Matahari mengintip dari balik tirai kamar indekos Bima, menyilaukan matanya. Bima mengerang pelan, menarik selimut tipisnya untuk menutupi wajah. Otaknya yang masih setengah tertidur otomatis mulai melakukan inventarisasi bencana harian: Apa yang akan rusak hari ini? Apakah kipas angin akan konslet lagi? Apakah air galon akan bocor? Apakah celanaku akan sobek saat dipakai?

Ia meraba-raba nakas, mencari ponselnya. Tangannya tidak sengaja menyenggol kabel charger, tapi ajaibnya, ponsel itu tidak jatuh. Bima membuka satu mata, melirik layar.

Pukul 06:00.

Bima terdiam. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Pukul enam tepat? Biasanya, alarmnya yang disetel pukul enam selalu bermasalah. Entah volumenya tiba-tiba mengecil sendiri, atau aplikasinya tertutup paksa oleh sistem. Namun hari ini, ia bangun tepat satu menit sebelum alarmnya berbunyi.

"Aneh," gumamnya, bangkit duduk.

Ia menekan sakelar lampu. Klik. Lampu neon kamarnya menyala terang benderang. Listrik sudah menyala. Bima berjalan perlahan menuju kamar mandi kecilnya, langkahnya penuh kecurigaan, layaknya seorang prajurit yang berjalan di ladang ranjau. Ia memutar kran air.

Sssshhh... BYURRR!

Air jernih mengalir deras, suhunya sangat pas, tidak terlalu dingin untuk ukuran pagi hari. Bima menatap kran itu dengan horor. Ini tidak benar. Biasanya kran ini akan terbatuk-batuk dulu, memuntahkan air berwarna kecokelatan selama lima menit, sebelum akhirnya mengalirkan air bersih yang sangat kecil volumenya. Bima bahkan berhasil menyikat gigi tanpa memuntahkan pasta gigi ke bajunya, dan sikat giginya tetap berada dalam genggamannya dengan kokoh.

"Oke, semesta sedang merencanakan sesuatu yang sangat besar dan sangat buruk untukku hari ini," bisik Bima pada bayangannya di cermin. Sindrom paranoia mulai menjalar di kepalanya. "Ini adalah ketenangan sebelum badai. Mungkin... mungkin atap kantorku akan runtuh hari ini."

Setelah mandi dan berpakaian dengan sangat hati-hatiβ€”bahkan ia memeriksa setiap kancing kemejanya untuk memastikan tidak ada benang yang rapuhβ€”Bima mengunci pintu kamarnya. Ia berjalan menyusuri gang sempit menuju jalan raya. Gang ini biasanya penuh dengan ranjau kotoran kucing liar, namun pagi ini, jalanan bersih tanpa cela.

Saat ia tiba di trotoar pinggir jalan raya, angin pagi yang sejuk menerpa wajahnya. Bima menunduk, bersiap melangkahi selokan kecil. Di saat itulah, matanya menangkap sesuatu yang berwarna merah cerah tergeletak di dekat pot tanaman.

Sebuah uang kertas bernominal seratus ribu rupiah. Terlipat rapi, bersih, seolah baru saja keluar dari mesin ATM.

Jantung Bima berdegup kencang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalanan masih sepi. Tidak ada kamera tersembunyi, tidak ada orang yang tampak kebingungan mencari sesuatu. Dengan tangan gemetar, Bima membungkuk dan memungut uang itu. Ia menggosok-gosok permukaannya, menerawangnya di bawah cahaya matahari. Asli.

"Ya Tuhan..." Bima menelan ludah. "Apakah ini semacam uang tumbal? Kalau aku ambil ini, apakah aku akan kecelakaan?"

Meski otaknya dipenuhi skenario film horor, naluri bertahan hidup anak kos yang gajinya pas-pasan menang telak. Ia melipat uang itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya dengan cepat. Sambil masih mengawasi sekeliling dengan curiga, ia melangkah menuju halte bus TransJakarta.

Biasanya, rute bus yang Bima tumpangi adalah rute yang paling tidak bisa diandalkan. Waktu tunggunya bisa berkisar antara lima belas menit hingga satu jam, tergantung seberapa parah kemacetan atau seberapa sial dirinya hari itu. Bima sudah bersiap membuka aplikasi game di ponselnya untuk membunuh waktu.

Namun, kakinya baru saja menapak di lantai halte, ketika sebuah bus TransJakarta panjang berwarna biru merapat dengan mulus tepat di depannya. Pintunya mendesis terbuka tepat berhadapan dengan wajah Bima.

Bima melongo. Ia melihat ke dalam bus. Ajaibnya, bus yang biasanya sesak dipenuhi lautan manusia yang berbau keringat itu pagi ini terlihat lengang. Bahkan, ada satu kursi kosong yang terletak strategis di dekat jendela, tidak langsung terpapar semburan AC.

Bima melangkah masuk seperti orang yang dihipnotis. Ia menempelkan kartu uang elektroniknya. Tit. Lampu hijau menyala. Ia duduk di kursi kosong itu, merasakan bus mulai melaju perlahan. Tidak ada pengereman mendadak. Tidak ada pengamen yang memaksa. Perjalanan ke kantor pagi itu terasa senyaman menaiki taksi premium.

Bima menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap jalanan ibu kota yang anehnya tidak terlalu macet. Kepalanya berdengung. Ini terlalu sempurna. Kesempurnaan ini membuatnya mual karena ia tidak tahu kapan hukuman atas hari yang indah ini akan dijatuhkan kepadanya.

Sementara Bima sedang mengalami krisis eksistensial karena harinya berjalan terlalu lancar, di apartemen mewahnya, Alana sedang mengalami mimpi buruk di siang bolong.

Alana terbangun oleh suara ketukan keras di pintu apartemennya. Ia membuka mata dengan kasar, kepalanya terasa berdenyut. Ia meraba meja nakas, mencari ponselnya. Mati total. Alana mengerutkan kening. Ia ingat betul semalam sudah mencolokkan kabel charger-nya. Ia menarik kabel itu, dan menemukan bagian ujung konektornya patah secara tidak wajar, tertinggal di dalam lubang ponselnya.

"Apa-apaan ini?" gerutunya kesal. Ia melirik jam dinding di kamarnya.

Pukul 08:15.

"HAH?!" Alana menjerit tertahan. Ia melompat dari kasur, jantungnya seolah melorot ke perut. Ia terlambat! Ia belum pernah bangun seterlambat ini seumur hidupnya. Seluruh rutinitas sempurnanya hancur berantakan.

Suara ketukan di pintu terdengar lagi, kali ini lebih tidak sabar. "Paket, Mbak! Kurir!"

Alana berlari keluar kamar dengan rambut acak-acakan bak singa bangun tidur. Ia membuka pintu dan menandatangani resi dengan wajah bersungut-sungut. Setelah kurir itu pergi, ia melempar paketnya ke sofa dan berlari ke kamar mandi.

"Tenang, Alana. Kamu cuma perlu mandi cepat, make up simpel, dan panggil taksi," gumamnya menyemangati diri sendiri, mencoba memanggil kembali aura positifnya.

Ia mengambil sikat gigi elektriknya yang mahal dan memencet pasta gigi dengan buru-buru. Entah karena tenaganya yang terlalu kuat atau tabung pasta gigi itu yang tiba-tiba memberontak, isinya menyembur keluar seperti letusan gunung berapi kecil. Gumpalan pasta gigi berwarna hijau terang itu melesat melewati sikat giginya dan mendarat telak di dada kemeja putih sutra yang baru saja ia gantung di dekat pintu kamar mandi untuk dipakai hari ini.

Alana menatap kemeja mahalnya yang kini ternoda pasta gigi rasa mint. Napasnya tersengal. Ini tidak mungkin. Hal-hal ceroboh seperti ini tidak pernah terjadi padanya. Ini adalah adegan murahan dari film komedi yang sering ia tertawakan, bukan realitas hidupnya.

"Sialan!" umpat Alana, melempar sikat giginya ke dalam wastafel.

Dengan frustrasi, ia mencuci wajahnya secara asal, merusak kemeja lain dari lemarinya secara acak, dan memakai make up dalam waktu lima menit yang menghasilkan garis eyeliner mencong sebelah. Ia tidak peduli. Ia harus segera sampai di kantor sebelum jadwal presentasi pentingnya jam sembilan teng.

Sambil mengunyah selembar roti tawar yang anehnya berasa agak tengik (padahal baru ia beli kemarin), Alana berlari ke arah lift. Ia melihat angka digital di atas pintu lift menunjukkan bahwa kotak besi itu sedang berada di lantainya.

"Tahan! Tolong tahan liftnya!" teriak Alana saat melihat pintu mulai menutup.

Biasanya, jika ia berteriak seperti itu, pintu lift akan kembali terbuka, seolah sensornya mengenali suara merdunya. Namun hari ini, pintu itu tertutup tanpa ampun tepat di depan hidungnya, menyisakan pantulan wajahnya yang terlihat panik dan kuyu di permukaan pintu berbahan stainless steel itu.

Alana mengerang putus asa. Ia harus menunggu lima menit lagi untuk lift berikutnya.

Ketika akhirnya ia berhasil turun ke lobi, aplikasi taksi online di ponsel (yang baterainya hanya tersisa 10% karena ia berhasil mencabut patahan konektor dan mengecasnya sebentar dengan kabel cadangan) menunjukkan bahwa tidak ada armada yang tersedia di sekitarnya. Semua driver sedang sibuk. Harganya pun melonjak tiga kali lipat karena surge pricing jam sibuk.

"Bercanda kamu ya?!" Alana menggerutu pada ponselnya. Ia tidak punya pilihan selain berjalan keluar kompleks apartemen untuk mencari taksi konvensional di pinggir jalan raya.

Berjalan dengan sepatu hak tinggi setinggi tujuh sentimeter di atas trotoar Jakarta yang tidak rata adalah olahraga ekstrem. Alana mempercepat langkahnya, setengah berlari. Tiba-tiba, KRAK!

Hak sepatu sebelah kanannya masuk ke dalam celah grating penutup saluran air. Alana terjerembap ke depan, lututnya membentur aspal dengan keras. Ia meringis menahan sakit yang menjalar di lututnya yang kini lecet dan berdarah sedikit. Namun, yang lebih menghancurkan hatinya adalah suara patahan yang jelas. Saat ia menarik kakinya, hak sepatu stiletto hitam favoritnya itu tertinggal di dalam celah besi. Patah sepenuhnya.

Alana terduduk di pinggir jalan, memegang sepatu rusaknya dengan tangan gemetar. Air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menengadah menatap langit Jakarta yang berawan kelabu.

TIN! TIIIIIN!

Sebuah mobil melaju kencang melewati genangan air sisa hujan semalam di dekat trotoar tempat Alana duduk. Cipratan air cokelat kotor menyembur tinggi bagai ombak kecil, mengguyur tubuh Alana dari kepala hingga pinggang.

Udara pagi itu terasa dingin membekukan. Alana mematung, kemejanya basah kuyup oleh air comberan, rambutnya lepek dan bau tanah. Orang-orang di sekitar menatapnya dengan pandangan iba bercampur ngeri.

Di dalam bus TransJakarta yang nyaman, Bima tiba-tiba bersin dengan keras. Ia mengusap hidungnya, merasa ada sesuatu yang janggal di udara. Namun ia kembali menatap jalanan, senyum tipis yang tak bisa ia bendung mulai muncul di bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Bima merasa harinya akan berjalan dengan sangat luar biasa.

Sementara itu, di pinggir jalan yang kotor, Alana mengepalkan tangannya kuat-kuat. Aura emasnya telah hilang, tergantikan oleh awan mendung kesialan yang pekat. Dan entah kenapa, memori tentang pria berkemeja biru apek yang menabraknya kemarin terlintas di kepalanya dengan sangat jelas.

"Pria sialan itu," desis Alana di sela giginya yang gemeretak kedinginan. "Dia pasti menularkan kutukannya padaku!"