Email itu masuk pukul tiga dini hari.

 

Gisel Aulia tidak akan pernah lupa detail itu — bukan karena dia tipe orang yang mengingat hal-hal seperti waktu, melainkan karena di layar laptopnya tertulis dengan jelas: 03.07. Dan karena lima detik kemudian dia menjerit dengan suara yang, menurut tetangga kos sebelahnya esok paginya, "kayak orang disambar petir terus dapat undian motor sekaligus."

 

Subject email itu sederhana saja:

 

> "Selamat — Anda Diterima dalam Program Pertukaran Mahasiswa > ke Yonsei University, Republik Korea Selatan."

 

Gisel membaca kalimat itu enam kali. Lima kali yang pertama karena dia tidak percaya. Yang keenam karena dia takut kalau dia tidak baca lagi, tulisan itu akan hilang seperti notifikasi giveaway yang ternyata penipuan.

 

Tapi tulisan itu masih ada.

 

Korea. Selatan. Yonsei. Pertukaran. Enam bulan.

 

Kamar kosnya yang ukuran tiga kali empat meter mendadak terasa lebih kecil. Atau mungkin karena Gisel sendiri yang tiba-tiba melompat ke atas kasur, lalu turun lagi untuk berlari ke cermin, lalu balik lagi ke kasur — semua dalam rentang waktu kurang dari sepuluh detik.

 

Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Rambut panjangnya berantakan, mata bengkak karena baru saja begadang nonton drama Korea episode terakhir, kaos tidur bergambar wajah Park Bo-gum yang sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci.

 

"Aku," kata Gisel ke pantulan dirinya sendiri, "akan ke negeri oppa."

 

Pantulan dirinya tidak menjawab. Tapi Gisel rasa, kalau bisa, dia akan menjawab dengan bunyi terompet kemenangan.

 

Gisel membuka kembali laptopnya. Membaca email itu untuk ketujuh kali. Kemudian dengan tangan yang gemetar — bukan karena dingin, kos-kosannya tidak punya AC — dia membuka grup chat WhatsApp bertajuk "Tiga Sekawan Anti Move-On".

 

"GUYS," tulisnya, lalu menghapus, lalu menulis lagi dengan huruf kapital semua. "GUYSSSS."

 

Tidak ada yang membalas. Tentu saja. Ini jam tiga pagi. Manusia normal sedang tidur.

 

Tapi Gisel bukan manusia normal. Setidaknya bukan dalam tiga puluh menit ke depan. Dia menelepon Lina. Dering. Tidak diangkat. Dia menelepon Ratna. Dering. Tidak diangkat. Dia menelepon ibunya. Diangkat.

 

"Halo," suara ibunya parau, masih setengah tidur. "Kamu kenapa? Sakit? Kecelakaan? Ada apa, Sel?"

 

"Aku—" Gisel ingin menjawab. Tapi tiba-tiba matanya panas. Dia menelan ludahnya. "Aku ke Korea, Bu. Aku diterima."

 

Hening sebentar di seberang.

 

Lalu suara ibunya — masih parau, tapi sekarang ada senyum di sana. "Anak Ibu yang ngidol-ngidol terus akhirnya bener-bener ke Korea. Ya ampun, Sel. Selamat ya."

 

Tangis Gisel pecah. Bukan tangis dramatis. Cuma — tangis biasa, jenis yang muncul saat hal yang sudah lama dipikirkan tiba-tiba jadi nyata. Dia duduk di lantai kosnya, menempelkan hp ke telinganya, dan menangis selama tiga menit sambil ibunya membiarkan dengan sabar di seberang.

 

"Ibu... maaf bangunin malem-malem."

 

"Halah. Ibu malah seneng dibangunin buat kabar bagus. Coba dibangunin buat kabar Tante Sri yang nyari pinjaman lagi. Itu yang bikin nggak bisa tidur lagi sampe pagi."

 

Gisel tertawa di sela-sela tangisnya.

 

Pagi harinya — atau lebih tepatnya, beberapa jam kemudian, karena Gisel tidak tidur lagi setelah email itu — dunia kos Gisel sudah berubah total.

 

Dia membongkar kamarnya seperti orang yang sedang berkemas untuk perang. Buku-buku kuliah ditumpuk di pojok. Pakaian musim panas dipisah dari pakaian musim dingin yang... oke, yang itu memang tidak ada karena Indonesia tidak punya musim dingin. Catatan kecil: beli jaket. Beli sarung tangan. Beli beanie. Beli semua yang kalau dipakai di Indonesia akan dibilang tetangga, "Mau ke mana, Sel? Ekspedisi Antartika?"

 

Posternya — Gisel duduk di lantai dan menatap koleksi posternya yang menutupi tiga sisi dinding kamar. Park Bo-gum di sini. Gong Yoo di situ. Lee Min-ho di pojok yang baru kena bocor genteng tahun lalu. Para member boy group yang tertempel rapi sesuai grup masing-masing — kalau Lina yang nginep, dia selalu bilang, "Sel, kamarmu kayak museum yang lo dirikan buat orang yang nggak tau lo eksis."

 

Mata Gisel berkilauan. "Aku akan datangin kalian, oppa," katanya pelan, dengan suara yang sebenarnya cukup serius sehingga kalau ada orang lain di kamar itu, mereka akan khawatir tentang kewarasan Gisel. "Salah satu dari kalian, aku akan ketemu di sana. Mungkin di kafe. Atau di kampus. Atau di subway. Pokoknya ketemu. Trust the process."

 

Park Bo-gum di poster tersenyum. Tentu saja dia tersenyum, itu posternya.

 

Gisel berdiri. Mengambil bolpoin dan kertas dari mejanya. Mulai menulis.

 

CHECKLIST KOREA SELATAN — VERSI FINAL:

 

1. Belajar bahasa Korea minimal 50 frasa wajib 2. Beli skincare berlapis-lapis (10-step routine, target sebelum berangkat) 3. Bikin playlist khusus "Music for Falling in Love in Seoul" 4. Bawa sambal pecel (untuk emergency rasa Indonesia) 5. List semua kafe yang pernah dipakai syuting drama 6. List semua tempat yang pernah dikunjungi member [redacted, nama grup yang mau privasi] 7. Cek visa, paspor, asuransi, tiket, dll 8. ★★★ KETEMU OPPA ASLI ★★★

 

Dia menatap nomor delapan. Lalu dia melipat kertas itu, memasukkannya ke saku celana, dan tersenyum dengan senyum yang oleh Lina nantinya akan dideskripsikan sebagai "senyum orang yang baru saja menemukan tujuan hidup tapi tujuan hidupnya adalah hal yang sangat tidak bertanggung jawab."

 

Lina dan Ratna akhirnya membalas chat di siang hari, sekitar jam sebelas, ketika Gisel sudah hampir kehilangan kesabaran dan hampir mendatangi rumah mereka satu per satu.

 

"GISEL," chat Ratna masuk pertama. "KOREA?? BENERAN??"

 

"DEMI APA?" timpal Lina di chat berikutnya. "CAPCUS REUNI SIANG INI. KAFENYA BU NUNUK. AKU TRAKTIR."

 

Gisel ngakak sendiri di kamar. "Bu Nunuk" — kafe lokal mahasiswa yang sebenarnya namanya bukan kafe Bu Nunuk, tapi karena pemiliknya adalah ibu-ibu galak bernama Nunuk yang suka memergoki mahasiswa pacaran sambil tugas, akhirnya nama itu yang melekat di kepala mereka bertiga.

 

Tiga jam kemudian, Gisel sudah duduk di pojok kafe Bu Nunuk dengan dua gelas kopi susu dingin dan satu piring pisang goreng yang sudah dicomot Ratna setengah sebelum dia datang.

 

"Sel," kata Lina dengan tatapan serius. "Kamu yakin udah siap?"

 

"Siap." Gisel mengangguk mantap. "Udah aku list semua."

 

"Bukan list. Maksud aku — siap mental. Kamu beneran mau jauh dari Indonesia enam bulan?"

 

"Selama ini juga aku jarang pulang ke rumah. Bedanya cuma zona waktu."

 

"Bedanya," potong Ratna sambil mengunyah pisang goreng, "kalau di sini kamu bisa pulang naik Grab. Di Korea? Naik pesawat satuan ratusan jam dengan transit dua kali."

 

Gisel memutar bola matanya. "Kalian itu kayak ibu-ibu nyinyir."

 

"Karena kami sayang kamu," kata Lina dengan tatapan yang membuat Gisel diam.

 

Hening sebentar. Kemudian Ratna mengulurkan tangannya ke tengah meja. "Oke. Ritual pelepasan."

 

"Bukan pelepasan," koreksi Lina, ikut mengulurkan tangannya. "Ritual penitipan. Kita titip kamu ke takdir."

 

Gisel menatap dua tangan yang terulur itu. Lalu dia tertawa. Lalu dia ikut mengulurkan tangannya. Tiga tangan bertumpuk di tengah meja Bu Nunuk yang kayunya sudah penuh coretan nama-nama mahasiswa yang lupa nama mereka sendiri sudah ditulis di sana.

 

"Janji satu," kata Lina. "Kamu nggak boleh putus chat sama kita."

 

"Janji."

 

"Janji dua," kata Ratna. "Kalau ketemu oppa, langsung kasih foto biar kita bisa screenshot dan jadikan wallpaper."

 

"...Janji."

 

"Janji tiga," kata Lina lagi, dan suaranya tiba-tiba lebih pelan. "Kamu balik dengan baik-baik. Boleh bawa kenangan. Boleh bawa cerita. Tapi kamu harus pulang."

 

Gisel menatap Lina. Mengangguk. Lalu dia tidak bisa menahan diri lagi.

 

"Aku ke negeri oppa, guys." Suaranya bergetar. "Beneran. Ke. Negeri. Oppa."

 

Lina dan Ratna menunduk. Bukan karena mereka mau menangis. Tapi karena tawa mereka akhirnya pecah, keras dan tidak terkendali, sampai Bu Nunuk dari konter berteriak, "Rame- rame banget kalian! Suara saya kalah sama kalian!"

 

Tiga minggu kemudian, Gisel duduk di kursi 27A di pesawat Korean Air dengan koper besarnya sudah masuk bagasi dan ranselnya menyembul di kaki. Dia memakai jaket tebal yang sebenarnya belum perlu — pesawat masih di Jakarta dan AC-nya belum maksimal — tapi Gisel berpikir, "Lebih baik aku terbiasa dari sekarang."

 

Pengumuman pilot terdengar. Pesawat akan lepas landas dalam sepuluh menit.

 

Gisel mengeluarkan hp-nya. Membuka chat dengan ibunya. Mengetik: "Bu, aku berangkat sekarang."

 

Lalu dia membuka chat dengan grup Tiga Sekawan. Mengetik: "Doain aku bisa fokus kuliah, ya. Nggak melulu cari oppa."

 

Tiga detik kemudian: "BO'ONG."

 

Empat detik: "BO'ONG SEKALI."

 

Gisel tertawa pelan. Mengangguk pada dirinya sendiri.

 

Pengumuman terdengar lagi: pesawat siap berangkat.

 

Dia memejamkan mata. Menarik napas. Membuka kembali matanya dan menatap jendela. Di luar, Bandara Soekarno-Hatta yang sibuk perlahan mulai tertinggal — landasan, lampu-lampu, pohon-pohon palem yang tertanam rapi di tepi runway.

 

"Sampai jumpa, Indonesia," gumamnya. "Sampai jumpa, oppa." — tapi yang ini ke arah lain, ke arah ujung pesawat, ke arah utara, ke arah negeri yang sebentar lagi akan dia datangi.

 

Pesawat mengangkat tubuhnya dari tanah.

 

Dan Gisel Aulia, mahasiswi semester lima jurusan Hubungan Internasional, fangirl K-Drama yang chronic, baru saja memulai bab pertama dari hidupnya di luar negeri.

 

Yang tidak dia tahu — meskipun dia sudah bikin checklist sebanyak delapan poin, sudah belajar lima puluh frasa bahasa Korea, sudah membayangkan ribuan skenario pertemuan dengan oppa idamannya — adalah bahwa takdir punya cara sendiri untuk mempermainkan ekspektasi.

 

Dan namanya juga takdir. Dia tidak akan kasih spoiler dari awal.