Di saat Alana sedang meratapi nasibnya dan menyusun rencana balas dendam, Bima sedang mengalami krisis eksistensial jenis lain: ia bingung cara menghadapi hari yang berjalan terlalu baik.
Bima duduk di mejanya, menatap layar monitor komputernya dengan tatapan curiga. Ia sudah berada di kantor sejak pukul 07:45. Ia tidak terlambat. Bahkan, ia adalah orang kedua yang tiba di divisi operasional setelah OB (Office Boy) yang sedang mengepel lantai.
Perjalanan dari halte bus ke gedung kantornya berlalu tanpa insiden. Tidak ada cipratan air, tidak ada kotoran burung yang jatuh di kepalanya, tidak ada satpam yang menghentikannya karena salah masuk pintu. Semuanya mulus bak jalan tol yang baru diaspal.
"Ini pasti jebakan," guman Bima sambil mengaduk teh manis hangatnya. Ia sengaja membuat teh dengan air yang sangat panas, bersiap jika gelasnya tiba-tiba pecah atau ia tersiram air panas. Tapi gelas kaca itu kokoh menahan suhu.
Dito, rekan kerja Bima yang mejanya bersebelahan, baru saja tiba pukul 08:30. Dito melempar tasnya ke kursi dan menatap Bima dengan heran.
"Tumben lo pagi bener, Bim? Biasanya jam segini lo masih lari-larian di lobi dikejar security gara-gara ID card ketinggalan," goda Dito sambil menyalakan komputernya.
"Gue juga bingung, To. Dari bangun tidur sampe detik ini, semuanya lancar," Bima menunduk, merendahkan suaranya seolah takut didengar oleh dewa kesialan. "Gue malah ngeri. Lo tau kan, kalau hidup gue tenang, itu tandanya alam semesta lagi loading buat ngasih bencana yang lebih gede. Mungkin bentar lagi server kantor down karena gue yang nyenggol kabelnya."
Dito tertawa terbahak-bahak. "Parno banget lo! Udah, nikmatin aja kali. Anggap aja hari ini cheat day dari kesialan lo."
Belum sempat Bima membalas, suara telepon internal di mejanya berdering nyaring. Bima tersentak, menatap gagang telepon hitam itu seperti melihat ular berbisa. Di layar kecil telepon tertera nomor ekstensi ruang manajer. Pak Herman.
"Tuh kan," Bima menelan ludah, menatap Dito dengan pandangan putus asa. "Gue pasti mau dipecat. Laporan mingguan gue kemaren pasti ada yang salah. Atau dia tau gue numpahin kopi ke karpet lobi kemarin."
Dengan tangan gemetar, Bima mengangkat gagang telepon. "H-halo? Bima di sini, Pak."
"Bima, ke ruangan saya sekarang," suara bariton Pak Herman terdengar di seberang, nadanya tidak bisa ditebak. Klik. Sambungan diputus.
Bima bangkit berdiri layaknya narapidana yang berjalan menuju tiang gantungan. Ia merapikan kemejanya, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan ke ruang kaca di sudut ruangan. Ia mengetuk pintu perlahan dan masuk.
Pak Herman sedang duduk di balik meja besarnya, membaca sebuah map tebal. Beliau mendongak dan menunjuk kursi di depannya. "Duduk, Bim."
Bima duduk di ujung kursi, punggungnya tegak kaku. "Maaf, Pak. Kalau ini tentang laporan yang tempo hari, saya bisa perbaiki sekarang juga. Dan soal karpet di lobi—"
"Karpet apa?" potong Pak Herman, keningnya berkerut bingung. Ia menggelengkan kepala, mengabaikan racikan panik Bima. Ia mendorong map tebal di tangannya ke arah Bima. "Saya tidak peduli soal karpet. Saya memanggil kamu untuk membahas ini. Proposal Analisis Efisiensi Logistik yang kamu ajukan tiga minggu lalu."
Bima mengerjap. Proposal itu? Ia memang pernah membuat riset panjang tentang cara memangkas biaya operasional gudang. Ia menyerahkannya pada asisten Pak Herman berminggu-minggu lalu, tapi tak pernah ada tanggapan. Bima berasumsi proposal itu sudah menjadi alas gelas kopi.
"I-iya, Pak. Ada yang salah?"
"Salah? Justru sebaliknya," Pak Herman tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat wajah kasarnya terlihat sedikit menyeramkan. "Saya baru sempat membacanya semalam. Analisismu sangat brilian, Bima. Pemangkasan rute pengiriman yang kamu sarankan bisa menghemat budget divisi kita hingga dua puluh persen. Kenapa kamu tidak pernah mempresentasikan ini secara langsung pada saya?"
Karena setiap kali saya mau menghadap Bapak, Bapak selalu sedang marah-marah atau perut saya tiba-tiba mulas luar biasa, batin Bima. Namun tentu saja ia hanya tersenyum canggung. "Saya takut mengganggu waktu Bapak."
"Mulai hari ini, kamu tidak perlu takut lagi," kata Pak Herman mantap. Beliau menyandarkan punggungnya. "Saya sedang mencari orang untuk memimpin proyek implementasi sistem logistik baru ini. Saya rasa, kamulah orang yang paling tepat. Ini bukan pekerjaan mudah, tapi kalau kamu berhasil, posisi Asisten Manajer Operasional yang kosong itu resmi jadi milikmu. Bagaimana? Kamu siap?"
Mata Bima terbelalak hingga nyaris keluar dari rongganya. Proyek utama? Promosi? Asisten Manajer? Kalimat-kalimat itu berdengung di telinganya seperti bahasa asing. Ini tidak mungkin. Biasanya untuk mendapatkan cuti satu hari saja ia harus berdebat panjang, boro-boro ditawari promosi mendadak.
"S-saya... sangat siap, Pak! Terima kasih banyak atas kepercayaannya!" jawab Bima, suaranya sedikit melengking saking antusiasnya.
"Bagus. Mulai besok, pindah ke meja kerja yang lebih besar di depan ruangan saya," Pak Herman mengangguk puas. "Silakan kembali bekerja."
Bima keluar dari ruangan itu dengan langkah mengambang. Ia merasa kakinya tidak memijak lantai. Saat ia kembali ke mejanya, Dito langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Bima hanya bisa menceritakan tawaran proyek itu dengan tatapan kosong, masih belum sepenuhnya mencerna realitas baru ini.
Siang harinya, saat jam istirahat makan siang tiba, euforia Bima masih belum mereda. Ia dan Dito memutuskan untuk turun ke minimarket di lantai dasar gedung untuk membeli makan siang cepat.
"Gila lo, Bim. Gak nyangka gue proposal lo tembus. Makan-makan dong ntar gajian!" seloroh Dito sambil mengambil dua botol teh dingin dari lemari pendingin.
"Beres. Ntar gue traktir pecel lele pake dua lele sekaligus per porsi," jawab Bima sambil tertawa. Ia mengambil kotak nasi bento instan seharga dua puluh lima ribu dan berjalan menuju kasir.
Minimarket itu sedang ramai oleh karyawan kantor yang antre membayar. Kasirnya, seorang mbak-mbak dengan nametag 'Siti' yang terlihat kelelahan, memindai belanjaan Bima dengan cepat.
"Totalnya tiga puluh dua ribu, Mas," kata Siti datar. Bima menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.
Sambil memberikan uang kembalian, Siti menunjuk sebuah toples kaca besar di dekat mesin kasir yang berisi ratusan gulungan kertas kecil warna-warni. Di atas toples itu tertulis: GEBYAR UNDIAN ULANG TAHUN MINIMARKET - TARIK KUPONMU!
"Mas, karena belanjanya lebih dari tiga puluh ribu, berhak ambil satu kupon undian. Silakan diambil, langsung dibuka aja," kata Siti tanpa minat, jelas sudah mengulang kalimat itu ratusan kali hari ini.
Bima tersenyum tipis. Undian? Ia dan undian adalah dua entitas yang saling bermusuhan. Jangankan menang hadiah utama, mendapat hadiah hiburan berupa piring kaca saja ia tidak pernah.
"Lo aja yang ambil deh, To. Tangan gue ini terkutuk," kata Bima menyodorkan toples itu ke arah Dito yang berdiri di belakangnya.
"Yaelah, coba aja sendiri. Kan hari ini lo lagi hoki," dorong Dito.
Bima menghela napas. Dengan asal-asalan, tanpa melihat ke dalam toples, ia memasukkan tangannya dan mengambil satu gulungan kertas berwarna kuning cerah. Ia membukanya perlahan, mengharapkan tulisan 'Coba Lagi' atau 'Selamat Anda Mendapatkan 1 Buah Permen'.
Ia menatap tulisan cetak miring di dalam kertas kecil itu. Bima terdiam. Ia mengerjapkan mata berkali-kali.
"Dapet apaan lo? Permen?" tanya Dito mengintip dari bahu Bima. Sedetik kemudian, Dito memekik kencang hingga beberapa orang di antrean menoleh. "WOY! GILA!"
Siti si kasir yang tadinya mengantuk mendadak tegak, menatap kertas di tangan Bima. Matanya melebar, mulutnya menganga.
Di kertas kuning itu tertera tulisan dengan huruf kapital yang sangat jelas: SELAMAT! GRAND PRIZE: 1 UNIT SMARTPHONE TERBARU + VOUCHER BELANJA RP 5.000.000!
"M-Mas..." suara Siti bergetar. "Mas dapet Grand Prize? Astaga, dari kemarin ribuan orang yang ambil kupon nggak ada yang dapet! Mas orang pertama!"
Tiba-tiba minimarket itu riuh. Orang-orang di antrean bertepuk tangan, bersiul, dan menyelamati Bima yang masih berdiri mematung seperti patung lilin. Dito menepuk-nepuk punggungnya dengan brutal saking senangnya.
"Gue bilang juga apa, hari ini elo cheat day banget, Bim! Hoki lo meledak!" teriak Dito girang.
Manajer minimarket keluar dari ruangan belakang dengan tergesa-gesa, membawa kotak smartphone masih tersegel plastik dan sebuah amplop tebal berisi voucher belanja. Ia menyalaminya, meminta foto bersama Bima sambil memegang replika hadiah styrofoam raksasa untuk dokumentasi promosi.
Semuanya terjadi begitu cepat bagai mimpi surealis. Sepuluh menit kemudian, Bima berjalan keluar dari minimarket, tangannya menenteng plastik berisi nasi bento murah, sementara tangan satunya memeluk kotak smartphone mahal seharga tiga bulan gajinya dan amplop berisi voucher jutaan rupiah.
Sinar matahari siang menerobos dari sela-sela gedung tinggi Sudirman, menghangatkan wajah Bima. Ia berhenti melangkah, menatap hadiah di tangannya, lalu menatap langit yang cerah tanpa awan.
Tiba-tiba, rasa takut dan paranoia yang sejak pagi menghantuinya menguap begitu saja. Digantikan oleh perasaan hangat yang mekar di dadanya. Sebuah pencerahan luar biasa yang membuat sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas, membentuk senyum paling tulus yang pernah ia miliki dalam lima tahun terakhir.
"Aku... aku tidak sial lagi," bisiknya pada angin.
Tidak ada jebakan dari alam semesta. Tidak ada musibah yang mengintai di tikungan. Entah keajaiban apa yang terjadi semalam, entah doa siapa yang akhirnya tembus ke langit ketujuh, kutukan kesialannya telah patah.
Bima tertawa pelan, tawa yang perlahan berubah menjadi tawa lega yang berderai. Ia merasa hidupnya, kehidupan normal yang selalu ia dambakan, akhirnya benar-benar dimulai hari ini. Ia adalah Bima si Raja Hoki sekarang. Dan ia bersumpah, ia tidak akan pernah membiarkan siapapun atau apapun merenggut keberuntungan ini darinya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar