Jika ada penghargaan untuk kedatangan paling dramatis di sebuah perusahaan agensi periklanan bergengsi di Jakarta, Alana pasti akan memenangkannya pagi itu.

Pintu kaca lobi kantor terbuka secara otomatis saat Alana melangkah masuk. Atau lebih tepatnya, menyeret kakinya masuk. Penampilannya yang biasanya menyerupai model sampul majalah bisnis kini lebih mirip dengan penyintas kapal karam. Kemejanya basah kuyup oleh air comberan, meninggalkan bercak kecokelatan yang menonjol di kainnya. Rambutnya lepek menempel di dahi, riasan wajahnya luntur membentuk jejak aliran sungai hitam di bawah matanya akibat maskara yang waterproof-nya ternyata berbohong. Dan yang paling parah, ia berjalan pincang karena hak sepatu kanannya lenyap entah ke mana.

Resepsionis di meja depan, seorang perempuan muda bernama Siska yang biasanya selalu menyapa Alana dengan nada riang dan penuh kekaguman, kini hanya bisa berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka.

"M-Mbak Alana? Mbak habis... habis ikut acara benteng takeshi?" tanya Siska terbata-bata, matanya membelalak ngeri melihat genangan air kotor yang menetes dari ujung kemeja Alana ke lantai lobi yang bersih.

"Jangan tanya," desis Alana dengan suara serak, menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk di tenggorokannya. "Jam berapa sekarang?"

"Jam... jam sembilan lewat lima belas menit, Mbak. Pak Bram dan tim client sudah menunggu di ruang meeting Alpha sejak lima belas menit yang lalu."

Jantung Alana seakan diremas. Terlambat lima belas menit untuk presentasi pitching proyek bernilai miliaran rupiah. Ini adalah noda hitam pertama dalam riwayat karirnya yang tanpa cela. Ia tidak membuang waktu lagi untuk menjelaskan, melainkan langsung tertatih-tatih menuju toilet wanita.

Di dalam toilet, ia bertemu dengan Maya, rekan satu divisinya yang sedang memulas lipstik. Maya menjerit tertahan hingga lipstiknya mencoret pipinya sendiri saat melihat bayangan Alana di cermin.

"Alana! Ya ampun, kamu dirampok?! Kamu jatuh ke selokan?! Astaga, bau apa ini?" Maya memekik panik, segera menarik tisu dalam jumlah banyak dan menyodorkannya pada Alana.

"Panjang ceritanya, May. Aku butuh bantuanmu," kata Alana cepat sambil meraih tisu dan mulai menggosok noda di kemejanya secara brutal, yang sayangnya malah membuat noda itu semakin menyebar luas. "Aku tidak bisa presentasi dengan baju seperti ini. Punya baju ganti tidak?"

"Aku cuma punya kardigan rajut kebesaran warna hijau neon di loker," jawab Maya meringis. "Ukurannya XL, Al. Kamu pasti tenggelam."

"Bawa ke sini. Sekarang. Dan pinjamkan sepatumu, ukuran kita sama kan?" pinta Alana putus asa. Ia sudah tidak peduli pada estetika mode. Ia hanya butuh sesuatu yang kering untuk menutupi tubuhnya.

Sepuluh menit kemudian, Alana berdiri di depan pintu ruang meeting Alpha. Ia mengenakan kardigan rajut hijau neon yang kedodoran hingga menutupi separuh paha, ujung lengannya harus ia gulung berkali-kali. Kakinya memakai flat shoes bermotif polkadot milik Maya yang sangat tidak nyambung dengan celana jin hitamnya. Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil sisa-sisa wibawanya yang tersisa, lalu membuka pintu.

Seluruh mata di ruangan itu langsung tertuju padanya. Tiga perwakilan client berjas rapi menatapnya dengan tatapan menilai yang dingin. Di ujung meja, Pak Bram, direktur agensi yang terkenal galak, menatap Alana seolah gadis itu baru saja menampar wajahnya.

"Alana. Senang akhirnya Anda memutuskan untuk bergabung dengan kami," sindir Pak Bram dengan nada tajam bak sembilu. "Silakan dimulai. Waktu kita sudah terbuang banyak."

Alana menelan ludah. "Maaf atas keterlambatan saya, Pak Bram, Bapak-Bapak sekalian. Ada sedikit... insiden tak terduga di jalan." Ia berjalan ke depan layar proyektor, mengambil flash drive dari saku celananya, dan menancapkannya ke laptop kantor yang sudah disiapkan.

Semua akan baik-baik saja, batin Alana. Materi presentasiku sempurna. Aku sudah mengeceknya sepuluh kali semalam.

Ia mengklik folder berlogo perusahaan client. Namun, alih-alih membuka file PowerPoint yang elegan, layar laptop justru menampilkan sebuah jendela pop-up dengan ikon tanda silang merah yang sangat besar.

File Corrupted or Unreadable.

Darah Alana berdesir. Ia mengklik Ok, mencabut flash drive itu, meniup ujungnya, dan menancapkannya lagi. Tangannya mulai gemetar. Ia mengklik file itu lagi. Hasilnya sama. Pesan eror itu kembali mengejeknya di layar lebar proyektor, disaksikan oleh semua orang di ruangan.

"Ada masalah, Alana?" suara Pak Bram terdengar semakin berat dan menakutkan.

"F-file-nya... sepertinya ada masalah teknis, Pak. Flash drive saya tidak terbaca," jawab Alana, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ini tidak masuk akal. Flash drive ini baru ia beli bulan lalu, merek termahal dengan garansi anti rusak. Bagaimana mungkin tiba-tiba datanya corrupt?

Salah satu client menghela napas panjang sambil mengetuk-ngetuk bolpoin ke meja, sebuah gestur ketidaksabaran yang sangat jelas. "Apakah Anda punya salinannya di email atau cloud?"

"P-punya, Pak!" Alana buru-buru membuka browser dan mengetikkan alamat emailnya. Namun, entah karena panik atau karena jari-jarinya yang mendadak kaku, ia salah memasukkan password hingga tiga kali berturut-turut. Layar kini menampilkan peringatan: Account Locked. Please try again in 15 minutes.

Ruangan itu mendadak hening. Keheningan yang sangat mencekam, lebih buruk dari pada dimaki-maki. Alana merasa udara di sekitarnya menguap. Dadanya sesak. Ia, sang bintang kantor yang tak pernah gagal, sang anak emas yang selalu membawa hoki bagi agensi, kini berdiri di depan client terbesar tahun ini dengan penampilan mirip badut jalanan dan tidak membawa bahan presentasi sama sekali.

"Saya... saya akan menjelaskannya secara lisan," kata Alana akhirnya, suaranya bergetar namun ia berusaha keras untuk terdengar yakin. Ia mengandalkan daya ingatnya yang tajam. "Konsep utama kampanye kita adalah..."

Alana mulai berbicara. Meski tanpa visual, ia berusaha menjelaskan strategi marketing yang telah ia susun. Lima menit pertama berjalan cukup lancar. Para client mulai menyimak, meski wajah mereka masih masam. Pak Bram tampak sedikit merilekskan bahunya. Alana merasa secercah harapan. Mungkin, ia masih bisa menyelamatkan kekacauan ini.

Namun, semesta rupanya belum puas menonton penderitaannya.

Tepat saat Alana sedang menjelaskan bagian krusial tentang alokasi budget, ia mendengar suara gemuruh pelan dari atas kepalanya. Ia mendongak sedikit. Ruang Alpha menggunakan AC kaset yang terpasang di plafon, tepat di atas tempat Alana berdiri.

Tanpa peringatan, sebuah tetesan air jatuh.

Tes. Tepat mengenai hidung Alana.

Alana berhenti berbicara sejenak, mengusap hidungnya kaget. Namun sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, kebocoran kecil itu mendadak berubah menjadi tragedi air terjun mini. Penutup AC di atasnya tampaknya tidak kuat menahan genangan air kotor sisa kondensasi. Dengan suara PRAK yang pelan, penutup plastik itu sedikit terbuka, memuntahkan sekitar dua liter air keruh berwarna keabu-abuan langsung ke bawah.

BYURRR!

Air dingin dan bau debu basah itu mengguyur tepat di atas kepala Alana. Mengalir deras membasahi wajahnya, menembus kardigan hijaunya, dan yang paling mengerikan... cipratan besarnya mendarat telak di atas keyboard laptop kantor yang menyala.

Layar laptop berkedip liar sejenak, mengeluarkan suara desisan listrik yang menakutkan, lalu mati total disertai kepulan asap tipis berbau plastik terbakar.

Jeritan kaget terdengar dari meja client. Pak Bram melompat dari kursinya dengan wajah pucat pasi melihat aset perusahaannya berasap. Maya yang menunggui di pojok ruangan menutup mulutnya dengan kedua tangan, syok berat.

Sementara Alana? Alana hanya berdiri mematung. Air kotor menetes dari ujung rambutnya, membasahi sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur. Ia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk menangis. Ia hanya menatap layar proyektor yang kini gelap gulita, sama seperti masa depan karirnya di perusahaan ini.

"Saya rasa..." Pak Bram memecah keheningan dengan suara gemetar menahan murka yang teramat sangat. "Rapat ini kita sudahi dulu. Alana, ke ruangan saya. SEKARANG."

Satu jam kemudian, Alana duduk termenung di dalam bilik kerjanya (cubicle). Ia baru saja menerima omelan paling epik sepanjang sejarah ia bekerja. Proyek itu dibatalkan oleh client, dan Alana diberi Surat Peringatan pertama sekaligus diskors selama tiga hari tanpa gaji.

Ia menatap kosong ke arah layar komputernya yang menampilkan wallpaper pemandangan pantai. Ia mengambil tisu dan mengeringkan rambutnya yang masih lembap dengan gerakan mekanis. Otaknya bekerja keras menyusun kepingan-kepingan puzzle dari kejadian absurd yang menimpanya hari ini.

Semuanya salah. Semuanya berantakan. Ini bukan sekadar 'hari sial' biasa. Tingkat probabilitas kejadian-kejadian ini terjadi secara beruntun pada satu orang di satu pagi yang sama nyaris mustahil. Ban taksi tidak ada, hak sepatu patah, tersiram comberan, flash drive corrupt, email terkunci, hingga AC yang secara presisi bocor tepat di atas kepalanya. Ini seperti ada kekuatan tak kasat mata yang dengan sengaja mensabotase hidupnya.

Alana menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat kapan tepatnya kehidupannya yang sempurna mulai melenceng dari jalurnya.

Ia mengingat pagi kemarin. Semuanya normal. Ia memenangkan undian Bali, mendapat kopi gratis, antrean kosong. Lalu... lalu ia melangkah keluar dari kedai kopi.

Mata Alana tiba-tiba membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang saat memori itu menghantamnya dengan telak.

Pria itu. Pria kemeja biru yang apek dan basah. Tabrakan di lobi. Kopi yang tumpah. Dan... benturan bibir itu.

Alana secara refleks menyentuh bibirnya sendiri. Ia teringat sensasi sengatan listrik statis yang aneh saat bibir mereka bersentuhan. Saat itu ia pikir itu hanya karena rasa kaget, tapi bagaimana jika... bagaimana jika itu adalah momen terjadinya sesuatu yang jauh melebihi batas nalar?

"Pria sialan itu," bisik Alana, suaranya bergetar antara marah dan ngeri. "Aura kesialannya... dia tidak menularkannya padaku. Dia... dia menukarnya. Sayap keberuntunganku... ditarik paksa olehnya."

Alana menggebrak mejanya hingga Maya di bilik sebelah melonjak kaget. Ia tidak gila. Ia tahu pasti ada yang tidak beres dengan "aura"-nya. Ia bisa merasakannya. Kekosongan pelindung tak kasat mata yang selama ini menaunginya. Ia harus menemukan pria itu. Ia harus memintaβ€”tidak, menuntutβ€”keberuntungannya dikembalikan, bagaimanapun caranya.