai mengambil alih. Ia sudah terbiasa disalahkan oleh alam semesta.

"Apa kamu bilang?!" Nada suara Alana naik satu oktaf. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan, masih bisa merasakan rasa ngilu akibat benturan tadi. Memori bahwa bibir pria asing dan apek ini baru saja menabrak bibirnya membuatnya merasa mual. "Kamu sudah menabrakku, menghancurkan bajuku, menumpahkan kopiku, dan... dan... ugh! Malah menyalahkanku?!"

"B-bukan begitu maksud saya," Bima menunduk, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia merogoh dompetnya yang tipis. "S-saya ganti kopinya. Berapa harga kopinya, Mbak?"

"Ganti?" Alana tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Kopi ini gratis karena aku pelanggan ke-888! Kamu tidak bisa mengganti keberuntungan, tahu?! Dan kemeja ini... kemeja ini harganya lebih mahal dari gajimu sebulan!"

Bima menelan ludah. Ia melirik kemeja mustard itu. Kelihatannya seperti kemeja biasa, tapi melihat dari aura membunuh perempuan di depannya, ia tidak berani membantah. "Mbak... saya janji akan bawa kemeja ini ke laundry paling bagus. Saya akan bayar biaya cuci dan gosoknya."

Satpam gedung yang merasa situasi semakin panas segera menengahi. "Sudah, sudah. Mbak, Mas, tolong jangan bertengkar di sini. Dilihat banyak orang. Mari saya bantu bereskan kekacauan ini."

Alana menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dadanya yang naik turun. Ia memungut ponselnyaβ€”ajaibnya layarnya tidak retak, tentu saja karena keberuntungannya masih bekerja (atau begitulah pikirnya). Ia menatap Bima dengan pandangan jijik untuk terakhir kalinya.

"Tidak perlu. Bawa saja kesialanmu itu jauh-jauh dariku. Aku tidak mau tertular penyakit sial dari orang sepertimu!" ketus Alana.

Tanpa menoleh lagi, Alana berbalik dan berjalan cepat menuju deretan lift, meninggalkan aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau karamel manis. Ia harus kembali ke apartemennya untuk mengganti baju. Moodnya hancur berantakan. Ini adalah pertama kalinya paginya dirusak oleh sesuatu yang sangat konyol.

Bima hanya berdiri membeku di tengah lobi. Ia melihat jam tangannya. Pukul 09:05.

Tamat sudah. Ia terlambat, bajunya kotor, lengket, dan bau kopi, serta tangannya penuh remahan roti. Ia menatap kepergian perempuan galak itu hingga pintu lift tertutup. Bima menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lengket, secara tak sadar menyentuh bibirnya sendiri. Ada rasa aneh yang tertinggal di sana, tapi ia mengabaikannya.

"Ya Tuhan," keluh Bima lirih, "dosa apa yang kulakukan di kehidupan sebelumnya sampai nasibku seburuk ini?"

Ia berjongkok, membantu petugas kebersihan yang mulai datang dengan kain pel untuk membersihkan kekacauan yang ia perbuat. Bima sama sekali tidak menyadari, bahwa pertanyaan keluh kesahnya barusan, sebentar lagi akan menjadi masa lalunya.